Sepeninggal Ibunya , Anne dibesarkan oleh Ayahnya , Antonio . Anne tumbuh menjadi gadis yang cantik dan tangguh . Namun , berbagai macam peristiwa tak menyenangkan ia alami sejak ayahnya menikah lagi .
Kebahagiaan dan kesedihan silih berganti , hingga akhirnya ia menerima cinta sang kakak yang telah lama menaruh perasaan padanya . Namun , kebahagiaannya harus luntur seketika saat masalah demi masalah datang menerpa hidupnya hingga ia berada di titik terberatnya .
Bagaimana kelanjutan kisah Anne ? Mari membaca !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syarifah Nur Hasanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Wanita itu masih tertidur dalam dekapan sang suami usai pergulatan batin yang berlangsung hingga dini hari. Usia pernikahannya yang baru seumur kecambah kini di guncang dengan begitu hebatnya oleh takdir. Perlahan netranya mulai terbuka menyaksikan dinding kamar yang berhadapan dengannya. Sementara lengan kekar itu masih melingkar di pinggulnya.
Pagi yang begitu sesak dan bahkan menyisihkan luka batin yang masih segar. Air matanya kini menerobos keluar dari matanya yang telah membengkak, sementara jemarinya menggenggam erat tangan pria yang tidur bersamanya itu . Mengapa semua jadi seperti ini, apa Tuhan tidak sayang lagi, ia terus membatin berprasangka buruk pada Tuhannya dan takdir.
" Apa salahku sampai kau menghukum ku dengan cara seperti ini Tuhan " Gumam wanita itu lirih sembari beringsut meninggalkan tempat tidurnya.
Di raihnya setelah jas berwarna hitam dan dasi yang berwarna senada dengan jas itu untuk dikenakan sang suami nantinya. Tidak lupa juga ia menyiapkan air hangat di bak mandi untuk pria kesayangannya itu. Meskipun rasa sakit yang diberikan prianya itu begitu besar, namun kewajibannya sebagai seorang istri tidak boleh terlewatkan.
" Ann " Panggil Allen seraya memeluk istrinya itu dari belakang dan menenggerkan dagunya di pundak wanita itu.
" Berhentilah menangis, aku mencintaimu honey " Ucap Allen dengan lembut ditelinga sang istri.
Tidak ada jawaban selain air matanya yang terus mengalir dalam diamnya. Ia nyaman dalam posisi seperti ini namun hatinya sedang dilanda kekecewaan yang begitu parah. Ia berbalik dan menghambur dalam pelukan Allen, hatinya lebih tenang seperti ini. Mencium aroma vanila yang ada di tubuh kekar itu seakan bisa menjadi penenangnya.
" Mandilah , aku sudah menyiapkan semuanya " Ucap Anne dengan suara seraknya.
" Tidak, aku tidak ingin . Aku ingin bersamamu hari ini, bagaimana bisa aku meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini " Tolak Allen sambil terus memeluk erat tubuh istrinya itu. " Harus dengan apa aku minta maaf agar kau tak membenciku ?" Lanjut Allen.
Mendengar pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Allen, Anne segera melepaskan pelukannya dan menatap tajam kearah Allen.
" Jangan bodoh, tidak mungkin aku membenci suamiku sendiri " Jawab Anne kesal.
Allen tersenyum hangat ke arah istrinya itu kemudian ******* dengan lembut bibir Anne hingga beberapa menit lamanya. " Apa kau tidak ingin menemaniku mandi sayang? " Tanya Allen usai menyudahi ciumannya.
" Tidak " Jawab Anne ketus. " Baiklah jika kau memaksaku untuk melakukan ini " Ujar Allen seraya menggendong bridal tubuh istrinya itu menuju kedalam bathup berukuran lebar itu.
" Hey apa yang kau lakukan ? " Jerit Anne kesal dengan apa yang dilakukan Allen padanya. Namun tak ada jawaban apapun dari Allen selain ia meneruskan permainannya pada sang istri.
Anne tidak dapat menolak apa yang perbuat Allen pagi ini, wajar saja bila semua pria mencukupi kebutuhannya sebagai laki-laki. Permainan yang kedua kalinya, tidak ada lagi rasa sakit dan berganti dengan kenikmatan yang berujung kepuasan masing-masing.
" Apa kau sudah memaafkanku? " Tanya Allen setelah ia mencapai pelepasannya bersama sang istri.
" Jangan bertanya seperti itu di posisi seperti ini " Jawab Anne sembari memajang ekspresi kesal .
" Terima kasih telah menjadi istriku Ann " Ucap Allen seraya mengecup kening Anne dengan lembut. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Anne, ia sangat senang mendengar ucapan itu namun hatinya masih sakit ketika mengingat kesalahan yang telah Allen perbuat.
" Mengapa kau suka sekali membuat masalah yang besar? " Tanya Anne tiba-tiba.
" Itu bukan kemauanku, andai saja masalah bisa aku kendalikan sesuka hati, maka aku akan membuangnya jauh-jauh dari kehidupan kita. Tujuanku ingin membuatmu bahagia di sisiku, namun semuanya terjadi begitu saja " Jelas Allen dengan tatapan berkaca-kaca.
" Sini biar aku membantu mengeringkan rambutmu " Allen segera menyambar hair dryer yang berada di tangan Anne.
" Aku bisa sendiri " Bantah Anne berusaha merebut kembali benda itu dari tangan Allen.
" Aku tidak suka penolakan honey " Balas Allen sembari terus mengeringkan rambut panjang milik sang istri.
Allen memang sangat ahli dalam mengeringkan rambut panjang seperti milik Anne karena kebiasaannya mengurus Theresa. Semua bisa di lakukannya, mulai dari memasak, mengurusi rumah, dan bahkan memilih kebutuhan yang cocok untuk wanita.
" Lalu apa yang harus aku katakan pada Claudia disana? " Tanya Allen tiba-tiba.
" Katakan apa yang perlu di katakan " Jawab Anne dengan ekspresi datarnya.
" Aku tidak ingin melukai perasaanmu, kau adalah istriku "
" Ya ya, semua tau aku adalah istrimu . Lantas apa lagi ? Aku yang meminta mu untuk mengatakan apa yang perlu di katakan " Tandas Anne agar Allen langsung mengerti apa maksudnya.
Setelah semua siap, meteka benar-benar pergi meninggalkan rumah dan menuju ke kediaman Claudia. Anne memilih diam selama di perjalanan meskipun sesekali Allen memancingnya untuk berbicara.
" Kita sudah sampai " Ucap Allen sembari memberhentikan mobilnya di depan rumah Claudia.
Allen turun dari mobil seraya membukakan pintu mobil untuk Anne dan menuntun istrinya itu masuk ke dalam.
" Apa benar ini rumah Claudia ? " Tanya Allen pada pria yang berusia kira-kira lebih muda darinya itu.
" Tunggu sebentar, sepertinya kau... " Ucap Anne masih tidak percaya dengan siapa yang berada di hadapannya ini.
" Preety " Panggil pria itu dengan senyum sumringah nya serta melupakan pertanyaan Allen barusan.
" Alden , kau sudah lama menghilang " Ujar Anne memperlihatkan senyum bahagianya ketika bertemu Alden.
" Maafkan aku tidak sempat memberitahu mu waktu itu " Jawab Alden dengan nada menyesal.
" Ehem, apa Claudia ada? Aku bersama ISTRI ku mencarinya " Ujar Allen dengan menekan biaranya pada kata ISTRI.
" Oh iyaa ada biar aku panggilkan, masuklah " Alden mempersilahkan keduanya untuk masuk ke dalam rumahnya.
Tak berselang lama Claudia keluar menemui kedua tamunya dengan raut wajah yang terlihat sedang tidak baik-baik saja. " Alden, bisa kau tinggalkan aku bersama mereka! " Titah Claudia yang tidak ingin Alden menguping pembicaraan mereka.
" Ada apa kau kemari bersama Anne ?" Tanya Claudia penasaran.
" Apa benar anak yang ada dalam kandunganmu itu... " Ucapan Anne dipotong seketika oleh Claudia dengan nada ketus.
" Iya semua itu benar "
" Sekarang orang yang kau inginkan telah ada di depanmu " Balas Anne seraya menatap Allen yang dari tadi hanya menundukkan kepalanya.
" Aku tidak membutuhkan priamu lagi, aku telah di tipu habis-habisan oleh para mafia itu. Aku hanya di jadikan budak untuk menjalankan rencana mereka , jadi untuk apa aku mendekati Allen, aku mendekatinya hanya karena permintaan mereka " Jelas Claudia berterus terang tentang apa yang sebenarnya telah terjadi dengannya.
" Lalu, anak itu " Allen mulai membuka suara.
" Aku akan menjaganya sampai ia lahir setelah itu akan aku berikan pada kalian. Dan jangan pernah bawa anak ini lagi ke hadapanku . Aku akan pindah ke luar negeri dan menata kembali kehidupanku yang telah hancur ini " Jawab Claudia sembari berusaha agar tetap tenang.
" Hey, tapi itu anakmu nona, dia harus mendapatkan kasih sayang dari ibu kandungnya sendiri " Tandas Anne.
" Bersyukurlah karena aku masih ingin melahirkannya dengan selamat. Jika saja aku mengikuti kata hatiku, aku sudah membuang anak ini "
" Baiklah, aku akan membiayai anak itu selama ada dalam kandunganmu dan sampai kau melahirkannya. Dan aku mohon, jangan ganggu rumah tangga ku lagi, aku sangat mencintai istriku. Ok "
" Terserah, aku bahkan tidak peduli apapun " Ucap Claudia seraya meninggalkan Anne dan Allen tanpa permisi.
" Begitukah caranya menghargai tamunya? " Bisik Allen pada istrinya itu.
Tak berselang lama, Alden kembali menemui Anne dan Allen yang masih berada di ruang tamunya.
" Ehmm, maafkan kakakku " Ucap Allen dengan rasa bersalah atas Claudia.
" Sudah , tidak masalah Alden " Balas Anne seraya melontarkan senyumnya pada Alden yang merupakan sahabatnya sewaktu ia kecil .
apa yg akan dilakukan ane ya,apa dia akn kuat atw minta pisah..???