Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.
Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.
Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.
Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.
Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Sakit
Arka berlari ke rumah sakit, melewati lorong-lorong putih yang menyala terang, mengikuti petunjuk dari ayahnya yang menunggu di depan ruang ICU.
Ayahnya—lebih tua dari yang Arka ingat, dengan rambut yang sudah memutih di pelipis—berdiri dengan wajah pucat, tangannya gemetar memegang gelas kopi yang sudah dingin.
"Pa," Arka mendekat, "gimana keadaan Mama?"
Ayahnya menatap Arka, dan untuk sesaat, ada sesuatu di matanya—campuran antara lega melihat anaknya datang, dan kelelahan yang sudah terlalu lama dia tanggung.
"Dokter bilang ini... ini serangan jantung. Untungnya Mama lagi di rumah waktu kejadian, jadi cepet dibawa ke sini. Tapi mereka bilang ada penyumbatan, dan harus operasi."
"Operasi kapan?"
"Besok pagi. Mereka bilang... mereka bilang resikonya cukup tinggi, mengingat umur Mama dan kondisi jantungnya udah lama lemah."
Arka duduk di kursi tunggu, mencoba mencerna informasi ini. Jantung yang lemah. Dia tidak pernah tahu ini. Dalam ingatannya yang baru, ibunya selalu terlihat sehat—setidaknya dari yang dia lihat selama kunjungan singkatnya beberapa minggu lalu.
"Pa," kata Arka pelan, "Mama udah lama punya masalah jantung?"
Ayahnya mengangguk, duduk di sebelah Arka. "Dari beberapa tahun lalu. Awalnya cuma aritmia ringan, dokter bilang harus dijaga—jangan capek, jangan stres. Tapi Mama... Mama tipe orang yang nggak bisa diem, kamu tau sendiri kan. Selalu sibuk ngurusin orang lain, lupa ngurus diri sendiri."
Arka mengangguk, meski jauh di dalam dirinya, ada pertanyaan yang mulai terbentuk—pertanyaan yang membuatnya merasa dingin.
Apakah ini efek dari perubahan yang aku buat? Apakah jantung Mama jadi lemah karena sesuatu yang berbeda di dunia ini—mungkin stres tambahan dari membesarkan anak yang seharusnya tidak pernah dia besarkan sampai usia ini? Atau apakah ini... ini cuma kehidupan, berjalan dengan caranya sendiri, terlepas dari apa yang aku ubah?
Dia tidak punya jawaban. Dan untuk pertama kalinya, dia menyadari betapa menakutkannya itu—ketidaktahuan tentang apakah dia bertanggung jawab atau tidak, apakah ini sesuatu yang bisa dia "perbaiki" lagi, atau apakah ini hanya bagian dari hidup yang harus diterima.
Malam itu, Arka dan ayahnya bergiliran menjaga di luar ruang ICU. Nadia datang begitu Arka mengabari, membawakan makanan yang tidak ada yang sentuh.
"Kamu harus istirahat, Arka," kata Nadia, duduk di sebelahnya, menggenggam tangannya. "Operasinya besok pagi. Kamu butuh tenaga buat nemenin Mama."
"Aku nggak bisa, Nad," kata Arka, suaranya lelah. "Gimana kalau... gimana kalau ini terakhir kalinya aku bisa liat Mama?"
Nadia diam sejenak, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Arka. "Aku tau ini berat. Tapi kamu udah ada di sini, sekarang. Itu yang penting."
Arka menatap pintu ICU yang tertutup, memikirkan ibunya yang terbaring di dalam, terhubung dengan alat-alat, tubuhnya yang sudah berjuang selama tujuh belas tahun ekstra—tujuh belas tahun yang Arka berikan padanya, dengan harga yang begitu besar.
Apakah tujuh belas tahun itu cukup? pikir Arka. Atau apakah aku akan kehilangan dia lagi—kali ini bukan karena kecelakaan, tapi karena waktu, karena tubuh manusia yang punya batasnya sendiri, terlepas dari berapa kali aku mencoba mengubah segalanya?
Dia memikirkan kekuatannya. Memikirkan apakah dia bisa—seharusnya—menggunakannya lagi, jika ibunya tidak selamat dari operasi ini.
Tapi kemudian, dia memikirkan Nadia. Memikirkan harga yang sudah dia bayar untuk Nadia bisa hidup di dunia ini. Memikirkan Sera yang sekarang hidup tanpa mengenalnya. Memikirkan Damar yang tidak akan pernah kembali, berapa kali pun dia mencoba.
Setiap perjalanan adalah pertukaran. Aku nggak bisa terus-menerus menukar.
Tapi di sisi lain—ini ibunya. Wanita yang dia perjuangkan, yang dia korbankan begitu banyak untuk diselamatkan. Bagaimana mungkin dia hanya... berdiam diri, jika ada kemungkinan untuk menyelamatkannya lagi?
Pukul tiga pagi, seorang dokter keluar dari ruang ICU, wajahnya tenang—lebih tenang dari yang Arka harapkan.
"Keluarga Bu Ratna?"
Ayah Arka berdiri cepat. "Saya suaminya."
"Kondisinya sudah stabil untuk sementara. Kami berhasil mengontrol penyumbatannya dengan obat-obatan, jadi operasi besok pagi kemungkinan akan lebih terkontrol—risikonya menurun dibanding tadi malam. Tapi kami tetap perlu memantau dengan ketat."
Ayah Arka menghela napas panjang, hampir terisak karena lega. "Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak."
Arka merasakan sesuatu yang berat terangkat dari dadanya—tapi tidak hilang sepenuhnya. Hanya ditunda.
Dia melirik ke arah Nadia, yang tersenyum lembut, menggenggam tangannya lebih erat.
"Lihat?" kata Nadia pelan. "Belum waktunya, Arka. Mungkin... mungkin belum waktunya."
Arka mengangguk, meski di dalam dirinya, satu pertanyaan terus menggantung, tidak terjawab, seperti bayangan yang mengikuti setiap langkahnya:
Kapan waktu itu akan datang? Dan ketika itu terjadi—apakah aku akan cukup kuat untuk membiarkannya, atau apakah aku akan kembali mencoba menukar sesuatu, lagi dan lagi, sampai tidak ada lagi yang bisa ditukar?