NovelToon NovelToon
Pygmalion, Malaikat Iblisku

Pygmalion, Malaikat Iblisku

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Tamat
Popularitas:229.9k
Nilai: 4.5
Nama Author: Yoemi

Jonathan Li, kehilangan tunangannya, Wen Xia, secara tragis hingga membuat laki-laki kaya dan tampan itu berubah menjadi sosok iblis kejam dan dingin. Karena obsesinya terhadap sosok Wen Xia, Jonathan menyebut dirinya sebagai Pygmalion, membuat patung Wen Xia, dan selalu berkata akan menghidupkannya.

Sautu hari, mobil Jonathan secara tidak sengaja menabrak Liu Lian. Gadis malang yang dijadikan pelunas hutang keluarga pada seorang rentenir. Dia memiliki wajah sangat mirip dengan Wen Xia. Jonathan kemudaian memaksa Liu Lian untuk menjadi Wen Xia.

Sebuah cerita tentang kekejaman, intrik, serta pembalasan dendam yang diwarnai cinta dan tragedi. Yang kuat adalah penguasa, sementara yang lemah akan tertindas bahkan mati sia-sia!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoemi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia Masih Kejam

Waktu, andai aku bisa memutar ulang waktu. Aku ingin kembali ke masa lalu. Aku ingin waktu berhenti dimasa kecilku. Ketika ibu masih hidup. Meski hidup kami susah, tetapi setidaknya aku bisa bermanja di pangkuan wanita berhati lembut itu.

Di dunia ini, tak ada orang yang benar-benar baik padaku, kecuali ibu. Ayah, dia menganggap kami seperti sampah. Ibu hanyalah sebuah pelarian, sementara aku sebuah kesalahan.

Kematian ibu, memaksa ayah harus merawatku. Memasukkanku ke dalam neraka dengan ibu tiriku sebagai ratunya. Dia, istri resmi ayah, yang selalu menyiksaku tanpa belas kasih. Hingga pada akhirnya, aku dijadikannya barang untuk melunasi hutang-hutangnya pada Cong He.

Mengingat semua itu, mataku selalu nanar. Betapa hidup telah menulis alur terjal untukku. Bahkan semenjak aku lahir. Menyandang status sebagai anak haram yang tak diinginkan. Tangisan seperti teman paling akrab yang selalu hadir setiap saat. Sementara kebahagiaan adalah angan terjauh yang belum pernah kudapat.

"Nona, Anda melamun lagi?" suara Paman Wu membawa kembali kesadaranku.

"Oh, aku hanya teringat sesuatu, Paman."

"Masa lalu Anda?" Paman Wu menebak dengan benar isi kepalaku.

"Iya," jawabku sembari menyapu embun di pelupuk mata.

"Tuan Muda telah meminta orang untuk menyelidiki masa lalu Anda."

Aku terkejut mendengar pernyataan Paman Wu. Jonathan menyelidiki masa laluku. Untuk apa dia melakukan hal itu?

"Benarkah itu? Tapi untuk apa, Paman? Aku bisa memberi tahu semuanya."

"Apa yang Anda tahu, Nona? Anda seorang anak haram dan ibu Anda telah meninggal?"

Aku tekesiap. Paman Wu kembali mengutarakan isi otakku. Sebuah kebenaran bahwa aku anak seorang wanita selingkuhan dan ibuku telah lama meninggal.

"Iya, Paman. Itu sebuah kenyataan. Sesuatu yang tidak bisa kututupi."

"Itu hal yang terlihat sederhana, Nona. Hanya saja, apa Anda yakin tentang penyebab kematian Ibu Anda? Dan juga tentang Nona Wen ...." Paman Wu menggantung kalimatnya.

"Apa maksud Paman Wu? Ada apa dengan kematian ibu? Nona Wen ... apa hubungannya?" aku semakin bingung.

"Sudahlah, Nona. Biarkan semua diselidiki Tuan Muda dengan jelas terlebih dahulu. Sekarang waktunya pulang. Silahkan Anda berkemas."

Aku menghela napas. Mengubur rasa keingintahuan dan kecewaku. Paman Wu pasti sudah tidak mau lagi berkata apapun.

"Apa Jonathan tidak datang?" aku mengganti topik untuk memecah sunyi.

"Tuan Muda sedang ada urusan, Nona. Selama Anda di rumah sakit, Tua Muda juga tidak pernah pulang ke rumah. Dia selalu menemani Anda jika tidak ke kantor. Atau ke hotel di dekat rumah sakit ini untuk beristirahat sejenak."

Lagi-lagi, apa yang dipaparkan Paman Wu membuatku tercengang. Sebenarnya, apa yang telah terjadi dengan Jonathan? Semenjak aku berada di rumah sakit, sikap Jonathan memang berubah. Dia menjadi sangat baik dan perhatian. Tapi aku tidak menyangka, jika dia sampai tidak pulang ke rumah hanya untuk menjagaku.

"Aku sudah siap, Paman," ucapku. Memang tidak ada yang harus aku kemas untuk bersiap pulang. Pada dasarnya, anak buah Jonathan sudah mengemas semua barangku dari pagi. Saat ini, aku tinggal merapikan pakaian yang kukenakan dan menata rambutku. Hanya itu yang perlu kulakukan untuk bersiap pulang.

"Baiklah, Nona. Mari ...."

Aku dan Paman Wu meninggalkan rumah sakit. Ada enam anak buah Jonathan yang mengawal kami pulang. Aku merasa ini sedikit berlebihan. Namun apa yang bisa kulakukan? Protes? Jelas tidak mungkin. Lagi pula, aku belum juga mengerti jalan pikiran Jonathan. Jika salah bicara, aku takut dia akan kembali menjadi iblis kejam yang menyiksaku lagi.

...****************...

Akhirnya, aku kembali ke dalam sangkar. Maksudku ke vila besar milik Jonathan. Sesuatu yang mungkin bisa kusebut rumah untuk pulang. Bagiamana pun, semenjak aku kabur, di rumah ini lah aku bernaung dan bersembunyi.

"Nona, Anda bisa beristirahat. Jika butuh sesuatu, Anda bisa memanggil pelayan," jelas Paman Wu.

"Terima kasih, Paman. Kapan Jonathan akan pulang?"

"Saya tidak bisa memastikan hal itu, Nona. Mungkin sore atau malam."

"Baiklah, Paman Wu."

"Jika tidak ada yang lain, saya permisi dulu, Nona."

"Paman Wu akan kembali ke kantor?"

"Ya, tentu saja. Apa ada sesuatu?"

"Tidak, Paman. Silahkan."

"Permisi, Nona," pamit Paman Wu sekali lagi. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.

Sesaat setelah Paman Wu pergi, pikiranku kembali berkutat tentang ibu dan Wen Xia. Aku mencoba memahami perkataan Paman Wu ketika di rumah sakit. Apa yang sebenarnya terjadi dengan ibu waktu itu? Aku masih terlalu kecil, aku tak bisa mengingatnya dengan jelas.

Entah bagaimana, langkah kakiku telah memasuki ruang di mana patung Wen Xia berada. Jika ketahuan Jonathan aku kembali menyelinap ke sini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Mungkin dia akan membunuhku.

Memikirkan itu, tubuhku merinding untuk beberapa detik. Namun saat ini Jonathan tidak berada di rumah. Aku rasa, berada di sini untuk beberapa saat tidak akan masalah.

Aku memandangi patung Wen Xia. Ingin sekali aku menanyainya banyak hal. Meski aku tahu, patung ini tidak akan memberiku jawaban apapun. Mungkin aku sudah segila Jonathan. Bicara dengan benda mati. Atau mungkin, aku mulai memahami apa yang dia rasakan.

Sebuah kesendirian yang sunyi. Hati yang sepi. Lalu pikiran yang kalut dengan berbagai pertanyaan tanpa ada titik temu. Semua terasa gelap. Tak seorang pun dapat ditanya. Di depan mata, yang ada hanya seonggok tubuh tanpa nyawa. Patung yang akan menjadi pendengar setia.

"Wen Xia, apa kau tahu bagaimana perasaanku saat ini? Aku seorang yang tidak pernah diinginkan oleh siapapun. Ayah yang tak pernah menganggap keberadaanku. Orang-orang yang jijik melihatku. Lalu dirimu? Lihatlah, wajah kita sangat mirip, tetapi nasib sangat berbeda. Kau seperti ratu yang dipuja dan dimanja. Bahkan, seorang iblis pun dapat kau taklukkan, kau ubah menjadi sosok penyayang. Wen Xia, hidupmu dulu pasti sangat bahagia. Bolehkah aku menikmati sedikit saja rasa bahagiamu?"

Tak terasa, air mataku jatuh. Dalam dadaku, sebuah perasaan kuat tiba-tiba muncul. Aku ingin menyelidiki kematian ibu. Bagaimana pun caranya. Meski aku harus menjadi penjilat dan budak Jonathan Li. Akan aku lakukan. Aku tidak akan setengah-setengah lagi untuk menjadi seorang "Wen Xia".

"Maafkan aku, Wen Xia. Aku benar-benar akan meminjam identitasmu," ucapku sambil meraba wajah patung Wen Xia.

"Beraninya kau menyentuhnya!" hardik Jonathan yang sudah berdiri di ambang pintu. Matanya sudah nyalang menghujam ke arahku.

Dia kembali seperti iblis. Kenapa dia sudah muncul di sini. Seharusnya ini belum saatnya dia datang. Kataku dalam hati sambil menggigit bibir bawah. Berpikir sebuah cara untuk mereda kemarahan Jonathan.

"Apa peringatanku tempo hari kurang jelas? Sudah kukatakan, jangan masuk lagi ke ruangan ini!" Teriak Jonathan penuh kemarahan.

Aku masih berdiri mematung. Belum tahu apa yang harus kulakukan. Dalam hati aku mengakui kesalahanku. Tak seharusnya aku kembali masuk ke tempat ini.

"Nathan ... aku ...."

Plaaakk ...

Tangan Jonathan telah lebih dulu menjamah wajahku dengan sebuah tamparan. Membuatku tak sempat menuntaskan kalimatku.

Perih langsung menjalar di pipiku. Kali ini aku sudah tidak menangis lagi. Sepertinya, aku mulai terbiasa dengan sikap kasarnya. Aku juga sudah tak setakut dulu untuk menghadapi laki-laki kejam ini.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jonathan masih dengan amarah yang menggebu.

"Hanya bicara dengan Wen Xia," jawabku dengan berani. Dalam hati sebenarnya aku masih merasa takut.

"Kau jangan melewati batasmu! Tidak ada yang memberimu izin untuk masuk ke tempat ini!"

"Iya, aku tahu itu. Tapi mengapa? Aku sangat mirip dengannya. Aku ingin tahu lebih banyak tentang dirinya, tentang kemiripannya denganku!" teriakku histeris. Kali ini aku mungkin sudah gila. Ini terdengar seperti menantang Jonathan Li.

"Berani sekali kau meninggikan suaramu di hadapanku! Apa kau sudah bosan hidup? Apa kau ingat bahwa nyawamu adalah pemberianku?"

"Jika iya lalu kenapa? Apa kau ingin membunuhku sekarang? Bunuh saja, tidak ada bedanya aku mati sekarang atau nanti. Membusuk jadi budakmu atau budak Cong He, bukankah sama saja?" aku sudah di luar kendali. Secara normal, harusnya aku tidak memiliki keberanian mengatakan semua itu.

"Tutup mulutmu! Dasar wanita tidak tahu diri!" bentak Jonathan diikuti sebuah tamparan lagi.

Aku memegang pipiku. Rasa sakit membuatku tersadar bahwa aku tidak akan bisa menentang laki-laki kejam dihadapanku ini.

Tubuhku bergetar. Aku jatuh bersimpuh. Mataku nanar memandang Jonathan yang berdiri dengan arogan. Menghujaniku dengan hawa membunuh yang menakutkan. Membuat nyaliku kembali menciut. Aku kalah sebelum berperang. Pada akhirnya, tangisku tak lagi bisa tertahan. Aku, masih seorang yang lemah dan menyedihkan ....

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hai readers ...

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian usai membaca. Terima kasih semuanya.

Salam manis dari dunia kata Yoemi. Love you ❤️

1
Jenna Joni
makasih thor ceritanya bagus bgt😍😍🙏
Herlina
awal yg bagus...
Herlina
awal yg bagus...
Kustri
G waras kau Li
Kustri
Baca'a ikutan lariii 🏃🏃🏃
Dedek Gemmezzzz
yuk mangats yuuuk ikut giveaway'nya 😍
Ummu Istiqomah
⭐⭐⭐⭐⭐ + ☕ untuk author, semangat terus, 💪💪💪💪💪
Ummu Istiqomah
kenapa novel ini kurang yg like, padahal bagus, awal cerita sudah bikin penasaran, sudah saya masukkan daftar favorit, 😍😍😍😍😍👍👍👍👍👍
yoemi noor: terima kasih kak apresiasinya 🙏
total 1 replies
dewi syah
ceritanya seru jadi Liu Lian dipaksa untuk menjadi Wen Xia baru tau kisah dari Pygmalion tadinya nebak2
dewi syah
mungkin kembar ya thor
dewi syah
seperti nonton film seru
dewi syah
ceritanya keren, bahasa enak, jadi pen lanjut
dewi syah
mulai baca kak sepertinya seru
✨✿[Oliv_¥]✿✨
Kak Semangat Kak Up Novel Yg Lain Kwkw Semnagat
yuni utami
kamsia thoorrr...
sdh membuat kisah yg sll kereeeennnnn..

ditunggu kelanjutan kisah sean yaa..juga kisah yg lainnya.

mangaaaattttt...
luuuuvvvvv....puuuuullll.
yoemi noor: siap kak Yuni, terima kasih selalu hadir di setiap cerita yg Yoemi tulis 🙏
total 1 replies
❄️ sin rui ❄️
gak menarik kalau terlalu mudah jatuh cinta
❄️ sin rui ❄️
pleass liu jangan jatuh cinta duluan sama si nathan,
❄️ sin rui ❄️
tlisan nya rapi, bahasa nya bagus, cuman ada typo nya dikit, pertahankan thorrrr
yoemi noor: terima kasih kak sudah diingatkan untuk typonya😊🙏
total 1 replies
Dedek Gemmezzzz
sampe sini dulu ya akak ngantoekk udah malem.. 🥱
Dedek Gemmezzzz
namanya wu xia apa wrn xia akak thor...?
😁 baru nyampe sini... nyicil ya bacanya..
aku lanjut dulu...
yoemi noor: wen Xia .. aku mesti salah nulis nma lagi😂😂😂
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!