Dua insan yang sama-sama masih memiliki hati yang terluka disatukan karena suatu keadaan yang mendesak.
Tak pernah terbayangkan oleh Lily, hamil di luar nikah dan menikah dengan pria lain yang bukan ayah kandung dari si janin. Pria itu bernama Azril.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gilva Afnida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 | Dirawat
Bangunan menjulang tinggi bernuansa putih yang berada tepat di depan Azril itu mengingatkan Azril tentang mimpi buruk yang menyiksa sepanjang hidup. Langkahnya begitu berat untuk masuk ke pintu IGD rumah sakit, tempat dulunya istri tercinta pergi meninggalkan Azril untuk selamanya. Hanya ada kesesakan di dalam dada jika Azril kembali memasuki ruangan itu. Kalau bukan karena kesalahannya sendiri, mengajak Lily untuk ikut membantu dirinya mengurus restoran, tentu ia tak harus datang kembali ke tempat mengerikan ini. Namun terlepas bagaimana perasaannya, ia harus tetap menemani Lily yang sudah dibawa masuk oleh petugas rumah sakit agar segera mendapatkan penanganan.
Keadaan Lily tadi begitu buruk, bibirnya memucat dengan keringat dingin yang terus muncul di sekujur badannya. Salahnya Azril yang tak terlalu mempedulikan Lily yang ternyata sudah sangat kelelahan. Mendadak Azril takut jika terjadi sesuatu dengan Lily, entah pembelaan apa yang harus ia ucapkan pada ibunya nanti.
Dengan terpaksa Azril melangkah masuk ke ruang IGD dan mencari keberadaan Lily. Seorang petugas mendatanginya saat ia sudah berada di depan tempat Lily terbaring.
"Anda siapanya pasien?" tanya seorang wanita berjilbab putih, mengenakan masker. Azril melihat tag di atas saku kanan baju wanita tersebut bertuliskan perawat.
"Sa-saya suaminya." Azril begitu gugup untuk sekedar mengatakan bahwa ia adalah suami Lily. Tadinya dia ingin berkata bahwa dia adalah kakak atau sepupunya. Sulit rasanya untuk menganggap bahwa dirinya dan Lily adalah sepasang suami istri meskipun hanya sah di mata negara.
"Silahkan anda selesaikan administrasi pasien dulu selagi saya memberi pertolongan pertama pada istri anda."
"Oh, begitu. Ruang administrasinya disebelah mana?"
"Dari pintu masuk itu tinggal belok kiri, nanti akan langsung terlihat ada tulisan ruang administrasi," jawab si perawat dengan ramah.
"Oh iya, terima kasih."
Azril menatap Lily sejenak sebelum beranjak menuju ke ruang admistrasi. Hampir lima belas menit lamanya ia menyelesaikan pembayaran dan administrasi lainnya.
Saat Azril sudah kembali lagi ke tempat Lily, Azril melihat Lily yang tangannya sudah terpasang infus dan sudah sadar. "Apa kamu sudah baikan?"
Lily menatap Azril sejenak lalu menganggukkan kepalanya lemah. Bibirnya masih belum ada kekuatan untuk sekedar menjawab 'ya'. Pikirannya masih berusaha mengingat tentang kejadian sebelum pingsan dan tiba-tiba terbangun di atas ranjang rumah sakit dengan infus yang sudah terpasang.
"Kamu tadi pingsan, terus langsung aku bawa ke rumah sakit," ucap Azril seolah bisa membaca pikiran Lily.
"Sudah, jangan bersuara dulu!" Azril melarang Lily untuk berbicara saat melihatnya mulai membuka mulut. "Kamu masih lemah. Pulihkan tenaga dulu!"
Ucapan Azril terdengar lebih seperti perintah dari atasan yang harus dipatuhi bagi Lily. Tak ada nada kekhawatiran atau kelembutan di dalamnya. Lily tersadar, tidak seharusnya Lily meminta belas kasih dari pria yang selalu membencinya. Kata maaf saja tidak keluar dari bibirnya apalagi kata-kata yang mengandung kekhawatiran, itu hal yang mustahil.
Saat keheningan terjadi cukup lama. Ada tiga wanita yang mengenakan seragam berbeda mendatangi keduanya. "Selamat siang, bapak-ibu. Perkenalkan saya dokter Nuri yang berjaga hari ini dan dua dibelakang saya adalah perawat yang juga bertugas untuk hari ini."
Kemudian dokter Nuri meminta hasil lab yang dibawa oleh salah seorang perawat dan membuka hasilnya di depan Lily dan Azril. "Ibu Lily sedang hamil 12 minggu, ya?"
Mendengar itu Azril terkesiap, dia lupa jika Lily sedang berbadan dua. Batinnya semakin waspada jika mendengar sesuatu hal yang tidak menyenangkan. Sekali lagi bukan karena mengkhawatirkan keadaan Lily atau janinnya, Azril hanya khawatir jika berhadapan dengan ibunya. Entah amarah sebesar apa yang harus dihadapinya nanti jika terjadi sesuatu dengan Lily dan janinnya.
"Iya dok, bagaimana dengan keadaan janin saya?" tanya Lily dengan suara parau. Matanya menatap dokter Nuri dengan penuh pengharapan. Meskipun janinnya itu tumbuh di waktu yang salah, namun Lily tak pernah menyesali atas kehadirannya.
"Detak jantung janin masih normal, Bu. Tadi bidan kami sudah langsung memeriksanya, tapi jika masih ingin mengetahui keadaannya lebih lanjut nanti bisa kami hubungkan dengan dokter spesialis kandungan."
Lily menghela napasnya lega. Begitupun Azril yang pikirannya sedikit melonggar begitu mendengar janin Lily baik-baik saja.
"Tapi... sebaiknya ibu harus lebih berhati-hati lagi, ya. Jangan sampai ibu melakukan aktivitas yang membuat ibu kelelahan atau mengangkat barang yang berat karena usia kandungan ibu itu masih dini, jadi masih sangat rentan berpotensi keguguran." Dokter Nuri menoleh ke arah Azril. "Ingat itu ya, Pak."
"Ah, iya bu." Azril menjawab sebisanya. Sambil pura-pura tersenyum menutupi kesalahan yang menjadikan Lily terbaring lemah sekarang.
"Menurut hasil lab kami, gula darah dan hemoglobin ibu berada di bawah normal. Kemungkinan besar itu penyebab ibu menjadi pingsan. Jadi kami sarankan ibu untuk rawat inap sampai keadaan ibu memulih."
***
"Apa? Lily dirawat di rumah sakit?" Aminah memegang dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. "Bagaimana bisa?"
"Dia pingsan setelah aku mintain bantuan di restoran tadi siang, Bu." Azril enggan menatap ibunya yang sudah pasti akan mengomelinya. Dia menyibukkan diri dengan mengambil beberapa baju ganti untuk Lily dan beberapa keperluan lainnya.
"Ya Allah, kamu mintain bantuan gimana kok sampai pingsan?"
"Jadi pelayan, Bu. Soalnya restoran lagi genting, terus aku gak kepikiran mau minta bantuan ke siapa."
"Kamu itu kok kebangetan banget sih? Lily itu kan lagi hamil!" teriak Aminah sambil mengelus dadanya merasakan kelakukan Azril. "Terus, gimana dengan keadaan janinnya?"
"Janinnya baik-baik saja. Dia harus rawat inap karena gula darah dan hemoglobinnya dibawah normal."
Aminah merasa sangat bersalah, padahal dia berencana esok akan membawa Lily ke dokter kandungan untuk memeriksakan kandungannya. Namun belum sempat Aminah melakukannya, Lily malah bertemu dokter kandungan duluan karena dirawat akibat pingsan dan gula darah yang dibawah normal. "Yasudah, ibu ikut kamu ke rumah sakit sekarang."
Beberapa menit kemudian, Azril dan Aminah segera berangkat menuju ke rumah sakit. Sedang Safira diminta untuk tetap berada di rumah bersama mbak Yum. Safira sendiri setelah mendengar kabar Lily yang masuk rumah sakit karena pingsan saat membantu sang kakak, menjadi sangat bersalah karena dirinya yang menolak malah Lily yang kena batunya.
Saat berada di dalam mobil, Aminah segera menelepon Rani untuk memberitahu kabar Lily. Azril memilih diam mendengarkan ibunya yang tengah bercakap-cakap dengan ibu mertuanya di ponsel. Sebenarnya badannya sudah terasa lelah karena membantu di restoran tadi. Setelah itu dia langsung mengurus Lily di rumah sakit. Bahkan ia belum sempat mandi apalagi istirahat karena setelah memastikan Lily sudah memasuki kamar rawat inap, Azril segera pulang untuk mengambil beberapa keperluan dan mengabari ibunya.
tolong donk,, kalo up yg banyak" 🤭😂😂
semoga tambah cinta ❤️❤️
semangat thor 💪💪💪
dasar kulkas so romantis...
cemburu tanda cinta,marah tandanya sayang 🥰🥰💃💃💃💃