Abian Dirgantara, pria yang diselingkuhi sang istri karena alasan dirinya yang miskin.
Abian hancur dan terpuruk saat wanita yang dicintainya lebih memilih pria lain dan pergi meninggalkan luka yang teramat dalam.
Setelah beberapa tahun kemudian, Abian kembali dengan membawa seluruh luka dan dendam pada mantan istrinya. Ia menemukan celah untuk membalaskan dendamnya melalui putri mantan istrinya yang masih belia.
Lantas, apakah Abian akan berhasil membalaskan dendamnya kepada sang mantan istri? Atau ia justru akan terjebak dengan permainannya sendiri dan malah terjerumus dalam pesona anak mantan istrinya?
******
Ini Novel kolaborasi dari penulis Virzha dan Author Ayuza ya guys ...
Jangan lupa like, komen, vote dan subscribe ya guys !!!!
Semoga suka!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuktikan Cinta.
Kedua pasangan itu langsung masuk kedalam rumah. Begitu masuk, Ghea langsung merasakan kehangatan keluarganya yang masih tersisa. Berbeda dengan Abian yang menatap rumah itu dengan kebencian.
Seketika ingatannya melayang saat ia datang ke rumah ini beberapa tahun yang lalu. Desainnya memang sedikit berubah, tapi Abian tidak akan pernah lupa jika tempat itu yang menjadi saksi kebusukan mantan istri dan temannya dulu.
"Rumah ini tidak banyak berubah," ucap Ghea menatap kembali rumah yang cukup lama ia tinggalkan.
"Ya tidak berubah sama sekali, semuanya masih sama saja," sahut Abian begitu dingin.
Ghea mengerutkan dahinya, ia menatap Abian dengan pandangan aneh. "Kau memangnya pernah kesini?"
Abian terdiam sejenak karena laki-laki itu tadi keceplosan mengatakan itu semua. Dan sekarang Abian malah sibuk memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan pada Ghea saat ini. Supaya mulutnya tidak asal ceplas ceplos saja saat berbicara seperti tadi.
"Sayang, aku tanya apa kau sudah pernah kesini?" Ghea mengulangi pertanyaannya sekali lagi. Karena ia malah melihat Abian diam saja ketika ia bertanya.
Sehingga membuat Abian yang sedang memikirkan jawaban spontan saja laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sangat cepat.
"Aku memang tidak pernah kesini sayang, tapi saat aku akan membeli rumah ini dulu, aku sempat melihat beberapa potret foto tentang seisinya yang dikirim oleh temanku, yang kebetulan merekomendasikan rumah ini untukku, sehingga aku bisa mengatakan kalau rumah ini tidak berubah sama sekali," jawab Abian dengan begitu tenang. Padahal suasana hati laki-laki itu saat ini sedang terbakar api kebencian. Di saat ia mengingat bagaimana Sukma dan Regan dulu, tepat 18 tahun yang lalu malah mengkhianati dirinya.
Ghea terlihat meletakkan tangannya pada dagunya sambil menyipitkan mata. Karena saat ini gadis itu tiba-tiba merasa aneh dengan jawaban yang Abian berikan. Namun, detik berikutnya ia malah berpikir kalau apa yang Abian tadi katakan mungkin memang benar apa adanya.
"Baiklah, tadi aku sempat berpikiran kalau kau pernah kesini," ucap Ghea sambil meraih tangan Abian.
"Tidak Sayang, aku hanya melihatnya di foto saja, tapi sama persis kok, tidak ada yang berubah," timpal Abian yang semakin meyakinkan gadis itu dan dengan senang hati ia membiarkan Ghea memegang jari-jemarinya pada tangannya yang kekar serta berotot.
"Apa kau mau melihat kamarku?" tanya Ghea yang tiba-tiba saja malah mengajak Abian untuk melihat kamarnya.
"Boleh, tapi aku penasaran dengan kamar yang ada di paling ujung itu."
Abian terlihat menunjuk kamar yang dulu tempat Sukma dan Regan melakukan adegan bercocok tanam. Dan tiba-tiba saja rasa amarah serta dendamnya yang dulu kini kembali lagi menyala di dalam benak dan hati kecil laki-laki itu, sehingga membuat tangan Abian terlihat sampai gemetaran, dan keringat dingin pun mulai membanjiri pelipis laki-laki itu.
Namun, detik berikutnya Abian dengan cepat menurunkan tangan supaya Ghea tidak melihatnya tidak lupa juga ia segera mengusap keringatnya menggunakan sapu tangan yang sering laki-laki itu bawa pada sakunya.
"Sayang, apa kamu mau menemaniku untuk melihat kamar itu?"
Ghea mengangguk sambil menjawab, "Tentu saja Sayang, kau tahu di sana adalah kamar Mama dan Papaku." Ghea terlihat melukis senyum indah, karena saat ini ia sedang membayangkan kalau kedua orang tuanya pasti sangat senang jika tahu tentang semua ini. Dan Tanpa Ghea sadari dari tadi tangan Abian yang sebelah kiri mengepal kuat di bawah sana.
"Ayo Sayang, kita kesana saja karena aku juga ingin melihat kamar kedua orang tuaku," kata Ghea yang terlihat mulai melangkahkan kaki menuju kamar Sukma dan Regan.
"Baiklah, malam ini akan menjadi malam yang selama ini aku tunggu-tunggu, dimana aku akan menghancurkan masa depan anak kesayanganmu bersama laki-laki brengsek itu!" geram Abian di dalam benaknya. Sambil mengikuti langkah kaki gadis itu.
****
Terlihat Abian menatap ranjang di kamar Sukma dengan sorot mata tajam, namun lagi-lagi Ghea tidak menyadari akan hal itu.
"Sudah?" Suara Ghea tiba-tiba membuat lamunan Abian menjadi buyar.
"Belum, karena aku masih sangat suka melihat desain kamar ini," jawab Abian yang kini terlihat dengan cepat merubah tatapan matanya pada Ghea. Yang tadi sorot matanya tajam kini menjadi teduh.
"Sini Sayang, duduk dulu," ucap Abian sambil menepuk-nepuk ranjang tempatnya duduk saat ini. "Sini, karena ada suatu hal yang ingin aku tanyakan padamu," sambung laki-laki itu.
Ghea yang penasaran dengan apa yang akan ditanyakan oleh kekasih pujaan hatinya itu, dengan cepat duduk di sebelahnya.
"Apa yang ingin kau tanyakan pada diriku?" Ghea bertanya sesaat setelah duduk di sebelah Abian.
"Apa kau mencintaiku?"
Ghea mengerutkan dahi tatkala ia mendengar pertanyaan Abian.
"Jawab aku," pinta Abian.
"Kau sendiri sudah tahu jawabannya jadi, untuk apa kau menanyakan itu semua?"
"Aku ingin mendengarnya sendiri dari mulutmu." Kini Abian terlihat menatap Ghea dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. "Ayo Ghea katakan."
"I-iya, aku sangat mencintaimu Abian, aku Ghea sangat-sangat mencintaimu," ucap Ghea yang terlihat gugup karena tiba-tiba saja Abian malah meraba pa ha gadis itu. Kebetulan saat ini Ghea menggunakan dress yang hanya sampai selututnya saja.
"Aku butuh bukti," bisik Abian di telinga Ghea sambil menggigit kecil daun telinga gadis itu. "Aku butuh bukti, Sayang," sambung Abian lagi.
Sedangkan Ghea tiba-tiba saja merasakan ada sensasi yang berbeda di saat tangan Abian menyelinap masuk dari bawah menuju ke pa hanya. Ditambah Abian sekarang malah men ji lati belakang kuping gadis itu. Karena sepertinya Abian tahu titik koordinat kelemahan seorang wanita. Dan Ghea sama sekali tidak menolak saat Abian melakukan itu pada dirinya.
"Bu-bukti a-apa?" Ghea bertanya terbata-bata.
"Aku butuh bukti dengan cara kau memberikan aku suatu hal yang paling berharga pada tubuhmu ini." Kini tangan Abian malah bergerak semakin liar di pangkal paha Ghea.
"Berharga?"
"Iya, sebagai bukti kau benar-benar sayang dan tulus dalam mencintaiku. Seperti aku yang sangat mencintaimu sampai rela memberikan apapun yang kau mau."
"Katakan saja, apa yang kau inginkan, supaya aku bisa memberikannya sekarang, jangan malah berbelit-belit seperti ini," kata Ghea yang benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Abian. Meskipun laki-laki itu sudah mengatakan suatu hal yang sangat berharga. Namun, gadis itu masih saja belum mengerti.
Abian yang mendengar itu tidak punya pilihan lain selain tutup poin saja, karena jika begini terus maka laki-laki itu akan gagal malam ini.
"Ghea, Sayang," tutur kata Abian terdengar bagaikan alunan musik yang sangat indah di indera pendengaran Ghea. "Aku ingin, kau menjadi milikku seutuhnya bukan sebutuhnya, maka izinkan aku untuk melakukannya malam ini juga. Karena dengan cara begitu maka kau tidak akan memiliki niat untuk pergi meninggalkanku."
Happy Reading.
TBC.