NovelToon NovelToon
Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: M Goeston

Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak di Bawah Tanah

Bau lumpur basah dan aroma lembap langsung menyengat hidung begitu Andra dan Kirana menyusuri lorong beton bawah tanah yang gelap gulita.

​Satu-satunya sumber cahaya yang mereka miliki berasal dari pendar layar ponsel Andra yang diatur pada tingkat kecerahan paling rendah.

​Cahaya temaram itu hanya cukup untuk memperlihatkan genangan air setumit kaki yang menggenangi lantai saluran air tua tersebut.

​Dinding beton di sisi kiri dan kanan tampak ditumbuhi lumut tebal, menjadi saksi bisu betapa tempat itu sudah lama diabaikan oleh pemerintah kota.

​Andra berjalan di depan sambil memegang erat tangan Kirana, memastikan langkah istrinya tidak goyah di atas permukaan licin.

​Setiap gerakan mereka dijaga dalam keheningan total, tidak ada yang berani bersuara keras selain deru napas yang memburu.

​Di atas permukaan tanah, samar-samar masih terdengar suara gaduh dari sepatu lars pasukan taktis dan teriakan marah Rian.

​Namun suara-suara bising itu perlahan-lahan mulai mengecil seiring langkah kaki Andra dan Kirana yang semakin jauh masuk ke dalam perut bumi.

​Saluran air bawah tanah ini bercabang menjadi labirin rumit yang membentang di bawah seluruh kawasan permukiman kumuh tersebut.

​Hanya orang yang memiliki peta mental atau strategi militer matang yang tidak akan tersesat di tempat labirin buatan manusia ini.

​Andra sangat bersyukur dirinya pernah mempelajari tata letak infrastruktur kota lama ini jauh-jauh hari sebelum ia memutuskan menetap.

​Ia tahu betul bahwa musuh-musuhnya tidak akan menduga ia memilih jalur pembuangan kotor sebagai rute pelarian paling nekat.

​"Mas... kakiku sakit, rasanya sulit sekali melangkah di lumpur ini," bisik Kirana lirih dengan suara bergetar menahan lelah.

​Andra langsung menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan untuk menatap wajah istrinya di tengah temaram cahaya ponsel.

​Ia bisa melihat butiran keringat bercampur air mata mengalir di pipi Kirana yang pucat pasi karena syok berkepanjangan.

​Tanpa banyak bicara, Andra melepas jaket usang yang dipakainya lalu merobek sedikit kain bagian bawah untuk membersihkan lumpur di kaki istrinya.

​"Bertahan sebentar lagi, Kir," ucap Andra dengan nada suara yang sangat lembut dan menenangkan.

​"Ujung lorong ini terhubung langsung dengan dermaga tua di tepi pelabuhan lama. Perahu kecil kita ada di sana."

​Mendengar janji bahwa pelarian mereka hampir mencapai titik akhir, Kirana mengangguk pelan sembari menghapus air matanya.

​Wanita itu kembali menguatkan hatinya, menyadari bahwa suaminya sedang mempertaruhkan nyawa demi keselamatan mereka berdua.

​Mereka kembali melanjutkan perjalanan panjang menembus lorong yang seolah tidak berujung itu selama hampir satu jam penuh.

​Setiap detik terasa begitu berharga, sementara bayang-bayang pengkhianatan Rian terus menghantui pikiran Andra.

​Ia tahu kekalahan telak di warung tadi tidak akan membuat Rian menyerah begitu saja untuk memburu mereka sampai ke lubang semut.

​Rian adalah tipe manusia serakah yang tidak akan pernah berhenti sebelum seluruh rahasia korporasi jatuh ke tangannya.

​Setelah sekian lama berjalan dalam kegelapan, bau udara segar bercampur angin laut mulai tercium di ujung lorong depan.

​Cahaya bulan purnama tampak berpendar samar-samar menembus jeruji besi berkarat yang menjadi penutup saluran air di titik akhir.

​Andra memberi isyarat agar Kirana berhenti sejenak, sementara ia maju untuk memeriksa situasi di luar jeruji besi tersebut.

​Ia mendorong perlahan penutup besi tua itu ke atas.

​Kriet...

​Suara decitan logam berkarat terdengar sangat nyaring di tengah sunyinya malam kawasan dermaga terbengkalai.

​Andra mengedarkan pandangannya ke sekeliling pelabuhan tua yang sepi dari aktivitas manusia.

​Hanya ada beberapa bangkai kapal nelayan usang yang bersandar di tepi dermaga kayu yang sudah reyot.

​Situasi di luar tampak aman dan sama sekali tidak terlihat tanda-tanda kehadiran pasukan pengejar dari pihak Rian.

​"Ayo, Kir, kita sudah sampai di luar," bisik Andra sambil membantu istrinya memanjat keluar dari lubang saluran air.

​Kirana merangkak keluar dengan napas tersengal-sengal, lalu merebahkan tubuhnya sejenak di atas papan kayu dermaga yang dingin.

​Udara malam pantai langsung menyergap tubuh mereka yang basah kuyup dan berbau tidak sedap akibat lumpur saluran air.

​Namun kebebasan semu ini jauh lebih baik daripada harus tertangkap oleh peluru pasukan bayaran Rian.

​Andra tidak membuang waktu lama untuk bersantai menikmati angin malam yang berembus kencang.

​Ia segera menarik tangan Kirana menuju sebuah sampan kayu bermesin tempel kecil yang terikat di balik tiang dermaga.

​Di dalam sampan itu, ia telah menyiapkan persediaan bahan bakar cadangan, jaket kering, serta sedikit makanan instan.

​"Masuklah ke dalam sampan, kita akan langsung menyeberang ke pulau seberang," perintah Andra sigap.

​Kirana segera naik ke atas sampan kecil tersebut dan duduk di bangku kayu tengah sambil memeluk lututnya yang dingin.

​Andra melompat turun ke dalam air dangkal untuk melepaskan tali ikatan sampan dari dermaga kayu yang rapuh.

​Ia kemudian mendorong sampan itu menjauh dari bibir pantai sebelum akhirnya melompat naik ke kursi kemudi mesin.

​Dengan sekali tarikan kuat pada tuas starter, mesin tempel sampan itu langsung menderu memecah kesunyian malam di atas air.

​Brrrrmmm...

​Sampan kecil itu melesat cepat membelah ombak kecil menuju tengah lautan gelap, meninggalkan daratan yang menyimpan sejauh malapetaka.

​Di kejauhan dari atas tebing pelabuhan, sepasang mata tajam dari anak buah Rian tiba-tiba muncul mengawasi pergerakan mereka.

​Orang suruhan itu langsung merogoh saku jaketnya dan mengangkat walkie-talkie untuk melaporkan posisi pelarian Andra.

​"Laporan diterima... target melarikan diri menggunakan perahu ke arah perairan selatan..." bisik mata-mata itu pelan.

​Di ujung sambungan sana, tawa dingin Rian terdengar menggema lewat gelombang radio komunikasi.

​"Biar saja mereka lari sejauh yang mereka bisa... toh laut lepas adalah makam terbaik untuk seorang buronan.

"Sampan kayu bermesin tempel itu terus melaju membelah gulungan ombak malam yang semakin lama semakin terasa ganas.

​Cipratan air laut yang dingin berhamburan menghantam wajah Andra dan Kirana seiring laju perahu yang kian kencang di tengah kegelapan lautan lepas.

​Kirana memeluk tubuhnya sendiri dengan erat, mencoba meredam rasa kedinginan yang sudah menusuk hingga ke tulang sumsum.

​Pakaian yang mereka kenakan masih basah kuyup dan berbau lumpur sisa perjalanan panjang di dalam saluran air bawah tanah tadi.

​Melihat istrinya menggigil ketakutan di sudut sampan, Andra segera mengurangi kecepatan mesin tempelnya agar laju perahu lebih stabil.

​Ia merogoh bagian bawah kursi kemudi, lalu menarik keluar sebuah selimut tebal kering yang sudah ia simpan di dalam wadah kedap air.

​"Pakailah ini, Kir, biar badanmu hangat," ucap Andra sambil menyelimuti pundak istrinya dengan penuh kelembutan.

​Kirana menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, lalu menerima selimut itu dan melingkarkan erat-erat ke tubuhnya.

​"Terima kasih, Mas... tapi apa kita benar-benar aman sekarang?" tanya Kirana dengan suara parau menahan rasa cemas yang masih menggelayut di dadanya.

​Andra menatap lurus ke depan, menerawang jauh ke arah garis horizon gelap yang membatasi laut dan langit malam.

​Ia tahu betul bahwa musuh seperti Rian tidak akan pernah mudah melupakan dendam kesumat atau melepaskan buruannya begitu saja.

​Meskipun mereka saat ini berada di tengah laut lepas, insting militernya memperingatkan bahwa bahaya masih mengintai dari arah yang tidak terduga.

​"Kita belum sepenuhnya aman, Kir... tapi setidaknya kita sudah keluar dari sarang singa," jawab Andra dengan nada suara yang tegas dan menenangkan.

​Tiba-tiba, suara deru mesin lain yang berukuran jauh lebih besar mendobrak keheningan malam dari arah belakang sampan mereka.

​Broommm... broommm...!

​Suara raungan mesin kapal speedboat berkecepatan tinggi itu mendadak memecah keheningan samudra, semakin lama terdengar semakin mendekat dengan cepat.

​Andra langsung menoleh ke belakang, menyipitkan matanya untuk menembus kegelapan malam di atas permukaan air.

​Dari kejauhan, sorot lampu pencari yang sangat terang mendadak menyala dan menyapu permukaan laut, mencari-cari keberadaan sampan kecil mereka.

​Jantung Kirana kembali berdegup kencang hingga terasa mau copot dari tempatnya saat melihat cahaya lampu itu mulai mendekat.

​"Mas! Mereka mengejar kita!" jerit Kirana panik sambil mencengkeram lengan baju Andra.

​Andra mengatupkan rahangnya rapat-rapat, tatapannya berubah menjadi sangat tajam dan penuh perhitungan taktis.

​Ia tidak menyangka anak buah Rian bergerak secepat itu membaca jalur pelarian laut mereka lewat informasi intelijen bayaran.

​Speedboat modern bermesin ganda itu melaju bagai setan laut, memotong ombak dan mendekati sampan kecil mereka dalam hitungan detik.

​"Pegang yang kuat, Kir! Jangan lepaskan peganganmu apapun yang terjadi!" perintah Andra dengan suara menggelegar di tengah deru angin.

​Tanpa buang waktu, Andra langsung memutar tuas gas mesin tempel sampan hingga batas maksimalnya.

​Sampan kayu itu bergetar hebat, lalu melesat kencang melompat-lompat di atas gulungan ombak besar berusaha menghindari kejaran musuh.

​Kejar-kejaran maut di tengah lautan gelap gulita itu pun resmi dimulai, menguji batas kesabaran dan ketahanan hidup mereka di ujung tanduk maut.

1
Mga
💪
ciber ara
semangat!!!!!!
ciber ara
next 👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!