Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.
Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.
Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.
Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.
Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.
Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.
Jena datang dengan penuh harapan.
Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Charity Fashion
Ballroom utama Hotel Suroso Convention Center tampak jauh berbeda dari biasanya. Sejak pukul delapan pagi, tamu undangan mulai berdatangan. Karpet merah terbentang dari pintu masuk hingga area registrasi. Di sisi kanan dan kiri ruangan berdiri backdrop besar bertuliskan:
"Charity Fashion For Hope"
Kolaborasi Ardhana Group & MS Fashion.
Di bawah tulisan itu terpampang slogan:
"Fashion bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga tentang berbagi harapan."
Acara ini merupakan program sosial yang digagas Ardhana Group bersama MS Fashion untuk pertama kalinya. Seluruh hasil lelang beberapa koleksi busana eksklusif serta sebagian keuntungan penjualan akan disumbangkan untuk yayasan pendidikan anak-anak kurang mampu dan panti asuhan di berbagai daerah.
Ballroom yang luas disulap menjadi perpaduan antara acara amal dan peragaan busana mewah.
Di tengah ruangan terdapat catwalk panjang berwarna putih mengilap yang membelah area tamu. Lampu sorot menggantung di langit-langit, sementara layar LED raksasa menampilkan video tentang kegiatan sosial yang dilakukan Ardhana Group dan MS Fashion.
Meja-meja bundar ditata rapi di sisi kanan dan kiri catwalk. Setiap meja dihiasi bunga segar berwarna putih dan emas.
Para tamu yang hadir terdiri dari pebisnis, investor, selebritas, media, influencer, serta beberapa perwakilan yayasan yang akan menerima donasi.
Di barisan depan duduk keluarga Ardhana.
Bimo dan Sifa tampak elegan dengan pakaian formal mereka. Di samping mereka, Jihan sibuk mengamati suasana sekitar. "Amazing," bisiknya pelan.
Sifa menoleh. "Apa, Ji?"
"Acara charity sekarang sekeren ini ya, Ma, Pa?"
Bimo tersenyum tipis. "Karena sekarang perusahaan kita bekerja sama dengan perusahaan besar."
"Kalau aku jalan di catwalk gimana ya?" lanjut Jihan.
Jovian yang duduk di sebelahnya langsung menatap adiknya datar. "Orang datang buat acara amal, bukan lihat kamu jatuh di catwalk."
"Kakak jahat."
"Realistis," balas Jovian.
Jihan mendengus kesal.
Tak jauh dari mereka, Jena duduk bersama beberapa staf senior Ardhana Group. Pagi itu ia mengenakan dress formal berwarna biru muda yang sederhana namun elegan. Rambutnya ditata rapi dengan riasan natural yang membuatnya terlihat semakin anggun.
Beberapa tamu sempat melirik ke arahnya. Bukan hanya karena penampilannya, tetapi juga karena banyak orang mengetahui bahwa Jena merupakan kekasih Jovian.
Saat Jena sedang berbincang dengan rekan kerjanya, Michelle mendekat.
Perempuan itu mengenakan gaun putih gading rancangan terbaru MS Fashion. Tak jauh di belakangnya terlihat kedua orang tuanya yang tengah berbincang dengan beberapa tamu penting. "Selamat pagi, Jena."
Jena tersenyum sopan, meski hatinya agak risih. "Selamat pagi, Bu Michelle."
"Sudah siap untuk acara hari ini?"
"Tentu."
Michelle mengangguk. "Koleksi yang akan ditampilkan hari ini luar biasa."
"Sepertinya begitu."
Percakapan mereka berlangsung normal dan profesional. Meski begitu, Michelle sempat melirik ke arah Jovian yang sedang berbicara dengan beberapa direksi Ardhana Group. Tatapannya bertahan beberapa detik sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangan.
Jena menyadarinya. Namun ia memilih tidak menanggapi apa pun. Kali ini ia tak mau terpancing oleh wanita itu. Ia ingin menikmati acara dengan tenang.
Tak lama kemudian, pembawa acara naik ke atas panggung. Lampu ballroom perlahan diredupkan. Musik instrumental mulai mengalun. "Selamat pagi, hadirin sekalian." Semua perhatian langsung tertuju ke panggung. "Hari ini kita berkumpul bukan hanya untuk merayakan kreativitas dunia fashion, tetapi juga untuk berbagi harapan kepada mereka yang membutuhkan."
Tepuk tangan terdengar memenuhi ruangan. Di layar LED mulai ditampilkan berbagai dokumentasi kegiatan sosial.
Beberapa tamu tampak terharu melihat video anak-anak panti asuhan yang menerima bantuan pendidikan.
Setelah sambutan dari pihak Ardhana Group dan MS Fashion selesai, acara utama pun dimulai.
Lampu sorot langsung mengarah ke ujung catwalk. Musik berubah menjadi lebih elegan.
Model pertama berjalan keluar mengenakan gaun rancangan eksklusif, koleksi terbaru MS Fashion. Disusul model-model berikutnya yang menampilkan berbagai busana formal, gaun pesta, hingga koleksi premium yang nantinya akan dilelang untuk amal.
Kamera media berkedip tanpa henti.
Para tamu memberikan tepuk tangan setiap kali koleksi baru muncul.
Di tengah acara, beberapa koleksi spesial dipresentasikan sebagai bagian dari sesi lelang amal. Dan tanpa disadari banyak orang, mata Jovian beberapa kali justru tertuju pada Jena. Yang saat itu sedang memperhatikan jalannya acara dengan senyum kecil di wajahnya.
Sementara jauh di dalam hatinya, Jovian masih memikirkan percakapan makan malam bersama keluarganya semalam.
Tentang Jena.
Tentang masa depan mereka.
Tentang pertanyaan yang kini terus berputar di kepalanya.
Apakah Jena benar-benar wanita yang akan menemaninya seumur hidup?
Pikiran itu segera ditepis oleh Jovian sebelum sempat berkembang lebih jauh.
Ia menghela napas pelan, lalu sedikit menggeser duduknya agar kembali fokus pada panggung di depannya. Sorotan lampu, alunan musik, serta tepuk tangan tamu undangan mulai menarik perhatiannya lagi. "Ini bukan waktu yang tepat," batinnya menegaskan.
Di atas catwalk, model demi model terus melangkah dengan busana elegan rancangan MS Fashion. Suasana ballroom kembali hidup oleh ritme acara, kilatan kamera, dan suara pembawa acara yang menjelaskan detail setiap koleksi yang ditampilkan.
Jovian menyandarkan tubuhnya sedikit ke kursi, tangannya terlipat rapi di atas meja. Tatapannya kini lebih stabil, mengikuti jalannya fashion show dengan profesional.
Di sisi lain, Bimo sempat melirik putranya sekilas. Tadi ia menangkap perubahan ekspresi kecil itu, cara Jovian beberapa kali tampak melamun sebelum akhirnya kembali serius. Namun Bimo tidak mengatakan apa pun. Ia hanya kembali menatap panggung dengan tenang.
Sifa, yang duduk di sebelahnya, justru tampak menikmati suasana. "Acaranya makin seru. Jovian dan Michelle berhasil menyusun acara ini dengan baik," pujinya bangga.
Bimo mengangguk singkat. "Tentu saja, Ma. Mereka berdua adalah anak muda yang kreatif. Penerus Ardhana dan MS Fashion gitu lho." Ucapan Bimo tak kalah bangga.
Sifa tersenyum kecil. "Iya, Pa. Seandainya saja ..." Wanita itu menggeleng kecil, tak melanjutkan ucapannya.
Jihan terlihat sibuk merekam beberapa momen dengan ponselnya, sesekali berbisik kagum setiap kali model lewat. "Ini kalau aku yang jalan pasti jatuh sih," gumamnya jujur.
Jovian yang tak sengaja mendengar hanya melirik sekilas tanpa komentar.
Di barisan staf Ardhana, Jena tetap duduk dengan sikap profesional. Ia sesekali mencatat poin penting dari presentasi acara dan memperhatikan detail lelang yang sedang dipaparkan. Wajahnya tenang, meski pikirannya sempat tertarik pada beberapa momen kecil sebelumnya.
Michelle yang duduk tak jauh darinya juga tampak fokus, namun sesekali masih memperhatikan panggung dan interaksi para tamu penting.
Di tengah jalannya acara, suasana ballroom perlahan mencapai puncaknya saat koleksi utama diumumkan, seri eksklusif yang akan dilelang secara langsung untuk donasi terbesar.
Pembawa acara kembali bersuara dengan lebih bersemangat. "Dan sekarang, kita masuk ke koleksi spesial charity piece. Seluruh hasil lelang akan disalurkan langsung ke program pendidikan anak di berbagai daerah."
Tepuk tangan kembali menggema. Lampu meredup sedikit, memberi kesan dramatis sebelum model utama melangkah keluar dengan gaun couture berwarna putih keemasan yang berkilau di bawah sorotan lampu.
Suasana langsung berubah lebih hening namun penuh kekaguman.
***
Sorotan lampu perlahan meredup. Musik penutup yang tadinya megah berubah menjadi lebih lembut, menandai bahwa rangkaian Charity Fashion For Hope akhirnya sampai pada penghujung acara.
Pembawa acara kembali naik ke panggung, kali ini dengan senyum yang lebih hangat. "Hadirin sekalian, kita telah menyaksikan bersama peragaan busana dan lelang amal hari ini. Dan dengan bangga kami umumkan bahwa total donasi yang terkumpul melebihi target yang kami harapkan." Tepuk tangan langsung bergema di seluruh ballroom.
Beberapa tamu bahkan berdiri memberikan applause. Kamera media kembali menyala, mengabadikan momen terakhir yang menjadi inti dari acara ini.
Di layar LED besar, angka total donasi ditampilkan dengan jelas, diikuti nama lembaga penerima bantuan: yayasan pendidikan anak dan panti asuhan yang telah menjadi fokus program sosial kali ini.
Suasana berubah haru. Beberapa perwakilan yayasan yang duduk di sisi depan tampak menahan emosi. Ada yang tersenyum lebar, ada pula yang menitikkan air mata kecil saat menyadari besarnya bantuan yang akan mereka terima.
Jovian sebagai perwakilan dari Ardhana Group dan Michelle dari MS Fashion kemudian maju ke panggung bersama untuk penyerahan simbolis.
Sebuah papan cek berukuran besar diserahkan, diikuti foto bersama di atas panggung. Cahaya kamera dari berbagai arah memenuhi ruangan.
Jena berdiri bersama staf Ardhana Group lainnya. Ia ikut bertepuk tangan ketika penyerahan donasi dilakukan.
Matanya sempat mengikuti angka besar di layar. "Banyak sekali," gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Ia bangga karena, acara yang disusun kekasih hatinya berjalan dengan lancar, meski menimbulkan banyak drama antara dirinya dan Jovian gara-gara acara ini.
Setelah sesi foto selesai, pembawa acara kembali menutup acara dengan suara yang hangat. "Terima kasih kepada seluruh tamu undangan, Ardhana Group, MS Fashion, serta semua pihak yang telah berkontribusi. Semoga kolaborasi ini terus membawa manfaat bagi lebih banyak orang."
Tepuk tangan terakhir kembali terdengar, lebih panjang dari sebelumnya. Lampu ballroom menyala penuh. Acara resmi dinyatakan selesai.
Di area keluar ballroom, suasana mulai ramai oleh tamu yang beranjak pulang. Percakapan kecil terdengar di mana-mana ... pujian, evaluasi, hingga rencana kerja sama baru.
Jena baru saja merapikan dokumen acara ketika Jovian menghampirinya. "Hai," sapa Jovian pelan.
Jena mengangkat wajah dan tersenyum. "Mas, selamat ya. Acaranya sukses besar," puji Jena sembari meraih tangan Jovian dan menggenggamnya erat.
"Iya, Sayang. Tapi masa cuma ucapan selamat aja. Nggak ada hadiah? kiss-nya gitu?" Jovian menaik-turunkan alisnya.
Pipi Jena langsung merona. "Ihh, Mas. Jangan bicara seperti itu. Nanti didengar orang," tegur Jena.
"Biarin. Aku mau. Buruan." Jovian merengek bak balita.
"Nanti aja pas acaranya udah benar-benar selesai."
Jovian mengulum senyum, menggerak-gerakan telunjuknya di dalam genggaman Jena. Lalu ia merunduk dan berbisik tepat ke telinga Jena. "Yang lama ya. Sampai dower."
Seketika mata Jena melotot. "Mas!" pekiknya tertahan.
Kekehan geli pun keluar dari bibir Jovian. "Nanti kita ngobrol lagi ya," bisiknya pelan. "Aku mau ke sana dulu," tunjuk Jovian ke arah keluarganya yang sedang berbincang dengan Michelle dan kedua orang tua gadis itu.
Jena mengangguk. "Iya."
Jovian meninggalkan Jena dan gadis itu duduk kembali di kursinya sambil memandangi Jovian yang kini sudah bergabung dengan keluarganya dan pemilik MS Fashion.
"Acara hari ini luar biasa," ujar Mario Suroso lebih dulu, menjabat tangan Bimo dengan hangat. "Ardhana Group memang selalu berhasil membuat sesuatu yang elegan sekaligus bermakna."
Bimo tersenyum tipis. "MS Fashion juga punya andil besar. Koleksi Anda sangat kuat di panggung tadi."
Mayang Ayu Zainal ikut menimpali dengan ramah. "Kalau bukan karena kerja sama yang solid, acara sebesar ini tidak mungkin berjalan seindah tadi."
Michelle berdiri di samping orang tuanya, sesekali tersenyum kecil sambil melirik Jovian. Wajahnya tenang, profesional, namun ada kesan hangat yang ia jaga di hadapan kedua keluarga besar itu. "Senang bisa bekerja sama dengan Ardhana Group," ucap Michelle lembut.
Jovian mengangguk sopan. "Kami juga."
Percakapan itu mengalir ringan. Dari topik hasil charity, perkembangan industri fashion, proyek kerja sama yang sedang berjalan, sampai rencana kolaborasi berikutnya. Suasana yang awalnya formal perlahan berubah menjadi lebih akrab, seperti dua keluarga yang sudah lama saling mengenal.
Di tengah percakapan itu, salah satu dewan direksi MS Fashion yang berdiri tidak jauh ikut tersenyum dan melontarkan komentar yang terdengar santai, namun cukup membuat beberapa orang menoleh. "Kalau saya lihat-lihat, dua keluarga besar ini bukan cuma cocok jadi partner bisnis," ujarnya sambil terkekeh kecil. "Tapi cocok juga kalau jadi besan."
Sejenak suasana seperti berhenti.
Beberapa orang tertawa kecil menanggapi, menganggapnya sebagai candaan ringan di tengah euforia acara yang sukses.
Namun bagi sebagian orang, kalimat itu terasa punya makna lebih. Michelle hanya tersenyum sopan, tidak langsung menanggapi. Mario dan Mayang juga tetap menjaga ekspresi profesional, meski sorot mata mereka sempat saling bertukar.
Bimo hanya tersenyum tipis, tidak mengiyakan, juga tidak membantah.
Sementara Jovian, hanya menghela napas pelan, lalu tetap menjaga sikapnya seperti biasa.
Namun di sudut ruangan yang tidak terlalu jauh dari mereka, Jena duduk diam. Senyum kecil yang tadi sempat ada di wajah Jena perlahan menghilang.
ayo Jenaaa segera menjauh agar harga dirimu tdak di injak dgn Kompensasi dari keluarga ardhana
menjauh lah jena ...jangan lg menerima apapun dr kelg itu..walaupun di beri konspensasi atas 9bth bersama jo..
menjauhlah dan hiduplah dg mandiri..
raihlah suksesmu tanpa mereka
semangat jena💪💪💪