Tahap Revisi
Tentang Vyolla, seorang gadis barbar yang dipaksa masuk ke dalam karakter Putri, sosok protagonis wanita di dalam novel yang selalu ia rutuki nan hina-hina..
📢 Novel pertamaku ini ceritanya ringan dengan protagonis yang anti menye-menye 🔥💪
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bantalguling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi Hotel
Perundingan singkat yang dilakukan Bagas dan juga Vyolla, berujung baik. Mereka berdua sepakat memutuskan untuk menginap di hotel sekitaran Dufan dengan memesan tipe kamar family room. Kenapa family room?
"Saya suka takut tidur di tempat baru Pak. Jadi kalau ada pintu diantara kamar kita, saya akan merasa jika Bapak satu ruangan dengan saya."
"Pintunya dibuka?"
"Ditutup lah. Kalau dibuka, saya nggak akan sadar pas Bapak mengendap-endap tidur di kasur saya."
"Lah, terus buat apa fungsi pintu itu?"
"Ya kalau saya nggak bisa tidur, saya akan terus ketuk pintu itu, biar Bapak juga nggak tidur."
"Ganggu."
"Biarin."
Tapi wacana kaum negara ber flower tetaplah menjadi sebuah wacana. Nyatanya, pintu penghubung kamar Vyolla dan Bagas pun pada akhirnya dibuka dengan lebar. Alasannya, karena Vyolla takut dengan kamar hotel yang terlalu besar untuknya.
"Mau saya temenin tidur di sana nggak?" goda Bagas ketika dia sudah selesai mandi.
"Mimpi!" Vyolla menjawab pertanyaan Bagas dengan ketus.
"Yakin nggak usah ditemenin? Kalau tiba-tiba di kolong kasur kamu ada yang muncul, gimana?"
"Jangan nakut-nakutin!"
"Hihhh~ hihihihihhiiiii~" Bagas sengaja tertawa ngikik bak mbakuntay.
"Bagas! Stop it!"
"Uwihhhh, galak bener neng."
Vyolla menutup pintu penghubung diantara mereka dengan kencang.
"Ahahaahhaaa. Putri~ Put,tri~" Bagas masih menakuti Putri dengan suara mbakkuntay.
"Lalalalalallaaaaaa, nggak denger, nggak denger."
"Ahahahhahhhhhhhh."
Vyolla sengaja membungkus badannya dengan menggunakan selimut. Ia berpikir, bagaimana caranya agar dirinya bisa tertidur di situasi seperti ini. "Ya ampun, kenapa nggak ingat sama lo sih, Cher! Cherry, Cherry, Cherrrr."
Vyolla heran ketika Cherry tidak langsung muncul di hadapannya. Ia memanggil kembali Cherry, tapi tetap, tak ada tanda-tanda bahwa ia muncul. "Lo kemana sih Cher? Lo baik-baik aja kan?"
Ting.. nong.. ting.. nong..
"Pak, itu kamu bukan?"
"Apaan?"
Vyolla mulai panik. Pasalnya, Bagas menyahut pertanyaannya di dalam kamar. Berarti, siapa yang memencet bel kamar Vyolla?
Suara bel kembali terdengar. Dan kali ini, tanpa bertanya terlebih dahulu, Vyolla langsung membuka pintu masuk ke kamar Bagas. Ia melihat Bagas sedang selonjoran sambil memainkan ponselnya. "Pak ih! Itu ada yang mencet-mencet bel kamar saya."
"Ya terus?"
"Tolong bukain pintunya. Lihat, siapa yang mencet."
"Males."
Vyolla berjalan cepat menghampiri Bagas yang kembali fokus bermain game onlinenya. Dengan tergesa, Vyolla menarik tangan Bagas agar ikut dengannya ke depan pintu. "Buka!"
Bagas dengan terpaksa membuka pintu kamar Putri.
"Loh, kok nggak ada orang?"
"Hantu bocah iseng kali."
Setelah menutup kembali pintu kamar Putri, Bagas hendak pulang kembali ke kamarnya. Tapi....
"Aku ikut tidur di kamar kamu." ujar Vyolla seraya memegang lengan Bagas dengan erat.
"Yeeee, bukan muhrim neng."
Dengan pelan Bagas ingin melepaskan tangan Putri dari lengannya. Tapi cengkraman tangan Putri malah semakin erat.
"Pokoknya sekasur! Titik."
Bagas pasrah. Ia dengan terpaksa (?) menyetujui keinginan Putri untuk tidur sekasur dengannya.
"Mau pakai pembatas?" Bagas mengangkat guling yang ada di kasurnya.
"Nggak, aku tidurnya mau sambil meluk kamu."
Vyolla cepat-cepat menarik badan Bagas agar bisa ia peluk dengan erat. 'Abaikan norma, abaikan etika. Ini darurat. Toh, bentar lagi juga Si Putri bakalan nikah sama dia,' ujar jiwa Vyolla.
"Duh, Put. Iman saya tipis loh. Kalau posisinya terus gini, bahaya banget."
Bagas yang sekarang sedang didekap erat Putri, benar-benar merasa gelisah. Apalagi kaki Putri yang menindih kakinya dengan posesif, membuat Bagas tidak berani untuk bergerak barang sesentipun. Ia tak bergerak karena takut membangunkan Si Junior yang masih tertidur dengan lelapnya.
...****************...
'Sial! Tahu gini, semalam gue nggak akan jahilin dia,' sesal Bagas dalam hati.
Ia mengingat kembali ketika dirinya dengan sengaja meminta pihak housekeeping hotel untuk memencet bel kamar Vyolla sebanyak dua kali. Tapi niat Bagas hanya sebatas iseng saja. Ia tak menyangka bahwa Putri akan berada satu kasur bersamanya seperti sekarang. Dan dengan posisi macam ini!
Bagas yang semalaman didekap Vyolla layaknya guling, kini mulai merasakan pegal dan linu yang mendera seluruh bagian tubuh. Posisi tidur yang tak berubah sekalipun, membuat Bagas serasa mati rasa. Dan naasnya, paha Vyolla sekarang berada tepat di atas Si Junior yang sedang bangun!
"Eummm. Apaan nih." Vyolla menggerakkan pahanya ke atas dan ke bawah. Vyolla bingung dengan benda asing yang sekarang sedang ia rasakan dengan setengah melindur.
Bagas yang sudah bangun pun, akhirnya hanya bisa berpura-pura tertidur. Ia juga dengan sekuat tenaga menahan rangsa*ngan yang diberikan Putri tanpa sadar.
'Tahan, Gas... Lo bisa, lo bisa...'
Bagas terus menyemangati dirinya sendiri agar tak tergoda dengan ge*sekan-ge*sekan kecil yang membuat si Junior semakin tumbuh dengan pesat.
"Mmmm." Vyolla mulai menggeliatkan badannya karena merasa pegal dengan posisi tidur yang tak berubah seperti Bagas. Matanya yang sudah sedikit terbuka, ia lirikkan ke wajah Bagas yang masih tertidur (?) dengan pulas.
'Wait, wait, wait. Jadi, yang keras-keras tadi itu......'
Penasaran, akhirnya Vyolla kembali meng*gesekkan pahanya ke benda keras tadi. Dan dia merasakan bahwa badan Bagas ikut menegang bersamaan perbuatan absurd nya.
'Ohh, pura-pura tidur yah Pak.' Vyolla yang iseng akut, dengan senang membuat Bagas semakin tersiksa. Ia dengan natural kembali berpura-pura masih berjaga dari tidurnya. Dan tak berapa lama, Vyolla mulai memberikan sentuhan yang membuat Bagas rasanya hampir gila.
'Mampus!'
"Mmm, ini apaan sih." Vyolla sengaja berbicara parau khas manusia yang sedang mengigau.
'Ya ampun, tangan lo berdosa banget Put!'
Dasar Vyolla, disaat melakukan perbuatan tidak baik, Putri lah yang selalu ia salahkan. Padahal, jelas-jelas tubuh Putri sedang dikendalikan olehnya. "Mmm, lucu."
Tangannya semakin nackal. Dan itu membuat Bagas benar-benar tak bisa menahan lagi. Dengan sekali hentakan pelan, ia menyingkirkan badan Putri yang masih setia berada di atasnya. Dengan deru napas yang tak teratur, ia bergegas pergi ke kamar mandi untuk pipis (?)
"Hihihihihhiii." Vyolla tertawa pelan melihat tingkah lucu dari suaminya Putri kelak. Ia kemudian mengangkat tangan kanannya ke atas wajah. Sambil membolak-balikkan tangannya, Vyolla berbisik, "ternyata, burung pria seperti itu yah."
aku mampir ya baca, like dan coment. Mampir juga baca novel q yuk..