Jenderal tinggi di tinggal kan oleh sang istri. Menjadi duda dengan satu orang Putri. Banyak wanita yang berlomba-lomba menginginkan Bara Dirgantara. Namun tak semua nya tulus pada Putri cantik nya. Hingga, ke dua orang tua sang Hot Jenderal itu memutuskan untuk menikahkan Bara dengan adik dari Nana Wijaya. Turun Ranjang, begitu lah orang-orang menyebutnya. Akan kah cinta antara mereka berdua bersemi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fara Dela Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 (Hari Pernikahan)
Mohon dukungan nya dengan cara Like, di awal lalu Komen di akhir dan Jangan lupa vote nya ☺️☺️☺️
.
.
.
.
.
Hembusan napas terdengar samar. Sebelum ke dua kelompok mata sakura terbuka lebar. Dingin lantai tak terasa kala mata indah itu menatap sendu.
Ada rasa yang tak bisa di selam. Meski gadis cantik ini bertingkah gila. Dengan ke bar-baran yang tak berarti. Angin yang masuk melalui celah jendela membawa ingatan kemarin malam kembali hadir.
Flashback on
"Sudah lama menunggu?" Suara husky terdengar jelas. Sebelum decitan kaki kursi bergeser dengan lantai cafe.
"Tidak aku baru sampai, Kak!" bohong Aurora dengan nada pelan.
Pria bermata tajam terlihat berbinar menatap wajah cantik gadis yang selama ini ia cintai. Pelayan Cafe meletakan dua hot coklat di atas meja. Sebelum membungkuk pergi meninggalkan sepasang pria dan wanita cantik yang terlihat begitu serasi. Banyak pasang mata menatap ke arah bangku kedua sejoli itu dengan pandangan takjub. Melihat visual ke duanya.
"Kau masih menyukai coklat hangat ternyata," ujar Arga dengan nada ceria.
*Senyum manis di ukir begitu saja. Mereka bukanlah anak-anak lagi, usia yang membawa kata dewasa ikut hadir. Ada rasa yang masih bersemayam di hati ke duanya. Tertutup tanpa kunci. Memang lucu jika di amati dengan seksama. Bukankah sangat jelas, jika ada hati di yang terlibat di sini. Ke duanya masih sama, hanya berbeda pria dengan senyum kotak nan menawan ini tidak pernah menutupi isi hatinya. Sedangkan gadis di depan nya ini terlihat menekan rasa yang tak ingin terus berkembang dan hidup.
"Ya. Tentu saja aku masih menyukai Coklat hangat. Karena coklat mampu membuat aku merasa lebih baik, Kak!" Tutur Aurora sambil menyesap coklat hangat di tangan nya.
Ke duanya mengobrol ringan. Seputar masa lalu, biarkanlah Aurora Wijaya melupakan barang sejenak apa misi yang harus ia jalani. Meski istri Bara Dirgantara, Jenderal besar Indonesia. Menjadi Ibu bagi Sora, sang keponakan. Hanya satu jam waktu yang di habiskan untuk mengobrol di Cafe. Sebelum ke duanya berada di pelataran sungai Han. Orang-orang terlihat berlalu lalang di depan ke duanya. Mulai dari sepasang kekasih dan yang sudah berkeluarga. Riak tak terlihat jelas di permukaan kulit air sungai. Aurora melangkah terlebih dahulu meninggalkan Arga di belakang. Ia berdiri di pagar yang sengaja di buat pembatas. Agar anak-anak tidak dalam bahaya*.
"Ada kala nya kita harus meninggalkan masa lalu dan menata masa depan," ujar Aurora membawa pandangan mata tajam Arga Santoso menyoroti wajah cantik gadis Wijaya itu dengan pandangan tak suka.
"Masa lalu hanya untuk mu, Ra! Bagiku tidak bagiku," bantah Arga dengan nada berat dalam.
"Kak!" panggil Aurora pelan,"Aku akan menikah dengan Kak Bara. Aku ingin bertemu dengan mu hanya ingin membicarakan hal ini padamu Kak," lanjut Aurora dengan nada pecah.
Tangan nya merogoh cepat tas sandang yang di sudah menemaninya satu jam lalu. Undangan pernikahan dengan tinta emas terukir indah di halaman depan. Aurora menyodorkan undangan pada Arga dengan cepat. Tangan besar Arga Santoso menerima dengan perasaan sakit. Apakah ini yang ia dapatkan setelah semua nya. Ia ingin berjuang untuk gadis ini. Berjuang agar Aurora kembali bersama nya. Ia tau dengan pasti Aurora memiliki rasa yang sama dengan nya. Namun kenapa malah begini? Kenapa gadis ini kembali meremukkan hatinya untuk ke dua kalinya.
"Aku pergi!" Ujar Aurora mengayunkan langkah kaki. Meninggalkan Arga yang berdiri mematung.
Setiap langkah yang di ambil ada rasa sakit dan ketidak inginaan. Namun dia tidak boleh egois. Baru tiga langkah, pelukan di lehernya menghentikan laju langkah kaki. Gaun putih di bagian bahu basah begitu saja.
"Kenapa kau sekejam ini padaku?" tutur Arga dengan nada pecah.
Sakit. Ia mencintai gadis ini. Sungguh sangat meyakinkan.
Pria adalah makhluk yang sangat sulit mengeluarkan air mata. Jika ia mengeluarkan air mata saat itu terjadi pertanda hatinya memang begitu hancur.
Flashback off
"Maafkan aku, Kak!" tutur Aurora lirih.
***
Pintu ruangan terbuka lebar. Wanita cantik dengan baju kebaya berbahan brokat, tersenyum lebar. Menatap calon menantu yang sebentar lagi akan menjadi menantunya. Hanya dalam hitungan detik.
"Astaga!! Cantik nya!" Seru Susi heboh membawa senyum di wajah cantik mempelai wanita.
Sora memeluk Aurora dengan wajah ceria. Anak perempuan cantik itu mengecup pipi kanan Aurora dengan cepat. Membawa kikikkan pelan di bibir Aurora.
"Ayo kita keluar Bun, sebentar lagi acaranya akan di mulai," ujar Sora dengan antusias.
"Kenapa kamu menginginkan pesta biasa saja. Padahal Mama bisa membuat pesta yang meriah untuk mu!" Kesal Susi membantu Aurora berdiri di posisi duduknya.
"Tidak apa-apa, Ma. Aku lebih suka yang sederhana," jawab Aurora dengan nada kalem.
Susi meriah tangan Aurora. Baru dua langkah ke duanya berjalan. Sosok lain membawa langkah ke duanya berhenti. Di ambang pintu, Tuan Wijaya berdiri dengan jas hitam. Manik mata tajam ke duanya berbenturan. Sudah sangat lama, Aurora tak pernah lagi berinteraksi dengan Rian Wijaya. Setelah tamparan kasar di kayangan oleh Tuan Wijaya. Susi melepaskan tangan Aurora sebelum tersenyum pada Rian. Sahabat dari suaminya.
"Aku dan Sora akan ke taman belakang terlebih dahulu." Ujar Susi langsung meraih tangan sang cucu. Membawa keluar dari ruangan. Meninggalkan Ayah dan anak dalam suasana yang begitu aneh.
Cukup lama ke duanya berdiam tanpa satu pun nada di hempaskan oleh mulut masing-masing. Sebelum langkah kaki salah satu dari ke duanya mengikis jarak antara mereka.
"Ayo!" Seru Sang ayah mengulurkan telapak tangan besar yang begitu hangat.
Ah! Sudah lama sekali. Telapak tangan hangat itu tak bersentuhan dengan telapak tangan kecil Aurora. Putrinya, sudah sangat lama Rian tak mendapat kan balasan dari ukuran tangan Aurora. Ada getaran yang sudah lama tak ia rasakan. Ada hati yang menghangat tanpa kata. Ke duanya melangkah dengan perlahan.
***
"Ada apa dengan tatapan matamu,huh!" tegur Aurora dengan nada tak bersahabat.
Wah! Ingin rasanya Bara memaki gadis yang kini telah sah menjadi Nyonya muda Dirgantara. Gadis gila itu benar-benar membuat nya malu. Sebelum bibir merah seksi Bara menyentuh dahi gadis di depan nya ini. Gadis ini telah terlebih dahulu nyosor mengecup—ah! Tidak. Menciumnya dengan ganas. Sungguh membuat Bara malu di depan para tamu undangan. Meski yang di undang hanya keluarga dekat ke dua belah pihak. Tetap saja, kejadian tadi siang begitu memalukan.
"Yaks!!! Apa yang mau kau lakukan." Teriak Bara panik.
Aurora tersenyum ganjil. Malam ini ia akan menggoda Jenderal tinggi ini habis-habisan. Dan tertawa keras di pagi harinya.
kasian tp lucu 😅😅
konspirasi konspirasi