Kehidupan sebelumnya mereka sudah membuatku dan orang-orang yang aku sayangi menderita dan mendapatkan akhir yang mengerikan, jangan harap kalian bisa bebas. Dendam ini akan aku balaskan ribuan kali lipat hingga titik darah penghabisan. Ingin kabur dariku? Mimpi saja sana! Akankah dendam ini terbalaskan? Ataukah dendam yang menghancurkanku?
Genre : Romansa Istana, Fantasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Slow Plot, Misteri, Action, Magic, Sword, Romantis, Pemeran Utama Tangguh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penunggu Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan dengan musuh
Tapi aku harus menjaga citra bukan? Apalagi di depan Ayah musuh bebuyutanku.
Ya, benar sekali dia adalah Duke Lavandula yang baru Eowyn Lavandula seorang kepala keluarga dari keluarga Duke yang baru beberapa hari ini membeli gelar. Yang ada dipikiran kalian pasti kenapa Duke Eowyn Lavandula bisa membeli gelar? Padahal membeli gelar itu sangat mahal apalagi gelar Duke, gelar tertinggi yang setara dengan Grand Duke. Jawabannya karena dia adalah pengusaha sukses yang memiliki cabang dimana-mana, dia juga sekarang menjabat sebagai menteri keuangan Kekaisaran tidak heran ia bisa membeli gelar yang tinggi itu dan satu lagi. Gelar keluargaku dan keluarga Charlotte berbeda, gelar Duke adalah seorang bangsawan tinggi dibawah keluarga kerajaan yang tidak memiliki wilayah kekuasaan. Sedangkan gelar Grand Duke adalah gelar untuk keluarga Duke yang memiliki kekuatan militer kuat dan merupakan bangsawan asli (bangsawan yang menikah dengan bangsawan lain namun masih dalam Kekaisaran yang sama serta memiliki sejarah panjang.)
"Bolehkah saya bertanya?"
"Tentu saja Nona," jawabnya enggan.
"Apa yang terjadi di sini paman?"
"Tidak ada apa-apa Nona, hanya sedikit masalah saja." jawabnya dengan senyuman yang dipaksakan.
"Oh benarkah?" Aku memiringkan sedikit kepala untuk melihat sedikit kerusakan yang terjadi pada kereta kuda miliknya.
"Kalau begitu, izinkan saya meminta maaf atas kesalahan orang-orang saya karena sangat ceroboh hingga membuat banyak sekali kerusakan di kereta kuda Paman." kataku sambil menekankan kata banyak.
"Kalau kau pintar kau pasti tahu," batinku.
"Nona benar, ini hanya mengalami banyak sekali kerusakan." katanya sambil tertawa garing.
"Haish~ bagaimana bisa pemilik usaha besar yang sedang jaya jayanya itu tidak mengerti maksudku, atau mungkin dia pura pura bodoh? Tapi jika dilihat dari tampangnya, sudahlah Reinya! Jangan pernah menilai seseorang dari wajahnya atau penampilannya, wajah rupawan atau tampilan yang baik bukan jaminan orang itu adalah orang baik, itu pun jika kau tidak ingin kehidupan mu kembali hancur," Aku mencoba meyakinkan diri sendiri agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi.
"Syukurlah, bagaimana jika kami menggantikan kereta kuda paman?"
"Tidak perlu Nona," tolak nya dengan sombong.
Asistennya kembali mendekat dan membisikkan sesuatu.
"Maafkan saya Nona, tapi kebaikan hati anda adalah berkah bagi kami." katanya dengan nada yang berubah drastis.
Hohoho, lihatlah! Ia pasti sedang sangat kesal hingga mengatur ekspresinya dengan menggigit bibir, sama persis dengan dia.
"Tapi karena kesalahan kusir kami membuat kereta kuda Paman rusak," sanggah ku dengan mimik wajah sedih.
Tap... tap... tap...
Sesaat suasana hening melanda diantara banyak manusia, namun keheningan itu diisi oleh suara sepatu hak tinggi, kami melihat ke arah pemilik suara tersebut dan ternyata adalah dia.
"Informasi dari pelayan memang akurat," gumamku.
"Ayah!" panggilnya dengan suara khas.
Aku melihat reaksi para pengawalku yang masih seperti biasa, malahan mereka memasang wajah tanpa ekspresi yang membuat siapapun merasa akan di telan hidup-hidup.
Rambut putih keunguan dengan mata seperti bunga lavender menambahkan kesan anggun, aku yakin orang-orang tidak akan tahu jika dia adalah seorang rakyat jelata yang mendadak menjadi bangsawan.
"Ayah ada apa? Kenapa di sini ribut sekali?" ditambah dengan suaranya yang menggemaskan tapi menyebalkan membuat aku semakin ingin menghantam nya sekarang juga.
Sabar Reinya!
Awalnya, namun kesabaran ku tidak sebanyak dulu.
"Hei! Bisakah hilangkan suaramu itu tidak jangan hanya suara saja. Padahal aku kira aku akan takut, tapi sepertinya tidak. Jika bisa aku ingin langsung membunuhnya di tempat, tapi itu hanya akan menjadi pembalasan dendam yang membosankan." Inginnya sih aku berteriak seperti itu.
"Putriku, beri salam kepada Putri Grand Duke Fransisco!" perintahnya.
"Salam saya kepada bintang muda Kekaisaran,"
Lihatlah ekspresi puas Duke Eowyn Lavandula, heh, kau mau di sanjung? Sayangnya kau sudah telat satu langkah denganku. Senyum sinis terlukis di wajahku membayangkan wajah kecewa Duke yang berbeda dengan dulu.
POV. Duke Eowyn Lavandula
"Ada apa ini? Kenapa semuanya tidak memasang ekspresi kagum? Cih, dasar menyebalkan sekali. Aku harus mencari cara lain," batinnya.
•••
"Ini Tuan, kami akan mengirimkan beberapa kereta kuda yang setara dengan milik anda ke kediaman Duke Lavandula." ujar Bachtiar sambil menyerahkan sebuah surat beserta penanya.
"Untuk apa ini?"
"Ini untuk surat tandanya Tuan,"
Setelah mendengar jawaban Bachtiar Ayah Charlotte pun mulai menandatangani surat yang berisi perjanjian bahwa kami akan memberikan kereta kuda baru sebagai kompensasi atas kerusakan miliknya.
"Kalau begitu kami pamit dulu Tuan Duke,"
"Tunggu dulu!"
Aku membalikkan tubuhku kembali,
"Putriku ingin berkenalan denganmu,"
Berkenalan? Heh kami sudah lebih dari kenal, bahkan sekarang kami adalah musuh bebuyutan.
"S, salam saya ke, kepada bintang mu, muda ke, Kekaisaran Theoden." katanya sambil membungkukkan tubuh dan suara yang gugup
Aku benar-benar tidak habis pikir, baru beberapa saat yang lalu ia memberi salam dengan lancar.
Jika diingat-ingat kehidupan sebelumnya posisi kami terbalik, aku yang dengan gugupnya memberi salam karena baru pertama kali memiliki teman lalu dia yang mengulurkan tangan kepadaku sambil tersenyum dan membuatku mendapatkan harapan yang membutakan segalanya.
Tapi, tidak buruk juga membalas dendam dengan cara yang sama, ditambah bumbu-bumbu yang lainnya akan membuatnya menjadi semakin lezat.
"Tidak usah terlalu formal, Aku Lareinya Fransisco kamu bisa memanggilku Reinya." Aku tersenyum sambil mengulurkan tangan kepadanya.
"Aku Charlotte Lavandula," Dia meraih uluran tanganku.
Ekspresinya cepat sekali berubah.
"Semoga kita bisa menjadi teman baik," kata Charlotte.
"Iya," Aku hanya menjawab singkat sambil tersenyum cerah.
"Pintar sekali kau Charlotte, aku pikir kau berubah semenjak pesta debutante kita selesai yaitu setelah beranjak dewasa. Namun, sepertinya aku salah. Tidak dulu, sekarang maupun nanti kau tetap sama."
Kami mengobrol cukup lama hingga seseorang datang.
"Maaf Nona, kita harus berangkat sekarang. Kereta kuda Tuan Duke yang baru sudah sampai di kediamannya dan yang satu lagi disini,"
"Baiklah aku akan segera kesana,"
"Sepertinya itu utusan Ayah," gumamku.
"Ya Reinya? Apa yang kau bicarakan?" tanya Charlotte.
Sesaat aku melupakan keadaan dia.
"Charlotte!"
Aku menggenggam tangan Charlotte, walaupun sebenarnya ini menjijikkan tapi ya sudah.
"Kenapa?"
"Aku harus pergi sekarang,"
"Kemana?" tanyanya dengan wajah polos.
"Aku harus pulang ke Utara,"
"Tapi,"
"Jika kau mau berkunjung kau bisa datang kapanpun ke rumahku,"
"Benarkah?" tanya Charlotte dengan mata berbinar.
•••
"Fyuh~ akhirnya selesai juga," aku bernapas lega ketika kereta kuda kami sudah berangkat.
"Reinya, ada apa?"
Aku tersentak kaget, sedangkan Ibu memasang tampan aneh menatapku.
"Ada yang salah sayang?" tanyanya.
"Sejak kapan Ibu ada di sini?" tanyaku.
supaya ga aneh pas dibaca
Dia kan ga lagi ngebatin