Tidak ada yang menginginkan menjadi orangtua tunggal. Entah itu perpisahan karena perceraian ataupun kematian. Terkadang beberapa orang memutuskan untuk menjalin hubungan lagi dengan dalih awal untuk mengisi posisi yang kosong. Itu yang terjadi pada Davin dan Arini. Memutuskan menikah demi figur orangtua lengkap untuk anak-anak mereka.
Keluarga harmonis menjadi impian mereka. Namun ditengah perjalanan rumah tangga mereka ada ujian yang datang. Suami melakukan kesalahan fatal dan istri yang depresi.
Bagaimana cara Davin dan Arini mempertahankan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Setelah kepergian Angel tadi Davin jadi termenung. Kenangan ketika bersama Angel kala mereka masih menjalin kasih menari di kepalanya.
Davin mengenal Angel karena kebetulan mereka kuliah dikampus yang sama. Jurusan mereka juga sama, namun mereka berbeda kelas. Saat itu Davin harus ikut ujian susulan salah satu mata kuliah dan ia bergabung dikelas Angel. Mereka duduk bersebelahan.
Kala itu Davin langsung terpikat dengan Angel karena wanita itu begitu ramah dan juga ceria. Selain kepribadian yang baik, paras Angel juga cantik. Angel memiliki gigi gingsul di depan sebelah kanan dan itu menambah kesan manis.
Mereka mulai berpacaran pada saat memasuki semester empat perkuliahan. Sampai akhirnya 2,5 tahun kemudian, Davin lulus duluan. Setelah lulus pria itu langsung mendapat pekerjaan. Merasa sudah mapan, Davin mengajak Angel untuk menikah. Lagipula Angel juga tinggal skripsi saja. Davin merasa sudah sangat cocok dan yakin dengan Angel sehingga ingin memperistrinya. Namun sayang Angel menolak lamaran Davin dengan alasan ia belum mau menikah.
Davin awalnya tidak mempermasalahkan. Ia menyadari mungkin memang ia terlalu terburu-buru. Namun tak lama Angel malah meminta untuk mengakhiri hubungan.
Saat itu Davin merasa sakit hati. Akhirnya ia meminta pada temannya untuk dikenalkan pada seorang gadis. Gadis itu bernama Tamara. Hanya beberapa bulan berpacaran, Davin langsung meminang Tamara. Seolah ingin membuktikan pada Angel kalau hidupnya sangat baik saja. Mungkin karena niat awalnya yang sudah salah, hubungan suami istri itupun tidak berlangsung lama.
Davin tidak tau bagaimana perasaannya kini pada Angel. Apakah benar- benar sudah melupakan atau belum, ia sendiri bingung. Berawal dari beberapa waktu lalu, ketika Aziza membuka album foto lamanya yang terdapat foto antara dirinya dan Angel, Aziza mengatakan ingin Angel menjadi ibunya. Davin tak sempat kepikiran kata-kata itu karena kesibukannya. Namun ketika malam ini ia bertemu langsung dengan mantan kekasihnya itu, ia merasa detakan jantungnya masih sama seperti dulu.
'Apa perasaan itu masih ada" batin Davin.
Davin menarik nafas panjang. Ia juga mengusap kasar wajahnya, mencoba menghilangkan pemikiran-pemikiran yang dirasa tidak penting.
Setelah pesanannya jadi, Davin melanjutkan perjalanannya menuju rumah Arini. Sepanjang perjalanan Davin terus mencoba menenangkan hati dan pikirannya.
Tak lama akhirnya Davin tiba dirumah Arini. Davin memarkirkan mobilnya di halaman rumah Arini yang tampak luas. Davin berjalan menuju pintu, mengetoknya sambil mengucapkan salam. Tak lama pintu terbuka dan orang itu juga menjawab salam dari Davin.
"Waalaikumsalam. Siapa, ya?"
"Saya Davin, Bu. Papanya Aziza," jelas Davin.
"Oh papanya Aziza. Ayok masuk. Mereka lagi mau makan," ucap Amak yang langsung membuka lebar pintu rumahnya. Davin melangkah dibelakang Amak menuju ruang makan.
"Om," sapa Adit yang pertama kali menyadari kehadiran Davin.
"Hai," sapa Davin balik.
"Pak Davin makan malam dulu, yuk," ajak Arini.
Davin terdiam beberapa saat. Penampilan Arini malam ini sangat berbeda seperti biasanya hingga pria itu terpana. Malam ini Arini tampil dengan mukenah yang masih terpasang dikepalanya, menutup seluruh tubuh wanita itu, sehingga menurut Davin Arini terlihat sangat...
Cantik, batin Davin.
Selama mengenal Arini, tampilan Arini selalu tertutup dan sopan. Wanita itu selalu menggunakan rok dibawah lutut atau celana panjang. Padahal sangat tertutup, tapi terlihat sangat cantik dimata Davin.
Lamunan Davin akhirnya terhenti tatkala mendapat tepukan di bahunya.
"Ayo makan, Nak Davin," ucap Amak.
"Oh, i-iya Bu," jawab Davin sedikit terbata.
Amak tersenyum melihat tingkah Davin, sedang Davin sedikit menunduk, malu karena ketahuan melamun sambil memerhatikan Arini.
Davin diarahkan duduk disamping kiri Aziza, sedang sebelah kanab Aziza tentu saja ada Aya yang tidak mau terpisahkan.
"Kamu ngga nakal, kan?" tanya Davin pada putrinya.
"Aziza ngga nakal kok, Nak Davin. Daritadi mereka main terus nih berempat," ucap Amak.
"Silahkan makan dulu. Ini Arini semua yang masak," ucap Amak lagi.
"Rin, kasihkan dulu itu nasi sama lauk buat Nak Davin."
Arini yang masih berdiri karena baru saja meletakkan minum di atas meja segera mengambil nasi untuk Davin.
"Segini cukup, Pak" tanya Arini.
"Iya segitu saja," jawab Davin.
Ada menu ayam dan ikan malam itu. Arini menawarkan keduanya pada Davin, namun Davin memilih salah satunya saja.
"Ikan saja, Rin," ucapnya.
Dengan sangat telaten Arini mengambil gulai ikan patin itu untuk Davin. Setelah piring itu berisi nasi, lauk, serta kawan-kawannya Arini memberikannya pada Davin.
"Terimakasih."
"Sama-sama, Pak."
Hati Davin malam ini menghangat dan terharu. Lama sekali rasanya ia tidak dilayani diatas meja makan seperti ini. Dulu ketika masih menikah dengan Tamara pun ia tidak mendapat perlakuan seperti ini. Terakhir mungkin dari sang ibu. Namum ibunya kini sudah tiada sejak umur Aziza menginjak 4 tahun.
Sisa hari itu Davin menjalaninya dengan penuh suka cita dan perasaan yang menghangat.
###
Sembari menunggu updetan cerita Davin dan Arini, mampir dan singgah dulu yuk di karya author yang pertama, IZINKAN AKU UNTUK BAHAGIA. ❤️❤️🌹