Cinta itu tak bisa dijelaskan seberapa besarnya. Orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudera, bahkan langit. Namun, tak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika. Ketika kamu telah menemukan cinta sejati, peluk dan genggamlah ia selama kamu masih memilikinya.
"Apa itu sangat menyakitkan? Kamu ingin menguburnya saja?"
"Ya, begitulah."
"Kamu bilang 'cinta yang sebenarnya akan mengikat jiwa, memenuhi semua pikiran, cinta memiliki ruang tersendiri di dalam hati.' Bagaimana dengan itu? Jiwamu telah terikat pada cintanya, jadi kamu akan terus memikirkannya?"
"Hanya satu cinta yang bisa mengikat jiwa seseorang. Tempatnya tidak akan berubah di hati. Itulah cinta yang sebenarnya, cinta sejati. Sedangkan cinta yang lain, bisa berada di mana saja, bisa datang dan pergi."
"Jadi, jiwamu belum terikat sama sekali? Aku yang akan mengikat jiwamu."
'Sudah sejak lama Ardi. Hanya saja telah tersimpan, kunci hatiku entah hilang kemana, kamu harus cari.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rikha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bolehkah
🍂🍂🍂
"Erghmmm…"
"Eh… Ardi, kamu…." Ardian tiba-tiba muncul. Menghampiri Rindu dan duduk di sampingnya.
"Sudah selesai telponnya?"
"Mm… sudah."
"Kamu sudah makan?"
"Eh… belum."
"Tunggu sebentar, aku buatkan sesuatu," berjalan menuju dapur.
"Kamu mau masak?" Rindu mengekori langkah Ardian.
"Emm…."
"Wwow… sejak kapan? Seorang Ardian bisa masak?"
"Sejak Papa mengirimku kuliah di luar, Aku dipaksa untuk mandiri, uang saku pas-pasan... bahkan aku harus bekerja sambil kuliah," ceritanya seraya mengeluarkan bahan makanan.
"Benarkah?" tanyanya menaikkan pinggul di kursi mini bar dapur.
"Emmm… kehidupan disana sangat sulit, beruntung aku bertemu Ejja, aku diajarkan mandiri dan membantuku mencari pekerjaan. Dia satu-satunya teman terdekatku yang sekarang bekerja denganku."
"Ermm… Kamu mau masak apa? Biar aku bantu." dilihatnya Ardian sedang memotong-motong sayuran. Ardian terlihat terampil memakai pisau dapur.
"Boleh… kamu bisa bantu menggoreng ikan?" Rindu pun bergerak cepat, mencuci ikan, membumbui dan mengoreng. Ardian memperhatikan setiap gerak geriknya.
Dulu saat SMA Rindu sangat suka memasak. Setiap Ardian Dian dan Dimas datang untuk belajar bersama ke rumah Rindu. Gadis itu selalu memasakkan makanan untuk mereka. Ardian juga sudah terbiasa melihat Rindu bekerja di dapur.
Sayuran itu ditumis, dibumbui dengan tepat. Ardian seperti sudah ahli melakukan semua. Gerakannya lincah, Rindu merasa terkesan. Cara pria itu menggerakkan spatula, terlihat sexy Dimata Rindu. Sesekali mereka bergurau, saling mengganggu dan tertawa.
"Ok… siap," ucap Ardian saat selesai menata makanan di meja.
"Ardi… Ini minumannya," Rindu meletakkan glass teapot di meja. Teh hangat yang diberi irisan lemon segar, minuman kesukaan Ardian sejak dulu.
"Kamu masih ingat kesukaanku?"
"Tentu saja," jawabnya tersenyum riang. Ardian tersenyum senang.
"Baiklah, ayo mulai makan."
Mereka pun duduk dan mulai menikmati hasil masakan mereka berdua. Makanan sederhana, Ikan goreng dan 2 macam tumisan sayuran berbahan seafood.
"Mmmm… ini enak, hebat kamu bisa masak sesenak ini. Seperti masakan chef profesional!" kicau Rindu.
"Ohya… kamu bisa makan masakan ku setiap hari jika kamu mau?"
"Benarkah?"
"Tentu, tapi ada syaratnya?"
"Syarat apa?"
"Jadi istriku…."
"Prruuupp… huk… huk… huk…" Rindu tersedak saat mendengar perkataan Ardian. Secepatnya Ardian bangkit menepuk-nepuk pundak Rindu.
"Heii… hati-hati, minum ini cepat," Ardian mengambilkan minuman dan meminumkan.
"Errgghh… gara-gara kamu bercanda kelewatan"
"Aku tidak bercanda," akunya saat kembali duduk di kursinya.
"Hahaha… sudahlah Ardi," tertawanya garing, menghindari obrolan mereka.
"Rin… aku serius, alasanku mencarimu mau menjadikan kamu istriku"
"Ardi… aku sudah pernah menikah."
"Aku tahu."
Rindu terdiam, tidak ingin melanjutkan obrolan. Tidak tahu apakah Ardian benar-benar serius berkata seperti itu. Rindu menganggap itu tidak serius sama sekali. Rindu berpikir mungkin Ardian sudah melupakan perasaannya dulu. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
Kenyataannya tidak. Cinta Ardian tidak pernah berubah. Ia benar-benar tulus pada Rindu dari dulu. Tidak peduli Rindu pernah menikah atau belum. Tidak ada yang berubah, bahkan cintanya semakin dalam sekarang. Ardian pernah rela hidup membujang ketika tahu Rindu sudah berkeluarga.
Mereka terus terdiam hingga selesai makan. Rindu tampak kehilangan mood nya. Ardian tidak ingin lagi merusak suasana. Dibiarkan nya dulu sementara menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya lagi.
_____
Rindu duduk bersandar di sofa. Setelah tidak diizinkan untuk ikut membereskan bekas makanan mereka tadi. Menghidupkan TV berukuran besar yang menempel di dinding. Rindu memperhatikan setiap gerak-gerik Ardian. Membereskan piring, mengelap meja, mencuci piring. Semua pekerjaan dikerjakan dengan cepat dan rapi. Sosok pria perfeksionis kalau orang-orang bilang.
"Sudah puas kamu mengagumiku?" Ardian mendekat
"Hah… ti...tidak, aku tidak…," mengalihkan pandangannya ke arah TV.
"Lalu kenapa matamu terus mengekori setiap gerakanku?" Ardian pun duduk di sebelah Rindu. Menatap matanya dalam-dalam.
"Haha… jangan GR kamu."
" Eelleehhh… sok gak ngaku."
"Aku bosan… Acara TV gak ada yang menarik. Semua adegan sinetron berlebihan, terlalu dibuat-buat. Entertainment membahas gosip-gosip gak penting, yang muncul di TV kebanyakan settingan. Kenapa gak ada acara musik seperti dulu?"
"Hahaha… tunggu, akan aku buatkan satu untukmu, kamu mau acara yang bagaimana?"
"Hah… buatkan untukku?"
"Iya… itu mudah saja. Kalau kamu suka akan kulakukan."
"Iya… iya Tuan Ardian yang hebat," nadanya mengejek. Ardian tersenyum lalu melipat satu kakinya ke sofa dan memeluk wanita itu dari samping. Menumpukan dagunya dibahu Rindu.
Tersentak, Rindu tidak siap dengan perlakuan itu. Dia terdiam untuk sesaat, menatap layar TV. "Kenapa harus seperti ini, aku takut akan jatuh cinta lagi. Ardi... Cintamu sudah kusimpan jauh di lubuk hatiku. Aku takut untuk memulainya lagi."
"Rin… aku sangat merindukanmu."
"Ardi… jangan begini, aku tidak terbiasa."
Pelukannya dilepas. Kedua pundak Rindu diputar menghadap ke arahnya. Mata Rindu ditatapnya, namun wanita itu menghindari tatapan matanya. Ardian menangkupkan kedua tangannya ke wajah wanita cantik ini. Rindu terkesima.
"Rin… lihat aku, tatap mataku," mereka pun bertatapan.
"Dengar… kamu ingat saat terakhir kita bertemu, kita ke taman hiburan. Kita bersenang-senang, aku sangat bahagia waktu itu.... Kamu menghadiahkan aku Ciuman pertamamu, itu juga pertama kali untukku. Sampai detik ini aku masih mengingat dengan jelas betapa indahnya itu.... Aku semakin mencintaimu.... Dan aku tidak pernah berpikir bahwa itu adalah kado perpisahan darimu. Hanya itulah kenangan yang masih aku simpan dengan rapi."
"Ardi… maaf, aku tidak punya pilihan lain. Aku terpaksa harus pergi, semua sudah diatur," Rindu menurunkan perlahan genggaman di pipinya.
"Aku mengerti… Tapi kenapa kamu pergi tanpa memberitahuku?"
"Karena kamu."
"Aku?"
"Ingat perkataan kamu yang itu. 'Mencoba pacaran' aku bukan alat untuk menguji cintamu Ardi"
"Ya Tuhan… aku tidak pernah menganggap mu sebuah alat. Dan aku tidak berpikir kalau kamu akan beranggapan seperti itu. Jadi semua karena itu?"
"Hhmmm…."
"Maaf… maafkan aku, kenapa aku begitu bodoh, seharusnya aku berpikir sebelum mengatakannya," memukul bibirnya berkali-kali.
"Sudahlah… semua sudah berlalu," balas Rindu santai dan tersenyum. Lalu kembali mengotak-atik remote TV. Ardian terdiam sesaat.
"Rindu.…"
"Heemmm… kenapa?"
"Kamu masih mencintaiku? Masih adakah aku dihatimu?"
"Hahaha…. haruskah aku menjawabnya?" melirik Ardian sesaat.
"Ya… tentu saja."
"Aku tidak tahu, itu sudah bertahun-tahun yang lalu."
"Bolehkah kita memulainya lagi? Bolehkah aku masuk lagi ke dalam hatimu? Aku akan membuatmu mencintaiku lagi?"
Akhirnya Rindu menatap dalam mata pria itu. Mengerutkan keningnya, melihat adakah ketulusan di ucapannya barusan. Benar, mata itu tidak berbohong. Ardian masih mencintainya. Tapi Rindu sebenarnya takut, takut untuk membuka hatinya lagi. Hatinya benar-benar sudah tertutup rapat untuk diisi lagi. Bukan karena Ardian, tapi masa lalunya yang membuatnya enggan untuk mencintai lagi.
"Rin… katakan sesuatu."
"Aku… aku tidak yakin apakah itu bisa?"
"Aku akan membuat itu bisa. Aku yakin di lubuk hatimu yang terdalam masih ada aku. Aku akan berusaha membuka lagi hatimu."
"Hammm… Cobalah kalau kamu mau?"
Senyum manis terbit di bibir pria itu. Walaupun perjalanannya masih sangat jauh, ia akan berusaha sekuat tenaga nya. Tanpa aba-aba dipeluknya Rindu sangat erat. Dikecupnya puncak kepala, dihirupnya aroma khas yang sangat dirindukannya itu.
"Terimakasih… Rindu. Terimakasih… sayang."
"Hah… Ardi… jantung aku mulai gak aman. Maaf aku tidak bisa membalas cintamu, aku belum siap. Jujur perasaan itu masih ada, entah Cinta itu masih kuat atau tidak. Kita lihat saja nanti bagaimana arus nya," hatinya sendiri yang merasa takut.
"Tapi aku tidak menerimamu sebagai kekasih."
"Tidak apa-apa… aku akan menunggu kamu bisa menerimanya."
*
*
*
*
Hahahaha... Jangan heran, CEO kok makanannya sederhana sekali. hehe, anggap aja CEO yang ini lebih suka kesederhanaan. Saya sengaja gak buat yang wow wow. Mereka makan di rumah, jadi masakannya juga masakan rumahan. Kalau makan di luar barulah yang mewah-mewah. 😁😁🤭🤭
Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya...
LoPe dan JemPol kamu yang berharga. 🥰
Komen Yuk ramein, biar Aku semangat nulisnya...
Dukung terus author ya...
Love U all ☺️😘
diMangatoon lah tempatnya 😁
Hari ini kutemui karyamu 😊
Mari salkung bersama - sama 🤣
Semangat Kaka 🤗 !!!
Jika kak Author ada waktu mari mampir kekarya saya :
" MISTERI DUA CINCIN DIBALIK RUNTUHNYA ISTANA ANDALUSIA " .
Semangat terus 👍👍
...
Nanggung Ardiii...
😭😁🤣