Sebuah desa yang penduduknya paling sedikit, berpenghasilan rendah namun hampir semuanya memilki rumah yang bagus, hidup santai dan kehidupan sehari-hari pun terpenuhi.
Tetapi penduduk desa lain enggan tinggal di sana dan mereka mengaku jika memandangi desa itu awalnya tampak indah dan tenang namun semakin lama auranya semakin aneh seperti ditutupi oleh awan gelap.
Tina memilih ikut pindah bersama keluarganya untuk membuka lahan pertanian setelah menyelesaikan kuliahnya dari jurusan agribisnis. Desa itu adalah tempat neneknya dari ayahnya. Dia memliki seorang adik berumur sembilan tahun dan akan pindah sekolah di sana.
Sebagai pendatang Tina pergi ke berbagai tempat di desa itu hingga dia berhenti di sebuah gubuk yang penuh darah dan sesajen. Dengan perasaan tak tenang dia keluar dari sana namun diluar seorang pria dan wanita tua dan pendek menunggunya. Tubuh mereka yang pendek karena tulang punggung yang bungkuk hampir seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risna 020, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melanggar Perjanjian
"Lepaskan...!!"
"Kalian mau bawa ke mana aku...? Jangan berani-berani melukaiku atau kalian akan musnah saat ini..!!" teriak Tina yang merasa dirinya digiring dan masuk ke dalam mobil pick up.
Dengan angin sepoi-sepoi, suara jangkrik, dan suara kendaraan menemani perjalanan itu selama lima belas menit dan Tina tiba di sebuah bukit di atas desa itu.
"Sial...... " umpat Tina setelah penutup wajahnya dilepaskan.
Udara di bukit itu sedikit lebih dingin daripada di bawah dan hanya terlihat cahaya lampu dari perkampungan.
"Untuk apa aku dibawa ke sini? Apa yang akan kalian lakukan..?" ucap Tina dengan sangat marah menatap mereka.
"Lihat.. lihat bocah ingusan ke perkampungan. Bagaimana menurutmu, bukankan indah?"
"Penguasa desa ini adalah kami dan kami hidup sesuai cara kami."
"Hidup dengan santai, damai dan harta berkelimpahan. Dimana lagi kamu bisa hidup seperti ini." ucap Pak Tua itu terdengar bahagia.
"Apa kau tidak menyesal dan merasa bersalah atas kematian orang-orang yang kau jadikan tumbal?"
"Mereka bahkan tidak bersalah dan masalah hidup mati seseorang bukanlah keputusanmu, jadi bersiaplah menanggung akibatnya."
"Aku berharap roh mereka selalu menghantui kalian" balas Tina.
"Hahaha.... Lucu sekali anak ini."
"Bahkan roh mereka juga dapat kami kendalikan dan tidak ada yang perlu disesali, semuanya berjalan dengan lancar" balas Pak Tua itu mendekati Tina yang tangannya masih diikat ke belakang.
"Kalian sudah gila, jangan pikir kalian bisa melakukan ini seterusnya? Tunggu saja ajal mu Pak Tua jelek...!"balasnya.
" Tarrr..... " suara tamparan ke wajah Tina.
Wajah Tina berantakan dan terlihat amarahnya terkumpul seperti akan meledak.
Tina ditarik ke menatap ke perkampungan dan Pak Tua itu seketika wajahnya berubah datar seperti tidak punya hidung dan bola matanya samar.
"Bashhh.... " hentakkan ke bahu Tina dan tatapannya kosong.
Desa itu seperti mengeluarkan asap dan muncul cahaya menerangi seluruh tempat itu.
"Kamu lihat desa ini begitu indah, namun itu hanya untuk orang biasa... "
"Duarr.... " tiba-tiba dari perkampungan itu sebuah bayangan-bayangan keluar dari rumah-rumah perkampungan seperti arwah bergentayangan di atas rumah penduduk.
Tina tersentak melihat wajah asli desa itu jauh dari yang dia lihat sehari-hari.
"Apa ini? Apakah ini benar?" ucapnya dalam hatinya.
"Jangan coba-coba menipuku. Aku tahu kalian hanya mengelabui ku" ucapnya dengan nada datar.
"Sekarang ini kesempatan terakhirmu, kau kembalikan kotak itu hidupmu akan berakhir di sini?"
"Jangan membuang-buang waktu... Ayo katakan dimana kotak? " ucap Pak Tua itu mengambil seutas tali.
"Apa yang akan kau lakukan" ucapnya gemetar ketakutan.
"Baiklah... tapi dengan satu syarat, lepaskan Firman. Karena saya tidak bisa mengambil kotak itu sendirian?"
"Seberapa besar kami percaya sama kalian anak-anak penguntit?"
"Kau bisa menyuruh salah satu anak buahmu mengawasi kami" balas Tina.
"Ingat ini kesempatan terakhirmu, jangan coba main-main denganku atau nyawamu akan hilang" ancam Pak Tua itu setelah membicarakan ke Pak Jaya.
Firman muncul dengan wajah pucat, tangannya penuh luka-luka namun masih bisa berjalan.
"Apa yang mereka lakukan kepadamu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Tina ke Firman.
"Iya aku baik-baik saja" jawabnya..
"Ingat waktu kalian hanya sampai besok pagi, jika kotak itu belum ada nyawa keluarga kalian juga akan terancam. Camkan itu... !!" sahut Pak Jaya.
Tina dan Firman meninggalkan tempat itu dan nenek Liut ikut mengawasi mereka. Sementara perkampungan kembali seperti semula dan juga Pak Tua itu.
Tina memberikan isyarat ke Firman untuk pergi ke arah ladangnya dan tidak banyak pembicaraan selama perjalanan ke sana, pandangan nenek Liut tidak lepas dari mereka.
Sudah dua puluh menit, Tina langsung mengambil air minum di pondok kecilnya yang sedari tadi nenek Liut tidak memperbolehkan istirahat.
"Nek, kotak itu ada di ujung sana. Firman kakinya sakit dan hanya saya yang bisa ke sana. Nenek mau ikut saya atau di sini" tawarkan Tina.
"Aku akan ikut kamu. Jangan coba membohongiku. Ingat keluargamu sudah ditangan kami" ancam nenek tua itu.
Tina memimpin jalan ke arah ladang paling ujung dengan berharap Firman akan melakukan sesuatu.
"Jangan coba berbohong, harusnya kamu tau dimana kotak itu" ucap nenek Liut yang melihat Tina mondar-mandir kebingungan mencarinya.
"Nek, bisa bantu mengorek tanah itu. Kami kubur disini" ucapnya seperti menggali tanah dan nenek itu mengikuti arahannya.
"Ikat yang kuat..." ucap Tina setelah Firman tiba-tiba menarik tangan nenek tua itu ke belakang.
"Aku udah bilang, ajal mu akan tiba nek tua, kau sungguh keras kepala" ucap Tina menutup mulut nenek tua itu.
Nenek Liut diikat dan tak bisa bergerak ditinggalkan di pondok itu.
"Sekarang pindahkan Dion dan Ibumu ke rumah Pak Iman, ayo segera ke sana" sahut Firman.
"Aku tak tahu dimana Ibuku tapi aku harus pindahkan Dion" mereka bergegas pulang.
"Tok.. tok.. tok... " Tina mengetuk pintu rumahnya.
"Kamu darimana saja nak, Ibumu mencari mu" ucap Dino membuka pintu.
"Ibu dimana?" sahutnya masuk ke kamar mencari Sani ibunya.
"Ibu kok makin sakit" ucapnya melihat Sani yang semakin lemah dan hampir tak bisa bergerak.
"Dion, kamu percaya sama kakak kan."
"Pukul tujuh pagi kamu akan pergi dengan kak Firman dan jangan beritahu ayah dan bilang saja mau main ke rumah teman."
"Tapi kak.. " balasnya dengan ragu.
"Percaya sama kakak dan Ibu akan menyusul" yakinkan Tina dikamar Dion.
Tina memperhatikan gerak-gerik Dino yang di samping Sani, sesekali dia membelai lembut wajah Sani dan tak merespon apa-apa.
Sebuah bayangan hitam dan samar-samar mengelilingi atas rumah Tina dan dibawah bangkai burung berserakan dengan sangat bau. Tina menyapu keluar halaman namun bangkai itu tak kunjung habis.
"Nak... sudahlah, biarkan Ibu pergi dan jaga adikmu baik-baik" ucap Sani seperti diangkat oleh bayangan hitam di atas rumah itu.
"Ibuuu......!!!"
"Kringgg..... " bunyi ponsel Tina dan terbangun kaget ternyata hanya sebuah mimpi.
"Segera antar Ibumu dan Dion ke jalan besar belakang rumahmu" pesan dari Pak Dion.
Tina mendorong Sani di kursi roda dan Dion mengikuti dari belakang, sedangkan Dino sudah tak ada di rumah pagi itu seperti biasa.
"Ibumu akan dia antar ke desa sebelah untuk sementara. Kalian harus menghancurkan kotak itu malam ini ketika mereka mengadakan ritual dan sebentar kalian akan dicari" jelas Pak Jaya dan seorang pria yang membawa mobil untuk Sani dan Dion.
"Hati-hati ya nak" ucap Sani menatap Tina yang menangis di luar mobil.
Tina yang tak mampu mengucapkan kata-kata hanya melihat mereka pergi menjauh.
"Ayo Mba, sekarang ke rumah Pak Iman. Kita tak punya waktu lagi" ucap Firman.
Namun Tina bergegas kembali ke rumah seperti ada yang ketinggalan.
"Apa yang ayah lakukan?" melihat Dino bersama seorang wanita duduk berdekatan di ruang tamu.
"Bukankah kau kerja hari ini.. " balas Dino dengan gugup.
"Siapa wanita ini?"
"Dia hanya teman kantor."
"Apa teman kantor harus duduk bermesraan seperti ini?"
"Ayo ke dalam ayah akan jelaskan semuanya"
"Dia hanya teman ayah yang ingin menjenguk Ibu"
"Sekarang Ibu tidak ada di rumah, kenapa dia masih di sini"
"Apa ayah benar-benar peduli dengan Ibu?" nada kesal Tina dan langsung mengambil ponsel Dino yang ada di meja.
"Letakkan ponsel ayah!!"
"Kamu sudah tidak sopan ya!!"
"Ini ada apaan ayah? Ibu sakit dan ayah....???" sahut Tina menahan kata-katanya setelah melihat sebuah nomor tersimpan dengan nama "Si Cantik".
"Ayah berselingkuh dari Ibu?"
"Ayo jelaskan siapa wanita itu?"
"Sebentar lagi juga Ibumu sudah tiada, tidak perlu kamu banyak bicara" sahut wanita itu dengan santai.
"Apa??"
"Dasar wanita murahan..." sahut Tina mendekat dan menarik rambutnya.
"Lepaskan...!! Sayang tolong aku, singkirkan anak ini..!" teriak wanita itu.
"Bicaramu saja sudah sangat kasar, beraninya kamu bicara tentang Ibuku..." balas Tina semakin menjambak rambutnya.
semangat kak..
jangan lupa mampir ya kak