Dunia pernah berjalan normal, tanpa adanya sihir, tanpa kekuatan di luar nalar. Hingga suatu hari, sebuah fenomena misterius membawa Mana ke bumi dan memutarbalikkan tatanan realitas umat manusia selamanya.
Di tengah kekacauan era baru tersebut, Asosiasi hadir sebagai pilar keadilan. Mereka menertibkan dunia, melindungi yang lemah, dan dipuja sebagai pahlawan.
UNTUK: 13+
"MOHON DILAKUKAN"
-Like&Share
-Berkomentar
-Memberikan Bintang 5
-Favorit
-Follow Akun Pembuat Novel
-Memberikan Saran Untuk Mengembangkan Novel Atau Cerita Selanjutnya
~•KARYA: R14•~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : TERTANGKAPNYA SANG WAKIL
THE ORIGIN : ZERO
ARC 1 : THE PARASITE PROJECT
BAB 14 : TERTANGKAPNYA SANG WAKIL
Suara tetesan air dan derit rantai besi mendominasi ruangan lembap yang minim cahaya itu. Penjara Bawah Tanah Tartarus, fasilitas penahanan tingkat maksimum milik Asosiasi Guardian yang tidak pernah tercatat di dokumen publik mana pun.
Ruangan itu dirancang khusus untuk mematahkan kewarasan penjahat paling berbahaya. Dindingnya dilapisi logam peredam Mana, dan udaranya sengaja dibuat sedingin es untuk membekukan aliran darah.
Di tengah ruangan, terikat pada kursi besi tebal dengan borgol penahan Mana tingkat tinggi yang melilit leher, pergelangan tangan, dan kakinya, duduklah Elara.
Gadis yang dikenal sebagai wakil ketua dari Black Cross itu tampak berantakan. Pakaian indahnya terkoyak di beberapa bagian, dan noda darah entah darahnya sendiri atau darah penjaga yang ia bantai mengering di sudut bibirnya. Kepalanya menunduk, disembunyikan oleh helaian rambutnya yang berantakan.
Brak!
Sebuah cambuk besi menghantam meja tepat di depan wajah Elara, memercikkan bunga api kecil.
Ruangan itu tidak hanya diisi oleh Elara. Tiga sosok mengerikan berdiri mengelilinginya, menciptakan tekanan aura yang sanggup membuat Guardian biasa pingsan hanya karena bernapas di dekat mereka.
Di depannya, seorang algojo interogasi bertubuh gempal mengenakan celemek yang dipenuhi noda darah kering. Tangannya menggenggam cambuk kejut beraliran Mana, napasnya menderu tak sabar untuk menyiksa.
Di sudut ruangan, bersandar pada dinding es yang dingin, berdirilah seorang pria arogan berseragam militer elit. Lencana emas berbentuk dua bintang Alpha bersinar di dadanya. Ia adalah Guardian Kelas Alpha Peringkat Dua monster sejati yang dimiliki oleh Asosiasi.
Dan yang terakhir, melangkah keluar dari bayang-bayang ruangan dengan tongkat emas barunya, adalah sang Ketua Asosiasi.
"Aku akan bertanya tanpa mengulanginya lagi, Elara," desis sang Ketua Asosiasi, suaranya sedingin racun. Ia berdiri tepat di depan gadis itu, menatapnya dengan jijik.
"Kalian membumihanguskan tiga fasilitas kami di Bogor, Bandung, dan Tangerang secara bersamaan. Lalu kau, menyerang fasilitas penelitian kami di Jakarta?! Di mana markas utama kalian?! Dan siapa pemimpin di balik Black Cross?!"
Gadis itu tidak merespons. Tubuhnya terbatuk pelan, memuntahkan sedikit darah ke lantai.
Melihat kondisi mengenaskan itu, Guardian Kelas Alpha Peringkat Dua mendengus meremehkan, melipat tangannya di dada.
"Biarkan algojo itu memotong jari-jarinya saja, Yang Mulia," ucap sang Guardian Alpha dengan nada angkuh.
"Wakil Ketua Black Cross? Hah! Mengingat betapa cepatnya dia tumbang, reputasinya terlalu dibesar-besarkan. Dua ratus serangan beruntunku di fasilitas atas tadi pasti sudah meremukkan setidaknya separuh tulang rusuk dan organ dalamnya. Dia bahkan tidak sanggup mengangkat kepalanya sekarang."
Mendengar ucapan arogan itu, bahu Elara perlahan bergetar. Bukan karena isak tangis memohon ampun, melainkan tawa yang dipaksakan keluar dari tenggorokannya yang luka.
"He... hehehe... uhuk!"
Tawa lirih itu diakhiri dengan batuk darah, namun Elara memaksakan dirinya mendongakkan kepala.
Melalui celah helaian rambutnya, sepasang matanya menatap sang Peringkat Dua. Meski tubuhnya hancur lebur dan secara kekuatan ia dipecundangi habis-habisan, tidak ada keputusasaan di mata gadis itu.
"Kau benar... uhuk...dari kekuatan....kamu....luar biasa, Peringkat Dua," bisik Elara dengan senyum miring yang bergetar menahan sakit.
"Tulang rusukku remuk... organ dalamku nyaris hancur. Secara power, aku kalah telak darimu."
Elara menarik napas panjang yang terasa menyayat dadanya, lalu menatap langsung ke mata Ketua Asosiasi.
"Tapi... kalian terlalu bodoh karena membawaku hidup-hidup ke tempat ini."
Plak!
Algojo interogasi itu langsung melayangkan punggung tangannya, menampar pipi Elara dengan keras hingga wajah gadis itu terlempar ke samping.
"Tutup mulutmu, jalang!" bentak sang algojo.
"Borgol di lehermu itu mengisap sisa Mana-mu setiap detik! Kau sudah tamat!"
Elara memejamkan mata, membiarkan rasa sakit itu menjalar. Sang algojo benar, tubuh fisiknya berada di batas kehancuran, dan Mana miliknya terkuras habis.
"Tahan," perintah sang Ketua Asosiasi tiba-tiba, mengangkat sebelah tangannya untuk menghentikan algojo yang baru saja bersiap mengayunkan cambuknya.
Mata ketua Asosiasi itu memicing tajam menatap sosok Elara yang terluka parah. Otak liciknya mulai berputar. Pria itu menyadari sesuatu dari tatapan pantang menyerah Elara.
"Dia adalah Wakil Ketua dari organisasi yang baru saja melumpuhkan tiga fasilitas kita dalam satu tarikan napas," gumam sang Ketua Asosiasi, nadanya berubah menjadi sangat waspada.
"Jika dia memiliki posisi setinggi itu, Black Cross tidak akan tinggal diam. Cepat atau lambat, pemimpin mereka yang pengecut itu akan keluar dari sarangnya untuk mencari anjing kesayangannya."
"Biarkan saja mereka datang, Yang Mulia," sahut Guardian Peringkat Dua dengan seringai haus darah.
"Aku akan dengan senang hati memenggal kepala pemimpin mereka dan menyajikannya di atas meja Anda."
"Jangan bertindak bodoh dan meremehkan mereka lagi," potong sang Ketua dengan dingin.
"Mereka bisa menyerang serentak, artinya mereka punya intelijen dan pasukan tempur yang terorganisir. Kita tidak tahu kapan mereka akan menyerang fasilitas ini untuk merebutnya kembali atau lebih buruk, mengincar Sampel Inti Proyek Parasit di laboratorium sebelah."
Sang Ketua memutar tubuhnya, mengetukkan tongkat emasnya ke lantai dengan ritme yang mengintimidasi.
"Naikkan status keamanan Penjara Tartarus dan Laboratorium Pusat ke Level tertinggi," perintah Ketua Asosiasi mutlak.
"Panggil tiga batalion Guardian elit dari sektor luar untuk berjaga di perimeter atas. Aktifkan semua robot penjaga, meriam Mana, dan jebakan pembunuh di setiap lorong bawah tanah ini. Aku ingin Tartarus diubah menjadi penggilingan daging."
Ketua Asosiasi menoleh sekilas ke arah Elara.
"Jika Black Cross benar-benar berani menginjakkan kaki mereka di fasilitas ini, pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa melihat matahari terbit besok pagi."
Setelah memberikan instruksi itu, sang Ketua melangkah maju. Ia berdiri tepat di depan Elara, menggunakan ujung tongkat emasnya untuk mendongakkan dagu gadis yang babak belur itu dengan kasar. Senyum arogan yang luar biasa merendahkan terukir di wajah keriput sang penguasa.
"Kau pikir skenario pengorbananmu ini heroik?" bisik sang Ketua dengan nada mengejek.
"Kau bukan Kuda Troya, Elara. Kau hanyalah umpan menyedihkan yang baru saja memancing seluruh organisasimu ke dalam liang lahat."
Pria tua itu menepuk pelan pipi Elara yang penuh darah dengan punggung tangannya, seolah sedang menyentuh binatang peliharaan yang sakit.
"Nikmatilah sisa waktumu di kegelapan Tartarus. Saat pemimpinmu dan pasukan Black Cross datang untuk menyelamatkanmu, aku akan pastikan kau menonton mereka dibantai satu per satu... tepat sebelum algojoku ini menguliti wajahmu," desisnya.
Sang Ketua berbalik, jubah mewahnya berkibar saat ia melangkah menuju pintu keluar dengan gaya seorang pemenang mutlak.
"Selamat tinggal, Wakil Ketua Black Cross. Kuharap kewarasanmu masih bertahan sampai pertunjukan utama."
Bham!
Pintu logam tebal itu berdesis, lalu tertutup rapat dengan dentuman keras, memutus satu-satunya sumber cahaya dari lorong luar dan mengunci Elara dalam keheningan yang membekukan.
Di kursinya yang terikat rantai, meski sekujur tubuhnya hancur dan kesakitan merobek setiap sarafnya, sudut bibir Elara perlahan tertarik ke atas. Sebuah senyuman predator yang samar mengembang di dalam gelap.
SATU JAM SEBELUMNYA.
Di kedalaman sebuah markas rahasia yang tak tersentuh oleh sensor Asosiasi, Ruang Komando Utama Black Cross diliputi oleh ketegangan yang dingin namun terorganisir.
Sebuah kristal observasi raksasa melayang di tengah ruangan, memancarkan proyeksi sihir tiga dimensi yang memetakan wilayah ibu kota dan sekitarnya. Asap hitam pekat simbol dari target yang berhasil dihancurkan, mengepul dari titik-titik koordinat Sektor Selatan, Timur, dan Barat pada proyeksi tersebut.
Di sekeliling kristal itu, puluhan penyihir komunikasi berjubah hitam terus merapal mantra pendek. Batu-batu komunikasi di meja mereka berpendar terang, menerima transmisi Mana dari pasukan yang berada di lapangan.
Di depan proyeksi raksasa itu, berdiri tegak sosok pria tinggi berjas hitam. Ia adalah Sang Ketua Black Cross.
"Lapor, Ketua!" seru seorang komandan divisi setelah memutus aliran sihir dari batu komunikasinya.
"Divisi Dua berhasil membumihanguskan Sektor di Bogor. Divisi Tiga dan Empat juga baru saja mengonfirmasi kehancuran total di Bandung dan Tangerang. Pasukan Asosiasi terlambat merespons. Tidak ada data Proyek Parasit yang tersisa di sana."
Ketua Black Cross mengangguk pelan, auranya yang pekat dan mematikan membuat udara di ruangan itu terasa membeku.
"Kerja bagus. Perintahkan seluruh unit penyerang untuk segera mundur dan menyebarkan kabut penghapus jejak. Jangan tinggalkan sisa Mana apa pun untuk anjing-anjing pelacak Asosiasi," perintah Ketua dengan suara bariton yang berat dan berwibawa.
Ia melipat tangannya di belakang punggung, matanya menatap tajam ke arah proyeksi peta.
"Bagaimana dengan Sektor Pusat? Apa operasi pengalihan di Pusat Penelitian Jakarta berjalan lancar?" tanya sang Ketua.
"Seharusnya Wakil Ketua Elara sudah menyelesaikan pembersihan dan kembali ke titik kumpul sekarang."
Ruangan komando itu tiba-tiba dihinggapi keheningan yang janggal.
Seorang penyihir komunikasi yang memantau Sektor Pusat membelalakkan matanya ke arah proyeksi. Tangannya dengan panik merangkai aksara-aksara sihir pelacak di udara, mencoba memulihkan untaian energi yang tiba-tiba terputus.
"K-Ketua..." suara penyihir itu bergetar hebat, wajahnya pucat pasi di bawah temaram cahaya kristal.
Sang Ketua menoleh perlahan.
"Ada apa?"
"Resonansi jiwa dan jejak Mana Wakil Ketua Elara... baru saja terputus total dari jaringan pelacak kita!" lapor penyihir itu dengan nada panik.
"Lima menit yang lalu, energi kehidupannya menurun drastis hingga titik kritis, dan sekarang... eksistensinya benar-benar lenyap dari proyeksi!"
Tekanan Mana di dalam ruangan komando itu meledak seketika, meretakkan lantai batu di bawah pijakan sang Ketua Black Cross. Beberapa bawahan sampai tercekik dan jatuh berlutut akibat aura membunuh yang bocor dari tubuh pemimpin mereka.
"Lenyap?" geram Ketua Black Cross, suaranya terdengar seperti raungan monster yang tertahan.
"Elara adalah salah satu petarung terbaik kita. Tidak mungkin penjaga fasilitas rendahan di Jakarta bisa menyudutkannya sampai batas kritis!"
"K-kami baru saja menyadap gelombang transmisi Mana milik Asosiasi, Ketua!" sela petugas intelijen dari sudut ruangan, memegang sebuah artefak penyadap yang berkedip liar.
"Ada anomali kekuatan! Guardian Kelas Alpha Peringkat Dua kebetulan berada di fasilitas Jakarta saat Wakil Ketua menyerang! Dia... dia mengalahkan Wakil Ketua dan membawanya ke fasilitas penahanan rahasia!"
Tangan sang Ketua Black Cross terkepal erat hingga sarung tangan kulitnya berderak. Amarahnya menggelegak.
"Sial, Kenapa dari lima Monster ada di jakarta? Bukannya mereka sedang misi internasional? " Ucap Ketua dengan nada penuh amarah.
"Tarik kembali semua Komandan Divisi yang bertugas," titah sang Ketua Black Cross dengan nada mematikan, melepaskan gelombang sihir gelap yang membuat seluruh ruangan bergetar hebat.
"Kerahkan Divisi Pelacak dan bongkar seluruh jaringan bawah tanah Asosiasi di jakarta menggunakan sihir pencari. Temukan di mana mereka menyembunyikan Elara. Jika Asosiasi Guardian berani meneteskan satu tetes darah lagi dari Wakil Ketua kita., aku akan memastikan kepala Ketua Asosiasi itu terpenggal dan dipajang di tengah kota!"
Dengan satu perintah semua anggota bergerak untuk misi pencarian.
BAB 14 SELESAI
~•TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA •~
~•DITUNGGGU BAB SELANJUTNYA •~
~•KARYA : R14•