"No way! Ngga akan pernah. Gue ngga sudi punya keturunan dari wanita rendahan seperti Dia. Kalau Dia sampai hamil nanti, Gue sendiri yang akan nyingkirin bayi sialan itu dengan tangan gue sendiri. Lagipula perempuan itu pernah hamil dengan cara licik! Untungnya nyokap gue dan Alexa berhasil bikin Wanita sialan itu keguguran!"
Kalimat kejam keluar dengan lincah dari bibir Axel, membawa pedang yang menusuk hati Azizah.
Klontang!!!
Suara benda jatuh itu mengejutkan Axel dan kawan-kawannya yang tengah serius berbincang.
Azizah melangkah mundur, bersembunyi dibalik pembatas dinding dengan tubuh bergetar.
Jadi selama ini, pernikahan yang dia agung-agungkan itu hanyalah kepalsuan??
Hari itu, Azizah membuat keputusan besar dalam hidupnya, meninggalkan Suaminya, meninggalkan neraka berbalut pernikahan bersama dengan bayi yang baru tumbuh di dalam rahimnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maufy Izha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghapus Jejak
Azizah menatap langit dari dalam bus yang kini ia tumpangi. Matanya menyapu setiap pemandangan yang melewati netra hazelnya yang lembut.
Sungguh tidak pernah terpikir bahwa semua ini terjadi dalam hidupnya. Dia telah mengagumi Axel sejak lama. Tepatnya sejak ia ikut ibunya bekerja pada keluarga Djaja. Tetapi selama 4 tahun menikah dengan pria itu, Azizah gagal. Ia tak berhasil membuat Axel mencintainya dan berakhir menyedihkan seperti ini.
Padahal kakek Axel, Tuan Adhitama, sangat baik pada ibunya juga dirinya. Meskipun perlakuan dari keluarga Djaja tidak sebaik Kakek Adhitama, tapi mereka tidak pernah berbuat jahat. Bisa dikatakan cukup baik. Bahkan setelah ibunya tak lagi bekerja di rumah keluarga Djaja dan pulang kampung karena sakit, ia tetap diperlakukan dengan baik selayaknya karyawan di rumah besar itu.
Tapi semuanya berubah setelah Kakek Adhitama tiba-tiba menjodohkannya dengan cucu laki-laki semata wayangnya, Axel William Djaja. Semua anggota keluarga berbalik sangat membencinya karena dia dengan bodohnya menerima perjodohan itu. Alasannya klasik: karena dia jatuh hati pada ketampanan Axel dan pria itu selama ini bersikap baik padanya. Dan memang, Azizah kini menyesali kebodohannya itu.
Azizah tersenyum getir. Kembali dilihatnya perutnya yang masih rata seraya memberikan sentuhan di sana.
"Maaf, Nak..." Hanya kata maaf yang bisa wanita itu ucapkan kepada calon bayinya. Dia yang menciptakan penderitaan ini untuk anaknya—lahir tanpa sosok ayah, bahkan mungkin tidak akan diakui. Menyesal pun tidak ada gunanya, semua sudah terjadi.
Bukan, Azizah bukan menyesali kehadiran nyawa kecil yang bersemayam di rahimnya kini. Dia menyesal karena kebodohannya di awal menerima perjodohan konyol itu. Ya, itu adalah salahnya. Dan kini ia memutuskan untuk menghapus jejaknya.
Azizah hanya berharap anaknya bisa mengerti dan memaafkan keputusannya saat ini.
Akhirnya, setelah menempuh perjalanan hampir 12 jam, Azizah telah sampai di kampung halaman ayahandanya, Surabaya.
Ia yakin tidak ada seorang pun yang mengenalnya di sini kecuali kerabat ayahnya, karena ia dan orang tuanya hanya tinggal beberapa tahun di sini.
"Halo, Bibi, saya sudah di depan gang."
Azizah menghubungi seseorang yang ia panggil Bibi. Ya, itu adalah sepupu ayahnya yang kebetulan masih setia tinggal di sini. Dia mendapatkan nomor ponselnya setelah bersusah payah mencarinya.
"Azizah?"
Suara panggilan itu terdengar tak lama setelah Azizah mematikan panggilannya. Dengan segera Azizah menghampiri wanita paruh baya yang 50% rambutnya sudah memutih itu.
"Bibi Ani?"
"Masya Allah... Nduk."
Bibi Ani memeluk Azizah erat. Wanita itu nampak bahagia dengan kedatangan Azizah. Maklum saja, Bibi Ani janda tanpa anak, jadi kedatangan Azizah bak tetesan embun di tengah padang pasir kehidupannya.
"Bibi apa kabar?"
"Alhamdulillah baik, Nduk... Ayok pulang ikut Bibi. Kamu kan lagi hamil, habis perjalanan jauh."
Azizah tersenyum lebar, kemudian mengangguk dan meraih lengan Bibi Ani untuk berjalan beriringan.
"Azizah mungkin akan tinggal lama di sini, Bi," ucap Azizah di tengah-tengah langkahnya.
"Bagus... Alhamdulillah, malah Bibi senang ada temannya."
"Beneran, Bi?"
"Ya, bener toh..." ucap Bibi Ani tersenyum girang. Azizah pun ikut tersenyum.
Syukurlah ia masih punya sisa anggota keluarga yang mau menerimanya.
"Ini kamar kamu, Nduk. Maaf kecil, mudah-mudahan kamu maklum."
"Ya Allah, ini aja Azizah sudah bersyukur banget, Bi. Kamarnya nyaman, adem."
"Alhamdulillah, mudah-mudahan kamu betah di sini, Nduk."
"Insya Allah betah, Bi."
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat ya. Kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh. Bibi mau ke pasar dulu, belanja buat makan malam kita nanti."
Azizah mengangguk, kemudian ingin mengambil beberapa lembar uang untuk diserahkan pada bibinya.
"Enggak usah. Kamu simpan saja. Kalau sekadar untuk makan, insya Allah Bibi lebih dari mampu, Nduk."
"Tapi, Bi... Azizah enggak mau merepotkan."
"Sudah, jangan bicara seperti itu. Anggap sekarang Bibi ini ibu kamu, ya."
Bibi Ani tersenyum lembut, tanpa sengaja mengingatkan Azizah pada mendiang ibunya. Tiba-tiba wanita berhijab itu dihantam rasa rindu yang luar biasa, kemudian menghambur ke pelukan Bibi Ani.
Bibi Ani sedikit terkejut, namun beberapa detik kemudian wanita itu ikut berkaca-kaca. Ia tahu apa yang saat ini Azizah rasakan.
"Sudah, kamu di sini untuk berbahagia, jangan nangis-nangis lagi. Istirahat. Bibi ke pasar sebentar."
"Inggih, Bi. Terima kasih..."
"Jangan berterima kasih. Kita keluarga."
Azizah mengangguk, kemudian melepas Bibi Ani keluar dari kamarnya.
Wanita itu kembali menatap kamar yang kini akan menjadi tempat tidur barunya.
'Bismillah, semoga aku bisa menjalani hidup lebih baik di sini, Ya Rabb.... Aamiin.'
Sementara itu di Jakarta...
"Terima kasih sudah menjalankan perusahaan dengan baik. Kakek tidak ragu lagi karena sudah menyerahkan semua bisnis ini kepada kamu, Axel William Djaja."
Kening Axel sedikit berkerut. Kakeknya tiba-tiba memintanya datang hanya untuk mengutarakan keputusannya menyerahkan semua perusahaan padanya? Tadinya Axel berpikir bahwa kakeknya akan menasihatinya seperti biasa tentang Azizah. Siapa sangka dugaannya salah. Dan lagi, kakeknya tampak sangat dingin padanya saat ini. Ekspresinya sangat datar dan tanpa senyum.
"Terima kasih, Kek. Axel janji tidak akan mengecewakan Kakek."
Axel berkata dengan lembut, tapi dia bukan sedang menjilat. Axel bersungguh-sungguh menyayangi kakeknya. Kalau tidak, dia tidak akan menikahi Azizah.
'Tapi kamu sudah sangat mengecewakan aku, cucuku,' batin Adhitama sedih.
"Heum... Dan kalau kamu ingin menceraikan Azizah, Kakek setuju. Maaf sudah memaksamu menikah dengan perempuan yang tidak kamu cintai. Kamu bebas ingin menikah dengan siapa pun itu, Xel. Kakek tidak akan melarang."
Adhitama menatap lekat netra cucunya. Kali ini dia bersungguh-sungguh. Dengan menikah lagi dan menceraikan Azizah, Axel tidak akan mengganggu dan menyakiti gadis malang itu lagi.
Sementara Axel dibuat semakin bingung. Apa kakeknya salah minum obat? Kenapa tiba-tiba berubah seperti ini? Axel hanya mengernyit bingung hingga suara rendah dan dalam Adhitama mencuri atensinya yang tengah fokus melamun.
"Begitu saja. Kamu boleh pergi. Kakek ingin beristirahat."
Adhitama kemudian merebahkan tubuh rentanya. Axel bergegas ingin membantu, tapi Adhitama segera mengibaskan tangannya sebagai isyarat bahwa dia tidak perlu dibantu.
Axel memandang tangannya yang menggantung di udara karena penolakan kakeknya. Tak lama kemudian, pria tampan nan gagah itu membungkuk hormat dan melenggang pergi meninggalkan Adhitama yang pura-pura memejamkan matanya.
Di luar ruang perawatan, Axel benar-benar dilanda kebingungan. Ia yakin ada yang tidak beres dengan kakeknya. Kenapa tiba-tiba berubah seperti itu?
Padahal seharusnya dia senang karena kakeknya menyetujui dirinya menceraikan perempuan murahan itu. Tapi kenapa dia merasa aneh? Hatinya merasa tercubit. Axel yakin pasti sesuatu telah terjadi.
Tapi kemudian dia berpikir lagi, bukannya bagus? Bukankah ini malah menjadi berita bagus? Dia harusnya senang, bukan? Ya, seharusnya dia senang. Dia bisa menikah dengan Alexa setelah menceraikan Azizah.
Pria itu kemudian tersenyum tipis, meninggalkan rumah sakit dengan langkahnya yang gagah.
terus Memau apaan tuch...
adek yg tlh lama hilanf, kini ada fi depan mata ny, tanpa ia ketahui