Ujian rumah tangga tak selalu datang dari orang luar, namun terkadang datang dari orang-orang terdekat. Salah satunya adalah mertua. Begitu juga dengan kisah yang dialami oleh tokoh yang ada didalam kisah ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pov Fara
Saat aku menapat berita tentang gina hatiku teriris, aku merasa sangat bersalah dan juga sedih. Bagaimana tidak, anak yang aku rawat sejak kecil bahkan aku sudah menganggapnya seprti putriku sendri dengan tangan yang sama pula aku membrikahnya pada orang yang salah.
Aku berharap dengan menikahkan dia hidupnya akan jauh lebih bahagia. Aku tak ingin dia kekurangan saat tinggal bersamaku dalam kondisi keuangan suamiku yang memburuk. Diatas sana mba fara dan mas ferei pasti sedih dan marah dengan apa yang sudah aku lakukan dengan putrinya.
Aku memutuskan untuk mendatangi rumah suaminya.
Ting ting ting tong
" Ada apa kalian kesni? " Ucap aswita saat kami sudah sampai dirumahnya.
" Bu aswita dimana putri kami? Apa yang terjadi hingga dia pergi dari rumah ini, apa yang dia lakukan bu? " tanyaku padaa bu aswita, namun bukanya menjawab dia malah tersenyum mengejeku.
" Kamu mau tau jawabanya fara? " ucap aswita.
Aku diam dan hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Aku menunggunya menjelaskan kepadaku.
" Karna dia mandul sepertimu! "
Mendengar apa yang aswita ucapkan hatiku berdenyut nyeri. Bagaimana bisa dia mengatakan aku mandul, oh ya dia memang tidak tau jika aku pernah memiliki anak. Tapi gina? Bagaimana dia bisa mandul.
" Jaga ucapan anda bu aswita! " Sentak suamiku, dia tak trima aswita menghinaku demikian.
" Diam kamu akmal! Kamu tak tau jika keponakan yang kamu banggakan itu mandul. Skian lama anakku menikahinya dia sama sekali tak bisa hamil. Segala upaya sudah kami lakukan namun hasilnya Nihil. Aku menikahkan anakku agar dia punya keturunan, aku menyesal dengan menikahkan putraku pada keponakanmu itu. Tapi yaaa, itu dulu. Sekarang putraku sudah bagahia. " ucap aswita yang tetap berdiri diambang pintu. Dia sama sekali tak memprsilahkan kami duduk atau masuk.
Saat kami tengah bicara tiba-tiba ada mobil masuk kehalaman rumah aswita. Aku sangat mengenal mobil siapa itu, namun aku tak mengenali siapa wanita yang turun bersama suami keponakanku.
" Naaah itu, dia kebahagiaan kami! Dia sedang mengandung sang pewaris dari keluarga wicaksono. " Ucap aswita sambil menunjuk kearah wanita seumuran gina dengan perut buncitnya. Tak lama arul turun dari mobil dan menghampiri kami.
" Untuk apa kaliam kemari? Aku sudah talak gina dengan talak 3 jadi jangan cari dia kesni karna sudah jelas dia tidak ada disini dan kami tidak tau dimana dia berada. Silahkan angkat kaki dari rumah kami! " Arul brsikap dengan kasar.
Aku cukup terkejut dengan kenyataan yang baru saja aku lihat. Aku baru tau jika sikap mereka bgitu buruk tak sama dengan sikap mereka saat pertama kali bertemu dengan kami.
Hari itu kami mendapatkan hinaan, cacian dan juga perlakuan kasar dari keluaraga wicaksono. Kaami memutuskan pergi saat hatiku tak bisa menerima lagi apa yang mereka ucapkan. Aku bersama suamiku pergi dari rumah itu dalam keadaan hati sangat buruk.
" Ginaaa, kamu dimana nak? Mafin tante sayang, paaa kita harus cari dia kemana paa? " Aku terus menangis disepanjang jalan.
Kami mencari gina keteman-temanya juga kerumah kami dulu. Namun nihil tak ada satu orangpun yang melihat dia. Bahkan kami datang kekantornya dulu bekerja, hasilnyapun sama. Satu minggu kami mencari gina namun hasilnya nihil.
Karena waktu cuti suamiku habis kami memutuskan pulang. Sbelum pulang kami memutuskan untuk mendatangi makam mba Fitri dan mas ferei terlebih dahulu.
" Mas mba, maafkan kami yang gagal menjaga putri kalian. Aku tak tau dimana dia sekarang mba, namun aku akan selalu mendoakanya semoga dimanapun dia berada dia hidup dengan baik dan bahagia maafkan aku mba mas! " Setelah menabur bunga dan menyiram air aku dan mas akmal memutuskan untuk pulang. Kami berharap suatu saat nanti kami bisa bertemu dengan gina dalam keadaan baik-baik saja.
*****
Satu minggu berada dirumah dokter anye aku merasa nyaman, keadaanku jauh lebih baik dari sbelumnya. Aku mencoba berdamai dengan hatiku, aku harus bangkit dan aku harus bisa seperti dulu lagi.
" Naaak, bekrjasamalah dengan momy. Momy harus bekerja untuk membiayaimu nanti. " ucapku sembari mengusap perutku yang masih rata.
" Ginaa, coba sini liat apa yang aku bawa buat kamu! " tiba-tiba suara mba anye terdengar. Dia baru saja pulang dari rumah sakit. Dia sangat memanjakanku dan memprlakukanku sepeti adik kandungnya sendri.
" Eeh mba tumben hari ini pulang cepet, mba bawa apa emangnya? " Tanyaku sambil berjalan mendekat kearah mba anye karna dia tengah duduk disofa, sementara aku tadi sedang berada didapur menyiapkan makan malam untuk kami.
" Mba bawain kamu baju-baju kerja gin. Besok bukanya kamu mulai kerja lagi dikantor anjaz? Karna kamu akan memulai hal baru lagi jadi mba beliin kamu baju baru. Cobain ya semoga pas, mba ngira-ngira aja soalnya. Hihiiii. " ucap mba anye sembari menyodorkan beberapa paperbag kepadaku.
Rencananya besok memang aku akan mulai bekerja lagi dikantor pak anjaz. Aku bahagia karna aku bisa berkumpul lagi bersama sahabt-sahabatku. Smenjak menikah aku memang tak pernah lagi berkomunikasi dengan mereka karna mas arul melarangku.
" Mbaa, ini banyak sekali. Baju-bajuku yang dulu juga masih ada mba. " Ucapku sambil menerima paperbag dari mba anye.
" Gin, kamu ini butuh ini. Baju-baju kamu mungkin masih ada tapi apa muat hum? " goda mba anye, sektika aku melihat diriku sendri. Semenjak menikah memang tubuhku sedikit berisi. Apa lagi dalam keadaan hamil begin. Aku tersenyum pada mba anye yang kini tengah menatapku dengan gemas.
" Naaah kan, kamu gendutan gin. Apa lagi ada dia disni! " mba anye mengusap lembut perutku.
" Trimakasih mbaa, aku tak tau bagaimana nanti aku membalas semua kebaikan mba anye! " Tes tes
Aku meneteskan airmataku karna aku merasa terharu dan beruntung dipertemukan dengan mba anye.
" Jangan begitu gin, kamu cukup menjaganya dengan baik istirahat yang baik. Jika nanti kamu mulai bekerja kamu harus ingat makan dengan baik dan teratur . Istirahat yang cukup dan jangan terlalu lelah. " mba anye menasehatiku sprti seorang kaka yang menasehati adik kandungnya sendri.
" Siap bu dokter. " Ucapku
" Ya sudah mba mau bersih-bersih dulu dan nanti kita makan malam. " mba anye naik keatas sementara aku menatap punggungnya yang semakin menjauh.
Dia yang baru saja aku kenal begitu baik memprlakukanku. " Mba anyee semoga Tuhan membalas kebaikanmu dengan kebaikan-kebaikan yang lain. Semoga Tuhan menjagamu dan membuatmu selalu bahagia. "
Abang gak asik nih gak bisa diajak krjasama bohong.