Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.
Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.
Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.
Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.
Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 25.
Ruangan putih itu terasa jauh lebih dingin sekarang, Evelyn menatap layar bercahaya di depannya tanpa berkedip.
Ia tidak mungkin salah mengenali wajah pria itu... Julian Cross. Orang yang dulu paling dipercaya dalam organisasinya.
Pria yang berdiri di sisinya selama bertahun-tahun, yang selalu tampak loyal. Tenang, dan cerdas. Sampai akhirnya, pria itu mengkhianatinya. Julian yang membocorkan pergerakan Evelyn malam kecelakaan itu. Dan sekarang, pria itu ada di dunia ini. Julian berdiri di belakang William, mengenakan pakaian bangsawan kerajaan.
Wajah Evelyn perlahan berubah dingin, dunia modern dan dunia kerajaan memang saling terhubung. Dan orang-orang yang berhubungan dengannya di dunia modern, mulai muncul satu per satu.
Layar putih itu perlahan berubah lagi.
“Sinkronisasi jiwa tidak sempurna.”
“Sebagian individu mempertahankan ingatan penuh.”
“Sebagian mengalami fragmentasi memori.”
“Sebagian akan terbangun perlahan.”
Tatapan Evelyn mengeras, artinya... tidak semua orang langsung sadar siapa diri mereka sebenarnya di dunia saat ini.
Namun ia yakin, jika Julian termasuk yang sadar sepenuhnya. Karena pria itu terlalu licik untuk bergerak sembarangan. Dan kalau Julian sudah berada di sisi William, berarti semua kekacauan ini mungkin lebih besar dari perebutan tahta kerajaan.
Bisa jadi, William bahkan tidak sadar dirinya sedang dipakai oleh Julian.
Evelyn mengepalkan tangan pelan, Julian selalu seperti itu. Manipulatif, dan ahli memainkan orang lain sebagai bidak. Di dunia modern, pria itu hampir berhasil merebut organisasi Evelyn dari dalam. Dan sekarang, sepertinya Julian akan mengulanginya di dunia ini.
“Jadi kau juga datang ke sini…”
Sebelum pikiran Evelyn melangkah lebih jauh, layar Ruang Ajaib tiba-tiba berubah merah.
“PERINGATAN...!!!”
“Energi pewaris lain terdeteksi di dalam istana.”
Mata Evelyn seketika menyipit.
Di istana?
Layar segera menampilkan titik cahaya kecil. Lokasinya ada di sayap utara istana kerajaan, area tempat tinggal ibu suri.
Jantung Evelyn berdetak lebih pelan, Julian ada di istana sekarang. Dan kemungkinan besar, pria itu sudah mulai bergerak.
...*****...
Di sisi lain istana, seorang pria berdiri di depan jendela sambil memandangi taman malam. Wajahnya tampan, dan elegan. Namun matanya, terlalu dingin... Julian Cross.
Namun di dunia ini, ia dikenal sebagai Duke Lucien Arden. Bangsawan muda berpengaruh yang baru beberapa waktu terakhir mulai dekat dengan William. Di belakangnya, William sedang duduk sambil memegang gelas anggur.
“Kau yakin rencana ini akan berhasil?”
Lucien atau Julian tersenyum tipis. “Yang Mulia Pangeran terlalu tidak sabar.”
“Kau meremehkanku?” William menyipitkan mata.
“Tidak.” Lucien menoleh perlahan, tatapannya tajam. “Aku hanya lebih memahami musuh kita.”
William terdiam.
Karena sejak Lucien datang, semua strategi mereka memang mulai berubah jauh lebih efektif. Pria itu seperti bisa membaca langkah Evelyn sebelum wanita itu bergerak. Dan itu membuat William mulai mempercayai Lucien.
Lucien berjalan mendekat ke meja besar, tatapannya sedikit berubah samar. “Ratu Evelyn bukan wanita biasa, dia selalu berbahaya.”
William mengernyit. “Kau benar-benar mengenal ratu saat ini?”
Lucien hanya tersenyum kecil, pria itu tidak menjelaskan lebih jauh. Karena hanya dirinya yang tahu kebenaran sebenarnya. Bahwa Ratu Evelyn Lancaster, bukan hanya mirip Evelyn Carter. Namun memang, Evelyn Carter.
Dan sejak pertama kali melihat sang ratu, Lucien langsung mengenalinya. Sama seperti dulu, wanita itu tetap memiliki tatapan yang sama... tatapan seorang penguasa.
Namun kali ini, Lucien tidak lagi berniat berdiri di bawah bayangan Evelyn. Di dunia modern ia gagal mengambil semuanya. Tapi di dunia ini, ia berniat menang.
Di paviliun ratu...
Evelyn keluar dari Ruang Ajaib dengan wajah dingin, pikirannya bergerak cepat. Julian ada di istana, dan pria itu mungkin sudah mengetahui sesuatu tentang Ruang Ajaib. Artinya, ia tidak punya banyak waktu.
Saat itulah, Alexander yang masih duduk di ranjang di dalam ruangan memperhatikan wajah Evelyn.
“Kau terlihat seperti ingin membunuh seseorang.”
Evelyn menoleh perlahan pada Raja Alexander, ia benar-benar mempertimbangkan apakah harus mengatakan semuanya.
“Aku baru menemukan sesuatu.”
Alexander memperhatikan perubahan nada suara wanita itu, “Seberapa buruk?”
“Kalau aku bilang…” Tatapannya dalam pada Alexander. “Musuh kita mungkin bukan berasal dari dunia ini.”
Alexander terdiam, tapi anehnya ia tidak terlihat terkejut. “Kau akhirnya mau bicara soal asal-usulmu?”
Kini justru Evelyn yang terdiam.
“Sejak awal aku tahu kau berbeda.” Alexander menyandarkan tubuh di kepala ranjang dengan santai, tatapannya turun pelan ke wajah Evelyn. “Tidak mungkin, ratu yang dulunya lemah dan hanya bisa menangis... berubah se-drastis itu dalam semalam. Lagipula, beberapa kali kau sempat menyinggung tentang dunia modern tempat asalmu itu.”
“Apa kau takut padaku, atau waspada?” tanya Evelyn pelan.
“Pada wanita yang menyelamatkan kerajaanku?” Alexander tersenyum kecil. Pria itu mengangkat tangan, ia menyentuh pelan pipi Evelyn dengan lembut. “Aku... lebih takut kehilanganmu.”
Dan di dalam salah satu ruangan di istana, Lucien berdiri memandangi bulan sambil tersenyum samar.
“Akhirnya kita akan segera bertemu lagi... Boss.”