Pramita Ayu Nugraheni, seorang front office assistant di sebuah hotel berbintang 4. Cantik, supel, dan cerdas.
Rahadian Daffa Atmaja, pria muda, tampan, dan ramah. General manager di hotel milik orang tuanya.
Mereka terlibat dalam berbagai situasi yg akhirnya menghadirkan rasa yg berbeda. Cinta.
Bagaimana kisah cinta mereka?Yuk baca ceritanya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nopheeta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nomor asing
Ternyata kedatangan Susan menjadi obat yang mujarab untuk Mita. Meski waktu istirahatnya berkurang, akan tetapi kelelahan pikirannya terbebaskan.
Sore hampir usai. Bude mulai sibuk mengingatkan tentang aktivitas yang harus dijalani Mita.
"Mit...sudah mandi belum,Nduk?Jangan kemalaman kalau mandi. Ndak baik. Badannya itu dijaga , biar gak sakit lagi,"
"Inggih, Bude. Sudah."
Beruntung sekali Mita mempunyai bude yang begitu sayang dan perhatian. Serasa ia hidup dekat ibunya.
***
Kamar Mita
Mita memilih untuk merebahkan tubuhnya kembali karena rasa lelah yang luar biasa itu masih terasa meski mulai berkurang.Jarum kecil jam dindingnya masih menunjuk pada angka 4, itu berarti masih ada waktu untuk sekedar menambah istirahat yang terpotong dengan pertemuan panjangnya bersama Susan siang tadi.
Diluruskan kakinya sambil mencoba memejamkan mata. Mencoba menghilangkan segala hal yang membuatnya lelah akhir-akhir ini. Tapi gagal. Pikirannya tak bisa melepas satu nama Daffa.
Siluet kebersamaan mereka tadi pagi ,praktis membuat Mita tak berhenti memikirkannya. Membayangkan dirinya dalam pelukan laki-laki itu,jika benar seperti yang dikatakan Daffa, rasanya mukanya sudah tak terkira merahnya. Jantungnya pun mulai tak tentu saat berdekatan dengannya.
Daffa, Daffa, Daffa. Meski ia sering kesal saat bersamanya, namun pesona laki-laki begitu kuat untuk ditolak.
Ah, mengapa manusia itu tiba-tiba menjadi sering hadir dalam cerita hidupnya? Apa kata dunia jika orang-orang tahu seorang Mita dekat dengan pimpinannya? Lalu, mengapa juga Daffa begitu perhatian padanya?Ah, lagi-lagi Mita hanya bisa mendesah panjang. Terus mencoba menghubungkan potongan-potongan kisahnya yang belum rapi terbingkai.
Matanya masih saja sulit terpejam.Gawai yang sedari tadi tak tersentuh saat ia sibuk dengan Susan diraihnya. Ia coba menghilangkan kegundahan hatinya dengan mengecek isi gawainya.
Ada beberapa pesan masuk. Gila! Ada lebih dari 25 pesan masuk,dan 15 panggilan tak terjawab. Deni, bos Rasyid, kak Imel, mbak Diana, Diaz, mas Iwan, dan ada satu nomor asing yang belum tersimpan dalam memorinya yang mengirimkan pesan yang terbanyak.
Rasa penasaran untuk tahu isi pesan yang terkirim dari nomor rahasia itulah yang membuat Mita mengesampingkan nama-nama yang begitu dikenalnya.
081xx: sudah makan?
081xx: jangan lupa istirahat.
081xx: obat dan vitaminnya jangan lupa
081xx: hallo...?
081xx:kok nggak ada respon?
081xx: masih tidurkah?
Hah? Siapa sih?
081xx:sholat dulu..
081xx:hallo..?
081xx:pramita..
,081xx:nggak pingsan kan?
Kurang kerjaan banget sih nih orang. Gerutu Mita.
081xx:aku ke rumah
Deg!
Daffa?Apa mungkin dia?
Segera ia coba untuk menghubungi nomor itu. Belum sempat ia lakukan,,"
"Nduk, tidur?" panggilan Bude pada Mita.
"Mboten, Bude,"jawab Mita sambil membuka pintu kamarnya.
"Ada tamu,"
"Siapa?"
"Temanmu yang tadi ngantar kamu.Bocah ganteng kuwi lho, sapa to namanya,kok lupa terus bude."
"Daffa?" tanya Mita dengan setengah ragu.
"Oh iya. Daffa yo namanya. Itu sudah di ruang tamu,"
Bergegas Mita menuju ruang tamu. Tampak Daffa sedang duduk sambil mengamati foto-foto yang terpasang di ruangan tersebut.
"Hemm.."
"Hei, alhamdulillah tidak seperti yang dibayangkan,"
"Maksudnya?" jawab Mita sambil mengambil tempat di hadapan Daffa.
"Ku kira pingsan lagi," jawab Daffa enteng.
"Kamu nyumpahin aku sakit?" sungut Mita kesal.
"He he, tidak lah. Apa tampangku sejahat itu?" jawab Daffa terkekeh.
Mita semakin kesal. Wajahnya cemberut melihat ekspresi Daffa yang tanpa dosa.
"Ini," ujar Daffa meletakkan kotak makan ke hadapan Mita.
"Ini?" Mita memincingkan matanya menatap kotak makan itu.
"Bubur ayam. Buatan chef. Akan langka kalau kamu melewatkan untuk menikmatinya."
"Maksudnya?"
"Aku permisi. Masih ada janji dengan orang."
"Lho, mau kemana?" tanya bude yang baru saja keluar membawa segelas minuman dingin.
"Mau pamit,Bude"
"Lha baru saja datang kok sudah pamit"
"Iya,besok-besok lebih lama kalau diijinkan. Kebetulan saya ada perlu, jadi tidak bisa berlama-lama. Lagipula Mita masih butuh istirahat."
"Oalah, tapi diminum dulu itu,"sahut bude menawarkan.
Daffa menghabiskan minumannya,lalu permisi pulang. Dan Mita mengantarnya sampai pintu pagar.
"Jangan lupa dimakan ya...Jangan bandel! Kalau pingsan lagi di tempat kerja, utangmu semakin bertambah,Nona.Assalamualaikum.."
"Walaikumsalam,"
Mita melepas Daffa dengan penuh kedongkolan. Tapi tidak lama, karena senyumnya justru berkembang saat ia buka kotak makan yang dibawa Daffa.
****Please enjoy your meal. Get well soon****.
Selembar kertas terselip disana.
😁