Hi teman, ini adalah karya pertama aku di noveltoon.
Disini saya hanya belajar menulis, dan saya hanya ingin sedikit bercerita, tentang perjalanan kehidupan, seorang Aditya Koesdiansyah.
Seorang pemuda tampan, yang menjadi tulang punggung keluarganya, setelah Dokter memvonis Ayahnya sakit.
Bagaimana kelanjutanya, tetep mampir di karya Author yang baru ini.
Karena insya Alloh Author akan rajin Update tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GANTENG KALEM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GELISAH
Sekilas info untuk reader yang penasaran, seberapa ganteng sih mukanya Aditya koesdiansyah anak dari seorang Herman koesdiansyah.
Ni Author kupas tuntas fisik Aditya, agar reader bisa menerka dan berhalu ria mendapatkan feel dalam membacanya.
Kurang lebih seperti itu, perawakan atau bentuk fisik Aditya, yang hampir mendekati sempurna. Karena seyogyanya tak ada manusia yang sempurna di dunia ini.
Back to story.
Kabar pemukulan David ternyata cepat sekali sampai di telinga Abraham pemilik Julian company. Emosinya langsung tersulut dan amarahnya mendidih sampai ubun ubun.
"Lancang sekali!!!, katakan padaku siapa orangnya yang berani memukul dan mematahkan tangan anaku." Abraham yang murka, melampiaskan emosi dengan melempar kursi ke arah jendela kaca hingga pecah.
Semua anggota meeting ketakutan dan memutuskan meninggalkan ruangan meeting kecuali Luna dan Ratna.
"Dimana putraku sekarang?" tanya Abraham pada ketua Security melaporkan kejadian.
"Tuan David sekarang telah dilarikan ke rumah sakit menggunakan Ambulance klinik, Tuan." jawab kepala security.
"Ayo kita kesana sekarang, dan kau Luna, sebaiknya kau kembali ke perusahaanmu." titah Abraham pada orang orang di hadapannya.
"Baik, Om." Luna mengangguk.
Abraham segera berlari meninggalkan ruangan meeting menuju rumah sakit bersama kepala security, meninggalkan Luna dan Ratna yang masih berdiri.
"Ya udah yuk, kita cabut aja." ajak Ratna yang di balas anggukan oleh Luna.
"Akhirnya, kena batunya juga tuh anak sombong. Ngomong ngomong, hebat juga tuh orang, bisa menghajar orang sombong kaya si David." ucap Luna dengan tersenyum sinis.
Mereka berdua berjalan meninggalkan ruang meeting menuju area parkir.
Adit yang baru melihat Bos cantiknya datang, dia langsung keluar dari mobil membukakan pintu untuk Luna dan Ratna agar segera memasuki mobilnya.
"Sudah selesai meetingnya, Non?" tanya Adit sambil memandang Luna lewat kaca depannya.
"Belum, Dit. Tadi katanya ada masalah apa gitu, hingga meetingnya mendadak di batalkan." jawab Luna sambil membenarkan posisi duduknya.
"Kok, yang di tanya bosnya doang. Aku kan pengen di tanya juga sama cowok ganteng." Ratna kembali menggoda Adit.
Adit tertawa terkekeh melihat Ratna yang terlihat mengaharap di tanya oleh dirinya.
"I ya, maaf. Ibu sekretaris, meetingnya sudah selesai?" tanya Adit dengan tangan menstarter mobilnya.
"Udah, makasih ya cowgan." jawab Ratna yang di balas anggukan Adit.
Luna hanya menggeleng melihat Ratna yang selalu ganjen melihat Adit.
"Dit, kita langsung balik ke perusahaan saja ya." titah Luna dengan tangan menepuk pundak Adit.
Setelah menepuk pundak Adit, Luna merasa heran merasakan tanganya yang sedikit berdebu.
Di lihatnya kembali baju Adit olehnya dengan seksama.
"Dit." panggil Luna.
"I ya, Non." Adit memandang Luna lewat kaca depannya.
"Baju kamu kotor amat, memang kamu dari mana?" tanya Luna yang tanganya kembali memegang baju Adit.
"Maaf, Non.... " Adit tidak melanjutkan ucapannya.
" Kenapa harus minta maaf?" ucap Luna yang merasa heran.
Adit menggaruk rambutnya yang tidak gatal, dirinya bingung harus memulai darimana untuk menjelaskan perkelahianya tadi.
"Tadi..., tadi saya berantem, Non." ucap Adit dengan ekspresi kecewa.
"Apa, kamu berantem?" tanya Luna yang tidak percaya dengan ucapan Adit.
"Gimana ceritanya, terus siapa yang kamu ajak berantem?" Ratna memperhatikan wajah dan tangan Adit yang tak di temukan luka sama sekali.
Adit memandang Ratna sekilas, dan kembali fokus pada kemudinya.
"Untuk namanya, saya tidak tahu. Kejadianya begitu cepat, yang jelas sepertinya orang itu mengalami patah di bagian kedua tanganya." jelas Adit yang terlihat murung penuh dengan penyesalan.
Luna menutup mulut dengan mata yang tiba tiba membulat, karena merasa kaget.
Luna dan Ratna saling memandang tak percaya.
"Apa jangan jangan David orangnya." Tebak Luna dan Ratna bersamaan.
Adit memandang kedua gadis itu sesaat dan kembali fokus menyetir.
"Siapa David, itu?" tanya Adit yang merasa penasaran.
"Dit, dengerin aku ya, kita berdua yakin. Kalau korban yang tanganya patah itu adalah David, anak dari pemilik Julian company.
Adit menepuk jidat, dia tak pernah menyangka bahwa orang yang di hajarnya adalah seorang pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Luna.
"Maafkan saya Non." Adit yang sudah merasa takut akan Luna yang akan memarahinya.
"Kita bicarakan di kantor saja," ucap Luna menyudahi perbincangan serius ketiga orang dewasa tersebut.
Mobil yang di tumpangi Luna, Ratna dan Adit. Kini telah sampai di lobi perusahaan. Luna dan Ratna langsung keluar dari mobil tanpa menunggu Adit membukakan pintunya.
"Adit, saya tunggu kamu di ruangan saya sekarang juga." Luna melangkah masuk kedalam perusahaaya di ikuti Ratna dari belakang.
Sementara Adit, dirinya langsung menuju area parkir, memparkir mobil dengan cantik dan meninggalkanya menuju ruangan Luna.
Di dalam ruangan Luna, terlihat Luna dan Ratna yang terlihat siap menyidang Adit.
Kok, kayak mau di sidang aku.
"Duduk, Dit!" titah Luna tanpa basa basi.
Adit mengangguk dan duduk berhadapan dengan Luna dan Ratna.
"Ceritakan pada kami, bagaimana kamu bisa bertengkar hebat dengan David." ucap Luna yang kini terlihat tegas di depan Adit.
Adit menghela nafas dan menghembuskanya secara perlahan sebelum menjelaskan semuanya.
"Jadi begini, Non....," Adit menjelaskan lebih rinci kronologis kejadian yang sebenarnya, pada Luna dan Ratna, hingga dirinya terpaksa melakukan semua itu.
"Apa ada yang melihat kejadian ketika kalian berdua berkelahi?" tanya Ratna di sela sela pembicaraanya.
"Ada, kalau tidak salah wanita kerja di cafe sebagai pelayan." jawab Adit dengan yakin.
Luna menghela nafas sambil memegang dadanya.
"Syukurlah, kita pinta penjelasanya sebagai saksi. Karena aku yakin David pasti membawa masalah ini ke meja hijau." ucap Luna dengan dengan yakin.
"Ok, aku pulang dulu. Sudah jam 7." Ratna yang baru melihat jam di pergelangan tanganya.
Luna menggaguk paham melihat Ratna yang sudah bersiap.
"Ok, hati hati ya rat," Luna memandang kepergian Ratna yang meninggalkan ruanganya.
Adit termenung, dirinya tak menyangka jika perkelahianya dengan David akan berbuntut panjanv seperti ini.
"Adit, Ayo pulang yuk." ajak Luna.
Adit mengangguk dan mengikuti Luna dari belakang.
Di depan Lobi, Luna sudah menunggu, dan tak berselang lama Adit yang baru datang langsung mempersilahkan Luna masuk kedalam mobilnya.
"Dit, kamu turun dimana?" tanya Luna di sela sela perjalanan pulangnya.
"Saya turun di perempatan, Non. Kebetulan saya menitipkan sepeda tak jauh dari situ." jawab Adit yang di balas Luna dengan Oh ria.
Sesampai di perempatan, Adit berpamitan pada Luna dia melangkah menjauhi mobil Luna yang masih menepi di pinggir jalan.
Luna tak melajukan langsung mobilnya, dirinya lebih memilih memperhatikan Adit yang terlihat mengambil sepeda di tempat penitipanya.
Dan setelah Adit, mengayuh sepedanya. Luna mulai melajukan mobil menuju pulang ke rumahnya.
semanhat bang😊😊😊