Tidak ada suami yang bisa memilih antara sang Ibu dengan Istrinya, begitupun dengan Yusuf. Lalu, apa yang bisa Yusuf lakukan? Jika, sang Ibu mengaggap istrinya tidak seperti anak sendiri? Dan mampukah Febri Ayundi mempertahankan pernikahannya dengan sang suami? Dimana selalu ada Ibu Marsella sang mertua yang ikut campur dalam hubungan rumah tangga mereka. Saksikanlah, kisah penuh menguras emosi dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon febrianis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Menjadi Jembatan
Pak Brama tidak marah kepada Yusuf, dia menjadi pendengar yang baik untuk Febri. Putrinya menangis dan mengatakan, jika sang suami telah melakukan KDRT kepadanya.
Setelah Yusuf berlalu pulang sekarang tinggal Febri dan ayahnya.
"Nak bicaralah ayah akan mendengarkan masalh rumah tangga kalian berdua dari versimu. Ayah ingin mendengarkan dari kedua belah pihak bukan satu pihak saja agar tidak menjadi salah paham nantinya". Ucap pak Brahma.
Febri langsung memeluk ayahnya sambil menangis keras. Pak Brahma membiarkan putri semata wayang nya itu meluapkan semua beban. Beberapa saat tangisan Febri pun berangsur pelan dan hanya terdengar suara segukan.
"Ayah jika aku cerai dengan Yusuf mau kah ayah memaafkan aku?". Kata febri bertanya kepada pak Brahma ia tau sudah membuat ayahnya kecewa. karena tidak bisa menjaga rumah tangga yang dibina sampai maut memisahkan seperti ayah dan almarhum ibunya .
"Nak bukan kah terlalu dini untuk membicarakan perceraian, setiap rumah tangga pasti memiliki masalah itu namanya ujian. Dan ujian bisa datang dari mana saja, bisa diuji dengan ekonomi, keluarga bahkan tetangga. Ayah dan ibu mu dulu sering mendapat ujian seperti itu. Tinggal bagaimana menyikapinya saja seperti apa."
Pak Brama memberikan kata-kata agar febri bisa melihat masalah rumah tangga nya dengan pikiran yang lebih terbuka.
"Aku gak bisa bertahan lagi dengan rumah tangga yang kujalani, lebih tepatnya rumah duka karna hanya derita yang dapatkan bagaikan di neraka dunia. Suamiku ringan tangan dia tidak segan-segan memukul ku jika ada masalah seperti tadi. Belum lagi mertuaku yang sering mengadu domba aku dengan suamiku. Aku lelah yah," ucap Febri sambil melepaskan pelukannya lalu bergelayut manja di lengan renta ayahnya.
Hal itu membuat Pak Brama tersenyum, ia teringat Febri kecil saat meminta sesuatu. Pasti febri akan menangis sambil bergelayut manja persis yang dilakukannya sekarang. Ungkapan seseorang akan terus dianggap anak kecil oleh orang tuanya mungkin benar dan Febri salah satu nya.
"Berbeda dengan ayah aku tidak pernah sekali pun melihat ayah dan ibu bertengkar apa lagi sampai KDRT." Febri sekarang mulai membandingkan ayah dan suaminya karna dirasa seperti bumi langit cinta dah kasih sayang ayahnya tiada tara, tidak bisa diucapkan dengan kata-kata begitu besar pengorbanan yang dilakukan demi anak dan istri. Hal sebaliknya malah dilakukan suaminya.
"Setiap orangkan ada kelebihan dan kelurangan masing-masing jadi jangan pukul rata apalagi sampai membandingkan. Patutnya perbaiki diri, bicaralah dari hati ke hati dengan suamimu agar mendapatkan titik temu dari masalah yang kalian alami. Jangan lupa bedoa minta ke pada tuhan jalan keluarnya serta dilembutkan hati suamimu supaya tidak ringan tangan lagi." Nasihat panjang yang Pak Brahma berikan kepada putrinya.
"Entah lah Yah. Nanti aku akan coba bicarakan dengan Kak Yusuf tentang masa depan rumah tangga kami akan dibawa kemana." Ragu yang dirasakan Febri, mungkin bisa saja dia berbaikan dengan Yusuf dan kembali rujuk lalu bagaimana dengan Bu Sella karna akar masalah dalam rumah tangga mereka adalah mertua Febri sendiri.
"Atau kalo tidak nanti ayah akan coba bantu kalian dengan menjadi jembatan penghubung anatara kalian berdua biar cepat mendapatkan solusi dan masalah kalian teratasi." Pak Brama berbicara sambil mengelus punggung Febri. Dia tau betapa sakit yang dirasakan anaknya akibat ulah menantu dan besannya sendiri. Tapi dia mencoba memperbaiki kesalahpahaman tersebut demi kebahagian anak semata wayangnya.
"Sudah-sudah ah, sejak kapan anak ayah jadi cengeng gini. Febri yang ayah kenal kan kuat. Dari pada larut dalam kesedihan mending makan sana pasti kamu tenaga dan pikiranmu terkuras jadi capek, sambil nunggu kamarmu ayah bersihkan," Kata Pak Brama dengan semangat agar melupakan sejenak melupakan sejenak masalah rumah tangganya.
"Ga usah yah… nanti aku mau tidur sama ayah persis seperti dulu aku kecil. Aku mau nostalgia lagi. Makan nanti aja aku mau mandi dulu karna ini udah jam tiga sore bentar lagi ashar lagian badanku bau keringat juga nih." Febri menyodorkan ketiak ke Pak Brama.
Refleks Pak Brama menutup hidung. "Hueek.. pantes dari tadi bau asem ternyata kamu toh," ucap pak Brama pura-pura muntah.
"Iyaaa ayah ku yang wangii wlee," ejek Febri.
Dengan jurus seribu Febri melesat kekamar mandi. Dia mandi lama sekali dengan menyalakan shower demi menutupi tangisannya. Mencoba menutupi tangisan agar ayahnya tidak berfikir bahwa dirinya masih bersedih tapi tak bisa dibohongi bagaimanpun jika didekat ayah nya ia merasakan kebahagian tersendiri.
Sementara itu Pak Brama nampak mondar-mandir didepan pintu kamar mandi tempat anaknya mandi sekarang.
Duk… Duk.. Duk..
"Febri.. Nak!" Gedor Pak Brama sudah setengah jam febri dikamar mandi tak jua keluar.
"Bentar lagi yah aku selesai," jawab Febri yang tersadar dari kesedihan nya tadi saat mendengar gedoran pak Brahma. Gak lama Febri keluar dengan lilitan handuk dibadan.
"Kenapa yah kok kayak orang mau nagih utang aja kenceng banget gedornya untung ga copot pintu kamar mandi."
"Habisnya kamu lama banget mandinya, udah setengah jam lebih kamu didalam gak keluar-keluar ayah kira kamu bunuh diri karna depersi dan stres," jawab pak Brama dengan wajah panik.
Febri yang terkejut dengan penuturan ayahnya sebab ia merasa baru beberapa menit mandi. Pantas saja tangannya keriput mungkin kelamaan kena air.
"Gak mungkin lah yah aku kayak gitu, gini-gini juga aku gak bodoh. Mana mau aku mati konyol."
"Terus kamu ngapain kok lama," tanya pak Brama yang tidak puas dengan jawaban anak nya.
"Akuuu… luluran yah. Memang kalo luluran aku tuh lamaaaaaaaa banget bisa sampe satu jam an hehhe maaf ya yah udah bikin ayah khawatir." Dengan cengengesan Febri menjawab, dia takut kalau ayahnya tau yang sebenarnya.
"Ya sudah langsung kekamar ayah ganti baju terus ke dapur makan, ayah udah bikin opor ayam buat kamu di meja makan tuh. Eh bukan bikin sih tapi beli ke warung depan heheh". Jawab pak brahma sambil menunjuk kantung kresek berisikan opor ayam.
"Okeh yah," jawab Febri.
Setelah berganti baju Febri pun bergabung dengan ayah nya di dapur dan makan bersama. Tak lama terdengar adzan berkumandang. Habis makan mereka lanjut sholat ashar berjamaah.
Tenang dan damai hal yang sudah lama tidak dirasakan Febri setelah menikah. Apa lagi setelah Bu Sella masuk dalam kehidupan Febri. Momen seperti ini sangat langka.
"Assalamualaikum warahmatullah." Pak Brama melakukan salam terakhir saat sholat diikuti oleh febri. Tak lama ia mengangkat kedua tangan nya dan berdoa.
"Ya Rabb-ku, lapangkanlah dada keluargaku, ringankanlah segala urusan kami dan berilah kami kekuatan dalam menghadapi setiap cobaan dalam hidup Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa gina 'adzaban naar Alhamdulillahrabbil alamin".
"Aammiin Ya Allah." Diaminkan oleh febri.
sabar yak, Febri😌