Maretta anggraini, seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai manager sebuah perusahaan garment. Dia bercerai dari suaminya lantaran suaminya ketahuan sudah menikah lagi.
Kemudian dia bertemu dengan seorang Dokter muda yang bernama Didi rangga dinata. Ternyata, Dokter itu langsung jatuh cinta sama Maretta.
Bagaimana perjalanan kisah cinta antara Maretta dan Didi.
Ikuti dalam novel yang berjudul KAU YANG SELALU ADA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evy erviyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part : 17 (Kerja sama)
Didi langsung berdiri dan mengikuti Andra keluar ruangan. Ternyata, memang benar. Dia adalah Ranti yang dijodohkan dengannya. Ada hubungan apa dia dengan Andra temannya. Kemudian Didi mendekati mereka yang lagi ngobrol.
"Ranti,! kok kamu disini?" tanya Didi.
"Eh, Mas Didi. Kamu juga kok disini?" tanya Ranti balik.
Andra menjadi kaget kok mereka bisa saling mengenal. "Kalian sudah kenal?" tanya Andra.
"Iya, Ndra. Kita sudah kenal." jawab Didi.
"Sebaiknya kita ngobrol-ngobrol diruanganku, saja." ajak Andra.
"Oke,!" jawab Ranti.
Kemudian mereka bertiga melangkah kedalam ruangan. Didi masih bingung kenapa mereka bisa saling kenal.
"Coba ceritakan, sebenarnya ada hubungan apa kalian?" tanya Didi.
"Gini, Mas. Aku sama Mas Andra memang sudah lama kenal. Kita kenal saat Mas Andra main kerumah. Dia teman komunitas nya Mas Randy di Otomotif. Setelah kita kenal, akhirnya kita jadi dekat. Memang belum resmi pacaran, karena belum berani sama orang tua." jawab Ranti pelan sambil menundukan kepalanya.
"Ya Tuhan., kenapa kamu kok diam saja, sih Ranti.!" seru Didi sambil menutup wajahnya.
"Sebentar. Ini sebenarnya kalian ada apa, sih?" tanya Andra bingung.
"Lo tahu nggak, Ndra. Dia ini lah anak teman Papa gue yang akan dijodohkan sama gue, dan gue nggak setuju, karena gue menganggap dia sebagai adik gue sendiri." jawab Didi.
"Apa.,! yang benar Ran?" tanya Andra.
"Iya, Mas. Aku memang belum cerita sama kamu. Aku nunggu waktu yang tepat. Berhubung ini tadi kita ketemu disini, akhirnya dibahas disini." jawab Ranti takut.
"Tenang sob.,! kalian masih tetap bisa berhubungan, kok. Gue hanya anggap dia sebagai adik gue sendiri." ucap Didi.
"Iya, aku percaya sama kalian berdua, kok." jawab Andra santai.
"Tapi, Ranti kamu kok diam saja waktu kita dijodohkan. Padahal kita masing-masing telah punya calon sendiri." tanya Didi.
"Iya, Mas. Aku juga nggak berani melawan Papa. Makanya waktu itu aku pasrah. Misal mas Didi setuju aku nurut, atau sebaliknya aku juga nggak apa-apa." jawabnya lirih.
"Astaga Ranti, misal aku terima perjodohan ini, lalu kamu terima juga. Terus gimana nasib temanku satu ini. Apa kamu tega membuatnya dia jadi perjaka tua, hahahaha.." jawab Didi sambil tertawa.
"Huuss,! mulut lo asal aja. Tapi, kalian nggak setuju soal perjodohan ini, kan?" tanya Andra memastikan.
"Enggaklah, Bro.,! gue kan dari awal sudah bilang kalau gue sudah punya cewek." jawab Didi.
"Syukurlah kalau gitu. Gue cinta mati sama dia, Sob,!" bisik Andra ditelinga Didi.
"Tenang. Perjuangkan cinta kalian. Sebagaimana aku juga akan perjuangkan cintaku sama Retta." jawab Didi.
Mereka akhirnya melanjutkan ngobrol-ngobrol. Kini topik pembicaraannya malah ke soal rencana menikah barengan. Didi dan Andra memang sahabat karib yang dari jaman SMA. Meskipun mereka berbeda profesi dan punya kesibukan masing-masing, tapi mereka juga sering ketemu dan jalan bareng.
.
.
.
Malam harinya, Didi main kerumah Retta. Dia ingin mengajak Retta jalan-jalan pake motor. Dia kerumah Retta pakai mobil, soalnya motornya Didi kan masih dirumah Retta.
"Ting..tung..,!"
Retta yang lagi duduk diruang tengah langsung keluar membuka pintu.
"Malam sayang,!" seru Didi dari luar.
"Hai, kamu. Masuk aja." ucap Retta.
"Keluar, yuk! kita pakai motor muter-muter keliling kota seperti waktu itu." ajak Didi.
"Emm, gimana, ya?" jawab Retta.
"Ayolah, sayang. Aku mau mengatakan sesuatu." ucap Didi.
"Katakan disini, aja kan bisa?" jawab Retta.
"Ish, ya nggak seru lah. Ayolah!" bujuk Didi.
"Baiklah., aku ganti celana dulu. Oh iya, kamu panasin dulu mesin motornya. Kuncinya ada dimeja ruang tengah." ucap Retta.
"Siap, komandan.!" jawab Didi sembari berjalan menuju ruang tengah ambil kunci.
Tak lama kemudiam mereka pun bersiap berangkat. Retta memakai celana jeans dipadu atasan t-shirt lengan panjang. Tak lupa dia memakai jaket.
Meluncurlah motor Didi membelah jalan raya. Tangan Retta memegang pinggang Didi dan merapatkan tubuhnya. Kini sepasang kekasih yang lagi dimabuk asmara itu lagi menikmati indahnya kota dimalam hari.
Didi mengajak Retta putar-putar sampai mereka capek dan lapar. Retta minta ke warung angkringan yang saat itu. Akhirnya Didi membelokan motornya didepan angkringan.
"Malam, Bi. Biasanya, ya. Susu hangat dua!" seru Didi.
"Eh, Den ganteng. Lagi pacaran, nih?" ucap Bibi penjual itu.
"Iya, nih Bi. Bini aku lagi ngidam minta diajak keliling naik motor." jawab Didi sambil mengangkat alisnya kearah Retta.
"Kamu apaan, sih! ngaco aja deh" sahut Retta.
"Oh iya, sayang. Aku telpon teman aku dulu, ya?" ucap Didi.
Didi langsung membuka ponselnya. Dia kemudian berbicara di telpon
["Hai, bro. Gue dah di TKP, nih!"]
["Okey, gue meluncur,!"]
Kemudian Didi kembali menutup telponnya. Retta membulatkan matanya kaget, kenapa Didi pakai bicara seperti itu. Tak lama kemudian, datanglah sepasang muda-mudi naik motor gede menuju angkringan.
Ketika sang pengendara melepaskan helmnya, Retta sontak kaget karena siapa yang datang barusan. Dia adalah Andra dan Ranti. Retta jadi ingat, laki-laki itu adalah laki-laki yang bersama Ranti, ketika ketemu dirumah makan padang saat itu.
"Sayang, kamu pasti bingung kenapa mereka bisa sama-sama seperti ini.?" tanya Didi.
"Iya, kenapa mereka disini?" jawab Retta.
Didi mengajak duduk mereka semua. Kini mereka duduk lesehan dibawah sambil menikmati susu hangat dan makanan kecil. Didi sudah memesankan dua lagi susu hangat.
"Kenalin, ini Andra temanku. Dan ini Ranti, kamu pasti tahu saat di CFD dulu." terang Didi.
"Aku Retta," jawab Retta.
Kemudian mereka bersalaman lalu melanjutkan obrolan.
"Sayang, sebenernya kamu aku ajak kesini itu mau aku kasih tahu sesuatu. Kita bertiga sebelumnya sudah membicarakan ini tadi pagi. Mereka sebenarnya adalah sepasang kekasih.!" ucap Didi.
"Tapi, Ranti kan cewek yang akan dijosohkan sama, kamu?" tanya Retta bingung.
"Iya, Mbak. Aku dan Mas Andra sudah kenal lama sebelum Mamanya Mas Didi dan Papaku menjodohkan kita berdua. Kami berdua saling mencintai dan akan memperjuangkan cinta kami berdua, sama seperti halnya cinta Mas Didi sama Mbak Retta." jelas Ranti.
"Iya, sayang. Kita berada disini semua karena punya tujuan." ucap Didi.
"Apa itu?" tanya Retta.
"Kita akan kerja sama untuk memperjuangkan cinta kita masing-masing. Ranti akan membujuk Papanya supaya membatalkan perjodohan ini. Lalu aku akan membujuk Mama supaya menyetujuinya. Andra kebagian merayu Kakaknya Ranti, yang kebetulan satu komunitas sama Andra." jelas Didi.
"Lalu, aku kebagian apa?" tanya Retta.
"Kamu kebagian berdoa aja. Hehehe,!" jawab Didi sambil ketawa.
"Mbak Retta tenang saja. Aku dan Mas Didi nggak akan mau kalau dijodohkan, karena kita sudah punya pilihan sendiri." sahut Ranti.
"Iya, Ran. Aku ngerti. Makasih, ya?" jawab Retta.
Ranti tersenyum lalu melanjutkan memegang tangan Retta. "Iya, sama-sama, Mbak. Aku dukung hubungan kalian" jawab Ranti.
"Oh iya, Ranti. Jangan lupa bujuk Papamu." ucap Didi.
"Siap, Mas. Oh iya, kamu masih tinggal di Apartemen apa sudah pulang." tanya Ranti.
"Kapan hari aku pulang kerumah, kebetulan ada yang aku ambil. Tapi, mungkin besok aku kembali ke Apartemen lagi." jawab Didi.
Sampai nggak terasa hari pun semakin malam. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Didi yang mentraktir semua itu. Kemudian mereka pulang ke rumah masing-masing.
---------Bersambung----------
.retta
.