Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.
Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.
Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.
Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?
Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Perempuan Biasa
Bel pulang berbunyi.
Anak-anak berhamburan keluar kelas setelah berpamitan satu per satu.
"Besok ketemu lagi, Bu Guru!"
"Iya. Hati-hati di jalan."
Tak lama, ruang kelas kembali lengang. Kinan merapikan meja-meja kecil, lalu membawa setumpuk buku ke ruang guru. Di sana, beberapa guru masih sibuk menyusun administrasi pembelajaran.
Kepala sekolah meletakkan sebuah map di hadapan Kinan. "Maaf, Bu Kinan. Karena Ibu guru baru, mungkin agak merepotkan."
Kinan membuka map itu. Di dalamnya terdapat format penilaian harian yang harus diketik ulang.
"Kalau tidak selesai hari ini tidak apa-apa," lanjut kepala sekolah. "Besok juga masih bisa."
Kinan mengangguk pelan. "Baik, Bu." Ia menarik sebuah laptop yang tergeletak di sudut meja.
"Silakan dipakai. Laptop sekolah memang agak lambat," ujar salah seorang guru.
Kinan menekan tombol daya. Tak lama kemudian layar menyala. Jemarinya mulai bergerak di atas papan ketik. Tak terdengar suara selain ketukan tuts yang berirama cepat.
Seorang guru yang sedang menyusun berkas tanpa sadar melirik. "Lho..."
Guru lain ikut menoleh. "Bu Kinan ngetiknya cepat sekali."
Tak sampai lima belas menit, format pertama selesai. Kinan berpindah ke lembar berikutnya tanpa banyak berpikir. Rumus-rumus sederhana di lembar kerja langsung tersusun. Kolom-kolom yang semula kosong terisi rapi.
Guru di sebelahnya menggeleng pelan. "Saya biasanya mengerjakan satu lembar hampir satu jam."
Kinan berhenti mengetik. "Oh..." Ia baru menyadari semua orang sedang memperhatikannya. "Maaf."
"Maaf kenapa?" tanya guru itu sambil tertawa kecil.
"Saya kira... saya terlalu berisik."
Beberapa guru ikut tertawa. "Bukan. Kami cuma kaget. Kirain Bu Kinan belum terbiasa pakai komputer."
Kinan menutup laptop setelah pekerjaan selesai.
"Dulu pernah belajar sedikit." Jawaban itu sederhana. Tidak ada yang tahu bahwa "sedikit" menurut Kinan berarti terbiasa mengelola laporan, data, dan berbagai dokumen dalam skala yang jauh lebih rumit daripada administrasi sekolah.
Kinan baru saja memasukkan laptop ke dalam tas ketika Kepala Sekolah menghampirinya.
"Bu Kinan."
Kinan segera berdiri. "Iya, Bu?"
Kepala Sekolah tersenyum sambil menyerahkan sebuah kantong plastik bening. "Ini untuk Ibu."
Kinan menerimanya. "Apa ini?"
"Kaos olahraga guru."
Kinan membuka sedikit isi kantong itu. Sebuah kaos berwarna biru muda dengan logo sekolah terlipat rapi di dalamnya.
"Besok hari Jumat. Jadwalnya senam dan kegiatan olahraga bersama anak-anak."
Kinan mengangguk pelan. "Terima kasih, Bu."
"Kebetulan masih ada ukuran yang pas. Jadi besok Ibu sudah bisa ikut memakai seragam yang sama dengan guru-guru lain."
Kinan mengusap permukaan kantong plastik itu sebentar. "Baik. Besok akan saya pakai."
Kepala Sekolah tersenyum puas. "Kalau begitu, hati-hati di jalan."
"Iya, Bu."
Kinan memasukkan kantong berisi kaos itu ke dalam tasnya, lalu berpamitan kepada guru-guru yang masih berada di ruang guru sebelum melangkah keluar menuju halaman sekolah.
Matahari bersinar terik ketika Kinan meninggalkan sekolah. Beberapa guru sempat melambaikan tangan. "Hati-hati di jalan, Bu Kinan."
"Iya."
Jalan setapak menuju kontrakan mulai sepi.
Di sisi kiri, hamparan kebun membentang hingga ke ujung desa.
Saat melewati tikungan, empat pria berdiri di bawah pohon mahoni. Asap rokok mengepul di antara mereka.
Salah seorang menoleh. "Wah... Bu Guru."
Yang lain ikut menoleh. "Sendirian?"
Kinan tetap berjalan. Langkahnya tidak berubah.
"Jangan galak begitu, Bu." Salah satu dari mereka berpindah hingga menutup sebagian jalan.
"Kami cuma mau kenalan."
"Aku tidak mau." Jawaban Kinan datar. Ia mencoba melewati sisi kanan.
Pria itu justru menggeser tubuhnya lagi. "Sebentar saja."
Kinan mengangkat pandangan. "Menyingkir dariku."
Mereka tertawa. "Kalau tidak?"
Belum sempat kalimatnya selesai...Pria itu tiba-tiba terhuyung dua langkah ke belakang.
Ia bahkan tidak sadar kapan pergelangan tangannya diputar.
"Akh!" Tubuhnya jatuh berlutut. Tiga pria lain tertegun.
Kinan masih berdiri di tempat semula. Ekspresinya tidak berubah. "Aku sudah bilang."
Suaranya tetap tenang. "Minggir."
Dua pria maju bersamaan. Gerakan Kinan nyaris tak terlihat. Satu pukulan pendek menghantam ulu hati. Satu lagi tendangan rendah menyapu lutut. Keduanya langsung jatuh.
Pria terakhir mundur selangkah. Tatapannya berubah. "Perempuan ini..."
Kinan merapikan tas di bahunya. "Masih ada yang mau mencoba?"
Tidak ada yang bergerak. Ia kembali melanjutkan langkah seolah tidak terjadi apa-apa.
Baru setelah sosoknya menghilang di ujung jalan, salah seorang pria mengusap sudut bibirnya yang berdarah. "Sial..."
Pria yang sejak tadi hanya mengamati dari atas motor menyalakan mesin. "Aku sudah bilang, jangan remehkan dia."
"Terus sekarang?"
Pria itu mengeluarkan ponsel. "Kasih tahu Pak Roni."
"Bilang... Bu Guru baru itu bukan perempuan biasa."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kinan sampai di rumah kontrakan. Begitu melangkah ke teras, aroma masakan langsung menyambutnya.
Pintu depan terbuka. Darwin menoleh dari arah dapur. "Kau pulang."
Kinan mengangguk sambil meletakkan tasnya.
"Maaf. Hari ini agak kesiangan."
"Tidak apa-apa." Darwin menggeser sebuah kursi. "Aku juga baru selesai."
Kinan melirik meja makan. Di atasnya sudah tersaji semangkuk sayur bening, tempe goreng, dan ayam bumbu kuning. "Kau memasak?"
Darwin menggeleng sambil tersenyum kecil.
"Aku belum seberani itu. Sayur dan lauknya beli di warung."
"Lalu nasi?"
Darwin menunjuk ke arah dapur. "Itu hasil percobaan pertamaku."
Kinan membuka tutup rice cooker. Uap hangat langsung mengepul. Bulir-bulir nasi tampak matang dengan baik. Ia menoleh ke arah Darwin.
"Ini berhasil."
Darwin mengembuskan napas lega. "Pak Darto yang mengajariku mengukur air."
Kinan menutup kembali rice cooker. "Terima kasih sudah menyiapkannya."
Darwin mengangkat bahu ringan. "Kebetulan aku pulang lebih dulu."
Kinan mengambil dua piring dari rak. "Kalau begitu... kita makan."
Darwin mengangguk. "Ya."
Sesendok nasi masih mengepul hangat. Sederhana, tetapi cukup membuat sudut bibirnya terangkat tipis.
Dulu, hidupnya berjalan dengan jadwal yang diatur sampai hitungan menit. Pagi dimulai dengan rapat, siang berpindah dari satu ruang pertemuan ke ruang lain, malam diakhiri dengan laporan yang menumpuk di atas meja direktur utama.
Di rumah, semua kebutuhan telah tersedia sebelum sempat ia memintanya.
Ia tak pernah memikirkan bagaimana beras dicuci atau bagaimana nasi menjadi matang. Hari ini, keberhasilannya menanak sepanci nasi justru memberi kepuasan yang aneh.
Sesaat bayangan masa lalu kembali melintas.
Gedung kantor pusat. Ruang kerja di lantai paling atas. Kursi CEO yang ditinggalkannya tanpa sepatah kata.
Keputusan itu bukan karena ia menyerah, melainkan untuk menghindari pertikaian yang semakin dalam di keluarganya.
Ayahnya, Tuan Damar, tetap bersikeras bahwa kursi itu adalah tanggung jawab Darwin.
Sementara ibunya, Nyonya Hesty, berkali-kali meyakinkan bahwa Delon lebih layak memimpin perusahaan induk. Prestasi adiknya memimpin perusahaan cabang di kota lain dijadikan alasan yang terus diulang.
Perbedaan itu perlahan berubah menjadi perebutan pengaruh. Darwin memilih pergi sebelum keluarganya hancur oleh ambisi.
Ia mengembuskan napas pelan lalu menyendok nasi ke piring Kinan. "Aku rasa nasinya tidak terlalu keras."
Kinan mencicipinya. "Lumayan."
"Hanya lumayan?"
Kinan menatapnya sebentar, lalu menyendok lagi.
"Untuk percobaan pertama... ini enak."
Darwin tertawa kecil. Entah mengapa, pujian sederhana itu terasa lebih melegakan daripada tepuk tangan yang dulu sering ia terima di ruang rapat.
Darwin baru saja mengambil lauk ketika pandangannya berhenti di tangan kanan Kinan.
"Tanganmu kenapa?"
Kinan ikut menunduk. Buku-buku jarinya tampak memerah.
Darwin mengerutkan kening. "Itu..." Ia mengangkat pandangan. "...seperti habis memukul sesuatu."