"Karya ini merupakan karya jalur kreatif"
***
Tahun 2222 Masehi.
Kecanggihan teknologi telah mengubah kehidupan manusia bukan hanya satu atau dua, tapi secara keseluruhan. Tatanan kehidupan juga tidak lagi sama, karena manusia sudah ketergantungan akan teknologi - termasuk pendidikan.
Semua gedung sekolah telah lama tutup, tidak ada aktivitas untuk proses belajar mengajar. Lalu, bagaimana dengan anak-anak yang membutuhkan ilmu pengetahuan agar tidak bodoh?
"Kau punya uang? Beli pengetahuan! Karena di dunia ini, pengetahuan dapat diperjual-belikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Kalung Kucing
Hari ini Reo mengumpulkan beberapa anak yang telah dibimbing untuk membuat alat yang bisa digunakan sebagai kalung untuk kucing liar.
Kalung ini bukan sembarang kalung karena dilengkapi dengan sensor khusus. Sederhananya, sensor adalah suatu sistem mobile yang berfungsi sebagai indra. Seperti indra pada manusia pada umumnya, sensor mengumpulkan berbagai data dan informasi. Contohnya seperti data terkait suhu, kecepatan, tekanan, posisi, kondisi bahan bakar, dan masih banyak lagi.
Dalam hal ini, Reo membuat kalung yang bisa dijadikan sebagai sensor untuk kucing menemukan bahan makanan sehingga mereka tidak perlu kelaparan atau bertengkar dengan sesama kucing liar hanya untuk memperebutkan makanan. Selain itu, kalung sensor ini juga memberikan efek samping sebagai gelombang penurunan kesuburan - sebab kalung tersebut memfokuskan kucing untuk berburu makanan secara mandiri sehingga melupakan keinginan hewaninya, alias beranak pinak.
"Talinya dipotong sama panjang, lalu peralatan yang lainnya disusun sedemikian rupa seperti yang ada pada contoh." Reo memberikan penjelasan.
"Untuk kancingnya, bisa disesuaikan atau udah paten?" tanya salah satu anak yang terlibat dalam proyek pembuatan kalung kucing ini.
"Buat paten aja, gak perlu penyesuaian sebab ini buat kucing liar yang tentunya tidak memiliki majikan yang akan merawat atau memperhatikan kondisi kalung. Tapi itu tali tidak akan menjerat leher, sebab sudah dihitung rata-rata dari besar kecilnya leher per usia kucing."
Reo kembali memberikan penjelasan sedetail mungkin supaya anak-anak yang ikut terlibat bisa mengerti.
Sean, yang ikut kemanapun Reo pergi, juga ikut memperhatikan bagaimana Reo memberikan pengajaran kepada anak-anak jalanan tersebut. Sementara anak-anak yang lain, yang memiliki bakat dan kemampuan juga keinginan lainnya, diberikan pelatihan khusus sesuai dengan keinginan dan kemampuannya supaya bisa masuk ke dalam bidang pekerjaan yang sesuai.
Semua diatur oleh Reo sedemikian rupa sehingga semua bidang ada yang bisa menghandle, agar tidak terjadi ketimpangan dalam satu bidang yang tentunya memiliki pengaruh besar dalam kehidupan manusia.
Tapi tetap saja, ada banyak sekali anak-anak yang tidak memikirkan bagaimana mereka bisa mandiri di dalam kehidupan mereka agar bisa mendapatkan pekerjaan untuk bisa mendapatkan uang sebagai alat memenuhi kebutuhan hidup.
"Master, di Joni tidak mau datang. Bahkan dia juga tidak ikut pelatihan khusus untuk bisa bekerja. Ia merasa sudah pintar karena sudah terpasang Chip Cemer, tapi tetap tidak mau bekerja. Bahkan tadi malam mengamuk di rumah karena minta dibelikan mobil sama bapaknya."
"Minta, mobil? Buat apa dia minta beli mobil?" Reo bertanya dengan heran, sebab Joni adalah anak pegawai kebersihan di pasar.
"Joni itu ikutan klub mobil sejak lama, meskipun dia tidak pernah memiliki mobil."
Kening Reo berkerut mendengar penjelasan tersebut. Ia memang tidak asing dengan klub-klub mobil atau motor seperti itu, sebab mereka sering wara-wiri di jalanan untuk pamer dan bergaya di sosial media.
Dan ada beberapa orang yang memberikan alasan jika ingin menaikkan pamor atau harga diri dengan ikutan klub-klub tersebut. Mereka beranggapan jika ikut dalam lingkungan pertemanan mereka, maka mereka juga akan memiliki kehidupan yang layak.
Contohnya cewek yang dari kalangan biasa, tapi ada pada pertemanan atau circle orang-orang kaya di klub tersebut. Itu bukan tanpa tujuan, tapi mereka - cewek itu, ingin berkenalan dan mengikuti gaya mereka sehingga kemungkinan besar bisa mendapatkan kekasih atau pasangan yang dari kalangan orang-orang kaya itu juga.
Bahkan, ada juga beberapa kasus yang terjadi pada klub-klub anak orang kaya yang menormalisasi perilaku kekerasan pada ceweknya hanya karena cewek tersebut dari keluarga orang biasa - yang kebetulan menjadi pacarnya dan "nurut" diperlakukan seperti apapun.
"Mereka kenapa tidak merasa hanya dijadikan objek? Hm, mungkin memang itu sudah biasa, sama seperti yang terjadi padaku saat ditawari Nona aneh waktu itu."
Reo menggelengkan kepalanya beberapa kali saat ingat dengan kejadian beberapa waktu lalu, di mana ada seorang gadis yang menawarinya untuk bermain ranjang hanya karena ingin mengujinya - seberapa hebat Reo di ranjang.
"Master, kalung sensor kucing sudah ada lima buah yang siap pakai." Ketua Tim - yang membuat kalung tersebut, memberikan laporan.
"Ok, kita ujikan langsung pada kucing liar yang sudah ada. Setelah itu kita pantau, apakah berfungsi dengan baik atau perlu diperbaiki."
Ketua Tim yang tadi melapor, mengangguk paham kemudian pergi ke luar ruangan untuk mengambil kandang yang sudah berisi lima kucing liar.
Dengan telaten, Reo memasang kelima kalung yang sudah siap pada leher kucing-kucing liar itu lalu membawanya keluar. Baru setelah itu melepaskannya agak jauh dari bangunan markasnya.
Untuk bangunan rumah yang dijadikannya sebagai markas saat ini, Reo membelinya dari sepasang suami istri yang sudah hidup sendiri karena anak-anaknya telah sukses dan bahagia dengan kehidupan mereka. Sementara suami istri tersebut ingin pensiun dan menghabiskan sisa umurnya di desa atau perkampungan di desa asal si istri.
"Master, lihat!"
Reo cepat menoleh saat ada yang memanggil, lalu matanya tertuju pada layar monitor yang menunjukkan kinerja kalung sensor kucing. Dari titik yang terdeteksi, kucing tersebut sudah bisa dibilang optimal dalam memanfaatkan teknologi kalung sensor karena bisa menemukan makanan dengan cepat - tikus.
"Cepat juga reaksinya, padahal jarak tikus tersebut satu kilometer dari tempat kucing berada."
Reo membaca dengan teliti grafik yang ditampilkan dalam layar, sehingga ia bisa mengetahui jarak yang ada antara kucing dan tikus. Jadi, bisa dibilang penelitian dan pengembangan kalung kucing ini berhasil.
Semua orang bertepuk tangan saat melihat titik sensor lain - termasuk Sean. Grafik di layar memberikan informasi atas keberhasilan kucing lainnya, saat dengan mudah bisa mendapatkan makanan di alam bebas.
"Dengan begini, kita tinggal mengembangkan penelitian kalung ini untuk perilaku kucing supaya bisa lebih disiplin. Khususnya untuk kucing adopsi, supaya para pemiliknya tidak kesusahan untuk melatih mereka." Reo menerangkan apa yang ingin dilakukannya ke depan setelah ini.
"Iya, Master. Kakak iparku sering ngomel-ngomel saat kucing di rumahnya pup disembarang tempat, padahal sudah disediakan tempat khusus," seloroh salah satu dari mereka - membagikan pengalaman pribadi mengenai kucing peliharaan di rumah kakak iparnya.
"Ok, kita akan persiapkan untuk pengembangan selanjutnya."
Semua orang bertepuk tangan ketika Reo mengatakan kesiapannya untuk kegiatan mereka saat ini, sebab untuk para pemilik kucing peliharaan akan dikenai biaya saat menginginkan kalung sensor tersebut.
Jadi, alat sensor ini akan dikembangkan dan dijadikan bisnis agar bisa mendapatkan uang yang bisa dibagikan pada mereka yang ikut membantu.
"Kalian siap, kan?" tanya Reo memastikan, dengan memperhatikan wajah mereka satu persatu.
***
"Karya ini merupakan karya jalur kreatif"