Jeevan Aleser, sosok karismatik yang terkenal baik hati dan dermawan sebenarnya adalah seorang pencuri berlian dan barang antik. Dalam dunia kejahatan, Jeevan dikenal dengan sebutan Mr. A.
Mr. A yang tidak pernah gagal menjalankan aksinya, suatu hari terdesak hingga menawan seorang gadis untuk menyelamatkan diri. Aleena, gadis tawanan Mr. A adalah seorang gelandangan yang dibuang keluarganya.
Sebuah kisah romantis komedi yang terbalut dalam aksi pencurian dan pembalasan dendam. Akankah Aleena dan Jeevan dapat hidup bahagia dengan tenang? Ataukah pada akhirnya mereka menjalani hidup sebagai buronan bahkan menjadi tahana? Ikuti kisah cinta penuh aksi dalam kisah ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoemi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nenek Tua Jelek
Selamat membaca ....
⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳
Malam berjalan menuju puncak hening. Rembulan tak terlihat. Wujudnya yang hanya separuh bersembunyi di balik gumpal awan. Hanya ada beberapa bintang yang tambak sayu bertengger di langit gelap. Sinarnya redup, bagai neon kehabisan baterai.
Jeevan menatap Aleena diam-diam dari tangga. Gadis itu, dengan semangatnya menunggu Jeevan yang mengambil beberapa peralatan. Dia seakan tak punya lelah meski seharian bekerja.
"Cukup menarik," ujar Jeevan pelan. Buru-buru dia mengulum senyum di sudut bibirnya ketika Aleena menangkap keberadaannya.
"Tuan Jee, aku sudah siap untuk belajar," ucap Aleena renyah. Dia tampak bahagia.
Jeevan tak menjawab. Dia berjalan menuruni tangga dengan sebuah kotak berisi peralatan make-up di tangannya.
Aleena tersenyum saat Jeevan sampai di dekatnya. Senyum yang membuat Jeevan betah untuk menatap wajah gadis itu. Wajah polos dengan senyum alami yang tulus.
Jeevan meletakkan kotak peralatannya di meja. Dia duduk di samping Aleena lalu membuka kotak tersebut, memperlihatkan isi yang ada di dalamnya. Ada berbagai jenis bedak dan entah alat apa namanya. Aleena tidak tahu. Dia hanya menatap takjub. Dirinya yang seorang wanita bahkan tidak punya semua itu. Selama ini, dia hanya mengenal bedak dan lipstik yang itupun jarang bisa dia gunakan.
"Tuan Jee, ini banyak sekali. Apa semua ini akan digunakan? Ini apa namanya? Lalu yang ini fungsinya untuk apa? Apa aku akan menjadi cantik dengan semua ini?"
"Kau adalah gadis dekil. Diberi make-up apapun kau akan tetap jelek," sahut Jeevan sambil melirik Aleena. Sementara itu, tangannya dengan cekatan mengeluarkan beberapa peralatan dari tempatnya.
Aleena mendengus kesal mendengar jawaban Jeevan. "Kata orang, semua wanita itu cantik, Tuan. Tidak ada yang jelek."
Aleena tampak kesal. Bibirnya sudah manyun dan pandangan terlempar jauh, tak ingin melihat Jeevan.
"Sayangnya, aku tidak perduli dengan kata orang. Jika dalam mataku jelek ya artinya jelek. Jika cantik ya cantik." Jeevan tertawa dalam hati melihat tingkah Aleena.
"Baiklah, jadi apa akan Anda ajarkan pada gadis jelek ini?"
Jeevan meraih wajah Aleena dan memandangnya dari jarak yang cukup dekat. Alina terperangah dan seketika menjadi gugup. Detak jantungnya semakin tak beraturan.
"Wajahmu ini ... akan aku tunjukkan seberapa jeleknya dirimu!" Jeevan melepas wajah Aleena.
Aleena terduntuk, menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu karena ditatap Jeevan. "Biar saja jelek, asal Tuan tidak mengusirku," gumam Aleena.
"Apa katamu?"
"Tidak, Tuan Jee ... Itu, maksudku aku akan belajar sungguh-sungguh." Aleena tersenyum kecut.
"Perhatikan baik-baik semua ini!" Jeevan menata semua peralatan yang dibutuhkan. Aleena mengangguk tanda mengerti.
"Pertama oleskan dulu yang ini wajahmu secara merata. Kau bisa mengolesnya agak tebal untuk menutup wajah aslimu agar mudah dilukis. Cobalah ..." petunjuk Jeevan.
Aleena mengambil krim wajah yang ditunjukkan Jeevan meski tidak tahu itu apa. Dia percaya pada Jeevan sepenuhnya.
"Bukan begitu caranya ... Itu terlalu tipis." Jeevan mengoleskan lebih banyak krim pada wajah Aleena.
Aleena terbengong. Bingung bercampur malu karena berada dalam jarak yang begitu dekat dengan Jeevan. Ini adalah kali pertama dalam hidup Aleena duduk sedekat itu dengan laki-laki.
"Baiklah, sepertinya kau itu memang bukan wanita. Memakai barang ini saja tidak bisa," ejek Jeevan.
"Tuan Jee, saya hanya tahu bedak dan lipstik. Itu pun jarang saya pakai. Dalam kehidupan saya yang dulu, saya tidak butuh berdandan."
Dalam hati Aleena mengoreksi ucapnya. Dia bukan tidak butuh berdandan, yang tepat adalah dia tidak memiliki waktu untuk berdandan.
"Kemarikan tanganmu dan pegang ini!" Jeevan meraih tangan Aleena dan memberinya sebuah cermin.
Kenapa tangan gadis ini sangat kasar? Apa saja yang dulu dia kerjakan? Sejenak Jeevan berpikir setelah menyentuh tangan kasar Aleena.
"Untuk apa cermin ini?" pertanyaan bodoh Aleena.
Jeevan menarik tubuh Aleena hingga menghadap tepat ke arahnya.
"Kau benar-benar bodoh atau apa? Itu cermin tentu untuk berkaca. Apa bisa cermin digunakan untuk makan?" Jeevan mulai kesal.
Aleena justru tertawa mendengar jawaban Jeevan. Kegugupannya mencair.
"Baik, Tuan Jee. Apa aku harus memegangnya seperti ini?" tanya Aleena sambil menahan tawanya.
Dasar gadis bodoh. Seperti itu saja dia bisa tertawa sebahagia ini. Apa gadis ini dulu benar-benar tidak pernah merasa bahagia? Terka Jeevan dalam hati.
"Peganglah yang benar dan lihat baik-baik. Malam ini, aku yang akan menunjukkannya. Besok kau harus melakukannya sendiri."
Aleena mengangguk. "Akan aku perhatikan semuanya, Tuan Jee. Aku tidak akan mengecewakan Anda."
Jeevan mulai membedaki wajah Aleena. Membuat wajah Aleena tampak pucat. Aleena mengernyitkan dahi. Melihat wajahnya bagai memakai topeng tanpa ekspresi.
Setengah itu, Jeevan menambahkan bedak lagi. Kali ini berwarna kecoklatan. Memberi warna hidup pada wajah Aleena. Dengan terampil, Jeevan juga menebalkan alis Aleena. Menambahkan corak putih dalam alis hitam itu.
Aleena kembali mengerutkan keningnya saat melihat bayangannya di cermin.
Kenapa menambahkan warna putih di alisku? pikir Aleena.
"Tidak perlu heran seperti itu!" tukas Jeevan, seakan membaca pikiran Aleena.
"Aku hanya merasa sedikit aneh, Tuan ...."
"Kerutkan keningmu sekali lagi!" perintah Jeevan.
"Eh? Untuk apa, Tuan Jee?" Aleena bingung.
"Jangan banyak tanya! Tugasmu memperhatikan cermin dan mematuhi ucapanku. Sekarang kerutkan lagi keningmu!"
"Baiklah ...." Aleena mengerutkan kening.
Jeevan menyungging senyum seringai yang membuat Aleena curiga. Dia merasa bahwa Jeevan ingin mengerjainya.
"Apa yang ingin Anda lakukan, Tuan?"
Pertanyaan Aleena membuat tangan Jeevan terhenti ketika akan mencoreti wajah Aleena. Kali ini, ada kekesalan yang tergambar jelas dalam raut muka Jeevan.
"Sekali lagi kau bertanya, aku kan melemparmu ke luar dari rumah ini!" geram Jeevan.
Aleena menggigit bibirnya. Takut dengan ancaman Jeevan. Sementara itu, Jeevan merebut cermin yang berada di tangan Aleena. Meletakkannya di atas meja.
"Sekarang, duduklah dengan tenang dan ikuti semua yang aku katakan!" nada bicara Jeevan terdengar serius.
"Baik, Tuan Jee." Aleena tidak berani lagi bertanya atau membantah.
"Kerutkan keningmu!"
Aleena menuruti perintah Jeevan dengan baik. Entah berapa coretan yang dilakukan Jeevan di wajah Aleena. Di kening, area mata, sudut bibir, dan beberapa bagian lainnya. Beberapa warna dari benda mirip pensil itu Jeevan gunakan untuk mencoreti wajah Aleena. Kemudian, lipstik dan pewarna pipi yang Jeevan gunakan cenderung warna natural dan gelap dan dikombinasi.
Sepertinya dia akan merubahku menjadi badut. Tebak Aleena.
"Selesai," ucap Jeevan setelah beberapa lama memoles wajah Aleena.
"Sungguh? Apa saya bisa melihatnya sekarang?" Aleena penasaran.
"Tunggu sebentar."
Jeevan menyentuh rambut Aleena yang tergerai. Kondisi ini membuat Aleena kembali salah paham.
"Mr. Jee ... Anda mau apa?"
"Menyanggul rambutmu," jawab Jeevan datar.
Seketika Aleena merasa canggung. Dia telah sangka terhadap Jeevan.
"Aku tidak tertarik pada gadis jelek sepertimu." Lanjut Jeevan sambil mengoleskan semacam serbuk putih di rambut Aleena.
"Tuan, kenapa Anda selalu menyebut saya jelek?"
"Karena kamu memang jelek. Lihat saja wajah jelekmu itu!" Jeevan memberikan kaca pada Aleena.
Aleena menerimanya dengan ragu. Pelan-pelan dia menghadapkan cermin ke wajah. Mata Aleena melotot terbelalak melihat bayangan yang ada di cermin. Mulutnya terbuka tanpa bisa berkata apa-apa.
"Apa itu diriku?" Aleena tak percaya dengan penglihatannya.
"Apa sekarang kau percaya bahwa kau sangat jelek?" ledek Jeevan meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Tanpa persetujuan Aleena, Jeevan mengambil beberapa foto Aleena.
"Tuan, apa yang Anda lakukan? Jangan memotretku seperti itu ...."
"Nenek jelek, besok kau harus bisa membuat wajahmu menjadi seperti ini sendiri, tanpa bantuanku. Sekarang bereskan semua peralatan. Aku capek dan ingin tidur!" ujar Jeevan yang sudah bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan Aleena.
Aleena tidak menjawab. Dia masih terpana melihat wajahnya di cermin. Seakan tidak percaya bahwa sosok nenek tua dalam bayangan itu adalah dirinya. Itu seperti orang lain. Aleena tak mampu mengenali bahwa itu dirinya ....
"Bisa jadi nenek tua seperti ini, kemampuan Tuan Jee memang luar biasa," puji Aleena tanpa sadar.
"Jika bisa jadi jelek, maka .... Aku harus belajar sungguh-sungguh menggunakan semua alat make-up ini," tekad Aleena.
Dalam pikiran, Aleena sudah merencanakan sesuatu yang lain.
mampir di ceritaku judulnya "impian surga" cerita bergenre spiritual romance.
yg datang ke lapak ku InsyaAllah akan ada kunjungan balasan. terima kasih..
mari saling mendukung .. ☺️