Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Konfrontasi Jessica
Kirana mengira Reuben akan menjadi gangguan terakhir minggu itu.
Ia salah.
Keesokan paginya, Leon benar-benar mengantarnya sampai depan toko. Ia memakai jaket sederhana dan membawa helm cadangan, tetapi sikapnya membuat dua pegawai toko sebelah langsung menoleh. Ningsih yang sedang membuka rolling door melihat mereka dan mengangkat alis tinggi-tinggi.
"Selamat pagi, Kak Suami," katanya.
Kirana memejamkan mata. "Ningsih."
Leon mengangguk sopan. "Selamat pagi."
"Wah, sopan. Boleh sering-sering antar."
"Dia tidak akan sering-sering," kata Kirana cepat.
Leon menatapnya. "Kita lihat."
Kirana memberi tatapan peringatan, tetapi ia tidak bisa menyangkal bahwa melihat Leon berdiri di sana membuat perutnya sedikit lebih tenang. Setelah Reuben kemarin, ia benci mengakui bahwa rasa aman juga punya bentuk fisik.
Pagi berjalan normal sampai menjelang siang.
Jessica Lim datang ketika toko sedang tidak terlalu ramai. Ia memakai kacamata hitam besar, tas mahal, dan ekspresi yang membuat ruangan langsung terasa sempit. Ningsih sedang melayani pelanggan di ruang ganti. Ibu Yustin berada di gudang belakang. Kirana berdiri di meja display, merapikan scarf.
"Jadi benar kamu bekerja di sini," kata Jessica.
Kirana tidak terkejut sepenuhnya. Setelah Reuben datang, Jessica hanyalah akibat berikutnya.
"Ada yang bisa dibantu?"
Jessica melepas kacamata. Matanya penuh amarah yang dibungkus riasan rapi. "Jangan pura-pura sopan."
"Ini toko. Saya sedang bekerja."
"Kamu senang, ya? Baru keluar penjara sudah mengacaukan hidup orang."
Kirana merapikan napasnya. Ada masa ketika satu kalimat seperti itu cukup untuk membuatnya kehilangan suara. Label penjara selalu dilempar seperti batu, dan orang yang melempar biasanya berharap ia menunduk, malu, lalu membiarkan mereka bicara lebih jauh. Hari ini ia lelah menunduk. Bukan karena masa lalunya ringan, melainkan karena ia sudah membayar harga yang bahkan tidak seharusnya ia bayar.
Kirana meletakkan scarf dengan hati-hati. "Kalau yang kamu maksud Reuben, dia datang sendiri."
"Karena kamu memancingnya."
"Dengan bekerja?"
Jessica tersenyum dingin. "Kamu selalu pandai berpura-pura lemah. Dulu juga begitu. Semua orang kasihan padamu, sampai akhirnya..."
"Sampai akhirnya kamu mendapatkan pria yang kamu inginkan," potong Kirana.
Wajah Jessica berubah.
"Jangan bawa masa lalu kalau kamu tidak siap melihat bagianmu sendiri," lanjut Kirana. Suaranya tetap rendah karena ia tidak ingin membuat toko menjadi panggung murahan. "Reuben datang ke sini dan menawarkan sesuatu yang menjijikkan. Kalau kamu marah, marahlah pada calon suamimu."
"Dia tidak mungkin melakukan itu kalau kamu tidak memberi harapan."
Kirana menatap perempuan itu. Dulu, Jessica tampak seperti pemenang. Cantik, kaya, diterima keluarga, berdiri di samping Reuben ketika Kirana digiring pergi. Hari ini, di balik semua barang mahal itu, Jessica terlihat seperti orang yang takut piala di tangannya ternyata retak.
"Aku tidak menginginkan Reuben."
"Pembohong."
"Aku sudah punya suami."
Jessica tertawa menghina. "Sopir itu?"
Kirana tidak langsung menjawab. Kata sopir menusuk bukan karena ia malu pada Leon, melainkan karena sekarang ia tahu kata itu mungkin tidak lengkap.
"Ya," katanya. "Suamiku."
Jessica melangkah mendekat. "Kamu pikir menikah dengan pria miskin membuatmu terlihat suci? Semua orang tahu kamu hanya tidak punya pilihan."
"Mungkin." Kirana mengambil gantungan yang jatuh dan memasangnya kembali. "Tapi pilihan yang tersisa tetap lebih baik daripada Reuben."
Tamparan itu tidak berbentuk tangan, tetapi wajah Jessica memerah.
Ningsih muncul dari ruang ganti tepat saat Jessica mengangkat tangan. "Hei!"
Kirana tidak mundur. Matanya bertemu mata Jessica tanpa takut.
Tangan Jessica berhenti di udara.
Kirana berkata pelan, "CCTV di atasmu menyala."
Jessica menurunkan tangan dengan kaku.
Ibu Yustin keluar dari belakang. "Ada masalah?"
Jessica memasang kacamata lagi. "Pegawai Anda sangat tidak sopan."
"Saya dengar cukup banyak dari belakang," kata Ibu Yustin datar. "Silakan keluar."
Kirana menahan napas. Ia tahu Ibu Yustin mempertaruhkan kenyamanan toko dengan membelanya. Toko kecil tidak punya ruang untuk masalah besar, apalagi masalah dari keluarga kaya yang bisa meninggalkan ulasan buruk atau membuat keributan. Namun perempuan itu tetap berdiri di sana, memilih pegawainya sebelum memilih aman.
"Toko kecil ini berani mengusir pelanggan?"
"Pelanggan membeli barang. Anda membawa masalah."
Ningsih hampir bertepuk tangan, tetapi menahan diri.
Jessica menatap Kirana dengan kebencian yang lebih dingin. "Kamu pikir kamu menang karena ada kamera?"
"Aku tidak sedang bermain."
"Tunggu saja nanti, Kira."
"Aku sudah menunggu tiga tahun untuk hidupku kembali. Ancamanmu tidak istimewa."
Untuk pertama kalinya, Jessica tampak kehilangan kata.
Beberapa pelanggan di dekat rak aksesori saling pandang. Salah satu dari mereka diam-diam mengembalikan gaun ke tempatnya, bukan karena ingin pergi, melainkan karena suasana terlalu tegang untuk berpura-pura memilih ukuran. Kirana menyadari semua mata itu. Anehnya, ia tidak merasa telanjang. Ia merasa berdiri di tempat yang terang, dan kali ini ia tidak perlu meminta maaf karena terlihat.
Ia berbalik dan keluar. Hak sepatunya menghantam lantai dengan suara tajam. Dari luar kaca, ia menoleh sekali lagi, lalu masuk ke mobil.
Ningsih segera mendekat. "Aku ingin melempar hanger."
"Jangan," kata Kirana.
"Sedikit saja."
Ibu Yustin menghela napas. "Mulai hari ini, kalau ada orang mencari Kirana dan bukan pelanggan, panggil saya dulu."
"Maaf, Bu," kata Kirana.
"Jangan minta maaf untuk orang yang datang membawa sampah ke toko saya."
Ningsih mengangkat hanger yang tadi hampir ia lempar. "Aku tetap menyimpan ini sebagai senjata darurat."
"Itu hanger satin," kata Kirana.
"Justru elegan."
Tawa kecil keluar dari Kirana tanpa rencana. Tidak besar, tetapi cukup membuat dada yang tegang sedikit longgar.
Kirana menunduk, tetapi ada rasa hangat di dadanya.
Siang itu, ia tetap bekerja. Tangannya sempat gemetar ketika menata ulang scarf yang disentuh Jessica, tetapi ia tidak berhenti. Ia melayani pelanggan, menjahit kancing longgar, dan membantu Ningsih menutup transaksi. Hidupnya tidak akan berhenti hanya karena Jessica Lim menyuruhnya takut.
Sore hari, pesan dari Leon masuk.
Kamu baik?
Kirana menatap layar. Ia hampir menulis tidak ada apa-apa, lalu menghapusnya.
Jessica datang ke toko.
Balasan Leon tidak langsung muncul. Ketika akhirnya masuk, hanya ada satu kalimat.
Dia melakukan apa?
Kirana bisa membayangkan wajahnya.
Dia bicara buruk. Hampir menamparku, tapi tidak jadi karena CCTV.
Tiga titik mengetik muncul, hilang, muncul lagi.
Aku jemput.
Tidak perlu. Aku masih kerja.
Aku jemput saat pulang.
Kirana tidak membantah kali ini.
Di tempat lain, Jessica duduk di mobil dengan napas memburu. Ia menelepon Reuben, tetapi panggilan tidak diangkat. Ia menggigit bibir sampai lipstiknya sedikit rusak.
"Kamu mau bermain, Kira?" gumamnya.
Matanya mengeras.
"Tunggu saja."
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔