NovelToon NovelToon
Novel Mecha "GEAR TEARS"

Novel Mecha "GEAR TEARS"

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Kehidupan Tentara
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: KIRA

GEAR TEARS
Novel Bertema Mecha Militer

Di dunia yang telah hancur oleh kemunculan makhluk misterius bernama Cataclysm, umat manusia hanya mampu bertahan hidup di dalam kubah raksasa yang disebut Station. Untuk melindungi peradaban yang tersisa, organisasi militer The Hawk membentuk pasukan elit Grey Wings, para pilot yang mengendalikan robot tempur raksasa bernama Neo Gear.

Shin, seorang pilot muda Grey Wings Station 05, menjalani hidupnya seperti pilot lainnya hingga bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Belial. Dengan tanduk biru, ekor panjang, dan kekuatan yang melampaui manusia biasa, Belial menyimpan rahasia yang dapat mengubah segalanya: ia adalah seorang hybrid manusia dan Cataclysm.

Di tengah meningkatnya serangan Cataclysm dan konspirasi yang tersembunyi di balik organisasi The Hawk, Shin dan Belial perlahan membangun ikatan yang seharusnya tidak pernah ada. Namun, ketika masa lalu yang telah lama dikubur mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KIRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 "Takdir yang Tak Diketahui"

Chapter 16

Suara sirene darurat meraung membelah keheningan Station 5, memantulkan cahaya merah yang berputar di setiap sudut langit-langit baja. Setelah serangkaian misi yang hangat dan penuh canda tawa di halaman barak, di mana para pilot sempat menikmati sore yang tenang sembari saling melempar lelucon, atmosfer tiba-tiba berubah mencekam. Di ruang kendali, monitor holo-tiga dimensi berkedip liar menampilkan titik merah raksasa yang bergerak konstan mendekati batas pertahanan. "Cherubim Class terdeteksi! Tipe Sauropod! Sektor Selatan Station 05" ucap Ace dengan nada tenang namun berusaha menahan panik.

Tanpa membuang waktu, seluruh unit Grey Wings langsung dikerahkan ke Garage. Rangkaian mesin raksasa berderit, roket pendorong menyala, memuntahkan asap putih yang memenuhi landasan pacu saat satu per satu unit diluncurkan menuju medan laga. Formasi tempur segera dibentuk. Bird of Paradise yang dipiloti oleh Shin dan Belial memimpin di barisan paling depan sebagai ujung tombak. Di sayap kiri, Sua dengan unit Swan beriringan dengan Lei yang mengemudikan Stork. Sementara di sisi kanan, Huah dengan Phoenix dan Zhou yang mengendalikan Feng Huang menjaga stabilitas lini belakang ditemani Pigeon yang dipiloti Mei sebagai support dan cover tim. Jauh di atas mereka, mengambil posisi stasioner di titik tertinggi, Sei mengintip dari balik lensa bidik unit Sparrow.

Namun, Sauropod ini berbeda dari yang pernah mereka hadapi biasanya. Tubuhnya menjulang setinggi 950 ft, bergerak lambat namun masif, dengan permukaan kulit legam yang dipenuhi oleh tonjolan merah menyala—Core Catalyst dalam jumlah yang tidak wajar. Jika inti-inti energi itu dihancurkan terlalu cepat atau tanpa perhitungan, reaksi berantai yang dihasilkan bisa memicu ledakan katastrofik beradius beberapa kilometer.

Shin segera mengambil alih komando taktis. "Belial! Kaki kanan! Kita harus menjatuhkannya tanpa memicu Core!" "Mengerti. Jangan lambat, Shin!" sahut Belial dari interkom. Bird of Paradise melesat membelah awan dengan kecepatan tinggi. Dengan manuver yang presisi, Belial mengayunkan bilah pedang energinya, menebas tendon kaki kanan makhluk raksasa itu hingga memercikkan cairan korosif. Di saat yang sama, Shin mengeksekusi dorongan pendorong vertikal, menghantam sendi leher belakang sang monster dengan hantaman berat. Makhluk raksasa itu melenguh keras sebelum akhirnya roboh menumbuk tanah, menimbulkan gempa kecil yang menggetarkan.

Meski lumpuh, makhluk itu masih hidup. Jantungnya yang berupa jalinan Catalyst berdenyut tidak stabil. Shin segera memberi perintah tegas melalui saluran komunikasi universal. "Semua unit, mundur! Target telah dilumpuhkan! Tunggu tim Recovery untuk evakuasi inti!" Belial ikut menahan posisi pedangnya, bersiaga di dekat leher monster sembari melirik indikator energi. "Jangan sentuh Core. Satu goresan salah bisa meratakan tempat ini."

Di kejauhan, dari dalam kokpit Sparrow, Sei masih mempertahankan posisinya dengan jari yang melekat pada tuas pelatuk. Lensa bidiknya terkunci tepat pada dahi sang monster yang terhubung langsung ke jaringan Core. Ia mengernyitkan dahi, matanya menatap dingin layar taktis yang menunjukkan pergerakan Shin yang menahan diri. "Kenapa mereka berhenti?" gumam Sei, suaranya terdengar datar namun sarat akan ketidaksabaran. " Prosedur, Pilot Sei," suara komandan Ace terdengar dari headset-nya. "Denyut energi makhluk itu tidak stabil. Menghancurkannya sekarang terlalu berisiko bagi unit garis depan."

Sei mendengus meremehkan. Tatapannya menajam. "Kalau bisa dibunuh sekarang... kenapa harus menunggu? Menunda-nunda hanya memberi mereka waktu untuk beregenerasi." Tanpa meminta izin komando, Sei memasukan Sparrow ke mode Sniper, Visor hijau didahinya turun menjadi visor Sniper dan menarik pelatuk Sparrow. BOOOOM!

Sebuah kilatan laser berdensitas tinggi melesat membelah udara, meninggalkan garis cahaya oranye yang menyilaukan sebelum akhirnya menembus tepat di tengah kepala Sauropod. Seluruh kru di ruang kendali dan para pilot di lapangan terkesiap. Keheningan yang mencekam sempat menyelimuti medan perang selama beberapa detik yang menegangkan. Untungnya, kalkulasi dingin Sei tepat tembakannya menghancurkan sistem saraf pusat sebelum Core Catalyst sempat bereaksi. Monster itu mati total tanpa memicu ledakan berantai. Namun, tindakan indisipliner itu menyisakan ketegangan yang jauh lebih berbahaya.

Suasana di dalam ruang briefing terasa begitu pekat hingga seolah-olah bisa dipotong dengan pisau. Belial, yang biasanya menahan diri dan belajar untuk terbuka, kali ini berdiri dengan wajah mengeras. Ia melangkah mendekati Sei yang baru saja meletakkan helm tempurnya di atas meja. "Apa kau sadar yang baru saja kau lakukan, Sei?" tanya Belial, suaranya rendah namun bergetar oleh amarah yang tertahan. Ini bukan kemarahan seorang senior yang arogan, melainkan kemarahan seorang prajurit yang nyaris kehilangan seluruh rekannya karena tindakan egois.

Sei membalas tatapan itu dengan wajah datar, bahkan cenderung santai. "Target mati. Misi selesai. Apa yang perlu diperdebatkan?" Belial mengepalkan tangannya di sisi tubuh, langkahnya maju satu tindak lagi. "Kalau Core itu meledak karena fluktuasi energimu, kita semua mati di sana! Shin, aku, bahkan kau sendiri tidak akan bersisa!"

"Tapi nyatanya tidak," jawab Sei dingin, tanpa ada penyesalan sedikit pun di matanya. "Kalian terlalu lambat. Dan kelambatan di medan perang adalah tiket menuju kematian."

"Kau—!" Belial mulai menaikkan nada suaranya, melangkah maju hingga bahunya hampir bersentuhan dengan Sei. Sebelum ketegangan fisik terjadi, Ace yang sejak tadi diam di ujung meja menghantamkan telapak tangannya dengan keras. DUAAKK!

"CUKUP!" bentak Ace. Ruangan langsung hening seketika. Bahkan Huah yang biasanya suka mengunyah camilan saat rapat langsung terdiam membeku. Ace menatap keduanya dengan tajam sebelum memberi isyarat agar mereka mundur. Namun, ketegangan tidak berhenti di sana. Sei mengalihkan pandangannya dari Belial, lalu menatap lurus ke arah Shin yang sejak tadi hanya duduk terdiam di kursinya. Kalimat yang keluar dari mulut Sei berikutnya menjadi genderang perang bagi konflik tersembunyi di antara mereka.

"Kau berubah, Shin," ucap Sei, memecah kesunyian dengan nada yang menghakimi. Semua orang di ruangan itu menahan napas. "Dulu kau selalu memilih jalan tercepat dan paling efisien. Sekarang... terlalu banyak ragu dalam setiap keputusanmu." Shin tetap bergeming, namun jemarinya yang bertaut di atas meja tampak sedikit mengetat. "Kau jadi lemah," lanjut Sei, matanya menyipit dingin. "Sejak kau jatuh cinta."

Ruangan langsung membeku. Kalimat itu seperti sebuah hantaman telak yang tidak terduga. Hubungan dekat antara Shin dan Belial yang tiba-tiba diseret ke permukaan sebagai sebuah kelemahan. Belial langsung berdiri tegak, matanya berkilat marah. "Jaga ucapanmu, Sei!" Sebelum Belial melangkah lebih jauh, Shin mengangkat satu tangannya, menahan dada sang rekan. "Sudah, Belial." Belial menatap Shin dengan pandangan tidak percaya. "Tapi Shin, dia sudah kelewatan—"

Shin hanya menggeleng perlahan, matanya menatap meja dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tidak membantah, tidak juga marah. Dan keheningan Shin justru menjadi jawaban yang paling menyakitkan bagi seluruh tim. Sejak hari itu, atmosfer di Station 5 berubah total. Shin dan Sei hampir tidak pernah berbicara lagi.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan penuh tekanan yang sunyi. Di kantin, ketika malam tiba dan lampu-lampu barak mulai meredup, Shin sering duduk sendirian di sudut ruangan dengan segelas kopi yang sudah mendingin. Ketika Sei berjalan masuk dengan nampan makanannya, langkah kaki pemuda itu sempat terhenti. Ia melihat ke arah Shin, mata mereka bertemu selama satu detik yang canggung, sebelum Sei dengan sengaja memalingkan wajah dan memilih duduk di meja paling ujung yang berseberangan jauh.

Bahkan di dalam ruang simulator taktis, hubungan mereka tidak membaik. Saat mereka dipasangkan untuk latihan simulasi pertempuran, tidak ada koordinasi verbal yang hangat. "Koordinat," ucap Sei datar melalui radio simulator. "Diterima," sahut Shin singkat. Tidak ada percakapan lain. Hanya suara deru mesin virtual dan dentuman senjata yang mengisi kekosongan di antara mereka.

Di luar ruang latihan, Belial berdiri di dekat jendela kaca besar, memperhatikan Shin yang keluar dari kapsul simulator dengan wajah lelah. Di sampingnya, Mei bersandar pada dinding sembari melipat tangan. "Dia terus memikirkannya," kata Mei pelan, suaranya sarat akan kekhawatiran. "Ucapan Sei hari itu... itu benar-benar menusuk ego Shin sebagai seorang pemimpin."

Belial tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung Shin yang berjalan menjauh, memandang ke luar jendela besar ke arah langit malam yang kelam, menyadari bahwa retakan di dalam tim mereka kini telah berubah menjadi jurang yang sangat dalam.

Keheningan yang menyiksa itu akhirnya pecah ketika alarm Station 5 kembali melengking di tengah malam. Kali ini, laporan taktis menunjukkan ancaman yang berbeda. Sektor pinggiran kota telah diinvasi oleh segerombolan Cataclysm tipe Spider. Makhluk-makhluk ini bergerak cepat dan mulai membangun sarang Catalyst bawah tanah yang masif di dalam reruntuhan terowongan tambang Magma.

Begitu tiba di lokasi, lubang menganga menuju kegelapan terowongan menyambut mereka. Sebelum formasi matang sempat didiskusikan, Sei sudah memajukan unitnya ke depan bibir gua. "Aku masuk dulu," cetus Sei melalui saluran komunikasi. Sua langsung menyela dengan nada panik dari kokpit Swan. "Tunggu, Sei! Jangan gegabah! Kita harus menunggu formasi penuh dan memetakan struktur terowongan ini dulu!"

Namun, Sei sudah menutup saluran komunikasinya secara sepihak. Sparrow melompat turun, masuk ke dalam kegelapan terowongan sendirian, meninggalkan kepulan debu di belakangnya. Di dalam terowongan, suasana begitu sunyi dan lembap. Namun, saat Sparrow melangkah lebih dalam, lampu sorot mekanisnya menangkap sesuatu yang mengerikan. Seluruh dinding terowongan dipenuhi oleh benang-benang putih tebal yang berkilau aneh. Itu bukan benang biasa. Begitu kaki Sparrow menyentuh salah satu untaian, alarm internal kokpit Sei langsung berbunyi nyaring. Warning: Energy Drain Detected.

Sei terkesiap. Saat ia mencoba menggerakkan Gear-nya untuk mundur, setiap gerakan justru membuat benang-benang itu melilit lebih erat, menyerap pasokan daya dari reaktor Sparrow. Perlahan namun pasti, monitor utama di dalam kokpit mulai berkedip-kedip hingga akhirnya mati total. Radar padam, dan sistem komunikasi terputus sepenuhnya. Sei terjebak di dalam kegelapan yang absolut. Lalu, dari kegelapan di ujung terowongan, muncul suara gesekan kaki-kaki serangga yang mengerikan. Satu per satu, sepasang mata merah menyala mulai bermunculan. Satu, dua, sepuluh, lima puluh... hingga ratusan mata merah mengepung Sparrow yang kini tak berdaya.

Dengan sisa energi yang ada pada sistem manual, Sei mencoba menembak. Satu monster mati, dua mati, lima mati dihantam peluru fisik. Namun, suara klik kosong segera terdengar. Amunisi habis. Energi reaktor berada di angka hampir nol persen. Benang-benang Catalyst kian mengikat erat tubuh Sparrow, mulai meremas pelindung baja luar mecha tersebut.

Di luar terowongan, ruang kendali mendadak gempar. "Pilot Sparrow kehilangan daya! Signal vitals menurun drastis! Kami kehilangan kontak total!" teriak Elas. Shin, yang sejak tadi menahan diri di dalam kokpit Bird of Paradise, langsung menegakkan tubuhnya. Matanya kilat penuh kepastian. "Aku masuk." "Tidak, Shin! Itu bunuh diri! Terowongan itu terlalu sempit untuk ukuran unitmu!" seru Sua dari radionya. Belial, tanpa banyak bicara, langsung menggeser tuas kendalinya hingga Gear-nya berdiri di samping Shin. "Aku ikut denganmu. Kita tidak bisa meninggalkan bocah keras kepala itu mati di sana."

Bird of Paradise terbang melesat memasuki mulut terowongan. Namun, baru beberapa ratus meter masuk, langit-langit terowongan yang rendah dan menyempit mulai menggores pelindung bahu mereka. Struktur mecha gabungan mereka terlalu besar untuk medan sesempit ini. Belial," panggil Shin dengan nada tenang namun tegas.

Belial yang sudah hafal luar dalam tabiat rekannya langsung mengerti arah pembicaraan itu. "Pisah. Aku akan mengamankan jalur keluar." System Command: Separation Initiated.

Mekanisme pengunci di tengah tubuh Bird of Paradise berdentum keras. Mecha raksasa itu terbelah menjadi dua unit mandiri: Eagle dengan sayap dan tombak spesialnya dan Raven yang lebih ramping dan lincah. Belial dengan unit Eagle-nya tetap berada di area persimpangan luar, menahan gelombang Spider yang mulai merangsek keluar dari dinding-dinding batu. Sementara itu, Shin dengan unit Raven melesat sendirian ke bagian terowongan yang paling dalam.

Pertempuran di dalam lorong itu menjadi salah satu momen paling brutal bagi Shin. Lorong itu gelap gulita, dipenuhi benang lengket dan Core Catalyst yang menempel di dinding seperti bisul yang siap meledak. Puluhan tipe Spider bergelantungan dari langit-langit, menjatuhkan diri ke arah Raven. Shin mengayunkan Cakar taktisnya dengan kalap, membantai satu per satu monster yang menghalangi jalannya.

Bilah cakarnya mulai retak karena benturan keras dengan kulit luar monster yang sekeras baja. Bahu kiri Raven robek besar setelah menabrak pilar beton saat menghindari gigitan monster, dan indikator energinya terus merosot ke zona kuning. Namun, Shin tidak berhenti. Ia terus menembus kegelapan, didorong oleh satu rasa tanggung jawab yang tak tergoyahkan.

Akhirnya, di ujung terowongan yang paling bawah, ia menemukan Sparrow. Kondisi mecha itu mengenaskan, hampir seluruh tubuhnya terbungkus kokon Biru tebal. Bagian kokpit luarnya sudah mulai retak karena tekanan dari luar, dan di dalamnya, Sei terduduk lemas dengan kesadaran yang mulai mengabur akibat kekurangan oksigen.

Dengan sisa tenaga dari unit Raven, Shin menggunakan cakar mekanisnya untuk merobek kokon tersebut. Ia menghantam panel darurat kokpit Sparrow, memaksa pintunya terbuka. Tanpa memedulikan asap yang mengepul, Shin melompat keluar dari kursi pilotnya sendiri, menggunakan tali pengaman untuk menyeberang, dan mengangkat tubuh Sei yang lemas keluar dari mecha yang rusak itu. Ia membawa Sei ke dalam kokpit Raven, mendudukkannya di kursi cadangan di belakangnya.

Sei membuka matanya yang berat dengan susah payah. Dalam remang cahaya monitor kokpit yang berkedip merah, ia melihat punggung Shin yang dipenuhi keringat, tangannya masih sibuk mengendalikan tuas untuk memutar arah Raven. "Kenapa..." bisik Sei dengan suara parau yang hampir habis. "Kenapa kau kembali... setelah apa yang kukatakan?"

Shin tidak menoleh. Tangannya dengan cekatan mengaktifkan sisa sistem pendorong. "Kalau kau mati... aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri"

Jalan keluar mereka ternyata sudah tertutup rapat oleh runtuhan batu dan ratusan Spider yang menumpuk. Di ujung luar terowongan, Belial yang mengendalikan Eagle melihat radar internalnya yang menangkap pergerakan Shin yang mendekat dari dalam. Belial mengaktifkan seluruh persenjataan berat yang tersisa di bahu dan lengan Eagle. "SHIN! LOMPAT!" teriak Belial melaui radio berfrekuensi pendek.

Shin menarik tuas Booster maksimal. Raven yang membawa beban tambahan melesat seperti peluru hitam dari dalam kegelapan, melompat keluar tepat ketika Belial mengayunkan seluruh meriam energinya, menebas dan menghancurkan seluruh dinding penyangga sarang tersebut hingga runtuh. Dari markas, suara Ace terdengar menggelegar memberikan izin final. "SEMUA UNIT! TEMBAK SEKARANG!"

Di luar terowongan, formasi Grey Wings yang tersisa sudah bersiap. Swan, Stork, Phoenix, dan Feng Huang, bersama dengan Eagle milik Belial, menembakkan seluruh cadangan persenjataan berat mereka ke arah mulut terowongan yang runtuh. Ledakan masif terjadi, memicu reaksi berantai yang menghancurkan seluruh sarang Catalyst di bawah tanah. Kilatan cahayanya begitu besar hingga menerangi langit malam seperti fajar yang prematur.

Dua hari telah berlalu sejak insiden di terowongan tambang. Sei masih belum sadarkan diri, terbaring di ruang perawatan intensif Station 5 dengan berbagai selang medis yang menempel di tubuhnya. Seluruh anggota tim sempat datang menjenguk secara bergantian membawa bunga dan buah-buahan, mencoba mencairkan ketegangan yang sempat terjadi.

Namun, ketika malam telah larut dan ruang perawatan menjadi sangat sunyi, hanya ada satu orang yang tersisa di sana. Shin duduk sendirian di kursi di samping tempat tidur Sei. Ia tidak berbicara, tidak juga bergerak. Di bawah temaram lampu ruangan, Shin hanya duduk dengan kepala sedikit tertunduk, matanya menatap konstan pada grafik monitor detak jantung yang berbunyi teratur di atas kepala Sei.

Keheningan itu terasa begitu berat. Shin mengepalkan kedua tangannya di atas lutut, lalu berbisik dengan suara yang sangat pelan, hampir tenggelam oleh suara mesin medis."Kalau kau mati..." ucap Shin, suaranya sedikit bergetar, namun sarat akan penyesalan yang mendalam. "...aku tidak akan pernah sempat meminta maaf karena telah gagal menjadi sahabat yang baik untukmu."

Kata-kata sederhana itu menggantung di udara ruangan yang dingin. Tidak ada tangisan dramatis atau histeria, hanya sebuah pengakuan sunyi dari seorang pemuda yang memikul beban berat di pundaknya. Tiga hari kemudian, kelopak mata Sei perlahan bergerak. Ketika kesadarannya kembali sepenuhnya dan pandangannya mulai fokus menembus cahaya lampu ruangan, orang pertama yang ia lihat berada di sampingnya adalah Shin. Pemuda itu sedang mengganti botol infus yang baru.

Tidak ada dialog panjang atau drama penyambutan yang berlebihan di antara kedua prajurit itu. Shin hanya menurunkan tangannya, menatap Sei dengan senyum tipis yang tulus namun lelah. "Selamat datang kembali," ucap Shin pelan.

Sei terdiam untuk waktu yang cukup lama. Ia menatap langit-langit kamar perawatan, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Shin. Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal di skuadron, keangkuhan di mata Sei runtuh. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas bantal, menyembunyikan ekspresi wajahnya.

"...terima kasih," bisik Sei, tulus tanpa ada nada sinis sedikit pun. Hubungan di antara mereka mungkin belum sepenuhnya sembuh, namun retakan besar itu kini mulai tertutup oleh rasa hormat yang baru.

Sementara itu, jauh di fasilitas rahasia Highlanders, atmosfer berada di tingkat yang sangat berbeda. Di dalam sebuah ruangan bawah tanah yang steril dan kedap suara, beberapa petinggi The Hawk didampingi The Family berdiri mengelilingi sebuah meja bundar dengan layar holodata besar yang menyala di tengahnya.

Seorang ilmuwan The Family menekan beberapa tombol di konsol, membuka arsip lama yang telah dikunci selama belasan tahun dengan label Classified: Project Birdcage. "Subjek 409S..." ucap ilmuwan itu, memunculkan sebuah profil data lama. "Dan Subjek 367S..."

Layar hologram besar itu seketika menampilkan dua buah foto anak kecil dengan latar belakang laboratorium putih yang dingin. Di foto sebelah kiri tertera nama Shin, dengan mata bulat yang menatap polos ke arah kamera. Di sebelah kanan tertera nama Sei, dengan wajah yang sudah tampak tersenyum bahagia. Saat ilmuwan itu menggeser tangannya, sebuah garis bagan silsilah genetika berwarna biru muncul, menghubungkan kedua profil anak tersebut secara langsung.

[Birdcage]

Subject 409S: Shin

Subject 367S: Sei

Relationship Status: First Cousin (Sepupu Kandung)

Ruangan strategis itu mendadak sunyi senyap. Salah seorang petinggi dari faksi The Hawk yang berdiri di sudut ruangan perlahan mengembuskan asap rokoknya, menatap layar dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Ironis..." ucap petinggi itu dengan suara berat yang dingin. "Dua anak dari keluarga yang sama, dipisahkan oleh kita, dan sekarang bertarung di skuadron yang sama... bahkan mereka sudah lupa kalau mereka sebenarnya sedarah."

Ilmuwan itu menarik napas dalam, lalu menekan tombol pemutus. Layar hologram itu perlahan meredup dan mati, menyisakan kegelapan dan rahasia besar yang masih tersimpan rapat dari dunia luar.

1
Noir
Gokill
KIRA: makasihh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!