Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Cincin yang Memilih
Pukul 02.00 dini hari. Villa Pradipa seharusnya sudah sunyi, tapi malam ini ruang tengah masih terang benderang. Kakek Wijaya duduk di kursi rodanya, memutar-mutar Cincin Api di jari tuanya. Alesha berdiri di sampingnya, memegangi laptop Paman Edwin yang baru saja selesai diperiksa. Maya duduk di sofa dengan kompres es di bahunya—bekas terjatuh saat mendobrak pintu samping mansion. Dan Aditya, dengan luka-luka yang masih mentah, berbaring di karpet sambil menatap langit-langit.
"Jadi Radit sendiri yang datang," Kakek Wijaya memecah keheningan. "Berarti Putra Senja menganggap operasi ini prioritas."
"Dia level 11, Kakek. Aku hampir mati."
"Tapi kau tidak mati. Dan kau bawa pulang Cincin Api." Kakek Wijaya mengangkat cincin itu ke arah lampu. Batu merahnya berkilau. "Pusaka ketiga. Dulu milik keluarga Kusuma di Yogyakarta. Mereka habis dibantai tahun 1965."
Alesha mengernyit. "Dibantai?"
"Diduga PKI waktu itu. Tapi aku tahu itu kerjaan Sang Pengumpul." Kakek Wijaya meletakkan cincin itu di meja. "Cincin ini memberimu kekuatan ekstra, Aditya. Kenapa tidak kau pakai saja?"
Aditya bangkit duduk. "Aku sudah coba di perjalanan pulang. Tidak terjadi apa-apa."
"Itu karena Cincin Api bukan untukmu."
Semua menoleh pada Kakek Wijaya.
"Masing-masing pusaka punya... sebut saja kepribadian. Liontin Surya memilihmu, Aditya. Belati Surya memilih Alesha. Cincin Api..." Kakek Wijaya menatap Maya, "...akan memilih orang yang paling berani di antara kita. Orang yang tidak mundur meski lawannya lebih kuat."
Maya tertawa kecil. "Kalau itu kriterianya, harusnya Aditya."
"Aditya berani karena dia harus berani. Tapi kau..." Kakek Wijaya melempar Cincin Api ke arah Maya, "...kau berani karena kau memilih berani. Itu bedanya."
Maya menangkap cincin itu dengan refleks. Begitu menyentuh kulitnya, batu merah di cincin itu menyala—bukan jingga seperti liontin Aditya, tapi merah darah. Maya tersentak, hampir melepasnya.
"Jangan dilepas," perintah Kakek Wijaya. "Biarkan dia mengenalmu."
Api kecil muncul dari batu merah itu, melilit jari Maya tanpa membakar. Mata Maya membelalak—biasanya ia tidak mudah terkejut, tapi kali ini ia tidak bisa menyembunyikannya.
DING!
Notifikasi Sistem: Cincin Api teraktivasi. Pemilik: Kapten Maya Kirana.
Efek: Meningkatkan Kekuatan +10, memberikan skill "Tinju Api" (Level 1).
Catatan: Cincin Api juga bisa mendeteksi kebohongan—target yang disentuh tidak bisa berbohong selama 5 detik.
"Kau bisa mendeteksi kebohongan sekarang," Aditya memberitahu Maya. "Sentuh seseorang, dan dia tidak bisa bohong selama lima detik."
Maya menatap cincin di jarinya, lalu menatap Aditya. "Kau serius?"
"Coba saja."
Maya menyentuh lengannya sendiri. "Aku... suka makan pizza nanas."
Lampu di ruangan berkedip. Cincin itu bergetar.
"Kau bohong," kata Aditya.
"Tentu saja bohong. Siapa yang suka pizza nanas?" Maya terkekeh, lalu menatap Cincin Api dengan ekspresi yang sulit ditebak—antara takjub dan takut. "Jadi sekarang aku kultivator?"
"Kultivator rendahan," Kakek Wijaya mengoreksi. "Tapi ya, kau bisa mulai menyerap energi. Nanti aku ajarkan dasar-dasarnya."
Alesha menyilangkan tangan. "Jadi kita sekarang bertiga. Masing-masing dengan satu pusaka."
"Dan musuh kita punya tiga yang lain: Tameng, Tombak, dan Busur. Belum lagi Mahkota terakhir yang entah di mana." Kakek Wijaya menghela napas. "Tapi itu urusan nanti. Sekarang, kita hadapi yang lebih dekat."
Ia membuka laptop Paman Edwin. File "Operasi Mahkota—Final" terpampang di layar.
"Rencana Paman Edwin sederhana tapi berbahaya," Alesha menjelaskan. "Besok lusa, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa. Dia akan mengajukan mosi tidak percaya padaku dengan alasan aku terlalu muda, tidak punya visi, dan... dia punya bukti bahwa aku menyembunyikan aset perusahaan."
"Bukti palsu?"
"Tentu. Tapi dia sudah mengantongi dukungan 40% suara. Aku butuh 51% untuk menang."
"Berapa suaramu saat ini?"
Alesha terdiam. Kakek Wijaya yang menjawab: "35%. Sisa suara dipegang oleh investor yang masih ragu-ragu, dan satu pemegang saham misterius yang tidak pernah muncul—20%. Saham itu sudah tidur selama 20 tahun."
"20 persen itu cukup untuk memenangkan suara."
"Ya. Tapi tidak ada yang tahu siapa pemiliknya. Bahkan aku." Kakek Wijaya mengusap janggutnya. "Saham itu dibeli tahun 2004 oleh sebuah perusahaan cangkang di Panama. Sejak itu tidak pernah disentuh."
Aditya mengaktifkan All-Seeing Eye pada dokumen di layar.
Pemegang Saham Misterius: Terdaftar atas nama "Helios Holdings Inc."
Pemilik Sebenarnya: Tidak terdeteksi (terlindungi artefak penyamar).
Lokasi: Tidak terdeteksi.
Catatan Tambahan: Nama "Helios" berarti "Matahari" dalam bahasa Yunani.
"Helios," bisik Aditya. "Itu bahasa Yunani untuk Matahari."
Semua bertukar pandang.
"Mungkin cuma kebetulan," kata Maya.
"Mungkin." Aditya berdiri. "Tapi ada satu cara untuk mencari tahu. Sistemku bisa mendeteksi artefak. Kalau pemilik 20% itu terkait dengan keluarga Pradipa atau pusaka... mungkin dia meninggalkan jejak."
"Di mana?"
Aditya menatap layar laptop. "Di gedung tempat saham itu pertama kali dibeli. Panama."
"Itu di belahan dunia lain."
"Aku tidak perlu ke sana. Aku hanya perlu alamat kantornya. Dari situ, sistem bisa melacak siapa yang pernah ke sana—kalau ada artefak di dekatnya." Aditya menghela napas. "Tapi itu investigasi panjang. Untuk sekarang, kita fokus ke RUPS besok lusa."
Alesha mengangguk. "Aku akan hubungi semua pemegang saham yang masih ragu. Maya, kau siapkan keamanan—aku tidak mau ada kultivator yang menyusup ke ruang rapat."
"Beres."
"Dan Aditya..."
"Ya?"
Alesha menatap luka-lukanya yang sudah mulai diperban. "Kau istirahat. Besok lusa, aku butuh matamu di ruang rapat."
---
Keesokan paginya, Aditya terbangun dengan tubuh yang masih nyeri. Tapi level 9 memberinya keuntungan: pemulihan lebih cepat. Luka-lukanya sudah mengering, dan stamina kembali ke 85%.
Ia duduk di balkon kamarnya, menatap matahari terbit di ufuk timur. Liontin di dadanya menyerap sinar pertama pagi itu, hangat.
Jurus Surya: Menyerap energi dari sinar matahari pagi. Pemulihan dipercepat 25%.
Dua hari lagi rapat pemegang saham. Dua hari lagi pertempuran tidak kasat mata—bukan dengan tinju dan pedang, tapi dengan kata-kata dan suara.
"Sistem," bisiknya. "Apa ada skill untuk menang rapat?"
Tidak ada skill khusus. Tapi Kecerdasan Host (22) cukup untuk menganalisis data dan menemukan kelemahan argumen lawan. Saran: Gunakan All-Seeing Eye saat rapat untuk mendeteksi kebohongan dan motif tersembunyi.
Aditya tersenyum. "Itu juga bisa."
Ponselnya bergetar. Pesan dari Dina—Inspektur yang dulu ia bantu.
"Pratama. Aku dapat kabar soal rapat di Pradipa Group. Ada beberapa polisi diperintahkan untuk berjaga di luar. Tapi perintahnya aneh. Seperti mereka ingin memastikan seseorang tidak keluar."
Aditya membalas: "Seseorang?"
"Kau. Atau Alesha. Hati-hati."
Ia menatap pesan itu lama. Polisi. Berarti Kompol Bramasta sudah diganti oleh orang baru—atau justru, atasannya yang Jenderal bintang dua itu mulai bergerak.