Mengisahkan seorang perempuan yang bernama Alea, dengan pekerjaan sebagai seorang tukang parkir. Alea, tomboy dan pemberani serta tukang rusuh, seperti layaknya lelaki. Tiba-tiba menyukai Aliando yang seorang kondektur Bus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shizi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. KETIKA CINTA MEMILIH DIAM
Mencintai dalam diam bukan maksudku, hanya saja tak ada keberanian untuk mengatakannya walau seseorang itu berada di depan mata.
🍁🍁🍁🍁
Alby yang menyukai Alea, lebih memilih memendam rasa itu, agar mereka tetap bisa bersama. Tanpa harus merusak persahabatan yang sudah terjalin bertahun-tahun.
"Aku harap kamu akan menemukan lelaki yang bisa menerima kamu, Al." Itulah harapan Alby pada sosok wanita yang selalu memenuhi pikirannya. Sosok yang selalu bisa membuatnya tertawa, dan merasa sangat bahagia.
Pukul 19:00 malam, Alby yang masih termenung hingga seseorang membuyarkan lamunannya.
Yah seseorang itu adalah Nabila. Perempuan yang selalu memberi perhatian pada Alby, namun sedikitpun Alby tidak pernah menggubrisnya.
"By, kamu betah amat di sini? Gak takut masuk angin." Lalu Nabila mendekati Alby dan langsung duduk di sampingnya.
"Ada apa datang?" bukannya menjawab. Justru Alby malah bertanya soal kedatangannya kemari.
"Apa tidak boleh? Aku mau nganter ini saja kok," kata Billa yang menyodorkan sekotak martabak pada Alby.
"Terimakasih," jawab Alby.
"Makanlah mumpung masih hangat," ucap Bila pada Alby.
"Nanti." Ucapan datar yang diberikan oleh Alby membuat Bila menghembuskan nafas kasarnya.
"Lebih baik sekarang kamu pulang, karena aku ingin tidur." Bila yang mendengar Alby yang tidak ingin di ganggu, membuat Bila terpaksa pergi dengan rasa kecewa.
Tidak berapa lama kemudian.
Alby melirik sekilas ke arak kotak yang diberikan oleh Bila kepadanya, lalu mengambilnya dan langsung masuk ke dalam rumah.
Sedangkan di tempat lain.
Alea yang sudah berada di mall, dan mulai bekerja seperti yang sudah-sudah. Menatap Agus dan entah apa yang ada dipikirannya sekarang.
Mendapat tatapan yang tidak biasa. Membuat Agus salah tingkah.
"Kenapa?"
"Tidak, memangnya gak boleh ngeliat muka elo yang jelek itu."
Ck.
Agus berdecak kesal karena Alea sukses membuatnya kesal seharian ini.
"Dasar sialan," umpat Agus.
"Gus," panggil Alea.
"Apa!" sahut Agus dengan nada sedikit kesal.
"Gak jadi," tukas Alea. Lalu ia berlalu pergi meninggalkan Agus.
"Buset elo bener-bener ya," sungut Agus mencabik kesal.
"Mau ke mana?"
"Bakso yang pedes, biar otak bisa melek."
Huh.
Agus ternganga menatap tidak percaya, bisa-bisanya di saat suasana hati yang sedang tidak baik, Alea justru bertingkah konyol.
"Al, meski elo nyesek tetep saja elo gak bakal bisa nangis." Agus membatin menatap kepergian Alea.
"Abang tukang bakso, bikinin gue dong." Dengan nada menggoda Alea memesan bakso milik bang Tatang.
"Kirain siapa, ternyata kamu."
"Memangnya mau abang seperti apa? Gue kan cantik masa kurang mulu," ujar Alea.
"Iya cantik, tapi tetep ada minusnya." Jawab Tatang.
"Elo Bang, habis muji terus di jatuhin dari atap genting tetangga." Alea menghela nafas karena seperti itulah jika keduanya bertemu.
"Nih pesanan kamu." Tatang pun langsung memberikan semangkok bakso pada Alea.
Saat hendak akan menikmati sesuap pentol, seseorang tengah asik bercanda gurau lewat tepat di sampingnya, lalu dengan sengaja menghampiri Alea.
"Eh bener kan dugaan gue kalau itu perempuan cuma seorang sampah," kata orang itu pada temannya.
"Siapa Lu, siapa yang sedang kamu bicarakan?" tanya temanya.
Yah, perempuan itu adalah Lula. Mantannya Ali yang sedang berjalan dengan temannya.
Alea masih diam dan enggan untuk menanggapi, karena ia tidak mau membuat onar di tempat umum.
"Kemarin yang mukul pacarku, emang yah, kalau udah muka jalanan kalau ngamuk macam banteng." Lula yang berbicara pada temannya, dengan tatapan mengarah ke Alea.
"Mbak, jika tidak beli dan cuma mau menghina pelanggan saya. Lebih baik Mbak pergi,” ucap bang Tatang pada Lula.
“eh kalian sepertinya cocok, sama-sama orang rendahan.”
Brakh.
“Iuhh … Marah si singa,” ejek Lula pada Alea.
“apa mulut lo mau gue buat rujak cingur? Kalau mau gue akan ladenin sekarang,” kata Alea dengan nada yang sangat dalam.
“Kita pergi yuk, sepertinya dia sudah marah beneran.” Teman Lula berbisik dan mengajak Lula untuk pergi agar keadaan tidak semakin kacau.
“Bawa pergi teman lo itu. Kalau gak itu mulut sama kaki bakal gue bikin kaldu bakso sama rujak cingur,” kata Alea penuh penekanan. Agar temannya membawa perempuan yang tidak tahu diri itu.
“Ingat, aku bakal selalu buat masalah sama kamu. Itu karena kamu sudah berani menghajar pacarku,” terang Lula yang kini sedang dendam dengan Alea.
“Gue sama sekali gak takut sama elo, ingat itu.”
Keduanya sudah pergi dan sekarang tinggal Alea dan bang Tatang.
“Al, Siapa dia?” tanya bang Tatang yang penasaran, pasalnya yang ia ketahui bahwa Alea sama sekali tidak pernah punya musuh.
“Mantan temen gue, tadi siang selingkuhannya sempat gue hajar, karena temen gue udah keadaan gak berdaya. Masih saja di hajarnya,” Alea pun menerangkan kenapa dirinya bisa tiba-tiba mempunyai musuh.
Bang Tatang mengeryitkan dahinya, dan berpikir sejak kapan seorang ‘Alea’ bisa pergi dengan seorang laki-laki.
“Gue tadi sempat diajak buat cari kado, eh gak taunya yang mau di kasih keburu kepergok.” Alea tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Bang Tatang, maka dari itu Alea menjelaskan. Kejadian yang membuat dirinya terjebak dalam masalah itu.
“Harusnya kamu lebih hati-hati karena kamu seorang wanita,” kata bang Tatang.
yah, sosok bang Tatang. Layaknya kakak bagi Alea karena ia adalah sang penasehat untuknya. Jadi, bang Tatang sangat peduli pada Alea karena mungkin usia keduanya berbeda, jadi bang Tatang bisa bersikap lebih dewasa.
“Tenang saja, Bang. Gue kan bisa gelut dan kedua gue kenal sama preman-preman sini. Pasti jamin aman deh,” jawab Alea dengan begitu entengnya.
“Abang cuma mau kamu stop untuk buat rusuh. Ingat umur! Fokus untuk menata masa depan karena usia kamu semakin bertambah,” ujar bang Tatang memberi nasehat pada Alea.
“Sayangnya yang mau diajak menuju masa depan belum ada, entah nyari bapaknya anak-anak ke mana lagi.” Jawab Alea dengan mulut yang mengunyah somay goreng yang diambil di rombong bakso tersebut.
Ck … Ck.
Bang Tatang berdecak karena Alea punya seribu cara, untuk mencari alasan.
“Kata istrinya Abang, perempuan itu setidaknya bisa pakai rok. Itu karena sudah kodrat wanita, apalagi kalau sudah menikah hamil dan punya anak. Maka kita tidak selamanya terjebak dengan keadaan seperti ini kan. Apa kamu tidak malu pada anak-anak kamu kelak,”
Alea diam karena kata demi kata, yang ia dengar itu adalah sebuah petuah. Maka dari itu Alea memilih diam dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh bang Tatang.
“Mungkin nanti Bang, nunggu hidayah jatuh mengenai kepalaku.” Jawab Alea masih dengan keadaan santai.