Hidup Luna hancur setelah di jebak dan di hamili oleh kekasihnya - Gandhi. Terlebih saat Mira, Ibu dari Gandhi menolak untuk bertanggung jawab atas kehamilan Luna. Suatu ketika Mira mengetahui Luna adalah anak tunggal dari Adiyatama Erlangga - Pemilik Perusahaan Erlangga Jaya. Ia menyesal telah menolak Luna dan berusaha mendekati Luna supaya Gandhi menjadi penerus Erlangga Jaya jika menikahi Luna.
Luna hancur saat ia diperalat sebagai boneka pemuas nafsu oleh Gandhi. Kemudian Luna mengetahui niat jahat Mira, ia segera melakukan sesuatu agar perusahaan Ayah tidak jatuh ke tangan orang-orang serakah seperti Mira dan Gandhi. Luna mengorbankan Aditya - Sahabat kecil Luna yang sejak dulu menyukainya. Luna melakukan hubungan intim dengan Aditya. Luna menikah dengan Aditya namun Gandhi mengakui bayi yang dikandung Luna adalah anaknya.
Siapakah ayah yang sebenarnya dari bayi yang dikandung Luna?
Apa rencana Gandhi dan Mira untuk mendapatkan Luna?
Bagaimana dengan pernikahan Luna dan Aditya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sity Qhomariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Luna duduk sambil menekuri jari jemari yang ia letakkan di atas pangkuannya. Om Farid dan Tante Silvi duduk di hadapannya. Tatapannya seolah hendak menyidang Luna. Luna menunduk tak berani menatap wajah kedua orang tersebut.
“Siapa ayah dari bayi itu?” tanya Tante membuka sesi tanya jawab kepada Luna. Luna terdiam.
“Luna, jawab semua pertanyaan Om dan Tante secara jujur.” Ucap Om Farid.
“Luna, angkat kepalamu. Tatap wajah tante.” Luna tetap terdiam sambil terus menunduk. Tante meraih dagu Luna dan mengangkatnya. Mata Luna basah. Ia menangis tanpa suara.
“Laki-laki yang dari Bandung itu yang menghamilimu?” tanya Tante Silvi. Luna menggeleng.
“Gandhi?” tebak Om Farid. Luna terdiam. Tubuhnya gemetar.
“Benar itu Gandhi?” tanya Tante sekali lagi. Luna tetap terdiam.
“Kenapa kamu melakukannya, Luna?” tanya Om Farid.
“Luna tidak melakukannya, Om.” Jawab Luna dengan bibir gemetar.
“Terus kenapa kamu hamil?” tanya Tante Silvi.
“Luna....” Luna menghentikan ucapannya. Ia menangis.
“Katakan saja,” perintah Tante Silvi tak sabar.
“Dia memperkosa Luna.” bisiknya pelan. Ia tak sanggup lagi menahan tangisnya. Luna menangis sesegukan di hadapan Om dan Tantenya. Tante Silvi dan Om Farid terkejut. Mereka menjadi iba. Tante beringsut dari tempat duduknya, ia memeluk Luna.
“Luna tenang, Luna gak salah,” tante membelai kepala Luna berusaha menenangkan. Om Farid frustasi.
“Kita gak salah telah percaya dengan Luna. Kita hanya kecolongan.” Kata Tante kepada Om Farid.
“Tetap saja itu kesalahan kita, Silvi. Kak Erlangga gak akan memaafkan kita. Buktinya dia meninggalkan Luna begitu saja.” Jawab Om Farid. Luna terus menangis dipelukan Tante Silvi. Hidupnya telah hancur berkeping-keping. Dan Gandhi adalah satu-satunya laki-laki brengsek yang ada dalam ingatan Luna.
Berkali-kali Luna menghubungi Ayah namun tidak ada tanggapan sama sekali. Semenjak dari rumah sakit, Ayah tidak pernah menghubunginya. Ayah dan Ibu langsung pulang ke Bandung meninggalkan Luna di rumah sakit. Hati Luna hancur. Hanya Om Farid dan Tante Silvi lah tempat Luna bergantung saat ini. Karena hanya mereka yang mau memahami Luna.
“Malam ini kita ke rumah Gandhi. Kita harus meminta pertanggungjawaban.” Kata Om Farid kepada Luna. Luna menurut. Mereka bertiga bergegas menuju rumah Gandhi.
Mereka duduk memutari meja. Suasana sangat canggung. Luna hanya menunduk tak berani menatap Tante Mira.
“Jadi apa maksud kedatangan keluarga Luna kerumah kami?” tanya Tante Mira.
“Gandhi harus bertanggungjawab.” Kata Om Farid tegas.
“Maksudnya?” Tante Mira heran.
“Gandhi telah memperkosa Luna.”
“Apa?!!” Tante Mira terkejut. Ia menatap Luna dengan sorot mata tajam.
“Tidak! Masa depan Gandhi tidak boleh hancur. Gandhi harus tetap fokus kuliah dan harus melanjutkan usaha kami!” tolak tante Mira. Luna menangis tanpa suara.
“Gandhi telah menghancurkan masa depan Luna!” Om Farid tak mau kalah.
“Heh! Jangan kira karena Gandhi berpacaran dengan Luna, setelah Luna hamil kalian menuntut Gandhi yang bertanggungjawab?! Bisa saja Luna memang murahan dan melakukan itu dengan laki-laki lain. Kalian seenaknya menuding Gandhi seperti itu!” bentak Tante Mira. Luna terkejut mendengar perkataan Tante Mira.
“Tante Mira?!” teriak Luna. Tante Mira menoleh Luna tajam.
“Atau kau memang sengaja menggoda dan menjebak anakku!” tuduh Tante Mira sambil menunjuk ke arah Luna.
“Tante!” Luna tak sanggup lagi berbicara. Ia bangkit dari tempat duduk dan bergegas keluar. Ia bertabrakan dengan Gandhi yang baru saja pulang di depan pintu rumah.
“Luna?” ia menarik tangan Luna. Luna menepis dan lari meninggalkan Gandhi.
“Gandhi! Jangan kejar perempuan itu!” teriak tante Mira.
“Ma? Ada apa ini? Tante? Om? Ada apa ini?” tanya Gandhi bingung.
“Tanyakan sendiri dengan ibu yang tidak bertanggung jawab ini.” Jawab Om Farid kemudian menarik Tante Silvi dan keluar dari rumah itu.
“Ma? Jelaskan sama aku. Ada apa ini?” tanya Gandhi. Mira berjalan mendekati anaknya dan mengayunkan tangan.
‘PLAK!’ tamparan keras mendarat di wajah Gandhi.
“Berani-beraninya kau menghancurkan masa depan Mama!” teriak Mira.
“Ma? Apa maksudnya?”
“Luna hamil!”
“Apa??? Hamil?”
“Ma, aku....”
“Jangan pernah punya niat untuk bertanggung jawab!” bentak Mira.
“Ma?! Ini salah Gandhi! Gandhi yang memperkosanya.”
“Jadi benar, kamu telah memperkosa Luna?!”
“Iya, Ma. Gandhi akan bertanggung jawab.”
“Tidak!! Kamu tidak boleh menikah sebelum kamu lulus kuliah dan melanjutkan usaha almarhum Papamu!” teriak Mira. Ia pergi meninggalkan Gandhi dengan air mata yang meleleh di pipi.
“Pa, bagaimana lagi?” tanya Tante Silvi. Om Farid menghela nafas. Ia melirik Luna yang sejak tadi terdiam dengan wajah yang basah oleh air mata.
“Kita harus segera mencari pengganti ayah dari bayi itu atau kita akan mengurusnya tanpa ayah.” Jawab Om Farid dengan suara bergetar. Luna meneteskan air mata. Tante Silvi ikut menangis. Rasanya hampa. Kehidupan Luna yang normal dan dikelilingi dua pasang orang tua yang menyayanginya mendadak hancur tak bersisa. Kebahagiaannya mendadak sirna.
Setelah mobil mereka berhenti didepan rumah, Luna segera turun dan berlari masuk ke dalam rumah. Beberapa menit kemudian ia keluar sambil membawa koper. Dan berteriak memanggil Pak Udin.
“Pak Udin antarkan Luna ke Bandung!” teriaknya.
“Luna?! Jangan seperti ini!” cegah Tante Silvi.
“Luna akan menghadapi ini sendiri, Tante! Luna harus bilang ke Ayah kalo ini bukan salah Luna ataupun Om dan Tante!” Luna bergegas memasuki mobil dan memerintahkan Pak Udin menjalankan mobil. Tante Silvi dan Om Farid gagal menghentikan Luna. Mobil Pak Udin sudah melesat jauh. Tante Silvi hanya bisa berdoa untuk Luna.
Beberapa jam kemudian, mobil yang di kendarai Luna sudah sampai di depan rumah. Waktu menunjukkan pukul 04.00 dini hari. Karena kendala macet dan berbagai kendala lain di perjalanan. Luna turun dari mobil dengan tubuh yang lemas dan lelah. Karena sudah beberapa hari ia kurang makan dan terus menangis. Luna mengetuk pintu rumah.
‘Tok tok tok!’
“Assalamualaikum, Ibu, Ayah!” teriak Luna memanggil Ayah dan Ibu. Sepuluh menit kemudian, pintu terbuka. Wajah masam Ayahnya menyembul keluar dari balik pintu.
“Mau ngapain kamu ke sini! Ini bukan rumahmu lagi!” bentak Ayah. Luna menjatuhkan dirinya di depan kaki Ayah. Memohon ampun dan berlutut kepada Ayah. Air mata menetes di pipinya.
“Ampun Ayah! Luna minta maaf! Ayah maafkan Luna!” Luna menangis meraung. Namun Ayah tidak memperdulikan Luna. Pak Udin yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menatap iba. Ibu mendengar teriakan Luna segera keluar rumah. Ia membungkuk hendak meraih Luna namun Ayah menariknya.
“Jangan sentuh anak itu!”
“Dia anakku!” teriak Ibu. Air matanya meleleh di pipi.
“Dia telah mencoreng nama baik keluarga Erlangga. Dia bukan anak kita!” bentak Ayah.
“Ayaahh ampuuunn!! Ibuu maafkan Luna!!!” Luna berteriak menangis sejadi-jadinya sambil menggoyang-goyangkan kaki Ayah. Ibu meronta-ronta dalam cengkeraman Ayah. Ibu hendak memeluk Luna namun Ayah mencegahnya. Hati Ibu memang lembut, meskipun anaknya berbuat salah, ia tetap tidak tega melihat anaknya terluka.
Keluarga Mirna terbangun dari tidur karena mendengar suara ribut-ribut di depan rumah. Mereka segera melihat apa yang terjadi. Mirna, Fandra dan Adit sama terkejutnya ketika melihat Luna yang bersimpuh didepan Ayahnya sambil meraung dan Ibu Sofi yang menangis lemas dalam pelukan Ayah Erlangga. Mereka tertegun sejenak, berdiri membeku.
egois pula
baguslah adit gag ngemis²
langsung di ceraiin
udah gag suci
gag tau malu pula
8 like favorite😍 untuk mu😍
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk