Namaku Arsyila Nadira
Keluarga ku masih utuh Namun retak.
Di rumah ini aku punya dua nama,
"beban keluarga"saat piring pecah karena Ayah melemparnya ke Ibu.
Dan "tidak ada"saat mereka berdua lupa, aku masih duduk di meja makan saat mereka bertengkar.
Ibuku yang punya banyak hutang membuat amarah ayah melonjak setiap hari.
Aku terpaksa terjun sebagai 'wanita malam '
untuk merubah ekonomi keluarga ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Matahari sudah mulai masuk ke celah-celah jendela kos.Namun Arsyila dan Melly belum juga terbangun dari tidurnya.Tak peduli dengan pekerjaan nya sebagai apoteker yang harus disiplin, Arsyila seperti nya malas beranjak ke kantor hari ini.
"Syil bangun ! Bukannya kamu harus ke tempat kerja?"Melly membangunkan Arsyila.
"emmm... Aku malas sekali.Mel,"jawab Arsyila sambil menguap.
"yasudah sana pulang ! Nanti Ayah dan ibu nyariin,"ujar Melly yang sedang bermain ponsel.
Arsyila berat sekali ia membuka matanya,ia tidak siap menerima Omelan dari Ayahnya.Arsyila memutuskan pulang walaupun langkah kaki nya terasa berat.
"aku pulang sendiri deh naik ojek online,"ujar Arsyila dengan nada lemas.
"ingat,kalau kamu merasa tertekan.Kamu harus melawan !"perintah Melly.
"iya Mel,"jawab Arsyila sambil mengambil baju seragam miliknya.
Arsyila pulang memakai baju Melly,karena ia hanya membawa baju seragam kerjanya kemarin.Namun kali ini Arsyila berani berpakaian terbuka,memakai celana panjang Melly dan baju crop top nya.Memang badan mereka sama-sama langsing,jadi baju Melly pun pas di badan Arsyila.
Arsyila yang pulang membawa uang banyak.Ia merasa lega karena tidak pusing lagi jika ia butuh sesuatu,tidak harus menunggu gajian.Gajian kerjanya juga selalu Ayah nya yang pegang.
...
Di tempat kerja...
Rizki dan putri menanti kedatangan Arsyila yang tak kunjung tiba.Bos mereka menanyakan kenapa Arsyila tidak masuk hari ini.
"kamu tau nggak Riz.Kenapa Arsyila hari ini tidak masuk ?"Tanya bos kepada Rizki.
"enggak tau bos... Memangnya tidak mengabari bos sama sekali,"Tanya balik Rizki.
Bos hanya menggelengkan kepala,Arsyila tidak meminta izin pada bos sama sekali.Bos pun menelfon Arsyila.
Tut... Tut... Tut... Hanya berdering namun tidak di jawab oleh Arsyila.
Posisi Arsyila sedang dalam perjalanan naik ojek online, handphone nya sengaja ia silent supaya tidak menganggu nya selama perjalanan.
"tidak di jawab Riz... Besok kalau Arsyila tidak datang lagi.Kamu harus ke rumah memastikan keadaan nya,"perintah Bos pada Rizki.
...
Detak jantung Arsyila sudah semakin kencang,entah apa kata-kata yang akan keluar dari mulut Ayah atau ibunya.Atau mungkin sesuatu benda yang akan melayang ke kepala Arsyila.
"huhhh,"Arsyila menarik napas pelan.
Ia sudah tidak heran lagi,amarah dari Ayahnya adalah makanan keseharian nya yang sekarang membuatnya seakan tidak peduli lagi.
"makasih Ya bang,"ucap Arsyila pada pengemudi ojek online sembari menyerahkan sejumlah uang.
Ayah Arsyila rupanya telah menunggu di depan rumah,dengan wajah yang sadis.Siap melontarkan kata-kata amarah pada Arsyila.
"oh jadi sekarang kamu bandel ! Darimana kamu semalam?" Ucap Ayahnya sembari melotot.
Arsyila hanya diam dan cuek,tidak menjawab perkataan Ayahnya.Langsung saja masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan Ayahnya yang sedang marah.
"Asih ! Lihat anakmu yang sudah mulai melawan sama Ayahnya,"Teriak Ayah Arsyila.
"makanya kamu itu jangan marah-marah terus.Dia jadi tertekan,"jawab ibu Arsyila dengan nada santai.
Arsyila masuk ke kamar,mengunci pintu.Tidak peduli ocehan Ayah dan ibunya.Yang terpenting sekarang dia punya pegangan Uang jadi,Ayahnya tidak bisa semena-mena terhadapnya.
"tau gini aku gak usah kerja jadi apoteker,aku kerja malam tiap hari saja,"gumam Arsyila yang sedang menyimpan uang nya dalam lemari.
Arsyila mulai nyaman dengan dunia luar nya sekarang.Yang ada di fikiran nya adalah keluar dari rumah yang seperti penjara itu.Kedua orang tua nya juga sudah tidak peduli padanya.Yang orang tuanya fikirkan hanyalah ego nya masing-masing.
Arsyila duduk sebentar di atas kasur,membuka ponselnya lalu mendapati Bos nya menelfon berkali-kali.
"aduh gawat ini,kalau aku tidak memberi alasan pasti bos akan marah besar,"gumam Arsyila.
Kemudian Arsyila memberikan pesan singkat pada Bos nya.
"maaf bos,saya sedang sakit... Tidak sempat mengabari bos,"Pesan singkat Arsyila kepada Bos nya.
...
Di siang yang masih terlalu terik.Sinar matahari masuk ke celah-celah dinding kamar Arsyila.Siang itu sangat terik,kipas dikamar Arsyila pun tidak mempan.Arsyila membuka jendela nya agar angin dapat berhembus ke kamarnya.Ia menatap lumayan lama suasana di luar rumah nya lewat jendela kamarnya.
Baru saja ia rebahan sebentar sambil memainkan ponselnya,suara ribut-ribut terdengar dari kamarnya.
Ketukan pintu terdengar berat. Bukan ketukan ramah dari seorang tetangga, melainkan ketukan tegas penuh tanda tanya. Di depan pintu berdiri dua orang asing berwajah kaku, membawa dokumen dari bank yang sedang mencaci maki ibu.
"Bayar hutang hutang mu Sekarang ! kamu janji dalam sebulan akan melunasi nya,"Teriak pria paruh baya yang terdengar samar.
"duh... Ada apa lagi sih,"Arsyila kemudian beranjak dan segera keluar.
Ia mendapati ibunya yang sedang berdiri kebingungan di depan pintu menghadapi dua orang penagih hutang dari bank.Siang itu... Ayah sudah berangkat kerja jadi buruh di pasar.
"Syil tolong ibu nak !" Tatapan ibunya berkaca-kaca.
Arsyila menyuruh kedua orang penagih bank untuk masuk ke dalam rumah,karena teriakan mereka membuat para tetangga merasa ingin tahu apa yang sedang terjadi.
Salah satu penagih bank melemparkan selembar kertas penagihan dengan kasar di atas meja.Surat itu tergeletak di atas meja, tersegel rapi dengan logo bank yang tercetak dingin di sudut amplop. Namun, rentetan angka di dalamnya terasa seperti duri yang menghujam dada. Pagi itu, pegawai berdasi datang dengan senyum paling ramah, membawa ancaman paling menakutkan yang pernah ada di dunia—penyitaan.
Arsyila dilanda kebingungan,baru saja ia menarik nafas panjang karena punya simpanan uang yang ia dapat semalam dari hasil menjadi pemandu lagu.Ia sudah menghadapi selembar surat tagihan yang membuatnya merasa iba kepada ibunya.Kalau tidak di bayar,rumahnya yang jadi jaminan.
"memangnya kamu punya uang sebanyak ini... Syil,"ibunya menatap penuh harapan.
Arsyila tak langsung menjawab,ia masuk ke kamar mengambil sesuatu.Sambil meratapi uang hasil keringat nya akan melayang dengan sia-sia.
Ia pun membawa amplop coklat berisikan uang dan melemparkan nya ke depan dua orang penagih hutang itu.Seketika nada bicara Mereka jadi hangat dan ramah.
"nah begini dong bu.kan enak jadinya... Saya gak perlu teriak-teriak dari tadi,"ujar salah satu orang penagih bank itu.
Ibunya yang dari kemarin cuek pada Arsyila,kini menjadi hangat dan perhatian.Ia memanfaatkan kan keadaan.Tiba-tiba memeluk hangat Arsyila,Arsyila bingung harus merespon seperti apa.Pelukan yang sudah lama ia rindukan,entah ini pelukan dari hati atau sekedar pelukan palsu.
Ibu mempersiapkan makan siang Arsyila,memanggilnya dengan lembut.
"Syil... makan siang dulu ! Pasti kamu belum makan,"Ucap lembut ibunya pada Arsyila.
"iya Bu sebentar,"jawabnya pelan.
Di meja makan,ibunya menemani Arsyila makan,Arsyila yang merasa canggung karena dia merasa tidak di pedulikan akhir-akhir ini.Gara-gara Arsyila mampu melunasi salah satu hutang ibu,Ibu jadi berubah drastis.Entah ia tiba-tiba menjadi sayang atau hanya sekedar mengharapkan uang dari Arsyila.
"Dapat uang sebanyak itu darimana kamu syil ?"Tanya ibunya pelan.
"kerja sampingan... Bu,"jawabnya sambil mengunyah makanan.
"maafin ibu yang akhir-akhir ini cuek padamu ya Syil.Ibu terlalu banyak fikiran,"ucap ibunya dengan wajah memelas.
Arsyila tetap menjawab dengan cuek,baginya menolong orang tua adalah kewajiban nya sebagai anak tunggal.Tapi, perubahan sikap ibunya yang secara tiba-tiba membuatnya sedikit trauma dengan bentakan-bentakan yang ia dapat akhir-akhir ini.