⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Hutan itu hening. Terlalu hening.
Bagi Corvus, seorang agen lapangan dari Unit Pengintaian Windflower Scripture, keheningan ini terasa seperti jeritan. Unitnya dilatih untuk menjadi bayangan, untuk mendengar apa yang tidak ingin didengar oleh musuh. Tapi saat ini, bahkan napas mereka sendiri terasa ditelan oleh udara yang padat.
Corvus mencoba menggerakkan jari telunjuknya—sinyal kode standar untuk "mundur perlahan".
Tapi jarinya tidak bergerak.
Bukan karena kaku. Tapi karena otaknya memberi perintah, namun tubuhnya menolak merespons. Seperti kabel yang diputus.
Dia menoleh sedikit, menggunakan sisa kekuatan leher yang masih bisa ia kontrol.
Di sebelah kirinya, Aquila berdiri mematung. Matanya terbuka lebar, menatap ke depan, tapi pupilnya tidak fokus. Elang familiar di bahunya juga diam, bulunya berdiri tegak, paruhnya terbuka sedikit seolah ingin berteriak tapi tidak ada suara yang keluar.
Di depan mereka berdiri seorang anak dark elf.
Corvus tidak tahu sihir apa yang digunakan. Ia hanya tahu seluruh tubuhnya berhenti merespons. Bukan karena rasa sakit. Bukan karena racun. Tapi karena ada sesuatu yang mematikan koneksi antara otak dan otot-ototnya, sehalus tangan yang mematikan saklar.
Mare tidak tersenyum. Tidak berbicara. Bahkan tidak menatap mereka dengan emosi apa pun.
Dia hanya menatap.
Itu saja sudah cukup.
Strix, sang kapten regu ini, mencoba mengerahkan seluruh mana-nya untuk memecah sihir pengendali pikiran yang mengunci tubuhnya. Ia merasa aliran mana di dalam tubuhnya bergolak, berusaha mendobrak tembok tak terlihat.
Tapi seluruh usaha itu menghilang tanpa hasil. Tembok itu tetap tidak bergerak.
Mare mengangkat tangannya perlahan. Jari-jarinya yang kecil bergerak halus. Tidak ada suara mantra. Tidak ada lingkaran sihir. Tapi satu per satu, anggota Regu Strix jatuh ke tanah—bukan jatuh bebas, tapi diturunkan perlahan oleh kekuatan tak terlihat—dan terbaring rapi di atas lumut hutan, tertidur lelap.
Mare menatap mereka sebentar.
Lalu ia menoleh ke arah barat, ke arah perkemahan utama Elf Kingdom.
"Nee-chan," bisiknya pelan. "Sudah selesai."
Dari dahan pohon di atas, Aura melompat turun, mendarat tanpa suara.
"Mereka sadar?" tanya Aura.
"Tidak. Mereka akan bangun besok pagi di pos penjagaan utara."
Aura mengangguk. "Bagus. Jangan biarkan mereka mati. Ainz-sama mungkin butuh umpan hidup nanti."
Mare menunduk.
"Aura Nee-chan."
"Hm?"
"Mereka... tidak melihat apa-apa."
Aura tersenyum tipis. "Itu yang terbaik.
Di Ibukota Slane Theocracy, ruang bawah tanah yang diterangi cahaya lilin suci, seorang wanita muda berjubah putih bersih duduk bersila di hadapan bola kristal besar.
Wajahnya halus, usianya sulit ditebak—bisa saja dua puluh tahun, bisa saja dua ratus. Tapi matanya menyimpan kedalaman waktu yang menakutkan.
Dia adalah The Thousand Leagues Astrologer.
Dia telah mencoba menghubungi Regu Strix selama satu jam terakhir melalui Message dan item penghubung jiwa.
Hasilnya: Nihil.
Bukan sinyal putus. Bukan tanda kematian.
Tapi ketiadaan.
Seperti mencoba memanggil nama seseorang di ruangan kosong, dan ruangan itu bahkan tidak memantulkan gema.
Astrologer menutup matanya, menarik napas dalam-dalam, lalu melakukan divinasi ke arah koordinat terakhir Strix.
Sihir mengalir darinya, menembus lapisan dimensi, mencari jejak mana, mencari residu kehidupan.
Dan apa yang dia lihat membuatnya terhenti napas.
Bola kristal itu tidak menampilkan gambar. Tidak menampilkan warna.
Itu menampilkan kekacauan.
Suara statis yang menjerit tanpa suara. Warna abu-abu yang berkedip-kedip seperti luka pada realitas. Di tengah-tengah kekacauan visual itu, ada sebuah "lubang" hitam pekat.
Lubang itu tidak memancarkan aura jahat. Tidak memancarkan aura suci.
Lubang itu hanya... ada.
Dan keberadaannya menolak untuk dipahami. Astrologer mencoba memperbesar pandangan ke arah lubang itu, pikirannya terasa seperti ditekan oleh palu godam. Hidungnya mengeluarkan darah tipis. Telinganya berdenging.
Ada sesuatu di sana.
Sesuatu yang menyebabkan hasil divinasi menjadi kacau balau. Sesuatu yang menolak observasi.
Astrologer menghentikan sihirnya dengan paksa.
Tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang.
Asistennya segera maju.
"Apa yang Anda lihat?"
Wanita itu tidak langsung menjawab.
Matanya masih terpaku pada bola kristal.
"Aku tidak tahu."
Asistennya membeku.
Jawaban itu lebih mengerikan daripada laporan kematian.
Selama bertahun-tahun, The Thousand Leagues Astrologer selalu memiliki jawaban.
Tapi kali ini tidak.
Hanya kekacauan.
Hanya titik buta.
Sesuatu di wilayah selatan Elf Kingdom telah mengganggu seluruh hasil observasinya.
Atau mungkin...
Menolak untuk diamati.
"Laporkan ini."
"Kepada siapa?"
"Kepada para Cardinal."
Asistennya menelan ludah.
"Laporan seperti apa yang harus saya sampaikan?"
The Thousand Leagues Astrologer terdiam cukup lama.
"Katakan bahwa Regu Strix hilang."
Ia menatap kembali bola kristalnya.
"Dan bahwa ada sesuatu yang tidak bisa kulihat."
Di perkemahan kecil Ainz Ooal Gown, Ainz duduk di kursi singgasana lipatnya, menatap peta wilayah Elf Kingdom yang terbentang di atas meja kayu.
Aura berdiri di hadapannya.
"Kelompok pengintai Theocracy sudah diamankan, Ainz-sama."
"Mereka mati?"
"Tidak. Mare hanya membuat mereka tertidur."
"Target?"
"Masih memancing."
Ainz diam selama tiga detik.
"...Masih memancing?"
"Iya, Ainz-sama."
Itu tidak masuk akal.
Atau mungkin justru terlalu masuk akal.
Jika Mare gagal mendeteksinya...
Tidak.
Kesimpulan seperti itu terlalu dini.
Tetapi jika kemampuan tersebut disengaja, maka tindakan pria itu menjadi masuk akal.
Atau justru itulah yang ingin ditunjukkannya.
Keduanya sama-sama merepotkan.
Dan dia... memancing?
"Aura."
"Ya, Ainz-sama?"
"Ambil sesuatu darinya. Rambut, air liur, apa pun yang bisa diperiksa."
Aura mengangguk. "Malam ini?"
"Malam ini. Demiurge mungkin bisa menemukan sesuatu yang terlewat oleh kita."
"Dan jika dia sadar?"
Ainz terdiam sebentar.
"...Jangan sampai dia sadar. Jika dia hanya manusia biasa, kita tidak ingin membuatnya takut. Tapi jika dia ancaman... kita akan tahu nanti."
Aura tersenyum. "Mengerti, Ainz-sama."
Dia berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan hutan.
Ainz menatap api unggun yang menyala redup.
Siapa kamu, Slamet?
Untuk pertama kalinya sejak datang ke New World, Ainz merasa ada variabel yang benar-benar di luar kendalinya.
Sementara itu, di tepi sungai.
Slamet duduk di atas batu, memegang tongkat pancingnya.
Matahari telah tenggelam sepenuhnya. Langit gelap, diterangi oleh cahaya dua bulan yang bersinar terang. Bintang-bintang berkelap-kelip, lebih banyak daripada yang pernah ia lihat di kota Maju Mundur.
Perutnya kenyang. Tubuhnya lelah.
Dia melempar kailnya.
Pluup.
Air beriak pelan.
Slamet menunggu.
Kail pancingnya bergerak.
Slamet langsung duduk tegak.
"Makan juga akhirnya."
Ia menarik tali pancing dengan penuh semangat.
Beberapa menit kemudian seekor ikan besar tergeletak di atas rerumputan.
"Besok bisa makan enak."
Slamet mengangguk puas.
Malam itu berakhir dengan tenang.