NovelToon NovelToon
Wasiat Iblis

Wasiat Iblis

Status: tamat
Genre:Petualangan / Pendekar / Iblis / Action / Fantasi Timur / Dan budidaya abadi / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Kutukan / Barat / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.6
Nama Author: Fariz Pradipta

Penyerbuan gabungan pasukan Demak, Banten dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahilah terhadap kerajaan Padjadjaran di bawah pimpinan Prabu Surawisesa berujung kegagalan. Padahal, Prabu Surawisesa mendapat bantuan dari pasukan Portugis dan Pasukan Mega Mendung, yang merupakan negeri bawahan Padjadjaran.
Negeri Mega Mendung di bawah kekuasaan Prabu Kertapati ingin merdeka, bebas dari pengaruh Padjadjaran dan menjadi negeri yang menguasai seluruh tanah Pasundan. Demi mencapai tujuannya, Prabu Kertapati rela melakukan segala cara. Salah satu langkah yang ditempuh adalah melalui perjanjian Wasiat Iblis dengan seorang petapa sesat bernama Topeng Setan. Akan tetapi Prabu Kertapati tiada sanggup melaksanakan perjanjian yang meminta tumbal putra sulungnya.
Kisah Wasiat Iblis pun berkembang…

Kisah ini mengambil berbagai kejadian sejarah, seperti gagalnya penyerbuan gabungan Islam ke Pajajaran, Penyerbuan Pasukan Banten ke Pajajaran yang akhirnya berhasil menguasai Kota Pakuan. #FiksiSejarah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fariz Pradipta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17 - Ilmu Teluh Ngareh Jiwa (1)

Di sebuah goa di tepi danau kawah putih puncak Gunung Patuha yang berupa, seorang gadis belia yang berparas sangat cantik nampak sedang bersemedi dengan sangat khusyuk sampai seorang nenek tua bungkuk berwajah menyeramkan menepuk bahunya “Bangunlah muridku, tapa brata tiga hari tiga malammu sudah cukup dan telah diterima oleh eyang didasar Kawah Putih, sekarang bagunlah!”

Gadis belia berparas sangat cantik yang tak lain adalah Mega Sari itu pun membuka matanya, dia lalu menjura hormat pada gurunya Nyai Lakbok, si Iblis Teluh dari Patuha “Terima kasih, Guru”.

Si Nenek itu tertawa mengkikik menyeramkan tapi Mega Sari tampak biasa saja. “Hihihi… Kau telah berhasil menguasai Ilmu Teluh Ngareh Jiwa muridku, sekarang tinggal satu lagi ujian yang harus kau tempuh, kau harus meneluh Nyai Demang Jayalodra dan seluruh Kademangan Ciwaas yang berada di kaki gunung ini dengan teluh Ngareh Jiwa”.

Mega Sari pun mengangguk mantap mendengar perintah dari gurunya tersebut. “Baik Guru, hamba akan melaksanakannya mulai malam ini juga!”

Sudah sepuluh hari Nyai Demang Jayalodra istri dari Demang Jayalodra yang memrintah di Desa Ciwaas itu sakit keras, tapi sakitnya aneh, kalau malam tiba tiba-tiba wanita cantik yang masih muda ini mengigau tak karuan bagaikan orang yang kesurupan padahal ia belum tidur.

Menjelang tengah malam wanita ini selalu muntah darah yang disertai ulat-ulat bulu dan kembang tujuh rupa, dan kalau pagi hari tiba maka tampak jelaslah kalau di lehernya nampak bekas seperti tusukan-tusukan jarum, padahal saat itu Nyai Demang sedang mengandung bayi tujuh bulan, anehnya semua kejadian yang menimpa dirinya ini tidak membuat ia keguguran.

Satu hal yang sangat aneh setiap kali Nyai Jayalodra kesakitan dan mengigau adalah hawa di kademangan itu mendadak menjadi sangat panas dan gerah, padahal desa Ciwaas yang terletak di kaki Gunung Patuha adalah desa yang mempunyai curah hujan yang sangat tinggi, maka udara di desa ini biasanya terasa dingin apalagi saat malam hari, dinginnya sampai mencucuk ke tulang sumsum, tapi setiap malam udaranya menjadi panas gerah bahkan jauh lebih panas daripada siang hari!

Demang Jayalodra yang juga masih muda yang baru saja menggantikan ayahnya menjadi Demang di desa Ciwaas sangat sedih melihat kondisi istrinya ini, berbagai dukun hingga tabib ia panggil untuk mengobati istrinya yang sangat ia cintai itu, tapi tidak ada yang berhasil mengobatinya, hingga rasa sedihnya berubah menjadi rasa takut dan panik.

Ia mulai menuduh orang-orang yang ia anggap bersebrangan dengannya lah yang meneluh istrinya, dengan tanpa bukti yang jelas ia membantai orang-orang itu, namun sakitnya Nyai Demang masih saja berlanjut, ia jadi mulai mencurigai wanita-wanita yang iri pada istrinya, tanpa prikemanusiaan ia menjebloskan wanita-wanita yang ia tuduh tanpa bukti menaruh dengki pada istrinya. Keadaan desa Ciwaas yang asalnya tenang dan damai itupun berubah menjadi kacau, masyarakat desa mulai berontak pada demangnya sebab kelalimannya yang bertindak semena-mena menuduh orang-orang desa meneluh istrinya.

Hingga pada suatu sore di hari ke tiga belas, bertepatan dengan malam Jumat Kliwon, Ki Demang sedang menemani istrinya di kamarnya, dengan wajah lesu ia terus mengusapi kepala istrinya “Kakang Demang…” panggil Nyai Demang dengan lemah.

“Apa, istriku?” sahut Ki Demang.

“Kakang Demang… Maafkanlah aku, gara-gara aku, suasana di desa ini menjadi kacau…”

Ki Demang membelai wajah lembut istrinya yang tergolek lemah diatas tempat tidurnya itu “Sudahlah istriku, engkau tidak perlu khawatir dengan keadaan di desa ini, kau istirahat saja agar cepat sembuh”.

Nyai Demang pun mulai menangis “Apakah aku masih bisa sembuh? Jangankan agar bisa sembuh, siapa yang meneluh aku saja kita tidak tahu, bagaimana aku bisa sembuh Kakang? Semua Dukun dan Tabib yang kita panggil tidak ada yang bisa menyembuhkan aku!”

Ki Demang menggenggam tangan istrinya dengan penuh rasa iba “Tapi engkau harus yakin bisa sembuh Nyai! Saat ini kita sedang mengusahakan untuk memanggil seorang Ulama dari pesisir utara, aku yakin dengan ilmu Islamnya, ia bisa menyembuhkanmu dan membantuku menata desa ini lagi!” jawab Suaminya membesarkan hati istrinya.

Saat itu matahari mulai terbenam, berbarengan dengan terbenamnya matahari, udara mendadak menjadi sangat panas dan gerah, udara berbau bangkai langsung tercium, sontak kedua pasangan suami istri ini menjadi ketakutan “Kakang, hawa panas dan aroma bangkai ini sudah datang…”

Ki Demang langsung mendekap istrinya. “Tenanglah Nyai, berdoalah pada Gusti yang maha Esa!”

Tapi Nyai Demang malah menggelengkan kepalanya “Kakang, kita telah menerima Islam di desa ini dan masuk Islam, tapi pernahkah kita shalat dan membaca Al-Quran? Bahkan Adzan berkumandang pun tidak pernah aku dengar, kita malah mencampur adukan Islam dengan ajaran-ajaran lama leluhur kita…”

Ki Demang menatap istrinya dengan wajah keheranan, apa yang dikatakan istrinya memang benar tapi ia tidak mengerti mengapa istrinya berkata seperti itu “Maksudmu apa Nyai?”

Nyi Demang tersenyum lemas. “Maksudku kita sebaiknya mengehentikan kebiasaan mencampur adukan paham kepercayaan dan memilih apa kita ikut Islam kepercayaan baru yang dibawa oleh Sunan Gunung Jati ke desa ini atau mengikuti kepercayaan leluhur kita”.

Ki Demang menatap mata istrinya dengan tatapan penuh tanda Tanya “Sebab kalau mengikuti ajaran leluhur kita, menurut hitungan Wedal ku yang jatuh pada hari kamis Wage atau malam jumat Kliwon, aku sangat takut akan meninggal malam ini… Kakang bukankah Wedal kita sama-sama jatuh pada hari kamis Wage atau malam jumat Kliwon?” Tanya istrinya yang nampaknya sudah sangat pasrah.

Ki Demang seolah baru teringat akan hal yang sangat penting itu “Astaga! Kamu benar Nyai!”

Ki Demang langsung bangun dan mengambil Keris pusakanya, dia pun memanggil para pengawal Kademangan masuk ke kamarnya “Nyai tidak usah khawatir, aku akan melindungi Nyai apapun yang terjadi!” tegasnya, sambil menyalakan kemenyan dan membakar bunga tujuh rupa, ia memerintahkan pengawalnya untuk menaruh sesajen beserta nasi tumpeng dan satu tusuk bawang merah,bawang putih, dan cabai merah di gapura desa, di gerbang kademangan, dan di kamar Ki Demang sendiri.

Waktu terus berjalan, hari semakin gelap hingga saat tepat tengah malam, hawa semakin panas, aorma bangkai semakin santar tercium, suasana malam menjadi sangat mengerikan, tidak ada seorang warga pun yang berani keluar rumah melongok keluar dari jendela pun mereka tidak berani!

Sekonyong-konyong kawanan burung gagak hitam berterbangan di atas langit Desa Ciwaas, mereka berkaokan tiada henti, ternak-ternak warga gelisah, bayi-bayi menangis, suara lolongan srigala bersahutan.

Yang sangat aneh adalah tiba-tiba datang sekawanan **** hutan masuk desa itu, mereka seolah berpesta pora di alun-alun desa tepat di seberang kademangan, tapi yang paling mengerikan adalah sebuah bola api yang terang benderang bagaikan bintang jatuh melesat dan jatuh pas diatas atap kamar Ki Demang Jayalodra!

Ki Demang beserta seluruh pengawalnya yang berjaga di kamarnya tiba-tiba diserang rasa kantuk yang teramat sangat, hingga akhirnya mereka semua tertidur! Sebaliknya Nyai Demang yang tadinya tertidur tiba-tiba terbangun.

Di atas perutnya berdiri seekor mahluk mungil sebesar telapa tangan orang dewasa yang wajahnya bertaring dan kepalanya bertanduk yang sangat mengerikan dan baru pertama kali ia lihat, ia pun menjerit ketakutan dan hendak membangunkan suaminya, namun ia tak kuasa menggerakan tubuhnya, sekonyong-konyong terdengarlah suara tawa seorang wanita yang sangat menakutkan!

“Siapa? Siapa kau?!” jeritnya.

1
Thomas Andreas
mirip kisah surodipo sm retno jumini hampir kejadian di bukit, ada petir jg di bukit yg menggagalkan.
Thomas Andreas
gading dong bkn cula
Ulun Jhava
Wow keren sy pecinta sejarah dan cerita silat nusantara baru nemu cerita ni luar biasa
Ulun Jhava
Sultan banten cerdas dan cakap
Ulun Jhava
Luar biasa
Ulun Jhava
Saya kok suka sama megasari
Ulun Jhava
Kebablasan pendekar
Ulun Jhava
Hati2 jaka dia adik kndungmu
Ulun Jhava
Jaka jgn naif surat udah sampai ya udah tinggalin dan tempuh jalanmu sendiri mencari jatidirimu
Kang Mus
cerita apa saja itu Ki Adi ?
Esther M
galuh Parwati thor....mantabb
wahyu hidayat
baru baca di 2024.
keren banget thor.
btw, referensi sejarahnya apa aja thor?
penasaran dengan sumbernya
CADAS JALARAMBANG: keren luar biasa.. br baca thn 2026 ini
total 2 replies
jagadcell 31singkut
ini SDH melenceng dari cerita silat ini mah horor....
jagadcell 31singkut
jaman sejarah belum ada Istal Kuda yang ada Kandang kuda ( gedhokan)
jagadcell 31singkut
saran kpd Author...agr perbendaharaan katanya lebih pas pada alur ceritanya tolong belajarlah dari novel silat karya S MiINTARJA. nanti karya anda akan makin di gandrungi para penggemar cerita silat klasik sejarah indonesia.🙏
jagadcell 31singkut
bahasanya tolong di perhatikan Thor...klu cerita silat kerajaan jgn pakai istilah "Atribut" (Umbul"Pratanda)
jagadcell 31singkut
ini baru sejarah...mantap Thor Lanjut
Rusdi P Bangun
Luar biasa
Rusdi P Bangun
Lumayan
Mus Dalifah
ok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!