Plakkkk!!!
Kia menampar pipi ayahnya dengan berlinang air mata.
" Kia tidak akan pernah menuruti semua keinginan ayah, selama ini Kia sangat sabar menghadapi kelakuan ayah. Tapi sekarang?? kesabaran Kia sudah habis, ayahh, sudah habis!! "
Iya, dia adalah Kriya Anastasya, seorang gadis cantik yang akan dinikahkan dengan seorang rentenir duda beranak lima.
Ayahnya yang tega menukarnya hanya demi uang. Apakah itu bisa disebut ayah??
Tapi dengan bantuan Al sang pengusaha terkenal itu, Kia bisa lolos dari pernikahan tersebut.
Yang ternyata Al adalah orang yang pernah menyelamatkan dia dulu, orang yang sangat dingin pikirnya.
Kisah Kia masih berlanjut saat Al meminta Kia menjadi istrinya. Jika Kia menolak permintaannya itu, Al tidak segan-segan menjebloskan kakak dan ayah Kia kedalam penjara.
Tidak ada pilihan lain selain dirinya mengikuti kemauan Al.
Jadi, bagaimanakah kisahnya nanti??
Apakah keduanya bisa memberikan cinta satu samalain, atau malah sebaliknya keduanya tidak bisa mempertahankan rumah tangannya karena ego masing-masing??
Yukk simak kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadissusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TMDTM BAB#15
" Maaf, Ma, Kia terlambat. " Ucap Kia saat sampai dimeja makan. Menaruh sayur asemnya dimeja, dia duduk disamping Al, sedangkan Alya duduk didepan Al, Andre?? sudah ada disamping Alya.
" Tidak apa-apa, sayang. Kamu bawa apa?? " tanya Alya.
" Ohh ini sayur asem, Ma" kata Kia.
" Apa?? sayur asem??" tanya Alya terbelak kaget, dia berbicara dengan nada yang agak meninggi.
Kia terjolak kaget mendengar ucapan sang mertua, " Maaf, Ma. Kia tidak bermaksud membawa makana,,,,,, "
" Ohh, tidak-tidak!!" kata Alya sambil menggoyangkan jari telunjuknya, " Apakah benar sayur asem?? " tanya Alya memastikan.
Kia manganggukkan kepalanya, " Iya, ma" ucapnya lirih.
" Pas banget, mama sangat kangen dengan masakan sayur asem. Jangan Asem bukan?? " tanya Alya memastikan.
Kia mengerutkan keningnya, tidak mengerti kenapa mama mertuanya tau bahasa jawanya sayur asem, " Iya ma, benar. Mama tau darimana jika itu Jangan Asem?? " tanya Kia.
" Itu dulunya makanan favorite mama saat masih remaja" ucap Alya.
" Makanan favorite?? " tanya Kia.
" Iya, dul,,,,,,,,,,, "
" Makan dulu, ma" Sahut Al. Sedari tadi dia hanya mendengar kan pembicaraan mereka berdua, menahan laparnya perut.
" Baiklah, mama akan lanjutkan ceritanya besok" ucap Alya, Kia mengangguk menanggapinya.
" Kia, apa boleh mama minta sedikit sayur asemnya??" tanya Alya ragu.
" Ohh maaf, Ma. Kia sampai lupa" Kia menyondorkan mangkuk itu kehadapan sang mertua.
" Kamu?? " tanya Alya.
" Buat mama aja, do dapur masih ada kok, ma. "
" Trimakasih, Nak" Hawab Alya.
Keheningan yang tercipta setelah itu, semua makan dengan lahapnya. Apalagi Alya, dia sangat menikmati masakan yang diberikan Kia. Kia yang melihatnya senang bukan main.
Al dan Andre saling pandang satu sama lain, heran melihat mamanya yang makan dengan sangat lahap, mereka berdua tidak pernah melihat Alya makan seperti itu.
" Sayang, masakan kamu sangat mantap," ucap Alya saat sudah habis sayur semnya.
" Benarkah, ma?? " tanya Kia dengan mata berbinar.
" Kapan-kapan masak lagi buat mama ya!" kata Alya.
" Itu ma gampang atuh, Ma" ucap Kia candaan.
" Ma, Al keatas dulu" Pamit Al pada mamanya, melangkahkan kakinya pergi dari sana.
" Mama, Andre juga keatas dulu" Pamit Andre, menyusul langkah Al.
Alya mengangguk, dia sudah tau jika kedua putranya itu akan pergi keruang kerja yang ada diatas, karena itu sudah kebiasaan Al dan Andre saat selesai makan.
Kia menatap punggung suaminya itu sampai hilang dari arah pandangannya.
" Kia, mama juga kekamar dulu ya."
" Baik, ma" Menatap sang mertuannya itu.
" Segera istirahatlah!" Kata Alya, melangkahkan kakinya meninggalkan Kia.
Kia yang tinggal sendiri pun segera membersihkan meja makan itu. Menumpuk piring bekas makanan itu.
" Non, biar Mbok aja yang beresin" Kata Suti dari arah dapur.
" Nggak usah, Mbok. Biar Kia aja" jawab Kia.
" Non istirahar saja, pasti capek."
" Tidakk, Mbok udah janji bakal nemenin Kia duduk ditaman." Kia menggoyang-goyangkan jari kanan kelingkingnya, sedangkan tangan yang kiri berada dipinggangnya.
Mata Kia tertuju pada 5 pembantu yang datang dari arah dapur, yang sedang membawa tong sampah satu persatu. Satu persatu para pembantu menumpahkan sisa makanan itu kedalam tong sampah itu.
Mata Kia terbelak sempurna,,,,,,
" Jangannn!!!! " triak Kia.
Seketika para pembantu itu menghentikan pekerjaanya itu, matanya memandang kearah Kia.
" Kenapa, Non?? " tanya Suti.
" Kenapa makanannya dibuang?? " tanya Kia balik.
" Ini sudah aturan keluarga ini, Nona" ucap salah satu pembantu yang ada disana.
Kia berfikir sebentar, " Tunggu! diam dulu disitu, jangan lakukan itu lagi. Tunggu sebentar," Kia melangkahkan kakinya pergi.
Tokk tokk ttokkk.
Kia mengetuk pintu kamar Alya.
" Maa, mama" panggil Kia.
Tidak berselang lama Alya membukakan pintu kamarnya, " Ada apa, Nak?? " tanya Alya.
" Maa, apa boleh jika sisa makanan jangan dibuang?? " tanya Kia to the poin.
" Terserah kamu, Nak. Ini sekarang juga rumah kamu. Kamu berhak memerintah atau melakukan apapun jika itu baik" jelas Alya.
" Trimakasihh, Ma" kata Kia memeluk tubuh Alya.
" Sama-sama " Membalas pelukan Kia.
" Ya udah, Kia pergi lagi ya, Ma." Melangkahkan kakinya pergi.
.......
" Hemm, bi. Mulai sekarang jika makanannya ada sisa jangan dibuang lagi ya!" Kata Kia.
" Lalu bagaimana, Non?? " tanya Suti.
" Biarkan saja, Mbok. Nanti bakal Kia yang urus, Oke??"
" Baik, Non" jawab mereka serempak.
" Sekarang istirahat lah!! " perintah Kia.
Mereka semua hanya mengangguk. Menurut mereka sekarang adalah mustahil jika mereka membantah perintah nyonya muda mereka. Ya meskipun mereka semua tau kalau tuan mudanya tidak beneran suka sama nyonya mudanya, tapi siapa yang berani membantah menantu kesayangan nyonya besarnya??
Para pembantu berjalan kembali kearah dapur membawa tong sampah mereka masing-masing.
" Non, Mbok bantu ya" kata Mbok.
" Apa, Mbok tidak lelah?? " tanya Kia.
" Tidak sama sekali, Non" jawabnya.
" Baiklahh. " Jawab Kia, " Hemmm, Mbok. Apa ada kardus kecil??" tanya Kia.
" Bentar, Non. Ada sedikit di dapur, Mbok ambilkan sebentar. " Suti berjalan memasuki dapur.
" Ini, Non" Suti menyondorkan kardus yang belum dibentuk.
" Trimakasih, Mbok."
Kia dan Suti mulai membentuk kerdus dan mulai mengisi kerdus itu dengan sisa makanan.
" Non, ini mau dibuat apa?? " tanya Suti saat semua sudah diisi.
" Sekarang jam berapa, Mbok?? " tanya Kia.
" Sekitar jam 20.30, Non" jawabnya.
" Mbok mau nemenin Kia membagi makanan ini nggak?? " tanya Kia.
" Kemana, Non?? " tanya Suti.
" Ini buat orang-orang yang membutuhkan, Mbok. Kan lumayan bisa dibuat ganjal perutnya yang belum makan" kata Kia.
" Subhanallah, Non. Mbok kira ini buat apa, ternyata buat itu. Mbok nggak nyangka kalau Non memiliki hati yang mulia" kata Suti, tangan kanannya berada didadanya.
" Jadi gimana Mbok, mau?? " tanya Kia.
" Iya, Non. Mbok sangat mau" ucap Suti tersenyum lebar.
" Tapi kita jalan ya, Mbok. Nggak apa-apa kan?"
" Itu mah tidak masalah buat Mbok, Non. Kecil" kata Suti meremehkan ( tapi bercanda loh).
" Mbok, bisa aja."
Kia dan Suti mulai memasukkan kardus yang berisi makanan itu kedalam kantong plastik. Lumayan, terdapat 2 kantong plastik besar yang muat untuk itu.
Kia dan Suti mulai berjalan menelusuri trotoar, jalanan juga masih ramai, mungkin karena ini malam minggu jadi rame deh.
Mereka mulai memberikan makanan-makanan kepada orang yang mereka temui. Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka sudah selesai membagikan itu. Tinggal satu kotak makanan mereka.
" Mbok, ini tinggal satu" ucap Kia.
" Bawa pulang aja, Non" saran Suti, " Ini juga sudah jam sepuluh malam kurang, Non. "
" Ya udah, Mbok. Kia bawa pulang aja" katanya.
Mereka berdua melangkahkan kakinya pulang kerumah. Saat diperjalanan pulang Kia mendengar suara tangis anak kecil.
" Hiks hiks hiks, Mama" ucap anak itu sesegukan.
" Mbokk!" kata Kia, dia menghentikan langkahnya.
" Non, apa Non dengar?? " tanya Suti.
Kia mengangguk, dia mulai mencari sumber suara itu. Matanya menemukan sosok anak kecil yang sedang duduk dibalik pohon.
Kia melanglahkan kakinya pergi kesana.
" Dekk" panggil Kia saat sudah sampai divalik pohon.
" Mamaaa!!" Anak itu memeluk tubuh Kia erat.
" Hay, saya bukan mama kamu" kata Kia pelan, melepas pelukannya.
Anak itu menundukkan wajahnya sedih.
" Kenapa sedih?? " tanya Kia, menjongkokkan tubuhnya.
" Mama Alkhan ndak tau kemana" ucapnya sedih, " Mama, Alkan ninggalin Alkhan dali tadi siang. Katanya mama pelgi cebental, tapi sampai sekalang mama belum kembali juga. "
" Rumah kamu dimana?? " tanya Kia.
" Anak itu menggelengkan kepalanya, " Alkhan tidak tau."
Nyali kuat juga anak kecil itu, ucap suti dalam hati yang melihat anak kecil itu berbicara dengan Kia, tidak takut sama sekali dengan orang luar.
" Nama kamu siapa?? " tanya Kia.
" Nama ku Alkhan."
" Alkhan?? " tanya Kia.
" Tidakkk, tapi Alkhan" katanya.
" Alkhan?? "
" Noo! Alkhan."
" Arkhan?? " tanya Kia lagi yang baru mengerti jika anak itu tidak bisa berbicara r seutuhnya.
" Yess" jawab anak itu.
Kia bingung sendiri melihat anak itu, tadi menangis tapi sekarang ceria lagi.
" Kenapa kamu tadi menangis dan sekarang ceria ?? " tanya Kia.
" Kalena sekalang Alkhan tidak takut lagi, kalena ada mama balu buat Alkhan. Kata mama Alkhan jika ada yang nyampelin Alkhan disini belalti itu mama Alkhan balu. Kata mama Alkhan juga mama balu Alkhan akan bawa Alkhan" kata Arkhan.
" Tapi, tante hanya nyamperin kamu aja, Nak" kata Kia, karena dia takut jika mama mertuanya tidak akan setuju jika dia membawa anak itu.
Dia menitihkan satu air matanya melihat anak kecil yang berumur sekitar 4 tahun itu, dia tidak menyangka jika anak itu mudah dibohongi oleh mamanya sendiri.
" Nggak mau, Alkhan halus ikut mama Alkhan yang balu" kata Arkahan kekeh dengan pendiriannya.
" Mbok?? " Kia menatap Suti, meminta petunjuknya.
" Bawa dulu aja, Non. Besok tanya nyonya besar, kasihan kalau ank kecil malam-malam disini, takutnya nanti akan terkena apa-apa" jawab Suti.
Kia memejamkan matanya, tidak ada pilihan lain selain membawa anak kecil itu bersamanya, benar apa yang diaktakan Suti.
" Baiklah, saya akan membawa kamu pulang. Tapi jangan nakal ya" kata Kia pasrah. Jika memang dia dikenalkan dengan Arkhan pasti dia bisa bersamanya.
" Holeeee, yeeeee. Alkhan punya mama baluu" teriaknya gembira.
Mereka bertiga melangkahkan kakinya pulang, karena malam sudah semakin larut.
.
.
.
.
Bersambung.