NovelToon NovelToon
Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Chicklit / Tamat
Popularitas:211.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dea Anggie

Olivia adalah seorang remaja putri sekolah menengah. Karena tidak ada kegiatan saat liburan, ia mencoba hal baru dengan membaca novel online. Ia membaca sebuah novel yang ternyata kisah ceritanya hampir mirip dengan kisah hidupnya. Di mana keduanya adalah putri yang diabaikan oleh keluarga. Uniknya, nama tokoh utama novel yang dibacanya juga bernama Olivia. Olivia semakin larut dalam membaca novel tersebut sampai terkadang tidak tidur. Namun, tidak disangka-sangka, ia malah masuk dalam novel yang dibacanya itu sesaat setelah mengalami kecelakaan. Saat bangun, Olivia sudah berada dalam tubuh Olivia si pemeran utama novel berjudul 'Putri Yang Dibaikan'. Karena sudah tahu hidupnya akan seperti apa, maka Olivia memutuskan menjalani kehidupan yang bertentangan dengan isi dalam novel.

Bagaimana Olivia menjalani kehidupannya? apakah rencananya berjalan sesuai harapannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dea Anggie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Berteman

Sembari menunggu pelayan yang sedang mengambil obat, Olivia dan Beatrix berbincang-bincang. Olivia yang penasaran pun mencoba bertanya apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga Beatrix. Sampai-sampai Beatrix harus dititipkan di desa yang letaknya jauh dari ibukota. Beatrix menjawab, jika ia sebenarnya enggan unyuk bercerita, karena malu. Namun, ia akhirnya mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

"Sebenarnya ... Ibu saya, dia adalah gundik Marquis. Ibu diusir Marchioness saat sedang mengandung saya. Setelah mendengar kabar jika Ibu meninggal, maka saya pun dibawa pulang oleh Marquis. Tentu saja saya yang hanya anak gundik tidak diterima oleh Nyonya rumah dan saudara-saudara tiri saya. Saya mendapatkan perlakuan tidak adil. Saya dipukul, dan dijadikan pelayan. Marquis yang tahu menentang Marchioness dan mereka bertengkar. Itulah alasan utama Marquis mengirim saya ke desa ini. Marquis berkata, saya akan selamat dan hidup tenang di sini selama beberapa waktu. Jika sudah tiba waktunya, maka saya akan dibawa pulang dan bisa tinggal bersama Marquis. Entahlah, saya tidak paham apa maksud dan tujuan Ayah, tetapi saya percaya kalau Ayah sebenarnya menyayangi saya. Karena saat hari pemakanan Ibu, Ayah menangis dan mengatakan menyesal membiarkan Ibu diusir Marchioness. Ayah juga berkata, jika Ayah sangatlah mencintai Ibu." jelas Beatrix bercerita.

Olivia terdiam mendengar cerita dan penjelasan Beatrix. Ia mengerutkan dahi, mengingat kembali jalan cerita asli dalam novel. Seingat Olivia. Tidak dijelaskan detail tentang keluarga Beatrix seperti apa. Hanya disebutkan, kalau Beatrix tinggal berdua dengan Marquis dan menjadi kesayangan Marquis.

"Kalau hanya berdua, lalu ke mana Marchioness dan anak-anaknya? Apakah terjadi sesuatu pada mereka?" batin Olivia.

Olivia bingung, ia terlalu larut dalam pemikirannya sampai tidak sadar kalau ia masih berada di kediaman Beatrix dan bicara dengan Beatrix. Melihat Olivia yang melamun, Beatrix pun bingung.

"Ada apa dengan Nona ini?" batin Beatrix.

"Nona ... " panggil Beatrix memegang tangan Olivia.

"Ya? Ah, maaf. Aku melamun. Sampai mana tadi?" jawab Olivia terkejut.

"Ah, itu ... apa ada hal yang Anda pikirkan?" tanya Beatrix.

"Ti-tidak ada. Tidak ada apa-apa," jawab Olivia tersenyum.

"Be-begitu, ya. Baiklah, lupakan soal saya. Sekarang giliran Anda yang menceritakam tentang Anda. Anda bilang Anda putri Tuan Duke. Lantas, apa yang membuat Anda ke desa ini?" tanya Beatrix ingin tahu.

"Hm ... aku ingin mengatakan ini sejak tadi. Namun, lebih baik kita bicara santai saja. Aku dan kau kan seumuran. Panggil saja aku Ivy, agar kita lebih akrab. Aku datang dari wilayahku ke sini untuk mengunjungi makam Ibu yang berada di dekat gunung. Aku datang bersama Ayah, dan kedua Kakak laki-lakiku. Dan sekarang mereka sedang melakukam pembasmian monster, yang katanya akhir-akhir ini menyerang desa dan meresahkan warga desa." jawab Olivia menjelaskan.

"Sebentar, apa maksud Anda itu makam yang di sekitaranya ditumbuhi ladang bunga mawar? Saya pernah melihatnya. Namun, saya tidak tahu kalau itu adalah nisan mendiang Ibu Anda. Jika saya tahu, saya pasti akan sering datang." kata Beatrix.

Olivia menatap Beatrix, "Beatrix ... sudah aku bilang, jangan gunakan bahasa formal. Coba panggil namaku," kata Olivia menyuruh Beatrix memanggil namanya.

"Ma-mana bisa, saya ..." kata Beatrix terdiam.

Olivia tampak murung, karena tidak mau melihat orang dihadapannya murung. Beatrix pun memanggil Olivia dengan panggilan yang Olivia inginkan.

"I-iv ... " gumam Beatrix.

Olivia tersenyum, "Ya, benar. Itulah yang aku tunggu sejak tadi. Jadi, Beatrix. Apa yang kau katakan barusan? kau mau sering-sering mengunjungi makam Ibuku? Itu tidak perlu. Aku bicara seperti ini bukan karena melarangmu. Aku hanya tidak ingin menyusahkanmu. Aku melihat tubuhmu lemah, dan sspertinya kau sering sakit ya?" kata Olivia.

Beatrix menunduk dan menganggukkan kepala, "Ya, kau benar, Iv. Tubuhku ini memang lemah sejak lahir dan aku sering sakit-sakitan. Karena itu, Ibu jadi kesusahan karenaku. Ibu bekerja keras siang malam agar aku bisa makan enak dan minum obat teratur. Sampai-sampai menahan rasa sakitnya sendiri. Aku ini anak yang jahat, kan?" kata Baeatrix menangis.

Olivia memeluk Beatrix, "Itu tidak benar. Kau tidak jahat, Beatrix. Semua Ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Tidak hanya Ibumu, Ibuku pun demikian," kata Olivia melepaskan pelukan. Olivia menadahkan kepala Beatrix dan menyeka air mata Beatrix. "Kau beruntung. Ibumu masih bersamamu hingga kau sebesar ini. Sedangkan aku, aku kehilangan Ibuku sejak aku masih bayi. Dan aku hanya dibesarkan oleh pengasuh. Saat besar, aku sering menangis dan iri melihat anak-anak seusiaku menggandeng tangan Ibu mereka dan ada juga yang digendong. Sedangkan aku, aku hanya bisa memegang, dan digendong Bibi pengasuhku. Ayahku, beliau sering berperang. Kakakku juga sibuk latihan. Aku tidak punya siapa-siapa selain Bibi pengasuh. Jadi, tidakkah sebaiknya kau bersyukur?" kata Olivia dengan mata memerah.

"Ahhh ... karena terbawa emosi. Aku jadi menceritakan apa yang kualami saat masih menjadi Olivia yang malang itu. Namun, aku tak menepisnya. Aku memang iri pada teman-teman sekolahku dulu. Ayah bahkan tak datang dengan alasan sibuk. Dan kakak bahkan tak peduli padaku. Sial! memikirka itu aku jadi ingin menangis," batin Olivia.

Secara tidak langsung, Olivia terbawa suasana dan teringat akan kehidupannya di bumi saat ia masih kecil. Ia yang tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya pun buru-buru menyeka air mata.

"Menangislah, jika itu membuatmu lega, Iv. Kenapa kau menahannya?" tanya Beatrix menatap Olivia.

"Siapa yang menangis? Aku tidak menangis," kata Olivia.

Beatrix tersenyum, "Ya, ya, terserah kau saja. Anggaplah aku tak melihat apa-apa. Ivy ... terima kasih, kau sudah mau mendengar ceritaku. Apa kau mau menjadi temanku? aku tidak tahu kapan Ayah menjemputku pulang, tapi jika saat itu datang. Maukah kau sering main denganku? ayo kita lakukan banyak hal bersama," kata Beatrix.

Olivia kaget, "Apa kau serius? Kau mengajakku berteman bermain bersama?" tanya Olivia tidak percaya.

"Ya, kenapa tidak. Kita seumuran. Kita sudah saling mengenal dan berbagi cerita. Bukankah wajar kalau aku ingin kita berteman. Apa kau tak ingin memiliki teman sepertiku? Ahh ... iya, kau pasti punya banyak teman karena kau seorang putri Duke. Maaf, aku mengatakan sesuatu yang tak berguna. Anggap saja aku tidak mengatakan apa-apa." kata Beatrix murung. Ia sedikit kecewa.

"Beatrix. Kau salah paham. Aku bertanya bukan karena tidak ingin berteman denganmu. Namun, aku igin memastikan apa yang aku dengar. Aku tidak punya seseorang yang berbagi cerita mendalam sepertimu, seperti saat ini. Karena itu aku terkejut, saat kau menawariku menjadi temanmu. Jujur saja, awalnya aku yang ingin mengajakmu berteman, tapi kau yang akhirnya mengajakku duluan. Lantas, apa ada hal lain yang membuatku menolaknya?" jawab Olivia.

Beatrix tersenyum, begitu juga Olivia. Keduanya saling berpelukan erat.

1
Travel Diaryska
bagus tp ga tamat, tanggung ceritanya
Anie Pailing
mana lanjutannya thor , ceritanya bagus loh
Anie Pailing
luar biasa 👍👍👍👍👍👍
Sutami Andriani
👍👍
Bunda Puput
Luar biasa
Surati
bagus
Hayatun
Thor ini udh selesai. ceritanya ,kok GK pernah dilanjutin
DewitaDoank
gantung thor mana lanjutanx
DewitaDoank
penasaran
DewitaDoank
next
DewitaDoank
mampir thor
᭄⃝✭ᴋ͢𝖆ͥ𝒚ᷠ͢ⳑͩɪͥ
putra mahkota pasti si arron ya mam😂🤭🤭🤭
᭄⃝✭ᴋ͢𝖆ͥ𝒚ᷠ͢ⳑͩɪͥ
kena mental kan kau profesor gadungan😏😏 mntang* slma ini dia lemah seenak jidat kau hina dan memasukkannya ke lady lemah😤 kau yang lemah profesor 😏😏😏
᭄⃝✭ᴋ͢𝖆ͥ𝒚ᷠ͢ⳑͩɪͥ
semangat Olivia cari uang yang bnyak😂😂
dan semangat jga buat mamiku😍 ceritanya the best 👍👍🥰🥰
᭄⃝✭ᴋ͢𝖆ͥ𝒚ᷠ͢ⳑͩɪͥ
sepertinya pemuda itu pangeran dri kerajaan sebelah 😂
᭄⃝✭ᴋ͢𝖆ͥ𝒚ᷠ͢ⳑͩɪͥ
suka* kau lah Olivia... MW rubah judul novel gk semudah itu Ferguso🤣🤣
᭄⃝✭ᴋ͢𝖆ͥ𝒚ᷠ͢ⳑͩɪͥ
Olivia kita sama ya... msuk ke apk Krn liat dri iklan😂 trus AQ klo lg baca suka halu kek AQ aja gtu yg lg berperan dlm novelnya 🤣🤣
᭄⃝✭ᴋ͢𝖆ͥ𝒚ᷠ͢ⳑͩɪͥ
luar biasa 😍
shakia
ini udh tamatkah??😶
~• Hypper©®Queen°L•A™ •~
ku kira namanya Ariana Grande
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!