Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.
Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.
Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.
Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB LIMA BELAS
Oma menggenggam kedua tanganku erat, hangatnya seolah merambat langsung ke dadaku. Tatapan matanya menembus, lembut tapi sarat dengan harap.
“Tolong… sayangi Althaf, ya, Senja.” suaranya bergetar, lirih, seakan setiap kata keluar dari lubuk hati paling dalam. “Sayangi dia… bimbing dia. Di balik sikapnya yang dingin dan kaku itu, sebenarnya Althaf anak yang penyayang. Dia hanya… tidak bisa mengungkapkannya dengan mudah.”
Aku terdiam, merasakan jemari Oma sedikit bergetar. Beliau menunduk, matanya berkaca-kaca, seolah menahan air mata yang tak ingin jatuh.
“Tolong jangan menyerah, ya, Senja. Oma tahu… awalnya pasti berat. Berat sekali. Tapi Oma yakin… Oma tidak salah merestui hubungan kalian.”
Seketika, dadaku terasa sesak. Kata-kata Oma seperti menekan sesuatu yang selama ini sudah penuh di dalam diriku.
Oma menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Dulu… Althaf pernah mengenalkan kekasihnya kepada Oma. Dia salah satu rekan kerjanya di kampus, mungkin kamu juga kenal. Tapi… dari sikapnya, Oma kurang suka. Perempuan itu sudah punya pasangan, namun masih berani menjalin hubungan dengan Althaf. Oma sedih sekali melihatnya, Althaf termakan cinta buta… Dia tidak melihat jelas siapa sebenarnya orang itu. Dan saat tahu… Oma tidak bisa merestui hubungan mereka.”
Aku tertegun. Kata-kata Oma terasa menohok begitu dalam.
“Orang itu… Yuanita.”
Jantungku berdentum keras, seperti baru saja dijatuhi palu besar. Nafasku tercekat, tenggorokanku mendadak kering. Jadi… benar? Bu Yuanita?
Gambaran tentang kedekatan Althaf dan Bu Yuanita di kampus berkelebat cepat di kepalaku. Wajah mereka yang selalu tampak akrab, cara mereka berbicara seperti sudah sangat dekat. Setiap detail kecil yang sebelumnya kuabaikan kini terasa jelas—terlalu jelas.
Jadi selama ini… mereka memang pernah bersama?
Ada sesuatu yang menyesak di dadaku, menimbulkan rasa perih yang tak bisa kujelaskan. Tanganku yang masih digenggam Oma terasa dingin.
Althaf… selalu marah ketika aku terlalu dekat dengan Revan. Dia melarangku, mengekangku, bahkan seolah tidak percaya padaku. Tapi… dia? Diam-diam masih menyimpan cerita dengan Bu Yuanita?
Mataku terasa panas, seolah air mata siap tumpah kapan saja. Perasaan asing yang menyesakkan itu membuatku ingin berlari, tapi kaki-kakiku terpaku di tempat.
Aku menunduk, berusaha menahan semuanya di dalam dada. Tapi kepalaku semakin kacau. Fakta yang baru saja ku dengar ini membuat semua hal tentang Althaf seakan penuh tanda tanya.
“Mungkin Althaf sering berperilaku kurang baik sama kamu, Senja…” suara Oma terdengar pelan, nyaris bergetar. Ia menatapku dalam, lalu tersenyum tipis yang sarat penyesalan. “Oma minta maaf ya, Nak… mewakili Althaf. Oma yakin, suatu hari nanti, dia akan berubah. Percayalah, Senja.”
Aku hanya mampu membalas dengan anggukan kecil. Jemariku refleks mengusap lembut punggung tangan Oma yang masih menggenggamku erat. Kehangatan itu justru membuat dadaku semakin sesak.
Bagaimana kalau Oma tahu kebenarannya…? batinku bergetar. Bahwa pernikahan ini hanya di atas kertas. Bahwa hubungan kami ada batas waktunya. Oma yang begitu tulus berharap, begitu yakin pada kami… bagaimana bisa aku tega menghancurkan harapan itu?
Aku menggigit bibir bawahku pelan, berusaha menahan gejolak dalam dada. Rasanya seperti ada beban berat yang menekan, membuat napasku sulit.
“Sudah, sudah… cukup deh bahas Althaf-nya,” ucap Oma akhirnya, sambil menghela napas panjang seakan menenangkan dirinya sendiri. Ia tersenyum lagi, kali ini lebih lembut. “Oma dengar kamu suka seafood, ya? Nah, tadi Oma sudah minta mbak di dapur masakin udang sama cumi asam manis spesial buat kamu.”
Oma lalu melepaskan genggamannya, jari-jarinya mengusap ujung matanya yang basah. Senyum yang dipaksakan itu membuatku ingin menangis, tapi aku menahannya sekuat tenaga.
“Yuk, ikut Oma ke meja makan.”
Aku mengikuti langkahnya pelan. Dan benar, di meja makan besar bergaya klasik itu sudah tersaji hidangan mewah: udang goreng tepung yang harum, cumi asam manis dengan kuah kental menggoda, serta beberapa lauk lain yang ditata cantik. Semua tampak begitu mengundang, tapi entah mengapa tenggorokanku kering dan perutku seperti kehilangan selera.
Meja makan itu tampak elegan dengan taplak putih gading dan lampu gantung kristal yang menggantung di atasnya, memantulkan cahaya keemasan. Aroma seafood yang sedap memenuhi ruangan, membuat suasana seolah hangat dan penuh keakraban.
Oma duduk di kursi ujung meja, sementara aku duduk di sisi kanan, persis di sampingnya. Ia tampak bersemangat, wajahnya berseri seperti seorang ibu yang ingin memanjakan anak kesayangannya.
“Coba deh, Senja. Ini udang goreng tepung favorit Althaf waktu kecil. Dia dulu bisa habis satu piring sendiri,” ucap Oma sambil menyendokkan beberapa udang ke piringku.
Aku tersenyum kikuk, “Wah, enak banget pasti, Oma. Terima kasih.” Aku mencoba menyuapkan satu ke mulut, dan benar—udangnya garing di luar tapi lembut manis di dalam. Namun, rasanya serba hambar di lidahku karena pikiranku terlalu penuh.
“Kalau cumi asam manis ini,” lanjut Oma sambil menunjuk hidangan lain, “dulu sering jadi cara Oma ngebujuk Althaf kalau dia lagi ngambek. Anak itu keras kepala sekali, apalagi setelah….” Oma terdiam sejenak, matanya menerawang.
Aku menatapnya, menunggu kelanjutan kata-katanya.
“Setelah orang tuanya meninggal, dia berubah. Dulu dia manja sekali sama mamanya. Begitu mereka pergi, Althaf jadi dingin. Seolah dia belajar menutup rapat hatinya, biar nggak sakit lagi.” Suara Oma serak, dan tangannya refleks meremas tanganku yang ada di atas meja.
Aku tercekat. Jadi itu alasan kenapa dia begitu dingin dan sulit ditebak…
“Senja,” suara Oma kembali lembut tapi penuh tekanan emosi, “Althaf itu anak tunggal. Sejak kecil, dia terbiasa menanggung semua sendiri. Makanya kadang dia terlihat keras, bahkan kasar. Padahal, jauh di dalam hati, dia cuma butuh seseorang yang sabar… yang mau memahami dia.”
Aku berusaha tersenyum, meski rasanya hatiku tercerabut. “Iya, Oma…” jawabku pelan.
Oma tersenyum hangat, meski matanya masih berkaca-kaca. “Kamu anak baik, Senja. Oma bisa lihat itu. Makanya Oma titip Althaf sama kamu.”
Aku mengangguk pelan, menunduk menatap piringku. Kalau saja Oma tahu, pernikahan ini hanya permainan waktu. Bagaimana nanti, saat semua ini terbongkar? Bagaimana hati Oma… bagaimana hatiku?
Aku menyuap cumi asam manis ke mulut, tapi lidahku nyaris tak bisa merasakan apa-apa. Makanan seenak itu berubah seperti pasir di mulutku.
Namun, aku tetap tersenyum, pura-pura menikmati, karena aku tak ingin membuat Oma sedih lagi malam ini.
Suara mesin mobil terdengar berhenti di halaman depan. Dari balik jendela ruang makan, aku bisa melihat lampu mobil yang menyinari taman kecil.
Oma refleks menoleh, senyumnya langsung merekah. “Itu pasti Althaf sudah pulang,” katanya bersemangat, seperti seorang ibu yang menantikan anaknya.
Jantungku langsung berdegup cepat. Entah kenapa selalu ada rasa aneh setiap kali berhadapan dengan Althaf di depan keluarganya. Seolah aku sedang memainkan peran yang bukan sepenuhnya milikku.
Tak lama, pintu utama terbuka. Suara langkah sepatu terdengar mantap menghantam lantai marmer. Lalu muncullah sosok itu—Althaf dengan setelan kemeja hitamnya yang lengannya sudah ia gulung sampai siku, wajahnya dingin dan tenang seperti biasa. Rambutnya sedikit berantakan, mungkin karena seharian bekerja.
“Assalamualaikum,” ucapnya singkat.
“Waalaikumsalam.” Suara Oma terdengar begitu hangat. Ia segera bangkit dan menghampiri cucunya itu, memeluknya erat. “Kamu baru pulang, Nak? Sudah makan?”
Althaf menggeleng, “Belum, Oma.” Tatapannya lalu beralih padaku. Ada sepersekian detik ia menatap lebih lama, seolah terkejut melihatku di sana. Namun wajahnya cepat kembali datar. “Kamu di sini?” tanyanya, datar tapi menyentuh nadaku.
Aku mengangguk kecil, pura-pura tenang. “Iya… Oma ngajak makan malam bareng.” jawabku sambil bangkit dari kursi. Dengan sedikit ragu aku meraih tangannya, menyalami seperti biasanya.
Sentuhan singkat itu terasa aneh—hangat, tapi canggung. Aku bisa merasakan jemarinya kaku, tak ada balasan genggaman, hanya sekadar formalitas.
“Begitu ya,” ucapnya datar, sebelum akhirnya melepaskan tanganku.
Oma tersenyum lebar sambil menggandeng lengan Althaf, membawanya ke meja. “Pas banget! Kamu belum makan, ayo duduk. Senja sudah lebih dulu menemani Oma.”
Kami pun kembali duduk. Oma dengan sigap menyendokkan nasi dan lauk ke piring Althaf, seperti seorang ibu yang masih ingin memanjakan anak kecilnya.
“Coba deh, Thaf, udang goreng tepung kesukaanmu. Tadi Senja juga suka, ya kan, Senja?” ucap Oma sambil melirikku dengan tatapan penuh arti.
Aku terpaksa tersenyum, “Iya, enak banget, Mas…” suaraku nyaris bergetar saat memanggilnya.
Althaf menoleh sekilas, wajahnya tetap tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang tak bisa kutebak. Dia mengambil garpu, lalu menyuapkan makanan ke mulutnya tanpa banyak bicara.
Suasana sejenak hening. Hanya suara sendok dan garpu beradu dengan piring yang terdengar. Aku bisa merasakan atmosfer canggung di antara kami, meski Oma sama sekali tak menyadarinya.
“Senja tadi nemenin Oma ngobrol banyak,” ucap Oma tiba-tiba, memecah keheningan. “Oma bilang sama dia… supaya sayangin kamu, Thaf. Karena Oma tahu, kamu ini keras kepala.”
Aku tercekat. Wajahku panas. Aku melirik Althaf sekilas.
Althaf menegakkan tubuhnya, menatap Oma sejenak lalu menurunkan pandangannya ke piring. Rahangnya sedikit mengeras, seolah kata-kata Oma menusuk sesuatu yang ia sembunyikan rapat.
“Senja memang baik, Oma.” Suaranya tenang, tapi entah kenapa ada nada yang dalam. Tatapannya melirikku sekilas, membuatku refleks menunduk.
Oma tersenyum puas, tidak menyadari ada banyak hal yang menggantung di udara. “Nah, kalau gitu Oma tenang.”
Aku hanya menelan ludah, merasa terjebak di antara kebahagiaan sederhana Oma dan rahasia besar yang kami simpan.
Setelah selesai makan malam yang canggung itu kami semua bergeser ke ruang keluarga. Ruangan itu terasa hangat dengan lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya lembut. Aroma teh melati memenuhi udara, cangkir-cangkir porselen berukir emas sudah tersaji di meja kaca. Oma duduk di kursi goyang favoritnya, sementara aku dan Althaf di sofa panjang berwarna krem.
“Oma senang sekali malam ini,” ucap Oma sambil tersenyum hangat, menatapku dan Althaf bergantian. “Jarang-jarang bisa makan malam lengkap dengan cucu Oma dan istrinya.”
Aku tersenyum kikuk, menunduk sebentar. Althaf tetap tenang, wajahnya tak banyak berubah, hanya sesekali menyesap tehnya.
Tiba-tiba Oma berkata, “Senja, Althaf… malam ini jangan pulang. Menginaplah di sini, ya.”
Aku hampir tersedak tehnya sendiri. “Eh… menginap, Oma?” tanyaku terbata, jantungku langsung berdebar keras.
“Iya, sudah malam sekali, kan? Jalanan bahaya kalau kalian pulang sekarang. Lagipula Oma senang kalau rumah ini ramai. Kamar utama di lantai atas sudah Oma siapkan, spreinya baru diganti siang tadi. Kalian bisa tidur nyaman di sana.”
Aku menelan ludah, menunduk dalam. Kamar utama? Bersama-sama? Rasanya wajahku langsung panas.
Aku melirik ke arah Althaf, berharap dia yang menolak. Lelaki itu masih duduk tenang, hanya mengangkat alis tipis saat mata kami bertemu. “Oma, sebenarnya…” ia mulai berbicara, suaranya datar.
Namun Oma langsung memotong dengan suara tegas tapi penuh kasih, “Tidak ada alasan, Thaf. Sesekali turuti permintaan Oma.”
Pipiku makin panas, aku menunduk makin dalam, jemariku meremas ujung rok tanpa sadar. Rasanya perutku menggelinjang, canggung luar biasa.
Althaf menarik napas panjang, lalu menoleh sebentar padaku sebelum akhirnya menatap Oma. “Baik, Oma,” jawabnya singkat.
Aku langsung menoleh kaget, menatapnya tak percaya. Begitu mudah ia mengiyakan?
Oma tersenyum lega, matanya berkilat bahagia. “Nah, begitu dong. Oma senang sekali dengarnya.” Ia lalu menggenggam tanganku erat, jemarinya hangat dan bergetar lembut. “Senja, jangan sungkan ya. Anggap rumah ini rumahmu sendiri. Oma ingin kamu merasa nyaman di sini.”
Aku hanya bisa mengangguk dengan senyum tipis, meski di dalam hati kepalaku penuh suara gaduh. Bagaimana aku bisa tidur satu kamar dengan Althaf, sementara hubungan kami masih… begini?
Althaf hanya diam di sampingku, wajahnya tetap dingin, tapi aku menangkap sekilas helaan napasnya yang berat. Seakan dia pun tahu, malam ini akan panjang.