Shana percaya bahwa diam saat melihat ketidakadilan adalah sebuah kesalahan.
Itulah yang membuat Shana berani menegur pria asing yang sedang memarahi seorang nenek.
Namun, ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia salah paham dengan pria itu.
Beberapa hari kemudian pria itu muncul kembali di kehidupan Shana, sebagai CEO baru di kantornya.
Perlahan kehidupan Shana yang penuh dengan ketenangan, berubah menjadi rumit, panik, rasa malu, dan penuh dengan kejutan yang tak terduga.
Ditengah hubungan bos dan karyawan yang rumit. Keduanya mulai menyadari bahwa terkadang cinta datang dari sebuah kesalahpahaman.
Selamat membaca❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Yang Mulai Terlihat
Shana sedang fokus bekerja ketika seseorang mengetuk mejanya.
Ia mengangkat kepala.
"Siang."
Arka tersenyum ramah. Shana membalas senyum itu.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Ada."
"Apa?"
"Makan siang."
Shana berkedip.
"Makan siang?"
"Iya." Arka mengangguk.
"Ayo."
Shana langsung menggeleng.
"Maaf Pak, saya masih banyak pekerjaan."
"Bisa nanti."
"Tetap tidak bisa."
"Oke." Arka berpikir sejenak.
"Lalu bagaimana kalau aku mentraktirmu?"
"Tidak."
"Restoran mahal."
"Tidak."
"Dessert gratis."
"Tidak."
Apa yang semua diucapkan Arka mengingatkan Shana akan insiden yang pernah menimpanya saat makan siang bersama Evan di restoran mewah itu, yang akhirnya ia tak sengaja mencium Evan karena sebuah dessert.
Arka menghela napas panjang, sulit juga ternyata. Kemudian tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.
"Oh ya."
Shana menatap curiga.
"Apa?"
"Sebenarnya, aku cuman tidak mau makan sendirian."
Shana terdiam.
"Kasihan sekali."
"Evan sibuk sekali, ia tidak bisa menemaniku."
"Bapak bisa saja mengajak yang lain."
"Tidak ada yang ku kenal, selain kau dan Evan."
"Bukannya bapak pandai berkenalan dengan siapa pun."
Arka tersenyum mendengarnya, ucapannya itu mengingatkan dirinya saat pertama kali bertemu dengan Shana.
"Kau salah, aku tidak mudah bergaul."
"Sungguh."
"Ya..."
"Sulit dipercaya."
"Ayolah, kita makan siang bersama."
"Masih banyak yang harus saya kerjakan."
"Ini sudah jam makan siang."
"Saya tahu."
"Jadi kau harus makan."
"Saya makan nanti."
"Kalau begitu aku akan menunggu."
"Pak, ayolah, jangan buat pilihan yang sulit buat saya."
"Ini akan terlihat mudah, jika kau bilang iya."
Shana menghela napas panjang.
"Baiklah."
Sudut bibir Arka terangkat sempurna.
"Yes."
"Tapi hanya makan siang."
"Tentu." Padahal dalam hati Arka sudah menyusun rencana lain.
Ditempat lain, Evan tampak gelisah. Apakah sahabatnya itu benar-benar akan mengajak Shana pergi. Ia menatap layar ponselnya, ia mencari nama Shana, dan hendak menghubunginya.
Belum sampai itu terjadi, Arka menghubunginya.
"Kau dimana?" Tanya Evan cepat dan membuat Arka terkekeh.
"Cepat sekali kau mengangkatnya."
"Katakan."
"Aku berhasil mengajak Shana makan siang bersama."
"Berdua saja?"
"Ya."
Arka terlihat sangat santai. Sebaliknya, Evan mendadak tidak menyukai informasi itu.
"Bukannya dia sibuk."
"Tadi juga bilang begitu."
"Kau memaksanya?"
"Tidak."
"Kau mau ikut? Tanya Arka kemudian.
"Aku sibuk."
"Hei, kau juga perlu makan."
Hening, Evan terdiam tak merespon Arka.
"Ya sudah, kami pergi sekarang."
"Silakan."
"Kau bisa menyusul, itupun kalau kau tak sibuk."
"Hm."
"Oke, selamat bekerja."
Pembicaraan mereka terhenti. Evan terdiam cukup lama. Apa yang harus ia lakukan saat ini. menunggunya atau menemuinya.
Lima detik... sepuluh detik... lima belas detik...
Hatinya tak tenang, Evan akhirnya menutup laptopnya. Mengambil jas lalu berdiri.
Sebelum Evan benar-benar meninggalkan ruang kerjanya. Ia mengirim pesan ke Arka.
Kirimkan alamat kalian.
Di restoran.
Shana baru saja mengambil air ketika Arka mulai bercerita tentang masa kuliah Evan.
"Dia sangat populer saat itu."
Shana mengangguk pelan.
"Saya bisa membayangkannya."
"Percaya atau tidak, dulu ada yang sampai menunggu di depan kelas hanya untuk memberikannya coklat."
"Serius."
"Ya, serius."
Arka terkekeh.
"Dan itu belum yang paling parah."
Shana mulai tertarik.
"Lalu?"
"Ada yang sengaja mengambil mata kuliah pilihan yang sama hanya supaya bisa satu kelas dengannya."
Shana tersenyum kecil.
"Kasihan juga."
"Kasihan siapa?"
"Mereka."
"Benar juga."
"Lalu bagaimana dengan Pak Evan?"
"Apa?"
"Apakah beliau pernah menyukai seseorang?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Shana. Begitu menyadarinya, ia langsung menyesal.
Arka menatapnya beberapa detik, sebelum senyum jahil muncul di wajahnya.
"Kenapa kau bertanya?"
"Hanya penasaran."
Arka menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Setahuku tidak pernah."
Shana berkedip.
"Tidak pernah?"
"Dia terlalu sibuk belajar, bekerja, lalu bekerja lagi."
"Mustahil."
"Aku juga berpikir begitu."
Arka mengambil minumannya.
"Tapi kalau kau bertanya apakah ada wanita yang menarik perhatiannya saat ini. . . "
Shana tanpa sadar menunggu jawaban berikutnya.
"Ada."
Deg.
Entah kenapa jantungnya ikut berdebar.
"Siapa?"
Arka sengaja mengulur waktu.
"Wanita itu cantik, cerdas, dan berani..."
Shana membeku. Arka melanjutkan santai.
"Terlihat lucu, dan berhasil membuat Evan kehilangan fokus."
Shana masih berpikir. Siapa wanita yang dimaksud.
Sementara itu, tepat dibelakangnya, seseorang baru saja tiba. Evan berdiri beberapa langkah dari meja mereka. Ia mendengar kalimat terakhir Arka dengan sangat jelas.
"Aku rasa..., " Lanjut Arka sambil menahan senyum, "wanita itu sedang duduk di depanku sekarang."
Shana langsung membulatkan mata.
"Kalian sedang membicarakan apa?"
Suara lain tiba-tiba terdengar. Shana menoleh secepat kilat. Jantungnya hampir berhenti.
"Pak Evan."
Evan berdiri tenang dengan tatapan datar. Sedangkan Arka tampak sangat puas. Karena akhirnya, orang yang ditunggunya sejak tadi datang juga.
"Bapak di sini?" Shana masih terkejut sekali.
"Tidak boleh?"
"Bukan.. bukan seperti itu, saya pikir bapak sibuk."
"Ada yang bilang, saya juga perlu makan."
Arka langsung terkekeh mendengarnya.
"Dan ternyata kau benar-benar datang."
Evan menarik kursi di samping Shana tanpa meminta izin siapapun.
"Saya memang lapar."
"Tentu saja."
Shana yang berada di antara mereka, mendadak merasa situasinya menjadi aneh.
"Apa saya mengganggu?" Tanya Evan santai.
"Tidak sama sekali." Jawab Arka cepat. "Kau justru datang tepat waktu."
Evan mengangkat sebelah alis.
"Untuk apa?"
"Sebelum aku menceritakan semua rahasiamu ke Shana."
"Rahasia apa? "
"Banyak."
"Tidak ada."
Kedua pria itu menjawab bersamaan.
"Jadi?"
"Tidak ada." Ulang Evan
"Dia berbohong." Sahut Arka santai.
Evan menatap sahabatnya datar.
"Aku mulai menyesal datang."
"Terlambat."
Tak berapa lama kemudian, pelayan datang membawa menu tambahan untuk Evan. Begitu pelayan pergi, Arka kembali bersandar santai di kursi.
"Aku menceritakan tentang masa kuliahmu ke Shana."
"Apa yang kau ceritakan?"
"Tidak banyak."
"Itu jawaban yang mengkhawatirkan."
Arka tertawa.
"Aku hanya bilang kalau dulu banyak wanita yang menyukaimu."
Shana diam-diam melirik Evan. Dan Evan tampak sedikit tidak nyaman.
"Itu tidak penting."
"Dan aku bilang, bawah ada seorang wanita yang menarik perhatianmu saat ini."
Deg.
Shana yang sedang memegang gelas langsung menegang.
Sementara Evan menatap Arka dengan tatapan yang jelas-jelas menyuruhnya berhenti bicara. Sayangnya, Arka justru semakin menikmati situasi itu.
"Kau terlalu banyak bicara."
"Aku hanya mengatakan fakta."
"Versimu."
"Versi yang benar."
Shana pura-pura fokus pada gelas minumannya. Padahal telinganya masih mendengarkan.
"Kau tahu, Shana?" Kata Arka santai.
"Saya rasa, saya tidak perlu tahu."
"Oh, kau perlu tahu."
"Arka."
"Apa?"
"Diam."
"Tidak." Senyum jahilnya kembali muncul. Arka bersandar santai di kursinya.
"Sejak pertama kali aku melihat kalian, aku sudah curiga."
Evan menghela napas panjang.
"Kalau ada sesuatu."
Shana diam-diam melirik Evan, Evan pun melakukan yang sama. Dan Arka menatap itu. Ia tersenyum kembali.
"Seperti sekarang ini. Kalian bahkan saling melirik pada waktu yang sama.
Wajah Shana langsung memanas. Sedangkan Evan tampak ingin melempar sahabatnya ke luar restoran.
-My Boss, My Mistake-
dasar CEO kasmaran namun gengsi 🤭