Di sarankan membaca "SANG PENGANTIN BAYARAN" lebih dulu, karena semua tokoh berkaitan erat dalam novel tersebut.
Alexavier Bancroft, menjadi duda di usianya yang masih muda. Istrinya, Melanie Rendra, meninggal satu hari setelah melahirkan bayi perempuan cantik secara prematur yang di beri nama, Sunny Chalondra Bancrof.
Berbagai tekanan dari keluarga mertuanya membuat Alex berusaha move on dari masa lalunya, namun sulit bagi dia untuk kembali membuka hati pada wanita manapun yang ia temui.
Keluarga Rendra, menjodohkan Alex dengan keponakan mereka bernama Felicia, namun hati Alex berkata lain, ia tertarik pada wanita yang menjadi pengasuh putrinya, Nora Arabella.
Akankah Alex bisa bertahan dengan hatinya untuk memilih Nora, atau memilih untuk mundur dan menerima perjodohan itu dengan rela?
---
WARNING 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Agree
Nora, gadis berusia 26 tahun dengan tinggi badan tidak lebih dari 155 centimeter, bentuk tubuhnya yang tidak tinggi di imbangi dengan berat badan yang ideal tapi berpipi chubby, membuat gadis itu masih tampak seperti remaja SMA.
Nora bukan gadis berpendidikan tinggi, dia hanya tamatan SMP di sebuah desa tempat kelahirannya. Karena kelemahan ekonomi, setelah tamat SMP, orang tuanya membawa dia merantau ke ibu kota, berharap dengan tempat baru bisa membawa keberkahan dalam mengais rejeki.
Namun takdir berkehendak lain, ayahnya meninggal karena sebuah kecelakaan saat menjadi supir angkot, dan ibunya pun menyusul karena serangan jantung. Di usianya yang belum genap 20 tahun saat itu, ia sudah menjadi yatim piatu, jauh dari sanak saudara dan bahkan lupa tempat kelahirannya.
Pukul 4 sore, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Nora pulang ke rumah kontrakan kecilnya yang berada tidak jauh dari resto tempat ia bekerja.
Rumah kontrakan ini ia bayar setiap bulan rutin setelah menerima gaji di tanggal muda. Meski terlihat sempit karena hanya satu petak yang sudah termasuk kamar tidur, kamar mandi dan dapur yang berada dalam satu ruangan, Nora tidak keberatan. Ini cukup untuk dirinya sendiri.
Karena sang manager resto mulai hari ini memposisikan dirinya sebagai koki, maka bisa di bilang gaji Nora pun bulan depan akan bertambah, Nira bahkan sudah berencana untuk mencari kontrakan lain yang lebih luas.
Menatap layar ponselnya yang jadul dan retak di bagian pinggir, Nora juga mengeluarkan kartu nama Alex dari dalam tasnya.
Baru hari ini dia mendapatkan pekerjaan impiannya, namun tiba-tiba Alex datang meminta bantuan sekaligus menawarkan pekerjaan yang menggiurkan.
Setelah membersihkan diri dan memasak mie instan untuk dirinya, akhirnya Nora memasukkan nomor Alex ke dalam ponselnya.
Setiap bulan saat tanggal tua, hanya mie instan lah menu makannya setiap pagi, siang dan malam. Karena gaji yang ia dapatkan, bahkan separuhnya hanya untuk membayar kontrakan ini, jadi dia harus berhemat asalkan tetap hidup.
"Nanti kalau sudah besar, kamu harus jadi orang kaya. Biar anak dan cucumu nanti nggak melarat kayak kita, ya."
Pesan orang tua Nira yang selalu terngiang-ngiang di kepalanya. Memang benar dia merasa cukup dengan gaji di pekerjaannya saat ini, namun gaji itu tidak akan membuatnya bisa kaya.
"Bagaimana kalau menerima tawaran tuan Alex?" tanya Nora pada diri sendiri.
Gadis itu mulai membayangkan betapa nikmatnya hidup bersama orang kaya meskipun hanya sebagai pengasuh, apalagi gaji yang Alex tawarkan sangat menggiurkan.
Setelah menghabiskan mie instan dalam piringnya, Nora segera menelpon Alex. Tidak ada salahnya dia mencoba pekerjaan baru, semoga keberuntungan memihaknya kali ini.
Dua kali menekan panggilan ke nomor Alex, tersambung namun tidak ada jawaban dari sebrang sana. Nora mendadak gelisah. Apakah Alex sudah mendapatkan orang lain untuk menjadi pengasuh anaknya, begitu pikir Nora.
Merebahkan diri di kasur lantai dengan ketebalan hanya 5 centimeter, sudah cukup membuat punggungnya merasa nyaman setelah seharian berdiri dan wira-wiri di dapur restoran.
Terlalu lelah, akhirnya Nora memejamkan matanya sesaat sambil menggenggam ponsel di tangannya. Sampai sebuah ketukan pintu membuatnya terkejut.
"Siapa datang bertamu malam-malam," ucap Nora, ia melirik jam di ponselnya menunjukkan pukul 9 malam.
Dengan langkah kaki malas, Nora membuka pintu triplek yang hanya berjarak 3 langkah dari kasur tempat tidurnya. Betapa terkejutnya dia, saat mendapati Alex sudah berdiri di hadapannya.
Laki-laki berambut silver itu semakin terlihat tampan saat dalam penerangan minim, wajahnya tersiram temaran lampu yang menyala kekuningan.
"Tu, Tuan Alex," ucap Nora terbata-bata.
"Bagaimana, Nora?" tanya Alex tanpa basa-basi.
Nora kebingungan, sebenarnya ia ingin mempersilahkan Alex untuk duduk, namun dia tidak memiliki kursi, ingin juga mempersilahkan Alex masuk, tapi merasa malu karena kondisi tempatnya yang sempit.
"Kamu sudah memikirkan semuanya?" tanya Alex. "Kalau kamu setuju, kamu juga akan tinggal bersama kami. Jangan khawatir, kamu akan hidup berkecukupan," tegas Alex.
Karena sudah terlalu banyak berpikir hingga Nora merasa kepalanya sudah berasap, ia langsung mengangguk setuju.
"Kamu setuju?" tanya Alex memastikan.
"Ya, Tuan. Aku setuju."
"Bagus. Besok jam 8 pagi seseorang akan menjemputmu. Bersiaplah, kemasi semua barang-barangmu. Aku akan mengurus pengunduran dirimu dari tempat kerja lamamu."
"Terimakasih, Tuan."
"Nggak perlu, Nora. Seharusnya aku yang berterimakasih padamu."
Nora hanya tersenyum, menatap kepergian Alex dari depan pintu. Laki-laki itu ternyata berjalan kaki untuk sampai ke kontrakan Nora, karena letak tempat ini berada di gang kecil, jadi mobil tidak akan bisa masuk.
Tersenyum lega, akhirnya Nora kembali merebahkan dirinya di kasur lusuh kesayangannya. Pikirannya kini tertuju pada Sunny, gadis kecil yang ia temui di area depan kebun binatang beberapa hari lalu, jika benar anak itu adalah anak Alex, kenapa wajah mereka tidak ada mirip-miripnya?
Berbagai pertanyaan berlarian di kepalanya, tentang Sunny, tentang kemana ibu Sunny, dan tentang Alex.
Setidaknya, kini ia bisa bernafas lega dengan jaminan gaji yang cukup banyak. Dengan begitu, Nora akan bisa menabung, membeli beberapa barang impiannya yang belum terwujud, ia juga membayangkan bisa menikmati liburan seperti orang-orang pada umumnya, karena selama ini hidupnya hanya untuk bekerja.
Saat ini, dirinya fokus untuk menjadi pengasuh Sunny, merawat anak itu sebaik mungkin agar tidak mengecewakan Alex. Dengan begitu, ia akan bisa bekerja lebih lama, lalu setelah ia tidak di butuhkan lagi dan tabungannya sudah cukup, Nora mulai membangun cita-cita memiliki rumah makan kecil seperti keinginan orang tuanya.
Hanya ada satu hal yang mengganjal di pikiran Nora, apakah Sunny juga mau menerimanya?
🖤🖤🖤
Pagi ini, Nora bangun dengan santai. Dirinya langsung mengemasi beberapa pakaiannya dan barang-barang pribadi miliknya, termasuk foto keluarga kenangan terakhir dari orang tuanya.
Tepat pukul 8, Nora sudah berpakaian rapi dengan tas kain berwarna coklat di tangan. Barang-barang miliknya tidak banyak, ia juga hanya memiliki beberapa baju layak pakai, sehingga tidak perlu repot-repot membawa banyak barang bawaan.
Seorang laki-laki berkemeja hitam datang menghampirinya.
"Hallo, Nona. Saya Van, saya di utus oleh tuan Alex untuk menjemput nona," ucap Van pada Nora.
"Oh, iya. Baik." Nora bergegas menutup pintu, ia sudah berpamitan melalui pesan pada pemilik kontrakan dan menitipkan kunci pada tetangganya.
"Apa ada barang-barang lain yang perlu saya bawakan?" tawar Van.
"Nggak perlu. Cuma ini," jawab Nora.
"Cuma ini?" Van bertanya sambil menunjuk tas yang Nora jinjing.
"Iya." Nora menjawab singkat, lalu Van pun meminta Nora ikut dengannya.
Perjalanan menuju rumah keluarga Rendra tidak terlalu jauh, hanya 20 menit mereka sudah memasuki komplek perumahan.
Rumah-rumah mewah dengan gaya Eropa berjejer di kanan kiri jalan, bibir Nora membuka, melongo, menatap kagum pada keadaan di sekitarnya. Ia tidak menyangka, bisa mengenal Alex yang berasal dari kalangan orang kaya.
"Sudah sampai, Nona." Van meminta Nora turun, lalu ia menyuruh Nora menunggu di dekat mobil, sedangkan Van menemui tuan rumah terlebih dahulu.
Nora, berdiri tegang melihat sekelilingnya. Rumah yang kini ada di depannya ini terlihat lebih besar dan lain dari yang lain. Sebuah taman dengan berbagai tanaman bunga terhampar luas menyejukkan mata, ada ayunan dan permainan jungkat-jungkit di sisi taman, mengartikan jika rumah ini memiliki penghuni anak-anak.
🖤🖤🖤
Ini adalah Nora dalam bayangan Author, ini visual versi author.
Kalau kalian kurang suka, bisa membayangkan sendiri Nora itu seperti apa.