Menceritakan keluarga sombong yang sangat kaya di kota namun di benci banyak orang.
Ada seorang petani yang pernah datang untuk meminjam uang pada keluarga yang kaya ini untuk berobat anaknya yang sedang sakit parah.
Tak di sangka bukannya pertolongan yang di beri oleh keluarga kaya ini tapi tindasan yang bertubi-tubi pada petani ini.
Karena tersinggung dan tidak terima akan perlakuaan keluarga kaya, petani membantai semua keluarga sombong itu.
Hingga akhirnya rumah itu sangat angker, arwah keluarga yang kaya dan sombong itu penuh dengan kebenciaan dan dendam.
Berpuluh tahun kemudian ada sepasang suami istri yang membeli rumah keluarga sombong itu dengan harga murah, tak di sangka ternyata rumah itu berhantu.
Namun sang istri ternyata bisa berkomunikasi dengan arwah yang penuh dendam itu, Apa yang akan terjadi dengan sepasang suami istri serta keluarganya? Akankah misteri di balik pembantai itu akan terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alsya suci maesya putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Mimpi yang nyata
**Happy reading readers!
Jangan lupa klik like dan beri vote sebanyak-banyak nya ya readers.
Jangan lupa juga jadikan novel ini sebagai favorit ya readers, agar readers semua tidak ketinggalan setiap up episode nya.
Salam hangat dari author
#alsya suci maesya putri**
Cia sangat ketakutan badan nya dingin dan sangat pucat.
Ternyata yang aku mimpikan memeng kenyataan, yang aku mimpikan ternyata memang benar-benar terjadi.
Kasihan Cia ia sangat ketakutan dengan apa yang baru saja ia alami.
"Cia, tenang ya sayang! Kakak ada di sini jangan takut!" Tutur Vivian memeluk sembari mengelus Cia yang ketakutan.
Tak.. Suara tombol lampu yang di tekan, lampu pun menyala.
"Apa yang terjadi?" Ibu mengucek-ngucek mata nya.
"...." Cia diam tapi air mata nya terus mengalir.
"Ibu, Cia dia.." Vivian ingin menjelaskan apa yang terjadi oleh Cia ke pada ibu namun terpotong oleh kedatangan Lio.
"Vivian! Mengapa kamu berlari ke kamar Cia? Kamu mengganggu Cia dan Ibu tidur saja" Lio berjalan ke dalam kamar Cia.
"Eh, apa yang terjadi? Mengapa Cia menangis?" Tanya Lio bingung.
"Kak, aku tak berniat mengganggu Cia dan Ibu kak, aku hanya khawatir terhadap Cia kak" Jelas Vivian pada Lio.
"Tapi sekarang sudah tengah malam Vi, tidak baik mengganggu tidur Cia dan Ibu, ayo kita balik ke kamar!" Lio menarik tangan Vivian.
"Tapi kak..." Vivian tidak ingin meninggalkan Cia.
"Sudah! ayo kita balik ke kamar! Cia, Ibu maafkan kami ya sudah mengganggu tidur nya, kami balik dulu ke kamar" Lio membawa Vivian ke kamar nya.
"Iya nak tak apa" Jawab Ibu tersenyum.
Setelah Vivian dan Lio pergi, Ibu mendekati Cia lalu menanyai nya mengapa ia sampai menangis dan apa hubungan nya dengan Vivian.
"Nak, mengapa kamu menangis?" Tanya Ibu memeluk anak bungsu nya sembari mengelus-elus kepala nya.
"....." Cia masih syok atas apa yang telah terjadi pada nya.
"Nak, kalo kamu tidak mau cerita juga tak apa, tapi Ibu harap kamu jangan menangis seperti ini, Ibu sangat khawatir nak" Ibu mencium Cia sembari mengusap-usap punggung Cia.
Cia pun bersandar pada paha Ibu nya dan Ibu mengusap-usap punggung Cia dan sesekali mengelus kepala Cia.
Tak lama Cia pun tertidur, ibu nya merapikan posisi anak bungsu nya dan menyelimuti nya.
Nak! Kamu kenapa nak? Mengapa kamu seperti sangat ketakutan? Apa yang salah nak?
Ibu meratapi anak bungsu nya yang tertidur kelelahan, mata yang bengkak karena menangis.
Ibu tak tahan melihat anak nya seperti itu hingga air mata nya tak sanggup lagi ia bendung.
Ibu menangis sembari memeluk anak nya.
.
.
.
.
Di kamar Vivian dan Lio.
"Aduh kak, pelan-pelan! Sakit kak" Vivian melepaskan tangan Lio yang menggenggam erat tangan nya.
"Maaf, aku tak sengaja" Tutur Lio merasa bersalah.
"....." Vivian mengusap-usap tangan nya yang terasa sakit.
"Vi, jawab kakak! Kamu ke kamar Cia dan Ibu untuk apa?" Tanya Lio tak suka.
"Aku mimpi kak, Cia dalam masalah dan bahaya, jadi aku harus menolong Cia kak" Jelas Vivian pada Lio.
"Mimpi! Kamu bilang mimpi? Kamu ini kenapa? Hanya mimpi saja kamu bisa percaya? Itu hanya mimpi Vi! Bukan kenyataan!" Bentak Lio menggenggam bahu Vivian.
"Aduh kak, kamu menyakiti ku!" Vivian menahan air mata.
"Ma maaf Vi, aku aku terbawa emosi" Lio merasa bersalah.
"Kalo kakak tidak percaya aku, tidak masalah" Vivian kesal menahan air mata pergi ke atas kasur dan mengurung diri di dalam selimut.
Aihh, apa yang sudah aku lakukan!
Aku telah menyakiti Vivian!
Lio duduk di kursi sembari merokok karena stres.
Bersambung..
vivian jg ga bilang aja ke suaminya klo dia bisa lihat mereka 😔😔