Adli Aplosso suami dari Almara memutuskan menikah lagi karena nyaris lima tahun pernikahan mereka tidak dikaruniakan anak.
Saat frustrasi tidak disentuh lebih dari tiga bulan oleh suaminya sendiri yang sibuk dengan istri keduanya Alma tidak sengaja memiliki hubungan skandal dengan sepupu suaminya.
Sean Aplosso, yang selalu menganggap dirinya sebagai pemerkosa karena sudah menodai Alma.
Seharusnya itu menjadi hal yang buruk. Saat Sean menawarkan penjara, hukum, polisi dan jaksa kepada Alma, agar Sean dipenjara, Alma menolak karena berpikir ini bukan salah Sean, tapi kesalahan di kedua pihak jadi saya tidak perlu menjebloskan diri sendiri ke penjara. Alma tidak mau berurusan dengan hukum apalagi suaminya. Toh tak ada bayi yang akan dikandung karena dia mandul.
Tapi saat terbukti sebagai perempuan sempurna yang tidak mandul, Alma ternyata hamil. Dan Sean memaksa untuk bertanggungjawab untuk menikahi Alma, suami dari Alma dan Ayah dari bayi itu. Meskipun Sean akan menjadi Ayah dan Suami dari penjara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ollane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17: Tuan Muda Aldo
"Pinjam tanganmu, Bi."
Bi Uyun tidak paham. Dia diberikan obat tidur oleh tuan mudanya, lalu saat sadar Bi Uyun sudah terikat di sebuah kursi dan tangannya yang juga diikat memegang sebuah kamera yang sudah dinyalakan. Kamera itu diarahkan ke depan, di mana Aldo berdiri dengan pakaian serba putih, entah apa yang hendak lelaki itu lakukan.
"Anda mau apa, Tuan Muda?" Bi Uyun bertanya.
"Aku hanya ingin meminjam tanganmu untuk memegang kamera ini dan merekamku, Bi." Aldo mengusap pipi Bi Uyun. "Sabar sedikit, ya." Lalu kecupan hangat dari Aldo mendarat di kening Bi Uyun. Bi Uyun sudah merawat Aldo sejak kecil, jadi sudah kebiasaan Aldo sedari bocah jika dia bersikap manja kepada wanita yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri. "Aku ingin Alma melihat video ini. Setelah ini direkam, otomatis akan terkirim ke email Alma. Nanti setelah semuanya selesai, jika Alma tidak sempat mengecek emailnya, Bi Uyun mampir ke rumah Alma, ya. Nggak usah lama-lama, cukup bilang, pesan terakhir Aldo, mohon emailnya dicek."
Aldo duduk bersimpuh di depan kursi yang diduduki Bi Uyun. Bi Uyun terlihat takut, dia tahu Aldo tidak mungkin akan melukainya. Hanya saja, yang ditakutkan, apakah Aldo akan melukai dirinya sendiri?
"Alma ...." Ada mic kecil di tangan Aldo. "Maafkan aku, ya." Aldo memecahkan sebuah vas bunga, diambilnya serpihan vas tersebut. Digunakannya untuk membentuk luka goresan melingkar di lehernya sendiri. Lukanya cukup dalam, darahnya berhasil mengotori kaus putih yang Aldo kenakan. Bi Uyun sudah meraung-meraung sambil menangis, meminta tuan mudanya untuk berhenti melukai diri sendiri. "Kamu mau tahu nggak kenapa aku pakai baju serba putih? Biar kamu bisa melihat darahnya dengan jelas."
"Kamu tahu Alma, kenapa aku dibawa ke Paris?"
"Di sana aku dipaksa menjadi boneka mereka. Dikendalikan, dikekang dan dipaksa untuk sempurna. Disiksa, dipukul dan nyaris dibunuh jika tidak bisa memuaskan mereka. Di sana aku terus merindukanmu, andai kamu ada di situ. Pasti aku baik-baik saja dan bisa menjalaninya, tapi sayangnya aku tidak bisa bawa kamu ...."
"Tuan Muda, hentikan! Kumohon, Tuan Muda!"
Aldo hanya tersenyum mendengar teriakan Bi Uyun saat Aldo mengambil seuntai tali. "Aku sering melakukan percobaan bunuh diri. Tapi jika teringat kamu, selalu kugagalkan. Tapi sekarang aku sadar, seharusnya aku mati sedari dulu. Kamu sendiri sudah tidak butuh aku lagi 'kan?" Aldo mengikat talinya di plafon atas. Lelaki itu diam sejenak, lalu menaiki kursi atas. "Alma ...." Dipanggilnya nama Alma sekali lagi.
"Aku mencintaimu."
Yang disusul dengan teriakan Bi Uyun saat Aldo mati tergantung, "TUAN MUDA!!"
>><<
Sean sampai di sebuah rumah sakit yang megah. Tempat dimana cleaning service itu dirawat. Sean cukup kagum pada Dex yang berhasil menemukan rumah sakit yang fasilitasnya bagus, terutama perawatannya. "Dimana ruangannya?" Sean menoleh ke Dex, Dex langsung mengarahkan tempat. Untuk sampai ke lantai lima mereka harus memasuki sebuah lift. Sean menunggu dengan sabar saat ruangan sepetak itu membawanya ke lantai atas. Saat Sean tidak berhenti melirik arlojinya, Dex sibuk dengan tablet di tangannya. Lelaki itu cukup tersentak, lalu menepuk bahu tuannya. Berbisik menyampaikan, "Tuan, ada berita baru yang kupikir Anda harus tau."
"Apa?" Sean menyahut.
"Aldo Mahendra, pewaris dari Mahendra Group meninggal bunuh diri tadi malam. Disaksikan oleh salah satu pembantu kesayangannya, dia merekam aksi gantung dirinya, yang videonya langsung dikirim otomatis ke seseorang." Dex membaca pesan yang rekannya kirimkan. Rekan Dex memintanya menyampaikan hal itu kepada Sean, karena Sean memiliki hubungan bisnis dengan Mahendra Group. Proyek yang akan dilangsungkan juga Mahendra Group akan ikut campur-tangan.
Mendengarnya Sean cukup terkejut. "Tidak mungkin," desisnya. "Aldo Mahendra bunuh diri?" Sean merebut tablet Dex dari tangannya, lalu membaca pesan itu secara langsung. Sean meringis, "jika Aldo meninggal, mungkin proyek ini akan gagal. Mahendra Group memang belum memutuskan dari pihak mereka siapa yang akan menangani proyek kerjasama ini. Tapi sebagai pewaris, kemungkinan proyek ini akan ditangani oleh Aldo." Sean menggusar rambut. Rasanya tidak mungkin Aldo bunuh diri. Mereka pernah bertemu beberapa tahun yang lalu di Paris. Aldo memang lelaki yang terlihat cukup tertekan, tapi dia professional dalam pekerjaan.
"Setelah menjenguk cleaning service itu, kita harus ke kediaman utama Mahendra Group untuk bertemu dengan Tuan Rehan—ayahnya Aldo. Rencana proyek dan kerjasama perlu dibicarakan ulang. Setelah diberikan kepastian, aku akan membahasnya dengan Adli lagi." Lift berdenting dan terbuka. Sean langsung keluar disusul oleh Dex. Mengingat Aldo yang dia kenal sudah meninggal karena bunuh diri, Sean cukup frustrasi. Apakah Aldo memang setertekan itu sampai memutuskan bunuh diri? Di puncak kejayaannya sebagai pengusaha, rasanya aneh jika Aldo memutuskan mengakhiri segalanya. Apalagi perusahaan yang dijalankan olehnya berlangsung baik, dia juga belum menikah meskipun sudah berumur kepala tiga. Bahkan, isu juga menuding Aldo masih perjaka, belum pernah bercinta dengan wanita manapun sekalipun sebelumnya dia pernah menjalin kasih dengan seorang wanita yang tertutupi identitasnya.
Sean dengan canggung memasuki sebuah ruangan nomor 2790, Sean mengetuk. Seorang perawat membukakan pintu untuknya. Sean dipersilahkan masuk, diikuti oleh Dex Sean memasuki ruangan itu. Cleaning service yang celaka karenanya masih terbaring koma dengan wajah dan tubuh yang rusak karena luka bakar. Sean menahan napas, selalu ingat, lelaki ini malang karena ulahnya. Seharusnya Sean memastikan lebih dulu tidak akan ada yang masuk rumahnya sebelum Sean nekat memhanguskannya. Tapi Sean cukup bersyukur, lelaki itu masih hidup. Sean tidak sanggup menjadi pembunuh, jika begitu dunia bisnis akan digemparkan dengan dua berita, bukan hanya Aldo Mahendra, seorang Sean Aplosso ditemukan mati bunuh diri karena tidak sanggup menanggung dosa sebagai pemerkosa dan pembunuh.
"Menurutmu apakah dia akan sadar?"
Dex yang ditanyainya mengangguk, "tentu saja, Tuan."
"Aku tidak harus menjadi seorang pembunuh 'kan?"
Dex diam sejenak, lalu menggeleng.
"Setelah dia sadar, kabari aku. Dan katakan padanya, aku akan menjanjikan banyak hal padanya sebagai hadiah jika dia pulih. Termasuk menjamin hidupnya, dia tidak perlu menjadi tukang bersih-bersih lagi. Dia bisa memiliki kehidupan yang lebih baik, bahkan kehidupan gemilang yang tak pernah dia duga."
Dex mengangguk, perkataan Sean tentu saja adalah perintah.
Lima menit di sana, Sean langsung memutuskan untuk pergi. Waktunya tidak senggang, kabar Aldo bunuh diri cukup akan meresahkan dunia bisnis. Banyak proyek yang ditangani Aldo akan terhambat bahkan bisa saja terbengkalai dan gagal yang tentu saja akan menjadi kerugian besar.
Dengan segera Sean harus menghubungi Rehan Mahendra, bisnis harus ada kepastian, jika Aldo yang telah tiada tidak bisa mengurusnya, Rehan Mahendra harus memutuskan orang baru untuk menanganinya. Karena Sean maupun Adli yang sudah berpatisipasi, tidak mau mendapatkan kerugian. Mereka adalah pemburu keuntungan.
sampe lumutan akoh...
sampe2 ai selingkuh sama tetangga sebelah,eh ..pas ngintip ksni msh blom2 jga ..
semangat y Sean aku ad d pihakmu kok💪😊