NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Idola sekolah
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Selenium Alchemy

Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.

​Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.

​Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33

Malam telah mencapai puncaknya ketika Bentley hitam milik Charles kembali memasuki pelataran parkir apartemen. Langkah kakinya yang biasanya terdengar tegas dan terburu-buru, kini melambat saat ia melangkah keluar dari lift pribadi. Seluruh amarah dan ketegangan yang sempat membakar dadanya di kantor hukum Rahardja telah menguap, digantikan oleh kerinduan yang teramat sangat untuk segera melihat wajah gadisnya.

Saat pintu besi apartemen terbuka, suasana di dalam ruangan begitu sunyi. Hanya ada pendar lampu temaram dari sudut ruang tengah. Charles berjalan perlahan menuju kamar tidur utama, dan di sana, ia mendapati aku sedang duduk bersila di atas tempat tidur besar, memeluk sebuah bantal dengan mata yang sembap. Ponsel yang sempat kujatuhkan siang tadi kini tergeletak pasrah di atas nakas.

Charles menghentikan langkahnya di ambang pintu. Ia tidak perlu bertanya apakah aku sudah membaca berita itu atau belum; air mata di pipiku dan ponsel yang terisolasi itu sudah memberikan semua jawaban. Ia melepaskan jas hitamnya, menyampirkannya di kursi terdekat, lalu melonggarkan ikatan dasinya tanpa suara.

"Andini," panggilnya lembut.

Aku mendongak. Begitu melihat sosoknya yang berdiri di sana—pria yang sepanjang hari ini berdarah-darah di medan perang yang tidak pernah kupahami—pertahananku runtuh kembali. Aku melepaskan bantal dalam pelukanku, bangkit berdiri, dan langsung berlari kecil menuju pelukannya.

Charles menyambutku dengan tangan terbuka. Ia mendekap tubuhku erat-erat, menenggelamkan wajahnya di antara rambut panjangku yang harum. Aku terisak pelan di dadanya, meremas kaus hitam yang ia kenakan.

"Maafkan aku, Charles... Aku melanggar janjiku. Aku membaca berita itu," bisikku di sela isak tangis. "Aku tidak menyangka Kak Reyhan akan tega melakukan hal sejauh itu. Aku merasa sangat bersalah kepadamu."

"Ssst... Cukup, Andini. Jangan meminta maaf," jawab Charles, suaranya terdengar seperti bisikan yang menenangkan di tengah badai. Ia mengecup puncak kepalaku berkali-kali, lalu perlahan menuntunku kembali ke tepi ranjang. Ia berlutut di hadapanku, menyamakan tinggi badannya dengan posisiku yang duduk di tepi kasur.

Tangannya yang besar dan hangat membingkai wajahku, ibu jarinya bergerak lembut menghapus sisa air mata di pipiku. "Semua sudah selesai. Aku sudah menemui pemuda itu. Dia tidak akan pernah mengusik duniarmu lagi, dan Vivian tidak akan bisa menggunakan namanya untuk menyakitimu. Kau aman di sini. Bersamaku."

Aku menatap mata Charles. Di dalam manik matanya yang hitam pekat, aku tidak lagi melihat sosok CEO yang dingin atau angkuh. Yang ada di hadapanku malam ini hanyalah seorang pria yang tulus, seorang suami yang telah merubuhkan seluruh dinding esnya hanya untuk mencintaiku dengan cara yang paling megah. Rasa kagum, haru, dan getaran asing yang selama ini kupendam di dalam lubuk hati terdalam mendadak membuncah, memenuhi seluruh rongga dadaku.

"Charles..." lirihku, menatap bibirnya yang tegas. "Aku tidak ingin memikirkan masa lalu lagi. Aku tidak ingin memikirkan dunia luar. Malam ini, aku hanya ingin menjadi milikmu. Seutuhnya."

Charles terdiam sejenak. Sorot matanya berubah menjadi lebih dalam, dipenuhi oleh kilatan hasrat yang dewasa namun bercampur dengan rasa hormat yang teramat tinggi. Ia bisa menangkap makna di balik kalimatku. Ini bukan lagi tentang kontrak kesepakatan, bukan lagi tentang wasiat mendiang Bapak Sudarman. Ini adalah pernyataan cinta dari seorang wanita kepada pria pilihan hatinya.

"Kau yakin, Andini?" bisik Charles, suaranya mendadak berubah menjadi serak, sarat akan emosi yang tertahan. "Aku tidak akan pernah memaksamu jika kau belum siap."

Sebagai jawaban, aku memberanikan diri untuk memajukan wajahku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku yang memulai. Aku menempelkan bibirku di atas bibirnya, sebuah kecupan yang awalnya ragu dan polos, namun sarat akan ketulusan rasa yang teramat dalam.

Sentuhan kecil itu seolah menjadi pemantik bagi seluruh kendali diri Charles yang telah ia jaga berbulan-bulan. Ia mengembuskan napas berat di sela kecupan kami, lalu perlahan membalas pagutanku dengan kelembutan yang memabukkan. Tangannya yang berada di pipiku bergeser ke tengkuk, memperdalam ciuman kami yang perlahan berubah dari sekadar penenang menjadi sebuah ungkapan gairah yang matang.

Charles perlahan bergerak naik ke atas ranjang, membimbing tubuhku untuk berbaring di atas seprai sutra yang lembut. Ia memposisikan dirinya di atasku, namun dengan tumpuan tangan yang memastikan tubuh tegapnya tidak memberatkan tubuh kecilku. Di bawah temaramnya lampu kamar, wajah Charles tampak begitu tampan dengan guratan ekspresi yang penuh pengabdian.

Jemari Charles bergerak perlahan menuju kancing piyama katunku. Setiap gerakannya begitu hati-hati, seolah-olah ia sedang membuka sebuah bingkisan yang paling berharga di duni anya. Ketika helai demi helai pakaian kusam masa laluku tersingkap, tidak ada rasa takut atau ragu di dalam hatiku. Tatapan mata Charles yang penuh pemujaan membuatku merasa menjadi wanita yang paling cantik dan berharga di dunia ini.

"Kau adalah hal terindah yang pernah hadir dalam hidupku yang dingin ini, Andini," bisik Charles tepat di depan bibirku, sebelum ia kembali menciumku, kali ini menjalar turun ke rahang, lalu ke leherku, menciptakan sensasi desir halus yang membuat seluruh tubuhku meremang.

Sentuhan tangan Charles di kulitku terasa seperti aliran listrik yang hangat, mengusir semua sisa dingin dari ingatan tentang Reyhan ataupun Vivian. Di dalam kamar yang kedap suara ini, duniaku menyempit hingga hanya menyisakan aroma tubuhnya, hangat napasnya, dan bisikan-bisikan pemujaan yang terus ia rapalkan di sela-sela penyatuan kami.

Malam itu, di atas ranjang yang menjadi saksi bisu, kami melepaskan semua atribut yang selama ini membebani kami. Charles menanggalkan jubah CEO-nya yang angkuh, dan aku menanggalkan status gadis korban skandal yang rapuh. Di bawah naungan cinta yang tumbuh dari puing-puing badai, kami menyatu dalam sebuah hubungan suami istri yang sakral—sebuah penyatuan yang tidak lagi didasari oleh selembar kertas kontrak, melainkan oleh debar jantung dua manusia yang saling menemukan pelabuhan terakhir mereka.

Beberapa jam kemudian, ketika deru angin malam di luar semakin mereda, keheningan yang damai kembali menguasai kamar utama. Aku berbaring dengan kepala yang bersandar nyaman di atas dada bidang Charles yang telanjang, mendengarkan detak jantungnya yang kini telah kembali teratur dan menenangkan. Selimut tebal membungkus tubuh kami berdua, melindungi kami dari dinginnya pendingin ruangan.

Charles tidak tidur. Jari-jarinya yang panjang perlahan memainkan rambutku, mengusap bahu polosku dengan penuh kasih sayang.

"Apakah kau menyesal, Andini?" tanyanya rendah, ada nada kekhawatiran kecil yang terselip di suaranya.

Aku mendongak, menatap dagunya yang kokoh, lalu tersenyum manis—senyuman paling bahagia yang pernah kukuritkan sejak kepergian orang tuaku. Aku mengecup dadanya pelan tepat di atas posisi jantungnya.

"Aku tidak pernah menyesal, Charles," jawabku tulus. "Malam ini, aku menyadari satu hal. Masa lalu mungkin memberikan kita luka dan kenangan, tapi masa kini adalah tempat kita membangun masa depan. Dan masa depanku... ada di sini, di dalam pelukanmu."

Charles tersenyum, sebuah senyuman pemenang yang sesungguhnya. Ia menarik selimut lebih tinggi, lalu mengeratkan pelukannya pada tubuhku, membawaku tenggelam ke dalam tidur yang paling nyenyak dan damai yang pernah kurasakan seumur hidupku. Badai di luar sana mungkin belum sepenuhnya musnah, namun di dalam kamar ini, di dalam ikatan jiwa yang telah sah seutuhnya, kami tahu bahwa tidak ada lagi satu pun kekuatan dunia yang bisa memisahkan kami.

1
Eni Wati
berharap
Grace Putri
kok ga upload" ? mati kah trkhr semua ?
Eni Wati
Gak seru tokoh nya mati beberan
Eni Wati
menunggu
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
Aamiin
Eni Wati
Penasaran
Eni Wati
seruuu👍
Eni Wati
Menunggu
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
sll menunggu
R.A Naimah
nggak faham alur ya selalu berputar
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
Lanjut
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!