NovelToon NovelToon
Ketika Rekor Bertemu Rindu

Ketika Rekor Bertemu Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:147
Nilai: 5
Nama Author: Ella

Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.

Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.

Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.

"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"

Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Kenzo tertawa lepas, sebuah tawa renyah yang jarang sekali didengar oleh anggota timnya. Ucapan spontan Rindu barusan benar-benar telak menghantam sisi hatinya yang paling dalam, sekaligus memancing sisi usilnya untuk keluar.

"Berarti... udah siap nih mengganti posisi sang ratu drama?" goda Kenzo.

Ia menghentikan tawa kecilnya, lalu perlahan memiringkan tubuhnya menghadap Rindu. Kenzo menatap lekat wajah Rindu, mengunci pandangan gadis itu dengan sepasang mata elangnya yang kini meredup hangat, penuh dengan keseriusan yang intens. Jarak di antara mereka mendadak terkikis, menyisakan deru napas yang berkejaran dengan aroma kaporit kolam renang.

Dipandang se-lekat itu dengan pertanyaan yang begitu frontal, pertahanan Rindu langsung runtuh. Pipinya merona merah matang dalam sekejap. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai rasanya mau melompat keluar dari dada.

"K-Kakak ngomong apa sih?!" seru Rindu gugup, suaranya sedikit meninggi karena salah tingkah setengah mati.

Ia buru-buru mengangkat papan klip di tangannya tinggi-tinggi, menggunakannya untuk menutupi seluruh wajahnya dari tatapan mematikan Kenzo. Rindu benar-benar tidak menyangka kalau pelatihnya ini bisa melakukan serangan balik se-agresif ini di depan umum.

Dari tengah kolam, Gani yang rupanya sejak tadi memasang telinga lebar-lebar langsung heboh sendiri. "WADUH! Ada yang mulai go public nih! Tolong ya yang di pinggir kolam, hargai kami para jomlo yang lagi megap-megap kehabisan napas karena latihan!"

Kenzo sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari papan klip yang menyembunyikan wajah Rindu. Ia hanya terkekeh pelan, merasa sangat puas karena berhasil membuat Ratu Lintasan yang biasanya galak menjadi salah tingkah tak berdaya.

"Kakak cuma nanya, Rin. Gak usah sembunyi gitu mukanya, nanti catatannya kusut," bisik Kenzo dengan nada menggoda, tangan kokohnya perlahan menyentuh ujung papan klip Rindu, berniat menurunkannya perlahan untuk melihat kembali wajah merona gadis itu.

Rindu langsung menarik kembali papan klipnya dengan sentakan kecil, menurunkan pembatas itu hanya sebatas hidungnya agar ia bisa mendelik sebal ke arah Kenzo. Pipinya masih terasa panas, tapi gengsinya sebagai Ratu Lintasan mendadak bangkit kembali.

"Kakak juga tanyanya aneh-aneh!" omel Rindu, mencoba terdengar ketus meski suaranya yang sedikit bergetar justru mengkhianati rasa gugupnya.

Kenzo tidak mundur selangkah pun. Ia malah melipat tangan di dada, menunduk sedikit demi menyejajarkan tinggi badannya dengan Rindu. Senyum tipisnya yang penuh percaya diri kembali terkembang.

"Lah, kamu sendiri yang tadi menawarkan diri. Kalau emang siap, ya ayo kita sama-sama di satu lintasan," balas Kenzo santai, mengulang kalimat

Rindu dengan nada yang terdengar jauh lebih serius dan menuntut kejelasan. Rindu mengerjapkan mata, merasa terpojok oleh ucapan spontannya sendiri beberapa detik lalu. Kesal karena merasa dipermainkan di depan anak-anak tim utama, ia langsung cemberut dan memalingkan mukanya.

"Dikira Rin ban serep apa?!" semprot Rindu ketus, merujuk pada istilah "menggantikan posisi" yang diucapkan Kenzo tadi. "Habis putus dari si ratu drama, terus Rin dijadiin pelarian gitu? Gak ya, Kak! Rin ini mahal!"

Mendengar protes keras dari mulut Rindu, tawa Kenzo langsung lenyap, digantikan oleh binar mata yang mendadak melunak dan teduh. Ia menyadari bahwa candaannya mungkin terdengar salah di telinga gadis itu.

Kenzo mengulurkan tangannya, dengan sangat lembut ia menyentuh ujung papan klip Rindu dan menurunkannya sampai sejajar dengan dada, memaksa Rindu untuk kembali menatap matanya.

"Siapa yang bilang kamu pelarian, Rin?" tanya Kenzo rendah, suaranya kini terdengar begitu dalam dan tulus, bebas dari nada bercanda yang tadi. "Bagi kakak, kamu itu gak pernah ada di posisi cadangan. Kamu itu... garis finish-nya."

Deg.

Rindu bungkam seketika. Kata-kata Kenzo barusan sukses mengunci lidahnya rapat-rapat, membuat jantungnya berdegup dua kali lipat lebih gila dari sebelumnya. Sementara di dalam kolam, Gani dan Doni yang sempat mendengar sayup-sayup kalimat sang kapten langsung saling berpegangan pundak, pura-pura pingsan karena tak kuat menahan serangan romantis dadakan itu.

Byurrr!

Gani sengaja mengepakkan tangannya ke permukaan air, menciptakan cipratan besar yang sukses memecah atmosfer magis yang baru saja tercipta di antara Kenzo dan Rindu.

"Hei Ken! Mau dilanjut gak nih latihannya?!" teriak Gani dari tengah kolam sambil berkacak pinggang di dalam air. "Malah asyik pacaran di atas sana! Dingin tau di sini! Lu mah kalau dingin tinggal peluk ratu lu!"

"Ho-oh, Capt! Mentang-mentang nemu penghangat alami, kita yang di dalam air dikacangin!" sahut Doni ikut-ikutan memanaskan suasana, disusul sorakan heboh dari seluruh anggota tim utama yang kini kompak menertawakan kapten mereka.

Kalimat "tinggal peluk ratu lu" sukses membuat wajah Rindu yang tadinya sudah merah, kini benar-benar terasa seperti mau meledak. Ia langsung melangkah mundur dua langkah, menjauh dari Kenzo sambil memeluk papan klip erat-erat di dadanya, bingung harus menyembunyikan wajahnya ke mana lagi.

Kenzo mendengus pelan, namun sebuah senyuman tak bisa disembunyikan dari wajah tampannya. Ia berbalik perlahan menghadap ke arah kolam, menatap tajam belasan cowok yang sedang cengengesesan di dalam air.

"Gani, Doni, karena kalian berdua tampaknya punya banyak energi buat ngomong..." Kenzo menggantung kalimatnya sengaja, lalu berjalan santai mengambil peluitnya kembali.

Priiiitttt!

"Masuk lintasan masing-masing! 4 X meter gaya ganti, full speed! Gak ada istirahat di setiap lap! Kalau waktu kalian turun dari yang dicatat Asisten Rindu tadi, kalian berdua tambah 1000 meter gaya bebas setelah ini!" ancam Kenzo telak dengan volume suara yang menggelegar di seluruh area kolam.

"YAAAHHH! Imbas bucin kapten, kita yang kena!" keluh Gani dramatis sambil langsung memakai kacamata renangnya dengan buru-buru sebelum diamuk lebih parah.

Kenzo melirik Rindu dari sudut matanya, melihat gadis itu diam-diam menahan tawa di balik kepanikannya. "Puas?" bisik Kenzo jenaka pada Rindu, sebelum kembali fokus memosisikan diri sebagai pelatih tegas di tepi lintasan.

Rindu mendengus kesal, bibirnya mengerucut sempurna mendengarkan gumaman jenaka Kenzo. "Puas apanya? Kakak tuh yang bikin heboh satu kolam!" bisik Rindu setengah menyemprot, matanya melotot tajam meski sama sekali tidak terlihat menakutkan karena pipinya masih merona merah.

Melihat reaksi defensif Rindu, Kenzo justru menahan senyum. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, menurunkan sedikit intonasi suaranya agar tidak bocor sampai ke tengah kolam.

"Kakak serius, Rin," ucap Kenzo teramat pelan. Sorot mata elangnya yang beberapa detik lalu mengintimidasi seisi kolam, kini melunak total khusus untuk gadis di hadapannya. Tidak ada sisa candaan di sana; Kenzo benar-benar mengunci tatapan Rindu, menegaskan bahwa kalimatnya tentang 'garis finish' tadi bukanlah sekadar bualan untuk membalas godaan Gani.

Jantung Rindu melewatkan satu detakan lagi. Merasa atmosfer di antara mereka kembali menjadi terlalu intens dan berbahaya bagi kesehatan jantungnya, Rindu buru-buru memalingkan wajah ke arah papan klip.

"Fokus melatih, Kak!" potong Rindu cepat, mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk ke arah lintasan dengan pulpennya. "Tuh, anak-anak udah pada siap di balok tumpuan. Jangan sampai catatan waktu mereka berantakan gara-gara pelatihnya malah gagal fokus."

Kenzo terkekeh rendah, akhirnya mengalah menghadapi mode defensif sang Ratu Lintasan. "Oke, oke. Fokus," sahut Kenzo mantap.

Ia menegakkan tubuh tegapnya, berbalik penuh menghadap kolam, dan dalam hitungan detik, pesona karismatik seorang kapten tim nasional kembali mengambil alih. Sambil mengangkat stopwatch-nya tinggi-tinggi, Kenzo bersiap memberikan aba-aba, meninggalkan Rindu di sampingnya yang diam-diam mengembuskan napas lega sambil mencoba menenangkan debaran dadanya yang masih bertalu-talu.

Di tengah riuh gema suara peluit dan cipratan air dari anak-anak tim utama, langkah kaki yang beritme konstan terdengar menggema dari arah pintu masuk area kolam renang indoor.

"Bagaimana persiapannya, Kenzo?"

Suara berat dan berwibawa itu seketika memecah fokus Kenzo. Saat menoleh, tampak Pak Dekan yang mengenakan kemeja formal rapi sedang berjalan mendekat, didampingi oleh salah satu staf kemahasiswaan. Kehadiran orang nomor satu di fakultas itu langsung membuat atmosfer di sekitar kolam berubah menjadi lebih formal.

Kenzo dengan sigap menurunkan peluitnya, lalu menegakkan tubuh memberi penghormatan.

"Selamat pagi, Pak. Persiapan sejauh ini berjalan sesuai jadwal. Anak-anak sedang melakukan simulasi estafet 4 X 100 meter gaya ganti untuk memantapkan waktu take-over lintasan."

Pak Dekan mengangguk-angguk puas, pandangannya beralih meneliti para atlet yang sedang berjuang di dalam air, sebelum akhirnya matanya tertuju pada sosok Rindu yang berdiri di sebelah Kenzo sambil memeluk papan klip.

"Oh, Rindu? Kamu ikut membantu tim utama juga?" tanya Pak Dekan dengan senyum ramah yang mengembang. Beliau tentu mengenal Rindu, sang Ratu Lintasan yang baru saja menang pada kejuaraan renang tahun ini.

Rindu yang sempat terkejut langsung membungkuk hormat dengan sopan. "Selamat pagi, Pak. Iya, kebetulan hari ini Rindu sedang membantu Kak Kenzo mencatat interval waktu pemanasan dan memantau kedisiplinan tim."

"Bagus, bagus sekali!" Pak Dekan menepuk bahu Kenzo dengan bangga. "Dua minggu lagi Rektor Cup dimulai. Fakultas kita punya target besar tahun ini, terutama di cabang renang. Dengan kombinasi kapten terbaik seperti kamu, Kenzo, dan dukungan dari atlet top seperti Rindu, saya yakin piala bergilir itu tidak akan jatuh ke tangan fakultas lain."

"Kami akan melakukan yang terbaik untuk membawa pulang trofi juara umum, Pak," jawab Kenzo mantap, memancarkan aura keyakinan seorang pemimpin.

"Saya pegang janji kamu, Ken. Lanjutkan latihannya. Kalau ada kendala fasilitas atau dispensasi kuliah untuk anak-anak, segera lapor ke ruangan saya," ujar Pak Dekan memberikan suntikan semangat penuh.

“Rindu ikut juga kan dalam tim atau untuk individu saja di rektor cup nanti?” Tanya pak Dekan.

Rindu yang mendengar ucapan Pak Dekan seketika tersenyum canggung, lalu buru-buru menyela dengan nada yang sangat sopan untuk meluruskan kesalahpahaman tersebut.

"Maaf, Pak Dekan... Rindu sebenarnya masih SMA kelas XI," ujar Rindu sambil membungkuk kecil, merasa agak sungkan karena dikira sudah menjadi mahasiswi di kampus bergengsi ini.

Pak Dekan langsung menepuk dahinya pelan, ekspresi wajahnya berubah terkejut namun sedetik kemudian tertawa renyah. "Oh? Oo, ternyata kamu masih SMA? Saya pikir kamu satu jurusan yang sama dengan Kenzo di fakultas ini, habisnya kelihatan akrab sekali dan pembawaan kamu sudah seperti mahasiswi."

Kenzo yang berdiri di samping Rindu ikut tersenyum tipis, lalu membantu menjelaskan. "Benar, Pak. Rindu ini atlet muda potensial dari SMA mitra kampus kita. Makanya saya tarik ke sini sebagai atlet privat binaan, biar adaptasi dengan atmosfer kolam universitas sejak dini."

"Luar biasa, pilihan yang cerdas, Kenzo," puji Pak Dekan sambil mengangguk-angguk kagum, menatap Rindu dengan pandangan yang jauh lebih apresiatif. "Kalau begitu, setelah lulus nanti, kamu harus masuk ke fakultas kami ya, Rindu. Kami butuh bibit unggul seperti kamu untuk regenerasi tim."

"Iya, Pak, amin. Mohon bimbingannya," jawab Rindu sopan, diam-diam melirik Kenzo dari sudut matanya.

"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu. Kenzo, jaga baik-baik aset masa depan kita ini," kelakar Pak Dekan memberikan lambaian tangan hangat sebelum akhirnya benar-benar melangkah pergi meninggalkan area kolam.

Begitu pintu indoor tertutup rapat, Kenzo langsung menoleh ke arah Rindu, menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan menggoda. "Tuh, denger kan? Belum juga lulus SMA, kamu udah di-tagging sama Pak Dekan buat masuk sini. Gimana? Makin gak bisa lepas dari kakak, kan?"

Rindu langsung mencebikkan bibirnya, menatap Kenzo dengan duga penuh selidik meski rona merah di pipinya belum sepenuhnya hilang.

"Kakak bukannya mau lulus? Sementara Rin dua tahun lagi baru jadi mahasiswa," ujar Rindu mengingatkan, mencoba bersikap realistis walau hatinya sendiri sudah dag-dig-dug tak karuan.

"Nanti kalau Kakak udah lulus dan sibuk di luar sana, mana ada waktu lagi buat ngurusin anak SMA kayak Rin."

Kenzo tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah satu tapak lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Rindu bisa mencium samar aroma kaporit dan kesegaran air kolam dari tubuh cowok itu.

"Tapi kalau kamu terima kakak sebagai pacar kamu..." Kenzo menggantung kalimatnya sengaja, menunduk sedikit agar matanya bisa mengunci pandangan Rindu sepenuhnya. Suara baritonnya melembut, namun terdengar sangat tegas tanpa ada keraguan. "...kakak akan terus dampingi kamu. Mau dua tahun lagi, atau sampai kapan pun."

Deg.

Dunia Rindu rasanya berhenti berputar selama beberapa detik. Kata "pacar" yang keluar begitu santai namun sarat akan keseriusan dari bibir Kenzo sukses membuat otaknya mendadak blank.

Dari dalam kolam, Gani yang rupanya sedari tadi menahan napas demi menguping pembicaraan mereka langsung heboh lagi. Ia memukul permukaan air sampai terciprat ke mana-mana.

"WADUH! Ditembak langsung di tepi kolam, Cuy! Terima, Rin! Terima! Biar Capt kita gak galak lagi pas latihan!" teriak Gani heboh, yang langsung disoraki setuju oleh anggota tim utama lainnya.

"GANI! MASUK AIR SEKARANG ATAU GUE JEMUR DUA JAM!" bentak Kenzo tanpa menoleh ke kolam, matanya masih setia menatap lekat wajah Rindu yang kini sudah semerah kepiting rebus.

Sambil menahan senyum kegelian melihat kepanikan Rindu, Kenzo kembali berbisik, "Gimana, Ratu Lintasan? Tawaran kakak menarik, kan? Jadi asisten pelatih seumur hidup kakak, mau?"

Di tengah riuh sorakan anak-anak tim utama yang masih menanti jawaban Rindu dengan antusias, suasana hangat di tepi kolam itu seketika runtuh total. Pintu masuk indoor terbuka dengan kasar, memunculkan sosok perempuan yang tampak berantakan dan napasnya tersengal-sengal.

Itu Tria.

Tanpa memedulikan belasan pasang mata atlet yang menatapnya dengan pandangan sinis dan bingung, Tria berlari setengah menyeret langkahnya ke arah tribun mini, lalu langsung merosot dan berlutut di lantai, tepat di depan kaki Rindu.

"Rindu... Rin, aku mohon, cabut tuntutan kamu!" tangis Tria pecah seketika, suaranya melengking pilu memenuhi seisi area kolam yang mendadak hening mencekam.

Kedua tangan Tria gemetar hebat saat mencoba meraih ujung celana training Rindu. Wajahnya yang biasa dipenuhi riasan tebal kini tampak pucat, sembap, dan dipenuhi gurat keputusasaan yang mendalam akibat ancaman hukum dari laporan pencemaran nama baik yang dilayangkan pihak Rindu kemarin.

"Aku minta maaf, Rin! Aku khilaf, aku cuma cemburu sama kamu! Tolong kasihanin aku, kalau tuntutan ini gak dicabut, aku bisa dikeluarkan dari kampus dan masa depanku hancur! Aku mohon, Rin, cabut tuntutannya..." ratap Tria histeris sambil terus menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan kaki gadis SMA itu.

Rindu tersentak hebat, refleks melangkah mundur satu tapak karena terkejut sekaligus syok melihat mantan kekasih Kenzo yang kemarin begitu angkuh, kini bersimpuh tak berdaya di hadapannya. Papan klip di pelukannya bahkan hampir terlepas kalau ia tidak segera mencengkeramnya kuat-kuat.

Melihat drama memuakkan itu kembali hadir di depan matanya, aura Kenzo langsung berubah drastis. Senyum jenaka dan tatapan hangatnya untuk Rindu menguap tanpa sisa, digantikan oleh ekspresi dingin yang luar biasa menyeramkan.

Kenzo langsung menggeser tubuh tegapnya, berdiri kokoh di depan Rindu seolah menjadi perisai hidup untuk melindungi gadis itu dari Tria.

"Tria, bangun. Jaga harga diri lo!" bentak Kenzo dengan suara baritonnya yang rendah namun penuh penekanan, sanggup membuat Gani dan anak-anak di dalam kolam otomatis merinding ketakutan. "Tempat ini bukan panggung drama lo lagi. Pergi dari sini sekarang!"

—bersambung—

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!