Awan tidak pernah menyangka kalau gadis yang akan di jodohkan dengannya itu adalah Senja kekasihnya sendiri. Kedua orang tua mereka sudah sepakat dan akan segera menikahkan mereka. Tapi suatu konflik telah terjadi karena kebohongan orang tua Awan yang mengaku kalau dirinya orang kaya. Pak Agung telah mengetahui kalau Awan bukan anak orang kaya seperti yang di harapkan nya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Akankah hubungan mereka bisa berlanjut ke jenjang pernikahan setelah hal tersebut terjadi?
Mari ikuti ceritanya dalam Pernikahan Tanpa Restu.
👉 Selamat membaca semoga suka 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristina dinata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awan menjelaskan semua tentang kebohongannya
Di sore hari saat papa dan mama Senja pulang ke rumah. Mereka langsung mendapat kabar dari Bibik kalau Pak Alam datang kerumahnya mencarinya tadi pagi, saat mereka pergi. Pak Agung jadi bingung karna tadi pagi juga ketemu Awan ia mengatakan kalau orang tuanya tidak ada di rumah sedang pulang kampung.
"Ma, Papa bingung deh, tadi Awan bilang ke Papa, kalau orang tuanya tidak ada di rumah sedang pulang kampung. Tapi, kok dia kesini ya? apa mungkin Awan berbohong?" ujar Pak Agung curiga.
"Apa untungnya juga sih Awan berbohong. Mungkin mereka memang lagi ke kampung Pa, Pak Alam pergi kesini sebelum dia pergi mungkin. Awan tidak mungkin berbohong Awan itu anak baik Pa, gak mungkin bohongi kita," ujar Mama Lita.
"Ya mungkin saja itu Ma. Sudahlah nanti kita tanyakan lagi pada mereka," ujar Pak Agung.
Mereka pun tidak membahasnya lagi mengalihkan dengan hal lain.
Tiba-tiba ponsel Mama Lita bergetar sepertinya ada pesan masuk, ia pun melihatnya ternyata Senja yang mengirim pesan. Kalau dia akan pulang sama Awan.
Mama Lita pun langsung menelpon Senja.
📞"Senja apa Awan bersamamu di situ?" tanya Mama Lita.
📞"Iya ada nih Ma, kebetulan hari ini kita pulangnya awal sekarang sudah di jalan," jawab Senja.
📞"Oh bilangin Mama mau bicara."
Senja pun memberikan ponselnya pada Awan dan berbisik memberitahu kalau mamanya mau bicara. Awan pun mengangkatnya dengan gugup.
Mau apalagi Tante Lita denganku ya? aku harap semua akan baik-baik saja. batin Awan ragu ia menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.
"Mas Awan kenapa gugup gitu? santai saja kali Mama gak akan apa-apakan kamu kok," Senja menertawai Awan.
Awan jadi malu ia pun menerima ponsel Senja.
📞"Ha-halo Tante, ada yang bisa saya bantu?" ujarnya terbata-bata.
📞"Iya Awan, Tante mau tanya apa benar orang tuamu ke kampung?"
Desiran darah Awan mengalir Aduh bagiamana ini Awan terdiam sejenak ia merasa gelisah.
"Iy-iya benar Tante, emang ada apa?" tanya Awan.
"Itu, tadi pagi Ayahnya ke sini bukannya kamu bilang mereka ke kampung?"
Waduh Ayah ngapain juga ke rumah Pak Agung bikin kesal aja Ayah! batin Awan memanas.
📞"Iya Tante, mereka pergi sebelum ke kampung, tapi Awan gak tau apa perlunya nanti Awan tanya Ayah ya Tante ...," ujar Awan berbohong.
📞"Oh begitu ya, ya sudah cuma itu tadi perlunya," Tante tertawa kecil.
📞"Em Tante apa Awan boleh ajak Senja pergi? hari ini pulang awal kuliah nya. Jadi pengen jalan-jalan sebentar."
📞"Oh mau kemana memangnya?" tanya Mama Lita.
📞"Mau ajakin Senja jalan aja keliling kota. Tante," ucap Awan sungkan.
📞"Boleh saja sih, asal ingat waktu ya!" pesan Mama Lita.
📞"Iya Tante, gak sampai malam kok pulangnya," Alam menimpali.
Setelah berpamitan Awan pun mengakhiri pembicaraannya dengan Mama Lita. Senja merasa senang karena Awan mau mengajaknya ke rumahnya. Tapi Awan tidak mau bilang ke Mama Lita akan main ke rumahnya takut Senja nya nantinya di tanya-tanya.
"Mas Awan, kita mampir di pasar dulu ya, Senja mau beli sesuatu," ujarnya.
"Mau beli apa sih di pasar?" tanya Awan.
"Ada deh ...," Senja tidak mau memberitahu.
"Hem ... rahasia ya?" Alam berkata lemah.
"Gak juga sih, nanti aja kamu tau apa yang mau ku beli."
"Iya deh," ucap Awan datar.
Sejenak mereka terdiam Awan memperhatikan wajah Senja begitu juga Senja balik menatap.
"Ada apa?" mereka bicara bersamaan.
Awan pun tertawa, "Kamu duluan aja."
"Mas Awan duluan aja, mau bicara apa tadi."
"Hem ... iyalah aku cuma mau bilang kenapa kamu memandangi aku dengan tatapan tajam gitu tadi?" ujar Awan.
"Oh itu," Senja tertawa.
"Aku... aku cuma mau bilang itu wajah tengang banget ada apa sih Mas?" tanya Senja.
"Hem, sebenarnya aku telah berbuat kesalahan hari ini padamu Sayang," lirih Awan bermuka sendu.
"Kesalahan apa?" tanya Senja jadi bingung.
"Aku takut bilangnya. takut kamu marah," lirih Awan.
"Bilang saja gak apa-apa, santai," ucap Senja menenangkan.
"Sebenarnya aku terpaksa melakukannya karna ulah kedua orang tuaku Sayang," Awan mulai bercerita.
"Mas bicaranya yang jelas dong ...!" pinta Senja.
"Hari ini aku telah membohongi orangtuamu juga, ucap nya lemah. Awan merasa bersalah ia menundukkan kepalanya tidak berani melihat ke arah Senja yang menatapnya.
"Bohong apa maksudnya? aku bingung deh," Senja mencoba menenangkan Awan agar mengatakan sebenarnya dengan jelas.
Awan memberanikan dirinya bicara sejujurnya dengan Senja tanpa ada yang di tutupi lagi. Ia pun menjelaskan semuanya pada Senja. Senja memahami semuanya ia mengerti dengan ucapan Awan, kalau ia terpaksa berbohong karna ulah orang tuanya yang mengaku kalau mereka orang kaya dan Awan sudah mencegah mereka. Namun, selalu saja mereka mengabaikan ucapan Awan.
"Aku gak habis pikir deh kenapa Om Alam sama Tante Andin bisa melakukan hal itu. Padahal kan tanpa mereka berbohong aku juga tetap cinta kok sama kamu Mas," ucap Senja menatap Awan.
"Itulah yang aku tidak suka dari orang tuaku Sayang, mereka selalu membuat aku pusing. Sudah dua hari ini aku gak pulang ke rumah. Aku tidak tau lagi mau bicara apa pada mereka. Mereka tidak mau mendengar ucapanku. Makanya hari ini aku ajak kamu ikut aku, biar kamu yang jelasin ke mareka kalau kamu mencintai aku apaadanya tidak perlu berbohong lagi," ucap Awan menjelaskan.
"Kamu pergi dari rumah? terus kamu nginap kemana?" tanya Senja kaget.
"Di rumah Bastian."
"Apa Tante Andin tau?"
"Tidak, Mama pasti sedih banget aku gak pulang. Aku mau minta maaf sama dia," ucap Awan sedih.
"Kok kamu gitu sih Mas, pake kabur-kaburan segala. Itu gak baik tau kasian Mamanya. Pasti Tante Andin mengkuatirkan keadaanmu," ucap Senja menggurui.
"Iya Sayang, aku tau itu salah. Hari ini aku akan meminta maaf pada Mama."
"Jadi Tante Andin dan Om Alam ada di rumah sekarang?"
"Iya mereka ada, maaf ya sekali lagi aku sudah membohongi kedua orang tuamu, aku terpaksa habisnya aku bingung Sayang, mau bicara apa. Kalau mereka tau keadaan orang tuaku seperti apa pasti mereka tidak ijinkan kita pacaran, dan aku tidak mau hal itu terjadi," lirih Awan tampak sedih.
"Iya, aku paham aku tidak menyalakanmu. Tapi, aku kuatir Papa dan Mama akan tau juga nantinya Mas, tentang kebohongan itu," ucap Senja ikut kuatir.
"Itu yang aku takutkan Sayang. Ya sudahlah nanti kita bicarakan lagi sekalian sama Ayah dan Mama. Kita sudah di pasar nih, kamu mau beli apa tadi. Biar aku temani," ucap Awan mengalihkan pembicaraan.
"Gak usah Mas, Mas di mobil aja, biar Senja turun sendiri saja," sahutnya.
"Benar gak apa-apa?" tanya Awan kurang yakin.
"Iya gak apa-apa Mas. Senja udah biasa kok ke pasar sendirian."
"Ya udah, kamu hati-hatinya kalau butuh bantuan telpon saja aku tunggu di mobil ya," ujar Awan.
"Iya Mas, aku pergi dulu," Senja pun turun dan pergi memasuki area pasar.
Ternyata Senja membeli bahan masakan untuk di masak di rumah Awan ia membeli sayuran dan daging.
Tidak lama kemudian, Senja kembali ke mobil sudah selesai berbelanja. Awan kaget melihat Senja belanja banyak sekali.
ijin follow yaa, follback thor
PaMud mampir