NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:29.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.

Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.

Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perang di meja hijau Part 2

Keheningan mencekam menyelimuti ruang sidang setelah Hendrawan melontarkan serangan pertamanya. Johan merasa seolah oksigen di ruangan itu mendadak habis.l, Ia berbisik geram ke arah Jason, "Apa-apaan ini? Kenapa mereka bisa tahu soal Monica? Cepat bantah!"

Namun, Jason tetap bergeming. Keringat dingin mulai membasahi pelipis sang pengacara.

"Silakan serahkan buktinya, Saudara Penasihat Hukum," ujar Hakim Ketua sambil membetulkan letak kacamatanya.

Hendrawan maju dengan langkah mantap, menyerahkan sebuah tablet dan setumpuk dokumen. "Yang Mulia, di dalam perangkat ini terdapat rekaman suara dan mutasi rekening. Klien kami memiliki bukti bahwa saudara Johan telah mentransfer sejumlah uang besar kepada seseorang untuk menyewa jasa aktor yang memotret Nyonya Hanum di apartemen tersebut. Itu semua adalah skenario yang dirancang secara matang."

Johan menggebrak meja, wajahnya memerah padam. "Bohong! Itu semua fitnah! Hanum, kau pasti menyogok orang untuk membuat bukti palsu ini kan!"

"Harap tenang, Saudara Penggugat!" tegur Hakim dengan nada tinggi. "Saudara Penasihat Hukum Jason, apakah ada tanggapan?"

Jason mencoba mengalihkan pertanyaan tersebut dengan membahas soal Aliya dan Adiba, ia ingin hak asuh mereka jatuh ke tangan Johan.

" Maaf yang mulia, mengenai hak asuk Aliya dan Adiba, klien saya tetap menginginkan mereka jatuh ke tangannya, mengingat secara finansial, Nyonya Hanum tidak memiliki pekerjaan dan hidupnya serba kekurangan, apakah Nyonya Hanum sanggup menghidupi kedua putrinya, dari segi finansial, tentunya klien saya jauh lebih memadai dan berada, tolong di pertimbangkan kembali!"

Di tengah keheningan ruang sidang yang mencekam, Pengacara Hendrawan melangkah maju dengan penuh percaya dirinya. Ia mengeluarkan beberapa dokumen legalitas usaha dan laporan keuangan yang telah disusun rapi.

"Yang Mulia," ujar Hendrawan dengan suara yang menggema. "Pihak penggugat, saudara Johan, menuduh klien kami tidak memiliki kemampuan finansial untuk menghidupi kedua putrinya. Namun, fakta di lapangan berbicara sebaliknya. Nyonya Hanum selama ini secara mandiri telah membangun dan memiliki sebuah butik eksklusif bernama "Lentera Hanum" yang berlokasi di kawasan strategis."

Johan terbelalak, Ia menoleh ke arah Hanum dengan tatapan tidak percaya. "Butik? Usaha? Sejak kapan wanita rumahan seperti dia bisa punya butik?" desisnya pelan, mulai merasa ada yang tidak beres. Selama ini ia menyita semua kartu kredit dan akses keuangan Hanum agar istrinya itu lumpuh total.

Hendrawan melanjutkan kembali, "Usaha ini telah berjalan secara diam-diam selama setahun terakhir dan menghasilkan laba yang lebih dari cukup untuk menjamin pendidikan serta kehidupan layak bagi Aliya dan Adiba. Jadi, alasan ekonomi yang diajukan saudara Johan untuk merebut hak asuh anak adalah alasan yang mengada-ada."

Hanum duduk tegak di kursi pengadilan. Ia menatap lurus ke arah hakim, mengabaikan tatapan tajam Johan yang seolah ingin menelannya hidup-hidup. Sesuai rencana Alvaro, Hanum masih menyimpan rapat kartu as terbesarnya. Ia belum mengeluarkan identitasnya sebagai putri tunggal dari keluarga besar Sanjaya yang legendaris.

Baginya, melihat Johan meremehkannya sebagai pengusaha butik kecil sudah cukup memuaskannya untuk saat ini. Ia ingin Johan merasa bahwa ia menang sedikit, sebelum akhirnya ia menjatuhkan kenyataan pahit bahwa ia adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis raksasa.

"Kau pikir butik kecilmu itu bisa mengalahkan kekuatanku, Hanum?" bisik Johan saat mereka berpapasan di sela skorsing sidang. Wajahnya tampak merah padam karena harga dirinya terusik. "Seberapa banyak uang yang dihasilkan butik itu, hab? Tidak akan bisa membayar pengacara sehebat Jason selamanya!"

Hanum hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung arti mendalam. "Uang bukan segalanya, Johan. Tapi kejujuran dan kemandirian yang akan membawaku pulang bersama anak-anakku. Simpan saja sifat sombong mu itu saat kau benar-benar membutuhkannya nanti."

Di dalam mobil di parkiran pengadilan, Alvaro mendengarkan jalannya persidangan melalui alat penyadap yang terpasang di kerah baju Hendrawan. Ia menyeringai saat mendengar Johan mulai terpancing emosi.

"Bagus, Num. Biarkan dia mengira lawannya hanya seorang pemilik butik," gumam Alvaro sembari menyesap air mineralnya.

Ia memutar-mutar sebuah map emas di tangannya. Map itu berisi dokumen pemindahan aset Go Green kembali ke tangan Hanum, dokumen yang akan menjadi bom atom di akhir persidangan nanti.

'Nikmatilah kemenangan semu ini, Johan. Karena saat Hanum membuka siapa jati dirinya yang sebenarnya, kau bahkan tidak akan punya cukup tanah untuk sekadar berdiri.'batin Alvaro dengan tatapan sedingin es.

Sidang pun berlanjut dengan agenda pemeriksaan bukti-bukti dari pihak Johan. Pengacara Jason tampak semakin gelisah, sesekali ia melirik jam tangan dan menghindari kontak mata dengan Johan, sementara Alvaro di luar sana sudah siap untuk menarik pelatuk penghancuran terakhir bagi pria pengkhianat itu.

*

*

Suasana ruang sidang seketika berubah riuh saat Hakim mengetukkan palu sebanyak tiga kali. Suara ketukan itu terdengar seperti vonis mati bagi harga diri Johan.

"Menimbang seluruh bukti-bukti baru yang diajukan pihak tergugat, serta pengakuan dari saksi kunci, maka pengadilan menyatakan bahwa tuduhan perzinaan terhadap Nyonya Hanum tidak terbukti dan merupakan fitnah yang direncanakan," ucap Hakim dengan tegas. "Oleh karena itu, pengadilan memutuskan mengabulkan gugatan cerai Nyonya Hanum, menetapkan Saudara Johan sebagai pihak yang bersalah atas perselingkuhannya, dan memberikan hak asuh penuh atas Aliya dan Adiba kepada Nyonya Hanum."

Wajah Johan memucat, lalu berubah menjadi merah padam. Ia berdiri dari kursinya dengan kasar, hingga kursi itu berderit nyaring di lantai marmer.

"Tidak mungkin! Ini pasti ada permainan! Jason, lakukan sesuatu!" teriak Johan sambil mencengkeram bahu pengacaranya. Namun, Pengacara Jason hanya menunduk diam, tak berani menatap sahabatnya sendiri.

Hanum bangkit dari duduknya dengan anggun. Tanpa sepatah kata pun, ia menatap Johan dengan tatapan tenang namun penuh kemenangan. Di matanya tidak ada lagi ketakutan, yang ada hanyalah harga diri yang telah kembali.

Setelah persidangan selesai, Alvaro sudah menunggu di area parkir privat yang tertutup dari keramaian media. Ia sudah memegang map hitam berisi dokumen pengambilalihan aset Go Green yang selama ini ia siapkan bersama tim legalnya.

Begitu Hanum melangkah mendekat, Alvaro langsung menyambutnya. "Selamat, Num. Ini baru awal. Sekarang, biarkan aku masuk dan menghancurkan Johan sepenuhnya. Aku akan menyerahkan dokumen ini padanya agar dia tahu bahwa perusahaan Go Green sekarang berada di bawah kendali Sanjaya Group."

Alvaro sudah bersiap melangkah menuju area lobi pengadilan tempat Johan berada, namun tangan Hanum dengan cepat menahan lengannya.

"Tunggu, Kak. Jangan sekarang," ucap Hanum lirih namun penuh penekanan.

Alvaro menghentikan langkahnya, menatap Hanum dengan dahi berkerut. "Kenapa, Num? Ini saatnya dia tahu siapa lawan sebenarnya. Dia harus tahu bahwa wanita yang dia anggap remeh ini adalah orang yang mengambil alih nafas perusahaannya."

Hanum menggeleng pelan, sebuah senyum dingin terukir di bibirnya. "Permainan baru saja dimulai, Kak Alvaro. Jika Kakak menghancurkannya sekarang, itu terlalu cepat. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya merangkak dari bawah tanpa tahu siapa yang sedang menginjaknya."

Hanum menatap ke arah lobi, di mana Johan sedang mengamuk kepada para wartawan. "Aku ingin membuat Johan memohon dan mengemis di bawah kakiku. Aku ingin dia merasakan kehancurannya secara perlahan, hingga dia sadar bahwa wanita yang dia buang adalah wanita yang memegang kendali atas hidupnya.

Alvaro terdiam. Ada rasa kecewa yang berdenyut di dadanya. Sebagai pria yang terbiasa menyerang secara terbuka dan cepat, ia ingin segera menunjukkan kepada Johan bahwa Hanum adalah milik keluarga Sanjaya, milik yang tak tersentuh. Namun, ia melihat api dendam yang begitu besar di matanya Hanum.

Alvaro menarik napas panjang, lalu memasukkan kembali dokumen itu ke dalam tasnya. "Baiklah, jika itu maumu. Aku akan mengikuti permainanmu, meski menurutku ini terlalu berisiko bagi mentalmu."

"Aku tidak apa-apa, Kak. Aku punya Kakak dan Papah di belakangku," jawab Hanum sambil menggenggam tangan Alvaro, mencoba menenangkannya.

Alvaro membalas genggaman itu, meski hatinya masih terasa sesak karena harus terus berperan sebagai kakak angkat di hadapan publik dan Johan.

"Aku akan menyiapkan panggung untukmu, Num. Biarkan dia sombong dengan sisa-sisa hartanya untuk beberapa hari ke depan. Tapi ingat, jika saatnya tiba, aku sendiri yang akan memastikan dia tidak punya tempat lagi untuk bersembunyi di kota ini," bisik Alvaro tajam.

Sore itu, Hanum pulang dengan kemenangan hukum di tangannya, namun ia tahu, perang batin dan strategi untuk menghancurkan Johan secara total baru saja dimulai. Ia bukan lagi Hanum yang naif, akan tetapi ia adalah predator yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk menerkam mangsanya.

Bersambung...

1
Teh Euis Tea
Hanum dih gemes aku, bodoh bgt nolak bang Al, nanti klu bang Al aku rebut km mewek lg🤭🤭🤭🤭🤭🤭
sri hastuti
Hanum sangat bodoh keterlaluan, dicintai spt itu kok gak bisa merasakan, dasaarr gak peka 😡😡😡
Ariany Sudjana
Hanum kamu bodohnya kebangetan, kalau kamu selalu terjebak dalam luka masa lalu, yang ada Johan yang menang, berarti kamu memang membutuhkan Johan, dan ga bisa move on dari laki-laki mokondo itu
Patrick Khan
eh Hanum malu malu mw😂😂.kyk perawan aja😂😂😂
Nyonya Gunawan
G' pa" al,,si hanum gi malu az..🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: intinya sabar dulu, mungkin belum saatnya 🤭
total 1 replies
Teh Yen
terlanjur ketauan udh tembak aj sekalian kak.al mungkin sudah waktunya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali kak, kota tunggu kelanjutannya besok ya
total 1 replies
Nar Sih
sdh saat nya jujur aja al kan juga udah ketahuan bilang terus terang tentang perasaan mu biar hanum gk skh paham
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: setuju kak 🤭
total 1 replies
Nar Sih
waah...bagai pinang di belah dua☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
vania larasati
lanjut kak
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Good//Good//Good/
total 1 replies
Tri Purwoko Wahyu Wijatmoko
😍😍😍😍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Tri Purwoko Wahyu Wijatmoko
mantap
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih 🙏😊
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
Hanum.........ayo jangan gengsi mulai lah buka hati untuk cinta baru Alvaro, apa lagi Alvaro cinta kekamu, jangan salah paham lagi
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Good//Good//Good/
total 1 replies
neny
tenang num,,jng esmosi dl,,itu perasaan al sm km,,bkn sm deva🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Ariany Sudjana
Hanum kamu turunkan ego kamu, dengarkan dulu penjelasan orang, jangan salah paham dulu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 😁
total 1 replies
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
udahlah hanum ga usah sok galak. nanti al di rebut orang ngambek nya ga kira kira🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Ariany Sudjana
saya juga ga pernah nonton Drakor, jadi ga tahu siapa itu oppa Lee 😄🙏
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kak gpp 🤭
total 1 replies
Nyonya Gunawan
Apa cma aq az y yg g' prnah nonton drakor..
Patrick Khan: q suka nya India kak💃💃
total 6 replies
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
si alvaro lucu sebutan oppa di korea kan sayang yaa eh dia kira kakek kakke🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: salah faham jadinya kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
neny
cie yg mirip oppa lee dan di katain suami nya tante hanum,,jd salting kan,,eemm emang mau nya ath klau dibilang suami nya hanum mah😂😂
neny: doa para readers jg sm kak gtu🤭🤭
total 2 replies
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
hanum mah masih gengsi kayaknya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!