Bima mengira ia bisa mengubur masa lalunya yang kelam di Desa . Mantan komandan regu pasukan khusus ini memilih hidup bersahaja sebagai petani jagung dan pemancing di tepi sungai demi melarikan diri dari trauma perang. Namun, kedamaian yang ia bangun susah payah runtuh setiap kali ia teringat pada Joni, sahabat sekaligus anak buahnya yang gugur dalam pelukan Bima akibat terjangan peluru senapan mesin musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dibalik pintu kamar mandi
Bima melangkah santai meninggalkan ruang tamu yang kini sudah dipenuhi atmosfer kelegaan, berjalan pelan menuju kamar mandi di lantai bawah untuk mendinginkan dirinya. Di balik wajah tenangnya yang tanpa ekspresi saat menyerahkan koper berisi tumpukan uang tadi, batin Bima sebenarnya sempat bergejolak hebat. Perjalanan singkat ke markas debitur kelas kakap beberapa jam lalu terpaksa membuat dirinya membangkitkan kembali aura insting membunuh yang sudah bertahun-tahun ini dia kubur dalam-dalam di bawah tanah—sebuah sisi gelap nan mengerikan dari masa lalunya yang kelam sebagai seorang tentara elit pasukan khusus. Begitu air shower yang dingin mengguyur kepala hingga membasahi seluruh tubuh atletisnya, Bima memejamkan mata erat-erat, membiarkan sensasi dingin itu seketika menenangkan emosi dan gelombang kepalanya yang sempat memanas akibat konfrontasi tadi.
Sementara itu di ruang tamu lantai bawah, setelah memastikan dengan mata kepala sendiri bahwa Bima pulang dalam keadaan aman tanpa ada luka lecet sedikit pun, Nyonya Besar akhirnya bisa bernapas dengan sangat lega. Beliau perlahan bangkit berdiri dari sofa untuk pamit pulang kembali ke mansion utama keluarga Utara. Sebelum melangkah keluar melewati pintu, sang nenek menghentikan langkahnya sejenak tepat di depan cucunya.
Beliau menepuk bahu gadis itu dengan lembut sambil memberikan sebuah pesan yang sarat akan makna mendalam. "Jaga suamimu baik-baik, Viona. Dia adalah pria yang sangat langka," bisik sang nenek dengan nada suara yang sangat serius.
Viona yang saat itu masih dirundung rasa syok, heran, dan bingung dengan semua rangkaian kejadian gila malam ini hanya bisa mengangguk lemah menerima perintah mutlak tersebut. Setelah mengantar neneknya sampai ke depan teras pintu, Viona langsung membalikkan badan dan berjalan naik menyusuri anak tangga ke lantai atas menuju kamarnya.
Begitu sepasang kakinya melangkah masuk ke dalam area kamar tidur, pendengarannya langsung menangkap suara gemercik air yang mengalir deras dari dalam kamar mandi. Namun, setelah berdiri diam mendengarkan selama beberapa saat, Viona mulai menyadari ada sesuatu yang aneh. Dia hanya mendengar suara air pancuran yang mengalir konstan, tetapi sama sekali tidak mendengar adanya suara gerakan, langkah kaki, atau aktivitas manusia apa pun dari suaminya di dalam sana. Hal kecil itu seketika membuat rasa panik menjalar cepat di dada Viona. Pikirannya kembali melantur dan langsung dipenuhi oleh berbagai bayangan buruk. Dia sangat takut jika Bima sebenarnya sedang menahan luka dalam yang parah akibat pertempuran senjata api tadi dan kini pingsan tak sadarkan diri di lantai kamar mandi.
Dengan jantung yang berdebar kencang bagai ditabuh bertalu-talu, Viona berlari kecil mendekati pintu kamar mandi, lalu mengetuk permukaannya dengan sangat keras. "Bim! Bim! Bimaa! Kamu di dalam?!" panggil Viona dengan nada suara yang menyiratkan kepanikan dan ketakutan yang luar biasa.
"Ya," sahut suara bariton Bima dari dalam, terdengar sangat tenang dan bergema di sela-sela suara kucuran air.
"Kamu... kamu benar-benar tidak apa-apa kan, Bim?" tanya Viona lagi dengan napas yang memburu, mencoba memastikan kondisi suaminya.
"Aman," jawab Bima singkat, padat, dan jelas khas gaya bicaranya sehari-hari.
Viona meremas jemarinya dengan gemas, merasa sangat tidak puas dengan jawaban super pendek dari suaminya tersebut. "Aku tidak yakin! Benaran kamu tidak menyembunyikan luka atau kenapa-napa?! Tolong jawab yang jelas!" desak Viona dengan nada suara yang sengaja meninggi untuk menutupi rasa khawatirnya.
Mendengar kekhawatiran istrinya yang dirasa sudah mulai berlebihan, Bima yang sedang berdiri tegak di bawah kucuran air shower tersenyum geli. "Masuk saja ke dalam kalau kamu mau memastikan sendiri kondisiku," goda Bima dari balik pintu.
Deg!
Wajah cantik Viona seketika memerah sempurna bagai kepiting rebus sampai ke ujung telinganya begitu mendengar jawaban santai nan berani dari suaminya. Sifat tsundere-nya yang sedari tadi mereda langsung meledak kembali di depan pintu kamar mandi. 'Dasar Bima mesum! Dalam situasi menegangkan begini saja dia masih sempat-sempatnya berpikiran licik untuk menjebakku agar masuk dan melihatnya telanjang bulat!' rutuk Viona penuh kesal di dalam hatinya yang bergejolak.
"Cih! Dasar pria mesum!" teriak Viona ketus dengan volume keras untuk menutupi rasa malu dan salah tingkahnya yang luar biasa.
Tanpa menunggu balasan kata lagi dari dalam, dia langsung berbalik arah dengan cepat, melompat ke atas ranjang king size-nya yang empuk, dan langsung merebahkan dirinya sembari menarik selimut tebal tinggi-tinggi hingga menutupi wajahnya.
Di dalam kamar mandi, Bima hanya bisa tertawa kecil mendengar suara dengusan kesal serta langkah kaki Viona yang menghentak-hentak kasar menjauhi pintu. Malam yang semula mencekam itu akhirnya ditutup dengan tawa kecil Bima di balik shower dan detak jantung Viona yang masih berpacu liar tak beraturan di atas kasur.