NovelToon NovelToon
Silence

Silence

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:467.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Yen Lamour

WARNING 21+

Tidak ada seorang anak yang ingin menjadi Broken Home. Menjadi utuh lagi adalah impian Rayla Pramanta, seorang anak perempuan yang ditinggalkan sang Ayah ketika berumur 12 tahun dan kurangnya perhatian kasih sayang dari sang Ibu menyebabkan hubungan antar Ibu dan Anak seringnya berakhir dengan pertengkaran.

Seolah semua itu belum cukup, sahabat sekaligus menjadi cinta pertamanya juga tiba-tiba meninggalkan dirinya tanpa penjelasan apa-apa. Rasa takut kehilangan orang yang disayangi, juga takut menikah karena dampak dari pertengkaran kedua orang tuanya, membuat dirinya tertutup. Luka demi luka terus menemani dirinya hingga Rayla merasa semakin putus asa.

Dapatkah Rayla bertahan menjaga kewarasannya setelah mengetahui rahasia dibalik pertengkaran kedua orang tuanya? Apakah Rayla dapat memaafkan Ayahnya ketika akhirnya mereka bertemu kembali? Lalu, kepada siapakah Rayla membiarkan hatinya berlabuh dan mengatasi traumanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yen Lamour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Happy reading 📖📖 ya guys

“Sudah sampai, Nona Rayla.” Pak Anto memarkirkan mobil di depan pintu mewah yang pernah kudatangi satu bulan lebih yang lalu.

Aku melirik pintu itu dari jendela mobil dengan perasaan yang bercampur aduk.

Saat aku menghampiri Pak Anto setelah jam pulang kerja tadi, perkataannya membuatku terkejut. “Nyonya berkata ingin bertemu dengan Nona Rayla. Jadi, sekarang saya mengantar Nona ke rumah Nyonya terlebih dahulu.”

“Apakah Erik tahu tentang ini?” tanyaku.

Pak Anto menggeleng kepalanya. “Saya kurang tahu, Nona. Saya hanya menjalankan apa yang diperintahkan.”

Erik tidak mengatakan apa-apa padaku. Kalau begitu, mamanya minta bertemu denganku pasti tanpa sepengetahuan Erik.

Aku teringat ucapan Deon tadi. "Lo butuh rileks, La. Weekend digunakan untuk mencari hiburan. Bukan pekerjaan."

Aku tertawa getir. Padahal, berkat bantuan Deon yang memperingatiku bahwa weekend digunakan untuk berlibur, aku sudah berencana mencari kedua sahabatku pergi shopping bersama.

Namun, aku malah harus menghadapi persoalan ini. Membuat mood-ku untuk benar-benar berlibur menjadi hilang.

Sejujurnya, aku tidak ingin mengunjungi tempat ini lagi sejak acara makan malam itu. Namun, takdir berkata lain. Dengan pasrah aku datang ke tempat ini tanpa Erik menemaniku.

Baiklah! Saatnya memasang perisaimu, Rayla! Jangan biarkan mereka mengintimidasi dirimu! Jika mereka mengatakan sesuatu yang menyinggung dirimu, lawan mereka!

Aku turun dari mobil yang sudah dibuka pintunya oleh Pak Anto. Kemudian Pak Anto menutupnya dan bergegas berjalan di depan untuk membuka pintu rumah.

“Terima kasih, Pak Anto. Nanti tidak usah mengantar saya pulang. Saya sudah pesan taksi online.”

Aku belum memesan taksi. Aku berbohong karena menurut firasatku, setelah menyelesaikan urusan dengan mereka yang berada di dalam nanti, pasti membuat mood-ku berantakan. Oleh karena itu, aku tidak ingin Pak Anto mengantarku pulang.

“Tapi Nona, nanti tuan muda Erik marah kepada saya.” Pak Anto terlihat kebingungan bercampur cemas.

“Tenang saja, Pak. Saya tidak akan memberitahu Erik. Bapak juga tidak perlu melapor kepada Erik.” Aku mencoba berusaha meyakinkan sopir Erik.

Beberapa saat Pak Anto masih terlihat ragu, tetapi akhirnya dia mengangguk, lalu pamit meninggalkanku.

“Selamat datang, Nona. Kedatangan Anda sudah ditunggu Nyonya. Mari saya antarkan.” ucap seorang maid dengan sopan sambil membungkuk tubuhnya.

Aku berjalan mengikuti langkah maid. Penampilan maid itu sangat unik dengan seragam gaya Victorian. Aku tidak tahu bahwa ada orang yang mempekerjakan pembantu mereka dengan penampilan seperti itu.

“Silahkan masuk, Nona! Nyonya ada di dalam,” tutur maid setelah membuka sebuah pintu sambil membungkuk.

Aku mengucapkan terima kasih, kemudian berjalan melangkah masuk.

Tante Nia terlebih dulu menyambut kedatanganku dengan raut wajah senang. “Hai, Rayla! Ayo, duduk bersama Tante di sini!” Tante Nia menepuk sofa di sebelahnya yang kosong.

“Sudah lama kita tidak bertemu. Kamu makin terlihat cantik saja. Erik memperlakukanmu dengan baik, kan?” Tante Nia mengelus wajahku dengan lembut. Bibirnya mengulas senyum lebar.

“Saya meminta pak Anto membawamu kemari tanpa memberi kabar terlebih dahulu, pasti membuatmu terkejut, bukan?” tanya Mama Erik yang sedang duduk di seberang Tante Nia.

Aku mencoba untuk tersenyum walau sesungguhnya aku tidak berniat melakukannya, karena Mama Erik terlihat sedang mengintimidasiku. “Tidak apa-apa, Tante,” jawabku dengan sopan.

“Rayla wanita yang terbaik untuk Erik, Rose. Percayalah kepadaku,” tutur Tante Nia.

Jadi, Mama Erik namanya adalah Rose. Pantas saja dia memiliki mata yang tajam dan menusuk. Sesuai dengan namanya, sorot matanya seperti duri pada bunga mawar.

“Nia sudah menceritakan sekilas kepada saya tentang latar belakang keluargamu, Rayla. Ibumu berjuang sendirian membesarkan kamu dan adikmu. Saya merasa kagum atas kegigihan ibumu.“ Tante Rose mengabaikan ucapan Tante Nia. Bibirnya mengulas sebuah senyuman kepadaku, tapi sorot matanya tidak terlihat ramah.

“Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan langsung padamu, Rayla. Bolehkah saya bertanya?”

Aku mengangguk. “Tentu saja boleh, Tante.”

Apakah aku boleh menjawab tidak? Pastinya ada suatu hal yang ingin dibicarakan wanita ini kepadaku. Maka dari itu, dengan tiba-tiba dia meminta pak Anto membawaku kemari dan tidak memberitahu Erik.

“Keterampilan apakah yang kamu miliki, Rayla?” tanya Tante Rose.

Alisku berkerut, tidak mengerti maksud pertanyaan tersebut. “Keterampilan?”

Apa hubungannya keterampilan yang kumiliki dengan hubunganku bersama Erik?

“Ya. Keterampilan apakah yang kamu miliki? Misalkan seperti membuat cake, design, piano, atau bahasa asing apa yang kamu kuasai?” Ada terselip nada mengejek saat Tante Rose menyebut satu per satu contoh keterampilan yang dimaksudnya itu.

“Saya tidak memiliki keterampilan yang Tante sebutkan tadi. Kecuali, membuat tugas laporan keuangan setiap bulan, jika hal ini bisa dianggap sebagai keterampilan bagi Tante,” jawabku sambil mengulas senyum.

“Maksud saya keterampilan yang dapat menghasilkan sesuatu seperti uang misalnya,” ucap Tante Rose yang kubalas dengan gelengan kepala. Alis Tante Rose naik ke atas.

“Lalu bahasa asing apa yang kamu kuasai?” tanya Tante Rose lagi sambil memicingkan mata.

Sekali lagi aku menjawabnya dengan gelengan kepala.

Senyum yang merekah dari bibirnya dalam sekejap menghilang, lalu digantikan dengan tatapan mata tajam diiringi kalimat yang menusuk. “Pilihan seperti ini yang terbaik untuk Erik katamu? Apa kamu mau mempermalukan keluarga kita, Nia?”

“Rayla adalah wanita yang cerdas, Rose. Selain itu dia memiliki murah senyum, bersikap sopan, perhatian, menghormati dan menghargai siapa pun. Tidak seperti kekasih-kekasih Erik yang sebelumnya,” tutur Tante Nia menjelaskan.

“Bukan kriteria seperti itu yang diperlukan untuk masuk ke dalam keluarga Xavier Jadison, Nia. Pernikahan di dalam keluarga kita selalu mengutamakan yang sederajat dengan kita. Apakah kamu melupakan hal itu?” tukas Tante Rose dengan nada dingin.

“Tapi Rose-”

“Kalau dia ingin masuk ke dalam keluarga kita, maka dia harus memiliki keterampilan yang dapat menjunjung tinggi martabat Xavier Jadison. Menjadi Staff Accounting? Membuat laporan bulanan? Yang benar saja! Pekerjaan itu bahkan, dikerjakan oleh pegawai perusahaan keluarga kita, Nia. Aku tidak habis pikir, di mana otakmu saat memilih wanita ini untuk bersanding dengan Erik?” ucap Tante Rose mencemooh. Tatapannya yang sinis menghujam ke arahku.

Aku tahu bahwa perbedaan derajat antara aku dengan Erik, membuat keluarganya keberatan menerimaku.

Namun, mendengar langsung dirimu dihina seperti itu, tetap saja membuatku sakit hati dan merasakan emosi.

“Rose, kamu belum membicarakan mengenai hal itu kepada Erik, kan?” tanya Tante Nia.

Tante Rose bersedekap. Dagunya terangkat dengan angkuh, lalu menjawab, “Tidak perlu dibicarakan. Erik tidak bisa berbuat apa-apa jika aku sudah membuat keputusan.”

“Maaf, kalau saya menyela, Tante Rose. Saya rasa Tante tidak berhak menilai kesempurnaan seseorang hanya dari latar belakangnya. Tante bukan Tuhan,” tukasku dengan lugas.

Aku sudah tidak tahan mendengar ucapan wanita yang sangat angkuh ini. Dia kira siapa dirinya, menilai orang lain seenaknya?

Tante Rose terlihat memicingkan matanya, tak percaya bahwa aku berani mengguruinya.

“Saya memang lahir dari keluarga sederhana dan dibesarkan dalam keluarga yang tidak utuh. Saya juga tidak memiliki bakat keterampilan apa pun yang dapat dibanggakan dan dipamerkan kepada orang-orang,” ucapku.

“Tetapi saya memiliki harga diri yang tidak dapat ditukar dengan materi. Bahkan, harta yang Tante miliki pun tidak cukup untuk menukarnya. Kalau Tante merasa keberatan atas hubungan saya dengan Erik karena saya tidak pantas bersanding dengan keluarga Tante, It’s okay! Saya mengerti dan menghargai keputusan Tante,” lanjutku lagi tanpa merasa terintimidasi melihat Tante Rose yang sedang menggertakan gigi dan tangannya mengepal kuat-kuat.

Tante Nia meraih kedua tanganku. Dengan nada khawatir berkata, “Rayla, Tante Rose tidak bermaksud untuk-”

“Saya tidak tuli, Tante Nia!” Aku segera memotong ucapan Tante Nia.

“Saya mendengarnya sendiri, Ibu dari kekasih saya bagaimana menilai saya, lalu untuk apa melanjutkan hubungan ini? Saya menerima Erik bukan karena hartanya!”

“Lalu karena apa kalau bukan karena harta kami? Umur kalian berdua terpaut tiga belas tahun. Wanita umumnya akan memilih pria yang usianya tidak berbeda jauh. Terkecuali wanita itu menginginkan harta yang dimiliki pria tersebut,” Tante Rose sepertinya tidak dapat menerima sikapku karena dia berbalik menyerangku dengan memberikan pertanyaan seperti itu.

Aku memasang senyum dengan lebar sambil bertatapan langsung dengannya. “Tante tidak menyimak dengan baik ucapan saya tadi? Saya mengatakan bahwa saya menerima Erik bukan karena hartanya. Artinya, Erik lah yang meminta saya menjadi kekasihnya. Jadi, seharusnya pertanyaan Tante itu ditujukan kepada Erik. Kenapa dia memilih saya untuk menjadi kekasihnya? Apakah karena usia saya masih muda?”

Wajah Tante Rose perlahan mulai memerah. “Ka- kamu … beraninya ….” Kedua matanya semakin melotot tajam padaku.

Aku merasa puas melihat reaksinya. Jika dia berpikir aku hanya diam membiarkannya menghinaku, She's wrong then.

“Maaf, Tante. Saya harus pulang sekarang karena jam makan malam saya sudah tertunda dari setengah jam yang lalu. Saya sudah menahan perut yang sudah kelaparan selama itu,” Aku bangkit berdiri dari sofa tempatku duduk.

“Untuk masalah ini, saya sendiri yang akan menghubungi Erik. Saya pamit pulang dulu, Tante. Selamat malam.” Tanpa menunggu respons dari mereka, aku bergegas melangkah keluar meninggalkan tempat ini.

Aku tidak sudi tinggal lebih lama. Seseorang yang berpendidikan tinggi belum tentu bermoral baik dalam kehidupan sehari-harinya. Tante Rose salah satunya.

Aku menghela napas dengan lega setelah berada di luar. Beban yang kurasakan sedikit berkurang. Tinggal dua masalah yang harus aku selesaikan, Erik dan mama.

Menghadapi Erik tidak sulit bagiku, tapi menghadapi mama? Untuk yang satu ini aku tidak memiliki kepercayaan tinggi.

Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘

1
Lia Kiftia Usman
mama mu terobsesi u dapat menantu kaya raya.. tanpa melihat keadaan dirinya dan keluarga nya..
g salah juga sebenarnya tapi lupa bekali anak dgn 'value' yg memungkinkan u naik kelas.
Lia Kiftia Usman
🖤🖤🖤
Lia Kiftia Usman
dewasa pada saat nya..
Lia Kiftia Usman
begini rupanya pengusaha... dilihatnya mereka punya kehidupan diatas mapan... dibalik semua itu..ada proses panjang yang dijalani,tanggung jawab yg berat, bersakit2.. berat ...berdarah2..... sudah sepantasnyalah mereka menikmati ... hasil nya.
Lia Kiftia Usman
😭😭😭😭sedihnya sampai ke hati...

merasakan berada diposisi maylin, rayla...
Lia Kiftia Usman
suka deon...
Lia Kiftia Usman
si mama punya target tinggi u yg jadi menantu ... tapi tidak meninggikan kualitas anaknya (seperti mama erik utarakan)...🤷‍♀️, cantik saja tidak cukuplah
bunda DF 💞
deooon,, ❤❤❤
Fina Fitriani
cerita yang bener2 banyak penjelasan karena tidak semua pembaca paham atas setiap kata2 yg disuguhkan oleh penulis.... bagus banget ceritanya walaupun awalnya aga sedikit membosankan tapi makin kebawah makin menarik .. konflik keluarga yg buat haru dan tersenyum2 sendiri membacanya.... semangat💪💪 Thor karya yg bagus♥️👏👏👏♥️
Lia Kiftia Usman
🖤🖤🖤🖤
Lia Kiftia Usman
jikalau saya punya anak laki2... kan saya ajarkan seperti deon bila bertemu dgn yg dicintai nya..😊
Lia Kiftia Usman
/Heart/...deon
Lia Kiftia Usman
tapi marah juga wanitanya ciuman dgn yg lain... 🤭
Lia Kiftia Usman
Luar biasa
Rifka Aqila
cerita ini menyentuh hati, Aku dapat merasakannya
Suyudana Arta
when nothing go'es right, go left.
Lia S
selamat thor..tamat 1 cerita. karyamu indah sangat ternikmati.
cinta dan dendam kami tunggu
Lia S
karya yang good
Yolan Apolonia
ya ampun deon
Yolan Apolonia
semangat mengejar cintamu Deon😇
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!