Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.
Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Aspal jalanan terasa membara di bawah roda mobil Fatih. Deru mesinnya meraung, seirama dengan detak jantungnya yang tak beraturan. Namun, di sebuah persimpangan yang rumit, mobil hitam itu menghilang bagai ditelan bumi. Penghadangan oleh anak buah Barja tadi telah membuang waktu yang sangat berharga.
"Kita kehilangan jejak, Fatih... Mereka terlalu licin," desis Lukman sambil memukul dasbor mobil dengan frustrasi.
Fatih mencengkeram kemudi hingga jemarinya memutih. Matanya merah, bukan hanya karena debu, tapi karena amarah dan rasa bersalah yang menggunung. "Aku sudah mengusirnya, Man... Aku sendiri yang membiarkan dia dibawa. Kalau terjadi sesuatu pada Bella, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."
"Bang, jangan menyerah! Kita harus cari!" seru Zahra dari kursi belakang, wajahnya masih basah oleh air mata.
Lukman mencoba berpikir jernih. Sebagai orang yang selalu menggunakan logika, ia melihat celah. "Tih, ingat dua orang tadi? Yang mengaku polisi dan menggunakan seragam. Kita tidak bisa mengejar buta begini. Kita ke kantor polisi terdekat sekarang. Siapa tahu mereka mengenali ciri-ciri oknum tersebut. Jika itu polisi asli, pasti ada datanya. Jika gadungan, kepolisian pasti akan bergerak cepat karena ini menyangkut nama baik institusi."
Tanpa membantah, Fatih memutar arah. Mobil itu melesat menuju Polsek terdekat.
Rahasia di Balik Seragam
Di kantor polisi, AKBP Ridwan bertugas di sana.. Fatih nemperkenalkan dirinya, nama belakang yang tersemat "Bashir" membuat AKBP Ridwan seperti mengenalnya.. "apakah saudara anak dari kiai Ahmad Bashir ..?" Tanya AKBP Ridwan akrab.
"Benar.. bapak kenal abi..?"Fatih tanya balik..
"Beliau guru saya waktu kecil..!" Bagaimana kabar beliau sehat..?" Tanya Akbp Ridwan
"Alhamsulilkah pak..!!" Jawab Fatih yang merasa sedikit tenang,karena Akbp Ridwan adalah mantan murid abinya.
"Jadi anda putranya..!" Salam buat abi ahmad.." sapa Akbp Ridwan santun yang hanya di balas anggukkan dari Fatih.
suasana mendadak tegang saat Fatih menceritakan detail kejadian dengan suara bergetar. Ia menyebutkan nama Iptu Deni dan ciri-ciri Aiptu Herman yang serampangan.
Seorang perwira jaga mengernyitkan dahi. Ia masuk ke ruangan dalam dan kembali beberapa menit kemudian bersama seorang detektif berpakaian preman.
"Saudara Fatih, perlu kami sampaikan bahwa tidak ada surat tugas penangkapan atas nama Bella atau siapa pun di alamat pesantren Anda hari ini," ujar petugas itu tegas.
"Lalu siapa mereka?" tanya Fatih menuntut.
"Untuk nama Herman, kami tidak memiliki anggota dengan ciri-ciri preman seperti yang Anda sebutkan. Kemungkinan besar itu polisi gadungan. Namun..." Petugas itu merendahkan suaranya. "Iptu Deni memang ada anggota kami yang bernama deni. Tapi, mungkin juga ada kesanaan nama. Polisi coba untuk menutupi karena menyangkut reputasi kepolisian padahal deni sudah dua minggu ini dalam pengawasan Propam (Internal Affairs) karena dugaan keterlibatan dengan jaringan mafia dan perjudian. Dia sedang diintai, dan tindakannya hari ini jelas di luar prosedur hukum."
Fatih merasa lemas. Kenyataan menghantamnya lebih keras dari bogem mentah. Istrinya tidak dibawa oleh hukum, tapi oleh kriminal berseragam.
"Kami akan segera mengerahkan tim pengejaran. Anda semua bisa ikut, tapi tetap di belakang tim kami."
Chaos di Pasar Minggu
Di belahan jalan yang lain, mobil yang dikendarai Herman memasuki kawasan padat. Jalur yang seharusnya menjadi jalan pintas itu ternyata sedang berubah menjadi pasar tumpah mingguan. Pedagang sayur, pakaian, dan hamparan tikar menutupi hampir separuh badan jalan yang sempit.
"Herman! Kenapa lewat sini, bodoh?!" bentak Deni yang duduk di sampingnya.
Herman berkeringat dingin. "Saya pikir ini jalan tercepat menuju penginapan, Pak!"
Di kursi belakang, Dahlan menatap Herman dengan kebencian yang mendalam. Ia melihat Bella yang meringkuk ketakutan, menggenggam gamisnya yang mulai kotor. Nurani Dahlan yang telah lama terkubur di bawah tumpukan kartu judi kini mulai memberontak.
"Herman, kamu bisa mati di tangan Barja kalau kamu macam-macam pada Bella," ancam Dahlan dengan suara parau. "Barja ingin dia utuh, bukan bekas kalian!"
Herman tampak gentar. Nama Barja adalah momok yang menakutkan baginya. Ia melirik Deni dengan ragu. "Bagaimana kalau kita ketahuan Bos Barja nanti, Pak? Dia orang yang sangat bengis."
Deni justru tertawa dingin. Ia mencabut pistolnya dan mengacungkannya tepat ke arah Herman, lalu mengarahkannya ke arah Dahlan di belakang. "Tenang saja, Herman. Asal kamu diam, dan cecunguk tua di belakang ini juga diam, kita semua aman. Aku polisi, aku tahu cara menghilangkan jejak. Setelah kita 'bersenang-senang', kita serahkan dia pada Barja. Siapa yang akan tahu?"
Ketegangan di dalam mobil membuat Herman kehilangan konsentrasi. Di depan sana, kerumunan orang sedang ramai-ramainya. Seorang pengunjung pasar tiba-tiba melintas perlahan dengan motornya.
"Awas, Man!" teriak Deni.
BRUAKKK!
Mobil itu menubruk pengendara motor dan beberapa lapak pedagang di pinggir jalan. Suasana seketika berubah menjadi neraka. Orang-orang berhamburan. Suara teriakan histeris memecah udara.
"Woy! Berhenti! Mentang-mentang pakai mobil bagus jalan sembarangan!" teriak seorang pria kekar sambil memukul kap mobil Herman.
"Keluar lu! Tanggung jawab!"
"Bakar saja mobilnya! Mereka mau kabur!"
Massa mulai mengepung. Herman gemetar hebat, tangannya yang memegang setir tak sanggup bergerak. Namun Deni, dengan kelicikan seorang manipulator berpengalaman, tetap tenang.
"Santai, Herman. Biar aku yang keluar. Gunakan otoritas kita," desis Deni.
Deni membuka pintu, menunjukkan seragamnya. Namun, bukannya mereda, massa yang sudah muak dengan perilaku oknum justru semakin beringas.
"Oh, pantas! Ternyata ada polisi tolol yang tidak bisa menyetir!" teriak seorang pemuda.
Deni mencoba bernegosiasi dengan nada tinggi, mengaku sedang dalam pengejaran penjahat penting. Saat perhatian semua orang tertuju pada perdebatan Deni di luar, Dahlan melihat celah. Sebuah kesempatan terakhir untuk menjadi manusia.
"Nak... cepat keluar! Kabur sekarang!" perintah Dahlan setengah berbisik namun tegas.
Bella tersentak, matanya yang sembab menatap Dahlan tak percaya. "Ayah...?"
"Cepat! Lari sekuat tenagamu! Cari keramaian!"
Saat Bella membuka pintu dan hendak melompat keluar, tangan Herman yang masih berada di dalam mobil dengan sigap mencengkeram kain gamis Bella. "Mau ke mana kamu, cantik?!"
Bella tersendat, tubuhnya tertahan di ambang pintu. Namun di saat itulah, Dahlan meledak. Segala rasa bersalah, amarah, dan rasa sayangnya sebagai seorang ayah—meski ayah tiri—tumpah dalam satu pukulan. Dahlan menghantam wajah Herman dengan kepalan tangannya, lalu memiting leher pria itu dari belakang.
"Mati kamu, monyet!!" geram Dahlan dengan mata menyala.
Cengkraman Herman terlepas. Bella berhasil keluar dan segera berlari menembus kerumunan pedagang. Dahlan menyusul, melompat keluar setelah memastikan Herman terjepit di antara kursi.
"Pak! Mereka kabur!" teriak Herman dari dalam mobil.
Deni menoleh dan melihat Bella serta Dahlan menghilang di balik deretan ruko. Ia ingin mengejar, tapi massa masih menahannya. "Minggir kalian! Itu penjahatnya kabur!"
"Huuuuu! Dasar polisi korup! Cari alasan saja!" teriakan hinaan warga mengiringi langkah Deni yang terburu-buru meninggalkan mobilnya.
### Pengejaran di Gang Sempit
Bella berlari dengan napas yang terbakar. Paru-parunya terasa sesak, namun ketakutan memberinya kekuatan tambahan. Di belakangnya, Dahlan mengikuti dengan langkah yang mulai melambat karena faktor usia. Mereka masuk ke dalam gang-gang sempit yang becek dan gelap.
SRET!
Bella tersungkur. Ia menginjak ujung gamisnya sendiri yang terlalu panjang. Lututnya menghantam semen kasar, darah merembes. Dahlan segera menariknya bangun. "Bangun, Nak! Kita tidak boleh berhenti!"
"Berhenti!!"
DOR!
Suara tembakan peringatan memantul di dinding-dinding gang yang sempit. Bella menjerit dan spontan menutup telinganya, tubuhnya bergetar hebat. Di ujung gang, Deni dan Herman muncul dengan napas terengah-engah.
"Terus lari, Nak! Terus!" Dahlan mendorong Bella agar terus maju.
Deni tidak lagi bermain-main. Ia mengarahkan moncong pistolnya secara mendatar. Ia tidak peduli jika harus melukai mereka, asalkan Bella tidak hilang.
DOR!
Peluru itu melesat lurus, menembus daging dan tulang punggung.. panas..