Seorang Gadis dengan bola mata berwarna biru yang tinggal disebuah hutan selama 20th bersama orang tua angkatnya. Dan tepat di umur 20th gadis itu akan mencari keberadaan orang tua kandungnya. Hingga ia bertemu dengan seorang lelaki yang tampan dan mempunyai reputasi tinggi. Semuanya terlihat sangat asing. Bagaimana juga gadis itu tidak tahu nyatanya dunia Luar. Apakah seindah dan semenakutkan yang dikatakan orang tua angkatnya?? Dan bagaimana kehidupan selanjutnya ?
*Selamat membaca..
Update 2 hari 1 kali
(Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.)
Enjoyy.... ♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
"Akan kubuat kau menyesal Alan." Pekik Melisa dengan mengepalkan tangannya hingga jari kuku panjngnya menembus dalam melewati kulit tangannya. Namun, baginya rasa sakit itu tidak sebanding dengan apa yang saat ini Melisa rasakan, hidupnya yang hancur.
●Apartemen B
"Makanannya sudah si-ap." Ucap Ayya yang pandangannya teralihkan.
"Ada apa" Tanya Alan.
"Apakah itu bunga dandelion?"
"hm"
"Benarkah?" tanya Ayya dengan mata berbinar.
Ayya menyimpan makanannya lalu mendekat ke arah bunga itu, dipikirannya terlintas ucapan wanita waktu itu. Apakah ada hubungannya dengan Alan?
"Kenapa kamu melihatnya seperti itu. Kamu menyukainya?"
Tanpa ragu Ayya menganggukan kepalanya.
Tapi, jika diingat-ingat kembali untuk apa Ayya harus mengumpulkan banyak bunga dandelion. Apa jika dia mengumpulkan bunga itu, orang tuanya akan muncul? Dia rasa itu tidaklah mungkin. Apa jangan-jangan.
"Dari mana tuan mendapatkan bunga itu?"
"Di toko bunga M. Saat itu tak sengaja lewat dan terlihat sangat cantik. Jadi saya membelinya, tapi jika kamu menyukainya ambil saja." Jelas Alan.
"Ahh, tidak terimakasih tuan."
(Toko M ya?. Aku harus kesana) pikir Ayya.
"Saya permisi pamit pulang tuan." Ujar Ayya dan langsung pergi begitu saja tanpa menunggu persetujuan dari Alan.
Alan hanya menggelengkan kepalanya, dari dulu sampai sekarang belum pernah ada yang berani pergi tanpa persetujuan darinya. Hanya gadis kecil ini yang berani padanya seperti itu.
Ayya berjalan keluar apartemen, Ayya memberhentikan sebuah taksi dan mulai menaiki mobil itu.
"Ternyata benar gadis itu." Lirih Melisa tidak jauh dari apartemen itu. Sepertinya sudah cukup lama Melisa memperhatikan apartemen itu. Awalnya Melisa akan membututi Alan, namun yang keluar adalah Ayya. Sasaran empuk bagi Melisa.
(Akan kusakiti dia didepan matamu sendiri Alan Mahendra) gumam hati Melisa dengan emosi yang meluap.
Mobilpun melaju.
"Sepertinya mobil itu mengikuti kita nona." Ucap supir taksi itu.
Ayya sedikit menengok ke belakang mendengar apa yang dikatakan supir taksi itu. Ayya cukup terkejut, ternyata memang benar. Ada sebuah mobil mewah hitam yang mengikuti mereka. Ayya memberitahu supir untuk tidak berhenti dan mempercepat laju mobil.
Dia mengambil ponsel, namun sayang sekali ponsel Ayya benar-benar mati, lebih tepatnya rusak karena benturan cukup keras pada ponselnya saat kemarin.
Ayya mulai panik, tetapi dia berusaha untuk tetap tenang dan berfikir jernih. Karena jika dia ketakutan tidak karuan justru itu akan membuatnya semakin kacau.
"Pak, boleh saya pinjam ponsel Bapak? Saya ingin menghubungi seseorang." Pinta Ayya.
"Ini, silahkan nona."
"Terimakasih Pak."
Ayya memencet beberapa tombol, dia memasukan sebuah nomor yaitu Alan.
Saat ini yang ada dipikirannya hanya Alan, terlebih lagi Ayya hanya mengingat nomor Alan karena kejadian kemarin. Ingatan Ayya sangat bagus sekali, hingga satu kali disebut saja sudah hafal.
Tuttt ... tuttt ... tuttt ...
Sudah 2x Ayya mencoba menghubungi Alan tetapi Alan tak kunjung mengangkat panggilannya. Ayya mencoba mengirim pesan menyatakan bahwa itu adalah dirinya. Hingga pada panggilan ke tiga, akhirnya Alan mengangkatnya.
"Hallo? Kenapa lama sekali menjawab panggilannya." Kesal Ayya.
"Ada apa." Tanya Alan datar.
(Yaampun, ada apa dengan orang ini. Kenapa nada bicaranya bisa seperti ini, datar dan tidak berperasaan) pikir Ayya kesal namun tetap saja tidak ada pilihan lain selain meminta tolong padanya.
"Tolong aku. Seseorang mengikutiku."
"Apa? Siapa?"
"Darimana aku tahu. Tapi dalam plat mobil tertulis xx "
"Berhentilah di tempat yang ramai seperti pusat perbelanjaan."
"Baiklah, aku akan berhenti di depan. Mall xxx "
"Ok. Aku segera kesana. Ingat tempat ramai."
(Ada apa dengan Melisa, kenapa dia mengikuti Ayyara!) gumam hati Alan lalu bergegas pergi.
Tuttttttttt ...
Alan menutup panggilannya, rasa khawatir Ayya mulai berkurang. Entah kenapa rasanya seperti percaya padanya walau sebenarnya Ayya cukup kesal.
Beberapa menit kemudian.
Ayya memberhentikan taksi itu, dia mulai turun dan memasuki mall tersebut. Ayya mencoba berjalan dengan tenang walaupun dia tahu ada seseorang yang mengikutinya. Sesekali Ayya berbalik untuk memastikan siapa yang mengikutinya, namun orang itu dengan cepat menghindar dan bersembunyi dibaik kerumunan orang-orang.
"Kenapa Alan lama sekali. Ahh ... ponselku." Pekik Ayya yang semakin khawatir.
9 like juga mendarat di karya kakak yang keren dan kece bngt 😍 🙌🏻 Semangat 🔥🔥 tetap jaga kesehatan ya 💙💙💙