Siapa yang tidak kenal dengan nama besarnya? Oh, tentu ini bukan sekedar sombong dan omong kosong, seorang Presdir wanita yang sangat terkenal itu kini tengah di lilit masalah besar, namanya Kiana.
Seorang bandar organ tubuh manusia kini menculik putri kesayangannya, Kiana yang super dingin dan sudah masuk mode iblisnya itu memerintahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan putrinya.
Hingga sebuah kejadian mengharuskan Kiana bersabar, ayah biologis dari putrinya kini menemukan sang anak.
Ah, gila saja! Selama ini Kiana susah payah menyembunyikan anak itu dari umum dan pindah Negara demi menutupi semuanya.
Wah, ada apa sebenarnya dengan Presdir cantik ini ya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Seperti Keluarga Impian
"Victor, kau suka makan ap?" Mata Aiden terbelalak seketika saat menyaksikan seseorang yang kini nampak tengah melepaskan sebuah ikatan di dadanya.
Rambut panjang yang indah, mata biru yang jernih, kulit mulus dan se*ksi adalah gambaran paling luar biasa yang pernah di lihat oleh Aiden. Dia menelan salivanya, mata Aiden kembali menatap rambut dan kulit palsu yang tergeletak di lantai.
"AAAAAA!!!" Terikan Violet terdengar menggema membuat Aiden seketika menutup telinga, bagaimana tidak? Saat itu Violet hanya menggunakan CD berwarna merah jambu dan kedua tonjolan di dadanya juga hampir keluar dari kekangan kain yang dia pakai.
Aiden menutup pintu dengan cepat hingga hening seketika, Aiden merasakan wajahnya yang memanas. Begitupun dengan Violet yang baru satu hari saja identitasnya sudah terbongkar. Dan lebih parah lagi, tubuhnya kini sudah terlihat oleh seorang pria, Violet saat ini benar-benar sangat luar biasa malu.
"Dia seorang wanita?" Gumam Aiden yang berada di luar kamar, dia merasakan dadanya yang dag-dig-dug dan nafasnya tiba-tiba terasa sangat berat.
"Gila, jadi aku gak salah sejak awal bertemu?" Gumam lagi Aiden tersenyum sekilas, dia merasakan hawa hangat yang menjalari pipinya perlahan menghilang. Namun saat gambaran tubuh Violet kembali terlintas di ingatannya hal nakal kini justru merasuki kepalanya.
Kepala Aiden juga tiba-tiba terpikirkan beberapa jam lalu saat mereka di Bandara, Aiden buang air kecil di dekat wanita. Aiden menekan pelipisnya yang berdenyut sekaligus mengusap wajahnya yang sudah memerah.
"Terima kasih wahai bos gila ku yang tersayang, kamu membeikan perintah untuk ku tinggal bersamanya." Ucap lagi Aiden terkekeh dan tersenyum-senyum sendiri.
Di dalam sana, Violet yang baru saja terpergoki identitasnya hanya dapat kembali menggunakan kemejanya, dia juga menggunakan kolor di atas lutut.
Brak!
Pintu kamar Violet di buka oleh Violet sendiri hingga tampaklah Aiden yang tengah mematung, wajah Aiden nampak memerah dan tersenyum manis ke arahnya.
"Apa kamu senyum-senyum! Kamu harus tanggung jawab!" Pekik Violet mengangkat jari telunjuknya ke arah Aiden.
Aiden adalah pria yang memiliki kelicikan yang hampir sama dengan Aksen, dia memiliki banyak cara untuk menjerat orang yang dia sukai agar tidak bisa jauh darinya, apa lagi saat ini dia memegang kartu as milik Violet.
"Tanggung jawab apa? Seharusnya kamu jelaskan semua ini bukan? Kenapa kamu berpura-pura menggunakan identitas laki-laki dan pura-pura menjadi kekasih Kiana? Apa semua ini rencana kalian agar Aksen salah faham hem?" Pertanyaan bertubi itu nampaknya sudah tidak salah dari sasaran.
"Bila iya. Kenapa?" Violet tak kalah sengit menanggapi ocehan Aiden yang memang sudah benar.
"Aku akan menghubungi Aksen saat ini juga!" Pekik Aiden mengambil ponsel miliknya dari saku celana, sontak saja mata Violet terbelalak dan hendak mengambil ponsel milik Aiden.
Aiden mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi hingga Violet tak dapat menggapainya. Violet menarik lengan Aiden hingga ponselnya hampir di dapatkan oleh Violet, tangan Aiden yang satunya mengambil alih ponsel itu dan memutarnya kebelakang.
Violet menerjang tubuh Aiden hingga mereka berdua terjatuh bersamaan di atas lantai, dengan pose yang sangat luar biasa di luar nalar. Violet duduk di atas paha Aiden dan bagian tubuhnya menempel sempurna pada Aiden.
Prak!
Ponsel Aiden terjatuh, namun pandangan Aiden justru masih terpana dengan keelokan wajah Violet yang memang sangat cantik itu. Violet buru-buru meraih ponsel Aiden dan tersenyum setelahnya.
"Jangan beri tahu dia. Bila kamu beri tahu dia, akan aku..." Violet hendak mengancam Aiden. Namun, pria yang baru saja bertemu siang itu nampak tenang-tenang saja.
"Aku tidak memiliki hal yang dapat kamu ancam! Aku yang justru dapat mengancam kamu, aku tidak akan mengatakan ini pada Aksen, dengan syarat kamu dapat mendengar dan memenuhi segala ucapan dari ku, mengerti!" Violet menghela nafas, memang tidak mudah mendapatkan uang. Violet harus berjuang lebih keras sekarang.
"Baiklah, kita sepakat!" Ucap Violet, membuat seringai jahat terlihat di bibir Aiden.
.
.
.
Di tempat lain, Kiana yang sudah kehabisan kata-kata dari semua syarat gila yang di ajukan oleh Aksen hanya dapat menghela nafas berat. Bahkan pada bagian halaman 100 terdapat sebuah aturan yang sebenarnya sangat membuat Kiana bahagia.
Yaitu : Bila salah satu dari pihak istri atau suami yang melanggar dari aturan tersebut maka dia harus berjanji akan hidup bersama dan melalui segalanya tanpa kontrak, dan kontrak di nyatakan gagal.
Setelah ciuman super panas itu, Kiana di bawa Aksen ke rumahnya. Dia juga menjemput Rachel dan Rival terlebih dahulu sebelum melajukan kendaraannya, ke sebuah perumahan mahal bernama Sultan Home.
Saat itu seorang pria tua nampak dengan tongkatnya tengah memandangi sosok yang baru saja tiba di hadapan rumahnya. Dia memang sudah tua, namun pengelihatannya masihlah tajam seperti elang.
"Kiana?" Gumam pria tua itu dan berjalan menuju ke arah mobil Aksen yang nampak baru saja tiba.
"Aksen, kalian?" Pria itu adalah Fedrix, ayah dari Kiana sekaligus calon mertua Aksen.
"Hai Paman tua, ayo masuk!" Aksen seperti biasanya dengan gayanya yang kurang ajar membantu Fedrix masuk ke dalam rumahnya.
"Apa yang terjadi di anatara kalian sekarang?" Tanya Fedrix dengan tatapan mengintimidasi yang luar biasa pada putrinya.
"Kami akan menikah, besok aku dan Kiana akan melakukan ijab qobul di KUA, oh ya paman tua juga harus jadi wali, jadi siap-siap ya.." Goda Aksen dan tongkat Fedrix nampak sudah melayang dan memukul bo*ko*ng Aksen.
"Dasar nakal! Kamu masih saja sama, mana sopan santun mu pada calon mertua?" Fedrix memukul Aksen beberapa kali hingga tawa keduanya menggema, Aksen membantu Fedrix duduk di sebuah sofa.
"Kakek, apa kabar?" Rachel dan Rival memeluk kakeknya, ke empat orang tersebut tertawa layaknya keluarga impian.
"Sayang, malam ini anak-anak akan tinggal di sini. Bila kamu mau, kamu juga bisa tinggal di sini, tapi di sini hanya ada tiga kamar. Jadi kamu akan tinggal di kamar ku." Ucap Aksen terkekeh kemudian.
"Papa, lihatlah pria yang kamu agung-agungkan sebagai menantu nomor satu di jagat raya ini! Sekarang dia sedang mele*cehkan aku dengan ucapan kotornya!" Kiana menghentak-hentakkan kakinya hingga membuat Fedrix tertawa terbahak-bahak.
"Sudahlah, kau jangan pura-pura polos begitu. Bukankah kau dalam hati tengah bersorak yang pada akhirnya dapat menikah dengan pria idaman mu hem?" Fedrix terkekeh, memang benar bila apa yang di ucapakan Fedrix tak meleset sedikitpun dari sasarannya.
"Kakek, lihatlah wajah Momy memerah!" Ucap Rachel menambahkan, Kiana melotot da. berbalik membelakangi mereka semua.
sungguh mantap sekali 👍👍
teruslah berkarya dan sehat selalu 😘😘
makasih kak thor buat cerita nya