Pitung yang merupakan Wibu garis keras sedang menonton Anime baru di Bioskop, tiba-tiba tersedak Popcorn saat pemutaran film baru dimulai.
Pitung tewas tanpa ada penonton yang mengetahuinya dan jiwanya bertransmigrasi ke tubuh Raja Iblis yang sedang sekarat.
“Eh... kenapa Aku menjadi Raja Iblis Zagralaas!” Pitung berteriak histeris.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Regar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Larissa Blackwood
Netla Durand tidak mau menginap di kamar berbeda dengan Pitung saat mereka menginap di sebuah penginapan di sudut Kota Trivoni. Sebagai Pria normal yang berasal dari Bumi tentu Pitung takut tidak dapat menahan n.a.f.su nantinya, tetapi bila ia menolak ia juga takut Netla Durand nanti marah dan membuat kekacauan yang menyebabkan Kuil Cahaya menyadari kalau ia adalah mantan Raja Iblis.
Pitung langsung memejamkan matanya saat berbaring di ranjang sedangkan Netla Durand berbaring menatap ke arahnya.
Walaupun mata Pitung tertutup rapat, tetapi ia tetap tahu kalau Netla Durand sedang menatapnya sehingga detak jantung Pitung berdegup kencang.
“Kenapa kita tidak mengambil misi saat di gedung Guild Meteor tadi? Apakah kita akan berpindah tempat lagi?” selidik Netla Durand penasaran dan ia juga berpikir
Pitung mungkin lupa mengambil misi karena terlanjur marah mendengar ejekan dari para Petualang lain.
Pitung membuka matanya, dia berpikir sejenak tentang bagaimana cara memberitahu gadis Naga itu bahwa mereka akan menyelamatkan Penyihir Kegelapan besok.
Pitung juga yakin Netla Durand pasti akan cemburu kalau Penyihir Kegelapan bergabung dengan Party mereka, karena Penyihir Kegelapan sebenarnya adalah wanita muda dari ras manusia.
“Netla ...,” sahut Pitung dan Netla Durand menganggukkan kepala. “Dulu aku pernah mengatakan padamu bahwa untuk mengembalikan kekuatanku maka aku harus menjalankan misi dari Sihir aneh bernama Demon King System dan kini tiba-tiba aku menerima misi untuk menyelamatkan Penyihir Kegelapan.”
Raut wajah Netla Durand langsung mengkerut masam. Pitung sudah menduga hal ini akan terjadi.
“Jangan marah dulu, hadiah dari misi itu adalah Levelku akan meningkat Sepuluh tingkat. Bukankah itu hadiah yang menggiurkan, apakah kamu mau membantuku? Tenang saja aku akan menggunakan item spesial yang dapat membuat Levelku kembali ke Level 100 untuk sementara waktu. Aku rasa itu sudah cukup untuk menolong Penyihir Kegelapan dan melarikan diri dari Kota Trivoni,” kata Pitung langsung memberikan penjelasan sebelum Netla Durand keburu marah.
Netla Durand yang menggembirakan pipinya langsung menarik selimut. “Terserah tuan Zagralaas saja, aku akan selalu mendukungmu!”
“Terimakasih,” sahut Pitung tersenyum lebar, senang Netla Durand tidak marah.
...***...
Cahaya matahari menerobos celah-celah lubang ventilasi di Penjara khusus di tempat tersembunyi Kuil Cahaya yang sangat megah tersebut.
Seorang Inkuisitor yang dikawal oleh Tujuh Pria yang mengenakan Jubah besi berwarna perak dan helm besi yang hanya memperlihatkan mata mereka saja.
Inkuisitor itu berhenti di depan seorang wanita cantik yang dirantai dengan rantai yang dapat menetralkan Sihir——sehingga tawanan itu tidak bisa melakukan perlawanan atau mencoba untuk kabur.
“Sekali lagi aku akan memberikan penawaran menarik padamu, Larissa Blackwood... jadilah anjing pemburuku maka hukuman mati yang dijatuhkan padamu akan dibatalkan,” kata Inkuisitor itu sembari mencengkram erat wajah Larissa Blackwood sang Penyihir Kegelapan tersebut.
Sudut bibir Larissa Blackwood memancarkan seringai tipis, bagaimana mungkin ia bergabung dengan Kuil Cahaya yang telah menghancurkan keluarga Blackwood dan menjadi peliharaan mereka. Dia lebih memilih menjadi anjing Iblis dan menghancurkan Dunia Nistenia.
“Sorot matamu ini telah dirasuki kegelapan, pantas saja keluargamu menjadi mata-mata Ras Iblis. Namun, bila kau menjadi anjing pemburuku maka aku dapat menghilangkan Mana Iblismu itu—” Belum selesai Inkuisitor itu berbicara, tiba-tiba Larissa Blackwood meludahi wajah sang Inkuisitor yang langsung mengerutkan keningnya.
“Dasar wanita Iblis kurang ajar!” bentak Kstaria Sihir yang ada di belakang Inkuisitor itu.
“Tak perlu marah, dia akan senang bila kita terpancing emosi,” sela Inkuisitor itu sembari mengusap wajahnya membersihkan air ludah Larissa Blackwood dari wajahnya.
Inkuisitor itu menatap Larissa Blackwood yang terus mengeluarkan kata-kata kotor dan umpatan hingga dia kelelahan.
“Seret dia keluar!” seru Inkuisitor itu sembari berbalik badan dan lebih dulu keluar dari sana karena tawarannya ditolak oleh Larissa Blackwood.
Inkuisitor itu muncul di belakang Saint (Pemimpin sebuah Kuil Cahaya, satu tingkat dibawah Sage Agung Pemimpin seluruh Kuil Cahaya) yang sedang dikerumuni oleh para penduduk Kota Trivoni yang ingin mencium tangannya untuk mendapatkan berkah Dewi Cahaya.
Saint itu telah merasakan keberadaan Inkuisitor di belakangnya yang berarti proses eksekusi mati sang Penyihir Kegelapan akan dimulai.
Pria tua berambut putih itu kemudian melambaikan tangannya dan tersenyum hangat menatap kerumunan penduduk yang memadati halaman Kuil Cahaya. “Pendosa yang terjerumus ke jalan Iblis akan dieksekusi mati hari ini. Jangan ikuti jalan yang ia ambil, dia akan kekal di Neraka karena telah membantu Iblis menghancurkan tanah air kita. Dalam mimpiku tadi malam, Dewi Cahaya telah mengutuknya karena gara-gara dia tanah yang diberkahi oleh Dewi telah dinodai oleh energi Iblis. Dewi Cahaya... sekarang kami persembahkan Penyihir Kegelapan pada-Mu!”
Semua penduduk langsung berseru menyebutkan nama Dewi Cahaya dan mengutuk Penyihir Kegelapan.
Tujuh Ksatria Sihir Kuil Cahaya menyeret Larissa Blackwood ke atas altar, tempat eksekusi mati.
Para penduduk melempari Larissa Blackwood dengan batu sehingga darah mengalir dari keningnya serta tangannya.
Larissa Blackwood tidak menjerit kesakitan, dia malah menatap tajam ke arah penduduk yang melempar batu padanya——sehingga para penduduk semakin benci padanya.
Tubuh Larissa Blackwood dibaringkan di atas altar, Inkuisitor berdiri di sebelahnya dengan Pedang sepanjang Dua meter.
“Inikah akhirnya? Ayah... ibu... maafkan aku, anakmu ini tidak dapat membalaskan dendam atas kematian kalian!” gumam Larissa Blackwood.
Air matanya menetes dari sudut matanya yang terpejam karena ia tidak ingin melihat bilah Pedang milik Inkuisitor itu melesat ke arah lehernya.
Inkuisitor menatap Saint yang berdiri tak jauh dari Altar. Saint itu menganggukkan kepala tanda menyetujui untuk memulai eksekusi mati pada sang Penyihir Kegelapan.
Inkuisitor mengangkat Pedangnya, semua orang menahan napas sehingga halaman Kuil Cahaya menjadi hening, kecuali seorang Pria yang mengenakan penutup wajah yang terus berjalan mendekat ke arah Altar.
“Pria itu sangat mencurigakan, cepat cegat dia!” Lord Voldemort berbisik pada Alex Voldemort yang merupakan Kesatria terkuat di Kota Trivoni.
“Baik Ayah!” sahut Alex Voldemort sembari memberikan kode pada rekan satu Party-nya untuk mengikutinya mendekati sosok yang mencurigakan tersebut.
“Berhenti di sana!” bentak Alex Voldemort ke arah sosok yang mencurigakan itu sembari menghunus Pedangnya.
Namun, tiba-tiba di langit muncul lingkaran sihir yang sangat besar, sehingga para penduduk menjadi panik.
Alex Voldemort mengerutkan keningnya melihat lingkaran sihir itu. “Sihir Iblis? Apakah ada Iblis yang menyusup ke Kota Trivoni?” gumamnya, karena lingkaran sihir itu mengandung Mana Iblis.
“Cepat lakukan eksekusinya!” teriak Saint yang kini dikelilingi oleh Kesatria Sihir Kuil Cahaya untuk melindunginya dari serangan tiba-tiba.
Inkuisitor yakin Iblis yang menyusup ke Kota Trivoni itu datang untuk menyelamatkan Penyihir Kegelapan. Dia pun segera mengayunkan pedangnya ke arah leher Larissa Blackwood.