Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pink Hot Pants
Emily terpekik kaget, kedua matanya melebar seakan hendak meloncat keluar. "Eh? Apa yang mau kau lakukan?" serunya, buru-buru meraih tangan Raphael yang sedang membuka kancing kemejanya satu per satu.
Kain putih yang penuh bercak darah itu terbuka perlahan, menyingkap dada bidang pria itu yang penuh dengan otot-otot keras, pun juga bulu tipis yang menambah postur gagah maskulinnya. Emily menelan ludah, namun buru-buru menggeleng, berusaha mengusir pikiran yang bahkan tak pantas melintas di kepalanya kini.
Raphael menoleh, senyum bengis tersungging di wajahnya. "Kau tidak menawarkanku kamar mandi untuk berganti pakaian. Jadi, aku buka di sini saja."
"Gila!" Emily mencebik, menarik napas tajam. "Kau tidak bisa seenaknya melepaskan baju berdarahmu di ruang tamu orang. Itu kotor! Aku—"
"Aku bisa," potong Raphael cepat, sama sekali tak keberatan menelanjangi dirinya di hadapan wanita itu. Sudut bibirnya terangkat sinis. "Apa yang salah? Bukankah kau sendiri yang bilang jangan kotori sofamu? Atau... kau justru takut akan tergoda jika melihatku membuka segalanya di sini?"
Tatapan Emily menusuk, rahangnya mengeras. "Maksudku ganti di kamar mandi, bodoh!"
Raphael terkekeh serak, mulai meloloskan sisa kancing hingga kemejanya terlepas sepenuhnya dari tubuh. Tak digubrisnya ucapan wanita itu, bak angin berlalu.
Emily memalingkan wajah cepat-cepat, mulai memanas. Ia membalikkan tubuh, menunjuk ke arah koridor. "Kamar mandi ada di sana. Satu langkah ke kiri, kau bahkan bisa melihat pintunya dari sini. Pergi ke sana! Cepat!"
Namun tentu saja Raphael tidak akan semudah itu beranjak. Ia berdiri dengan malas, mengambil kaos putih bersih bergambar kupu-kupu yang disodorkan Emily, kemudian menatap koridor dengan tatapan pura-pura bingung. "Hmm. Kau yakin? Semua pintu di tempatmu ini terlihat sama. Bisa kau antar kan aku? Takutnya aku tersesat."
Emily menghela napas, jengkel. "Raphael, jangan mulai. Itu jelas-jelas pintu dengan kaca buram. Mana mungkin kau tersesat? Apa kau buta tak bisa melihat bedanya?"
Raphael menyeringai, mendekat selangkah. "Kalau aku sampai masuk ke kamar tidurmu karena salah pintu, apakah kau akan marah?"
Emily menoleh cepat, matanya membesar. "Coba saja, aku lempar kau keluar jendela!"
Raphael tertawa, tawa berat yang menyebalkan di telinga Emily. Ia mengangkat kaos putih itu tinggi-tinggi, lalu menatapnya sambil berujar bosan, "Ayolah. Antarkan aku. Atau, aku buka sekarang di sini.."
Emily melotot, frustasi. Dia menghentak kakinya kesal dan mendengus keras. Mereka saling bertatapan beberapa detik, Emily dengan wajah sebalnya, Raphael dengan senyum licik.
Namun, pada akhirnya, seperti biasa, Emily mengalah. Ia berdecak, mengibaskan tangan. "Baiklah! Aku antar. Tapi setelah itu, jangan ganggu aku lagi."
Mengangguk, Raphael beranjak, melangkah bersamanya menyusuri koridor.
Tetapi, tepat ketika mereka sampai di depan pintu kamar mandi, Raphael bergerak cepat. Tangannya menyergap pergelangan tangan Emily, menariknya dengan kekuatan penuh hingga wanita itu tak bisa menolak.
"Eh—!" Emily terhuyung, tubuhnya ikut terseret masuk bersama Raphael. Pintu menutup di belakang mereka, menggema di ruangan sempit itu.
Tersentak kaget, Emily langsung melotot, jantungnya berdebar kencang. Ia mengangkat kepalan tangannya tinggi-tinggi, mengacungkan tinju ke wajah Raphael. "Jangan macam-macam, Tuan Walter! Aku bersumpah akan memukulmu sekarang juga!"
Raphael menatap tinju kecil itu, kemudian tawa mengejek yang sangat menyebalkan itu terdengar lagi. Dengan sengaja, ia mengangkat tangannya sendiri, mengepalkan tinju yang ukurannya dua kali lipat lebih besar dari milik Emily.
"Menyenangkan sekali," bisiknya, mendekatkan wajahnya ke arah Emily hingga napas mereka beradu di wajah masing-masing. "Mana yang akan pingsan lebih dulu, hm? Kau memukulku... atau aku memukulmu?"
...•••...
Suara tawa Emily pecah begitu nyaring, menggema di seluruh penthouse-nya. Ia bahkan terpaksa memegangi perutnya sendiri yang sakit karena terlalu keras menahan geli. Bagaimana tidak? Raphael keluar dari kamar mandi dengan pakaian pinjamannya, dan pemandangan itu benar-benar priceless.
Sungguh, ia sudah dengan serius memilihkan kaos oversized dari lemarinya untuk pria itu. Tapi ternyata, pada tubuh bidang Raphael yang atletis dan lebar bahu itu, kaos tersebut justru berubah jadi semacam crop top ketat yang membalut tubuh Raphael. Semakin parah ketika Raphael mengangkat tangannya untuk merapikan rambut basahnya—ujung kaos itu naik, menampakkan perut keras berototnya.
Dan celana pendek baby pink miliknya? Oh Tuhan. Di tubuh Raphael, benda itu tidak lebih seperti hot pants yang memamerkan paha kekarnya. Emily hampir jatuh terduduk di lantai melihat pria arogan nan mesum yang biasanya hanya memakai jas mewah, kini tampak seperti banci abal-abal yang nekat ikut fashion show murahan.
"Pantas sekali, Raphael," ujarnya terputus-putus sambil menertawakan. "Kau... kau cocok sekali memakai itu. Seperti model profesional."
Raphael mendengus, wajahnya ketat menahan malu bercampur kesal. "Tertawalah sepuasmu," ucapnya rendah, suaranya berat dan mengancam. "Sebelum kubuat kau menangis karena mengerjaiku seperti ini."
Ancaman itu justru membuat Emily semakin tak terkendali. Ia menepuk-nepuk meja sambil tertawa keras. "Oh, kau mudah tersinggung sekali! Lihat wajahmu itu. Astaga, aku hanya tidak bisa menahan diri... hahaha. Duduklah di sini, Tuan Pink!" Ia berani-beraninya menarik tangan Raphael untuk duduk di sofa.
Pria itu tetap memasang wajah masam, tapi ia menurut juga, membiarkan dirinya terduduk di samping Emily. Sorot matanya jelas ia tidak suka ditertawakan.
"Boleh aku memfotonya?" tanya Emily tiba-tiba dengan iseng, senyum lebarnya tak surut sedikit pun.
Menoleh cepat, mata Raphael menyipit tajam. "Lihat saja kalau kau berani memfoto aku seperti ini. Aku balas dengan menelanjangimu di sini, sekarang juga!"
Emily tercekat, pun kemudian cepat-cepat memukul lengan Raphael. "Ish! Dasar gila!"
Ancaman itu tak terdengar seperti lelucon. Raphael sungguh-sungguh serius, rahangnya mengeras, sorot matanya dingin. Emily hanya bisa mendengus dalam hati. Entah bagaimana selera humor pria tua ini? Hal-hal yang menurutnya tak lucu, bisa ia tertawakan dengan puas. Tapi saat sesuatu benar-benar lucu seperti ini, ia justru berubah jadi grumpy kaku yang mengintimidasi.
"Dasar," ujar Emily pelan, masih geli sendiri.
Raphael menyandarkan tubuhnya ke sofa, melipat tangan di dada, membiarkan kaos pink itu makin tampak kekecilan. "Sudah puas?" tanyanya dingin.
Emily menghela napas panjang, mencoba mengendalikan tawanya. "Ya, ya, aku selesai. Aku akan berhenti menertawakanmu, Tuan Pengacara. Yasudah, mau dibahas dari mana kasusku ini?"
Raphael menatapnya dalam. "Dari awal," katanya rendah. "Karena kalau aku harus membela seorang wanita keras kepala sepertimu, aku ingin tahu semua yang bisa membuatku memenangkannya."
Emily mengangguk sembari menegakkan tubuhnya. "Go on."
"Mulai dari Andrew. Sejak kapan tepatnya dia mulai mengusik hidupmu, Nona Cooper?"
Emily mengembuskan napas berat, sejujurnya semua kenangan itu adalah beban yang sulit ia bicarakan. "Sejak orang tuaku meninggal. Andrew berubah. Obsesi lamanya padaku makin menjadi-jadi. Dia ingin menikah denganku, Raphael. Padahal jelas, kami sepupu. Itu tidak hanya salah secara moral, tapi juga ilegal di banyak yurisdiksi."
"Sebentar," potong Raphael, mereka mulai berbincang serius menampakkan sisi profesional masing-masing. "Pernyataanmu tak sepenuhnya sinkron dengan realitas hukum di New York. Memang benar banyak yurisdiksi melarang pernikahan sepupu pertama, tetapi New York bukan salah satunya, hukum di sini secara eksplisit memperbolehkan pernikahan antara sepupu pertama. Legalitas dan moralitas tidak selalu berjalan beriringan, tetapi dari sisi teknis, itu bukan pelanggaran pidana di wilayah ini."
"Benar, mungkin sah di mata hukum New York. Tapi itu tetap tidak bermoral. Andrew anak dari adik ayahku, hubungan darah terlalu dekat. Dan secara medis pun ada risiko genetik. Jadi, apa pun alasan legalnya, bagiku itu tidak mungkin. Menikah dengannya itu keputusan yang bodoh dan berisiko."
Raphael mendengarkan dengan kepala sedikit miring, jemari mengetuk pelan lututnya. "Dan kau menolak."
"Tentu saja aku menolak," potong Emily cepat. Ada gurat tajam dan kesal di sudut matanya. "Aku bukan objek untuk dijadikan mainan dan obsesinya. Tapi penolakan itu membuatnya... membabi buta. Dia mengancam akan merusak reputasiku bila aku tidak menuruti kemauannya."
"Kau yakin ancamannya hanya soal pernikahan?" Raphael menginterupsi, matanya meruncing.
Emily terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Tidak. Dia juga ingin menguasai warisan orang tuaku. Harta itu seharusnya menjadi hakku, tapi Andrew sudah lama menaruh mata padanya. Ku yakin, pernikahan hanyalah kedok, jalan pintas untuknya agar semua warisan orangtuaku jatuh ke tangannya dengan sah."
Raphael menyandarkan tubuh, tangannya terlipat di dada, sedang menimbang sebuah strategi. "Dan ancaman itu tidak berhenti hanya diucapan?"
Mengangguk, Rahang Emily mengeras. "Seperti yang sudah aku katakan padamu, dia membuat video-video. Video tak senonoh, editan kotor yang menampilkan aku seolah-olah tidur bersama dia. Tuhan tahu aku bahkan tidak pernah menyentuhnya. Tapi dia cukup pintar memanipulasi rekaman, menempelkan wajahku di tubuh wanita lain, menyebarnya ke lingkaran tertentu bahkan menampilkannya di Time Square agar tekanannya semakin kuat padaku."
Kedua alis Raphael terangkat sedikit, tapi ekspresi wajahnya tetap dingin. "Jadi, dia tidak hanya mengincar tubuhmu dan hartamu. Dia juga menyerang reputasimu. Hmm.. Serangan tiga arah. Brengsek licik." Ia menghela napas, lalu menunduk sedikit, menatap Emily. "Apakah kau menyimpan bukti? Semua yang bisa memperkuat pernyataanmu?"
Emily terdiam sesaat. "Awalnya tidak. Aku... bodoh. Waktu itu aku tidak menanggapinya serius. Aku pikir itu hanya ancaman kosong, hanya obsesi sementara. Aku mencoba mengabaikan, berharap dia akan berhenti sendiri. Tapi..." bahunya merosot, intonasi suaranya melemah. "Semakin lama, dia semakin keterlaluan. Maka aku mulai menyimpan bukti. Chat. Email. Salinan video yang dia sebarkan. Testimoni beberapa orang yang tahu kelakuannya. Bahkan laporan medis, psikolog juga, karena tekanannya sempat membuatku drop."
Raphael tidak bergeming sejenak.
"Aku ingin melihatnya. Semua bukti itu. Sekarang."
Emily mematung sejenak, menimbang. Ada rasa tak nyaman membuka aib ini di depan pria arogan itu. Tapi ia sadar, Raphael satu-satunya pilihan logis. Terlebih ia sudah memilih pria itu sebagai pengacaranya.
Dengan menghela napas panjang, ia meraih ponselnya di meja. "Baik," katanya pelan.
Ia kembali ke sofa, duduk di samping Raphael. Jarak mereka hanya beberapa senti, cukup untuk membuat Emily menyadari aroma cologne pria itu masih melekat meski tubuhnya kini dibalut kaos putih konyol miliknya. Jemarinya bergetar tipis saat membuka galeri ponselnya. "Ini... beberapa di antaranya."
Raphael mencondongkan tubuh, bahunya menyentuh bahu Emily. Dengan tenang, ia mengambil ponsel itu dari tangan wanita itu. "Jangan gugup. Aku pengacaramu. Tunjukkan saja."
Emily mengerjap cepat, menahan jantungnya yang berdetak tak wajar. "Nada suaramu membuatnya terdengar lebih buruk dari pengadilan."
"Memang seharusnya begitu," jawab Raphael singkat, jemarinya gesit menggeser layar, menelaah setiap file. "Aku harus jadi pihak paling kejam sebelum Andrew melakukannya padamu. Jika aku bisa membuatmu tangguh di sini, berarti kau siap melawan dia di luar sana."
Emily menggigit bibir bawahnya, rasa frustrasi bercampur kagum pada cara Raphael bicara. Ia benci mengakui bahwa pria itu ada benarnya.
Raphael berhenti pada satu file video, menatapnya tanpa ekspresi, lalu mengembuskan napas. "Hasil edit amatiran, tapi cukup untuk membakar reputasimu karena jatuh ke tangan media. Sialan." Ia menoleh pada Emily. "Bagus kau menyimpannya. Kita bisa gunakan ini bukan hanya untuk menyerang balik. Andrew bisa kita robohkan dengan barang bukti semacam ini."
"Aku tidak ingin hanya menyerang balik. Aku ingin dia berhenti. Untuk selamanya."
Raphael menyeringai tipis. "Kalau begitu, kau datang ke orang yang tepat. Aku tidak pernah kalah, Emily. Apalagi pada pria yang berani menyentuh sesuatu yang kuanggap... milikku."
Jantung Emily berdebar. Ada maksud ganda di balik kata-kata itu, sesuatu yang tidak sepenuhnya legal atau profesional. Tapi sebelum ia sempat merespons, Raphael kembali menatap layar, suaranya dingin lagi.
"Kumpulkan semua bukti. Besok, aku ingin salinan lengkapnya. Kita mulai susun strategi. Andrew akan menyesal pernah menjadikanmu target."
Emily hanya bisa mengangguk.